Selangkah dua
langkah aku berusaha masuk tanpa ragu. Namun, tiba-tiba kuhentikan langkahku.
Cepat sekali mataku ini menemukannya, menemukan pria itu, pria yang aku pikir
kami sudah sama-sama saling menyentuh hati satu sama lain. Mungkin benar, hanya
pikiranku saja. Hatinya tidak.
Aku berusaha
mengatur degupan jantungku agar menjadi normal kembali. Aku tahu, degupan yang
kali ini bukan degupan seperti biasanya, degupan yang gugup bila bertemu
dengannya. Kali ini hanya degupan yang tak normal, mungkin karena ini menjadi
pertemuan baru lagi untuk kami setelah beberapa bulan tidak pernah bertemu
bahkan bertukar kabar. Soal menjadi teman dan berdiskusi bersama, ah, itu,
hanya omong kosongnya saja. Atau memang aku yang menghindarinya? Sejak beberapa
bulan yang lalu, aku tak pernah lagi membalas pesannya. Untuk apa ia masih
mengirimiku pesan dan mengajakku berdiskusi, sementara dengan segala tingkah
lakunya itu mampu menghadirkan perasaan-perasaan itu lagi di dalam hatiku?
Perasaan yang kuakui bukan menjadi tanggungjawabnya meski awal perkenalan kami
adalah ia sendiri yang mengajakku terbawa dalam obrolannya di suatu hari di
dalam gerbong kereta.
Aku mencengkram
erat tasku. Kembali mengatur nafas dan degupan jantungku. Di sini, di kafe ini,
kebersamaan yang diperlihatkan oleh pengunjung di sini, aku rasa telah
menciptakan kehangatan yang tak biasa. Rasanya ingin menjadi salah satu dari
mereka yang menciptakan kehangatan itu. Apa boleh buat bila hadirku di sini
untuk menyudahi sebuah cerita, sedihnya lagi mungkin ini menjadi kali
terakhirku datang ke tempat ini, setelah begitu banyaknya pembicaraan kami yang
terkenang di sini. Setelah ini, semua ini tak berarti apa-apa. Aku ingin
membuatnya seperti itu saja, seperti aku tak pernah berkunjung ke sini bahkan
tak pernah mencicipi seteguk kopi di sini.
Dia dan gadis
itu sedang menikmati minuman mereka, menikmati waktu yang mereka punya untuk
berdua, menikmati cerita yang meluncur dari bibir masing-masing. Aku melangkah
menuju meja mereka. Ia terkejut dengan kedatanganku, tentu saja. Apa lagi gadis
di hadapannya.
“Hai.” Aku
mengulurkan tanganku dan mencoba tersenyum pada gadis itu. Gadis itu terlihat
keheranan, tetapi aku tak peduli. Pria itu juga sama, wajahnya seolah ingin
mengatakan mau apa lagi orang ini?
“Saya Kinanti,
temannya Seno. Kalau kamu tidak keberatan, bolehkah saya berbicara berdua
dengan Seno? Sebentar saja, kok.” Pinta saya bahkan sebelum ia menyebutkan
namanya. Itu tak penting, toh aku sudah tahu bahwa namanya adalah Kenari.
Jengkelnya aku karena namanya hampir mirip dengan namaku.
Seno kemudian
memberi kode pada Kenari.
“Oh iya,
kebetulan saya juga mau ke toilet, permisi.” Ujarnya. Halah, bisa kebetulan
begitu, ya.
Kenari berlalu
dan Seno mempersilahkan aku duduk di tempat Kenari duduk tadi.
“Apa kabar?”
tanyaku berbasa-basi. Seno mengangguk sambil menjawab, “baik.” Singkatnya.
“Seno, dulu kamu
pernah bilang bahwa kamu jatuh hati mungkin pada tulisan-tulisan saya, bukan
pada saya sebagai diri saya. Tetapi, seseorang mengatakan kepada saya bahwa ia
pernah membaca sebuah buku tentang bagaimana kita tidak menghakimi bila ada
seseorang yang jatuh hati padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya, sebab
mungkin saja ia jatuh hati karena tulisannya atau mungkin juga karena
suaranya.” Seno mencoba memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak.
“Seno, bukankah
cinta yang seperti itu lebih tulus daripada cinta yang biasanya? Mereka tak
jatuh hati karena apa yang dilihat oleh kedua matanya, tetapi mereka jatuh hati
oleh apa yang dirasakan hatinya.” Kali ini ia mengalihkan pandangannya, kubaca
dari kedua matanya bahwa ia tengah berpikir keras tentang apa yang kami tengah
bicarakan.
Seno sepertinya
kehabisan kata-kata, maka aku berniat untuk menyegerakan saja niat kedatanganku
yang sesungguhnya.
“Seno,
terimakasih atas segala kekaguman kamu. Mungkin kamu benar bahwa kita lebih
pantas menjadi semacam teman diskusi. Tetapi, mungkin setelah ini saya tidak
akan menemuimu lagi seperti ini.”
Tanpa kusangka
Seno dengan cepat bersuara, “Kenapa?”
Beberapa detik
aku hanya menatapnya dan kemudian kembali sadar bahwa aku harus segera
menyelesaikan kedatanganku. “Karena ini.”
Seno menerima
apa yang kuberikan untuknya, sebuah surat undangan pernikahan berwarna merah
muda. Ya, surat undangan pernikahan untuk Seno, Seno yang kukenal di gerbong
kereta waktu itu, Seno yang katanya adalah teman diskusiku, Seno yang dengan
segala tingkahnya mampu menyihir perasaanku menjadi bergejolak tiap bertemu
dengannya, dulu. Tetapi, pada akhirnya hanya tulisan-tulisanku sajalah yang
mampu membuatnya jatuh hati, bukan aku sebagai diriku. Seno hanya jatuh hati
pada tulisan-tulisanku, dan kini setelah aku menemukan seseorang yang lain, aku
berharap Seno akan tetap seperti itu, tetap jatuh hati pada tulisan-tulisanku.
Pria yang
bernama Seno itu, hadir bukan untuk aku kenang, tetapi untuk memberi sebuah
pelajaran tentang begitu banyaknya kekeliruan di dunia ini.
Bersambung
Harusnya seno masih dapat mencintai dengan cara yang lain dong? undangan pernikahan tidak berhak merobohkan niat seno yang sudah lama ia bangun.
BalasHapusSudah baca bagian endingnya? :)
HapusSeno tidak mencintai Kinanti, ia salah mengerti hatinya sendiri, maka dari itu kisahnya berjudul "Keliru Hati". Ia hanya jatuh cinta dan terhanyut dengan tulisan-tulisan ciptaan Kinanti.
Maka dari itu aku tidak komen di bagian ending , karena kinanti salah menduga .
BalasHapusDan Seno juga terlambat untuk keliru.
HapusIya, Seno terlambat. Ia terlambat memasuki gerbong kereta itu hingga ia tak bisa mendiskusikan tentang apapun dengan Kinanti.
BalasHapusTetapi Kinanti tidak akan pernah tau mengapa Seno terlambat.
Saya kok merasa bahwa kamu bikin cerita lain di balik cerita ini :'D
HapusAh kamu ga asik:(
BalasHapusSudahlah. Biarkan takdir Seno dan Kinanti seperti itu.
HapusSelamat:)
BalasHapushey aku nitip Kinanti ya....
Terima kasih, ya! -Kemal
HapusPembodohan publik gitu ya
BalasHapusNggak, dong. Pembaca semakin cerdas:)
Hapus