08/04/20

#AprilProduktifDay8 : Seorang Pengagum Tak Pernah Lupa


Sebelumnya, mari kita review lagi percakapan semalam, 

“21.16 WIBU.”
“Ya Allah lupa hahaha bentar ya aku mikir dulu hahaha.”
“Atau Muya mau kasih tema?”
“Hahaha boleh banget. Aku lupa mikir hahaha.”
“Udah sibuk, jadi nggak kesepian lagi.”
“Manusia tempatnya lupa.”
“Hahahahahaha. Kesepianku bukan dalam arti sesungguhnya. Ini ada yang mau ngasih ide, nggak?”
“Manusia lupa kalau manusia tempatnya lupa.”
“Yaudah temanya lupa hahahaha.”
“Savage.”
“Aduh lupa nulis juga nanti.”
“Hahahaha.”
“Temanya ingat.”
“Dasar manusia.”
“Tenanan lo.”
“Lupa bawa motor.”
“Lupa penutup pulpen.”
“Lupa kalau jomblo.”
“awkowkwokwowok.”

Kalau soal lupa, mungkin inilah sebabnya blog dan tulisan-tulisan saya ada, sebab saya suka lupa dengan apa yang pernah saya katakan. Blog menjadi ruang tersendiri bagi saya untuk mengabadikan berbagai cerita dalam hidup saya. Blog ini menjadi rumah untuk tumbuh dan berkembangbiaknya ide-ide saya. Di rumah inilah saya merawatnya dan tiba-tiba April ini rajin sekali menengok ke sini karena ada kelas April Produktif (hahaha). Saya juga senang anak-anak ide saya ini ditengok oleh teman-teman, semoga kita selalu bisa menjadi tetangga yang peduli dan saling mengunjungi satu sama lain, ya!

Beralih pada hal lain, seorang pengagum jarak jauh maupun dekat juga menyadarkan saya betapa kerennya peran mereka. Mereka hafal setiap detail yang pernah saya katakan pada mereka, juga hal lainnya yang mungkin saya sudah lupa. Tetapi, saya benci karena memori kuat yang mereka punya tentang saya, sering mereka jadikan sebagai alat untuk berdebat dengan saya di kemudian hari.

“Wah, kamu keren, ya! Selalu ingat apa-apa tentang saya.”
“Saya keren begini saja, kamu tidak mau. Kasihan yang tidak keren, ya.”

Hebatnya lagi, mereka masih menyimpan segala percakapan itu, entah memang karena belum dihapus atau karena mereka screenshoot. Mereka juga ingat apa-apa yang pernah saya upload ke story, bahkan saya saja sudah lupa. Mereka screenshoot itu semua lalu membuat asumsi-asumsi tentang apa yang saya rasakan atau apa yang sedang saya lakukan.

Selain itu, saya juga suka lupa dengan nama orang, tetapi ingat wajahnya. Saya lupa karena kami tidak punya hubungan yang intens atau komunikasi rutin yang baik sehingga memori saya kurang tentang mereka. Akan tetapi, sekalinya saya punya hubungan intens dan komunikasi rutin yang baik, saya bisa selalu ingat detail mereka; karakter, kebiasaan, serta mengingat rasa nyaman saat bersama mereka. Kalau kamu punya memori lebih banyak lagi bersama saya, bisa jadi saya akan hafal empat digit belakang nomor ponsel kamu, tanggal-tanggal penting yang pernah kita lalui, bahkan mungkin masih menyimpan benda-benda yang kamu berikan belasan tahun yang lalu dan kamu sudah lupa. One more thing, never make a promise that you can’t keep with me because maybe I will never forget!

Bandung, 8 April 2020
Lupa boleh, tapi jangan lama-lama

16 komentar:

  1. Duh pernah janji ama nina ga yaaaaa

    BalasHapus
  2. Wkwkw samaaa, aku juga suka lupa nama. Tp kalau sudah dekat, aku bahkan bisa hafal mereka punya pakaian apa saja. 🙃

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Mungkin aku adalah teman nina itu, dan saya bisa saja langsung ingat dengan orang tsb meskipun barus sekali bertemu. Makanya saya bingung hal lupa apa yg pernah saya alami yg bener2 lupa:")

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. Wah, kayaknya hampir semua orang pernah punya janji sama saya hahaha :))

      Hapus