10/10/18

[Chapter 2]: Keliru Hati


Selangkah dua langkah aku berusaha masuk tanpa ragu. Namun, tiba-tiba kuhentikan langkahku. Cepat sekali mataku ini menemukannya, menemukan pria itu, pria yang aku pikir kami sudah sama-sama saling menyentuh hati satu sama lain. Mungkin benar, hanya pikiranku saja. Hatinya tidak.

Aku berusaha mengatur degupan jantungku agar menjadi normal kembali. Aku tahu, degupan yang kali ini bukan degupan seperti biasanya, degupan yang gugup bila bertemu dengannya. Kali ini hanya degupan yang tak normal, mungkin karena ini menjadi pertemuan baru lagi untuk kami setelah beberapa bulan tidak pernah bertemu bahkan bertukar kabar. Soal menjadi teman dan berdiskusi bersama, ah, itu, hanya omong kosongnya saja. Atau memang aku yang menghindarinya? Sejak beberapa bulan yang lalu, aku tak pernah lagi membalas pesannya. Untuk apa ia masih mengirimiku pesan dan mengajakku berdiskusi, sementara dengan segala tingkah lakunya itu mampu menghadirkan perasaan-perasaan itu lagi di dalam hatiku? Perasaan yang kuakui bukan menjadi tanggungjawabnya meski awal perkenalan kami adalah ia sendiri yang mengajakku terbawa dalam obrolannya di suatu hari di dalam gerbong kereta.

Aku mencengkram erat tasku. Kembali mengatur nafas dan degupan jantungku. Di sini, di kafe ini, kebersamaan yang diperlihatkan oleh pengunjung di sini, aku rasa telah menciptakan kehangatan yang tak biasa. Rasanya ingin menjadi salah satu dari mereka yang menciptakan kehangatan itu. Apa boleh buat bila hadirku di sini untuk menyudahi sebuah cerita, sedihnya lagi mungkin ini menjadi kali terakhirku datang ke tempat ini, setelah begitu banyaknya pembicaraan kami yang terkenang di sini. Setelah ini, semua ini tak berarti apa-apa. Aku ingin membuatnya seperti itu saja, seperti aku tak pernah berkunjung ke sini bahkan tak pernah mencicipi seteguk kopi di sini.

Dia dan gadis itu sedang menikmati minuman mereka, menikmati waktu yang mereka punya untuk berdua, menikmati cerita yang meluncur dari bibir masing-masing. Aku melangkah menuju meja mereka. Ia terkejut dengan kedatanganku, tentu saja. Apa lagi gadis di hadapannya.

“Hai.” Aku mengulurkan tanganku dan mencoba tersenyum pada gadis itu. Gadis itu terlihat keheranan, tetapi aku tak peduli. Pria itu juga sama, wajahnya seolah ingin mengatakan mau apa lagi orang ini?

“Saya Kinanti, temannya Seno. Kalau kamu tidak keberatan, bolehkah saya berbicara berdua dengan Seno? Sebentar saja, kok.” Pinta saya bahkan sebelum ia menyebutkan namanya. Itu tak penting, toh aku sudah tahu bahwa namanya adalah Kenari. Jengkelnya aku karena namanya hampir mirip dengan namaku.

Seno kemudian memberi kode pada Kenari.

“Oh iya, kebetulan saya juga mau ke toilet, permisi.” Ujarnya. Halah, bisa kebetulan begitu, ya.

Kenari berlalu dan Seno mempersilahkan aku duduk di tempat Kenari duduk tadi.

“Apa kabar?” tanyaku berbasa-basi. Seno mengangguk sambil menjawab, “baik.” Singkatnya.

“Seno, dulu kamu pernah bilang bahwa kamu jatuh hati mungkin pada tulisan-tulisan saya, bukan pada saya sebagai diri saya. Tetapi, seseorang mengatakan kepada saya bahwa ia pernah membaca sebuah buku tentang bagaimana kita tidak menghakimi bila ada seseorang yang jatuh hati padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya, sebab mungkin saja ia jatuh hati karena tulisannya atau mungkin juga karena suaranya.” Seno mencoba memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak.

“Seno, bukankah cinta yang seperti itu lebih tulus daripada cinta yang biasanya? Mereka tak jatuh hati karena apa yang dilihat oleh kedua matanya, tetapi mereka jatuh hati oleh apa yang dirasakan hatinya.” Kali ini ia mengalihkan pandangannya, kubaca dari kedua matanya bahwa ia tengah berpikir keras tentang apa yang kami tengah bicarakan.

Seno sepertinya kehabisan kata-kata, maka aku berniat untuk menyegerakan saja niat kedatanganku yang sesungguhnya.

“Seno, terimakasih atas segala kekaguman kamu. Mungkin kamu benar bahwa kita lebih pantas menjadi semacam teman diskusi. Tetapi, mungkin setelah ini saya tidak akan menemuimu lagi seperti ini.”

Tanpa kusangka Seno dengan cepat bersuara, “Kenapa?”

Beberapa detik aku hanya menatapnya dan kemudian kembali sadar bahwa aku harus segera menyelesaikan kedatanganku. “Karena ini.”

Seno menerima apa yang kuberikan untuknya, sebuah surat undangan pernikahan berwarna merah muda. Ya, surat undangan pernikahan untuk Seno, Seno yang kukenal di gerbong kereta waktu itu, Seno yang katanya adalah teman diskusiku, Seno yang dengan segala tingkahnya mampu menyihir perasaanku menjadi bergejolak tiap bertemu dengannya, dulu. Tetapi, pada akhirnya hanya tulisan-tulisanku sajalah yang mampu membuatnya jatuh hati, bukan aku sebagai diriku. Seno hanya jatuh hati pada tulisan-tulisanku, dan kini setelah aku menemukan seseorang yang lain, aku berharap Seno akan tetap seperti itu, tetap jatuh hati pada tulisan-tulisanku.

Pria yang bernama Seno itu, hadir bukan untuk aku kenang, tetapi untuk memberi sebuah pelajaran tentang begitu banyaknya kekeliruan di dunia ini.

Bersambung

12 komentar:

  1. Harusnya seno masih dapat mencintai dengan cara yang lain dong? undangan pernikahan tidak berhak merobohkan niat seno yang sudah lama ia bangun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudah baca bagian endingnya? :)


      Seno tidak mencintai Kinanti, ia salah mengerti hatinya sendiri, maka dari itu kisahnya berjudul "Keliru Hati". Ia hanya jatuh cinta dan terhanyut dengan tulisan-tulisan ciptaan Kinanti.

      Hapus
  2. Maka dari itu aku tidak komen di bagian ending , karena kinanti salah menduga .

    BalasHapus
  3. Iya, Seno terlambat. Ia terlambat memasuki gerbong kereta itu hingga ia tak bisa mendiskusikan tentang apapun dengan Kinanti.
    Tetapi Kinanti tidak akan pernah tau mengapa Seno terlambat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya kok merasa bahwa kamu bikin cerita lain di balik cerita ini :'D

      Hapus
  4. Balasan
    1. Sudahlah. Biarkan takdir Seno dan Kinanti seperti itu.

      Hapus
  5. Selamat:)
    hey aku nitip Kinanti ya....

    BalasHapus
  6. Pembodohan publik gitu ya

    BalasHapus