Sebelumnya, mari kita review lagi percakapan semalam,
“21.16 WIBU.”
“Ya Allah lupa hahaha bentar ya aku mikir dulu hahaha.”
“Atau Muya mau kasih tema?”
“Hahaha boleh banget. Aku lupa mikir hahaha.”
“Udah sibuk, jadi nggak kesepian lagi.”
“Manusia tempatnya lupa.”
“Hahahahahaha. Kesepianku bukan dalam arti sesungguhnya. Ini ada yang
mau ngasih ide, nggak?”
“Manusia lupa kalau manusia tempatnya lupa.”
“Yaudah temanya lupa hahahaha.”
“Savage.”
“Aduh lupa nulis juga nanti.”
“Hahahaha.”
“Temanya ingat.”
“Dasar manusia.”
“Tenanan lo.”
“Lupa bawa motor.”
“Lupa penutup pulpen.”
“Lupa kalau jomblo.”
“awkowkwokwowok.”
Kalau soal lupa, mungkin inilah
sebabnya blog dan tulisan-tulisan saya ada, sebab saya suka lupa dengan apa
yang pernah saya katakan. Blog menjadi ruang tersendiri bagi saya untuk
mengabadikan berbagai cerita dalam hidup saya. Blog ini menjadi rumah untuk
tumbuh dan berkembangbiaknya ide-ide saya. Di rumah inilah saya merawatnya dan
tiba-tiba April ini rajin sekali menengok ke sini karena ada kelas April
Produktif (hahaha). Saya juga senang anak-anak ide saya ini ditengok oleh
teman-teman, semoga kita selalu bisa menjadi tetangga yang peduli dan saling
mengunjungi satu sama lain, ya!
Beralih pada hal lain, seorang
pengagum jarak jauh maupun dekat juga menyadarkan saya betapa kerennya peran
mereka. Mereka hafal setiap detail yang pernah saya katakan pada mereka, juga
hal lainnya yang mungkin saya sudah lupa. Tetapi, saya benci karena memori kuat
yang mereka punya tentang saya, sering mereka jadikan sebagai alat untuk
berdebat dengan saya di kemudian hari.
“Wah, kamu keren, ya! Selalu ingat apa-apa tentang saya.”
“Saya keren begini saja, kamu tidak mau. Kasihan yang tidak keren, ya.”
Hebatnya lagi, mereka masih
menyimpan segala percakapan itu, entah memang karena belum dihapus atau karena
mereka screenshoot. Mereka juga ingat
apa-apa yang pernah saya upload ke story, bahkan saya saja sudah lupa. Mereka
screenshoot itu semua lalu membuat
asumsi-asumsi tentang apa yang saya rasakan atau apa yang sedang saya lakukan.
Selain itu, saya juga suka lupa
dengan nama orang, tetapi ingat wajahnya. Saya lupa karena kami tidak punya
hubungan yang intens atau komunikasi rutin yang baik sehingga memori saya
kurang tentang mereka. Akan tetapi, sekalinya saya punya hubungan intens dan
komunikasi rutin yang baik, saya bisa selalu ingat detail mereka; karakter,
kebiasaan, serta mengingat rasa nyaman saat bersama mereka. Kalau kamu punya
memori lebih banyak lagi bersama saya, bisa jadi saya akan hafal empat digit belakang
nomor ponsel kamu, tanggal-tanggal penting yang pernah kita lalui, bahkan
mungkin masih menyimpan benda-benda yang kamu berikan belasan tahun yang lalu
dan kamu sudah lupa. One more thing, never
make a promise that you can’t keep with me because maybe I will never forget!
Bandung, 8 April 2020
Lupa boleh, tapi jangan lama-lama
Duh pernah janji ama nina ga yaaaaa
BalasHapusHahahahaha waduh :))
HapusWkwkw samaaa, aku juga suka lupa nama. Tp kalau sudah dekat, aku bahkan bisa hafal mereka punya pakaian apa saja. 🙃
BalasHapusNah iyaaa :))
HapusAku ada janji ndak ya??
BalasHapusHayooo, mz. Tolong diingat-ingat lagi. :))
HapusAku lupa kamu ada janji ga ya??
BalasHapusEmang ada, ri? Wkwk 😂
HapusGatau nin, lupa aku haha
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMungkin aku adalah teman nina itu, dan saya bisa saja langsung ingat dengan orang tsb meskipun barus sekali bertemu. Makanya saya bingung hal lupa apa yg pernah saya alami yg bener2 lupa:")
BalasHapusDuh :"
Hapuskayaknya aku pernah janji
BalasHapusJanji apa hayooo?
Hapuskayaknya saya punya janji
BalasHapusWah, kayaknya hampir semua orang pernah punya janji sama saya hahaha :))
Hapus