“Bella, buruan dong..”
“Sabar..” Sahutku dari dalam mobil. Vino,
kekasihku sudah menungguku di luar mobil. Kalian mungkin tidak tahu betapa
baiknya Vino. Hari ini ia akan menemaniku untuk berziarah ke makam Rio,
mantanku.
Rio meninggal dua tahun yang lalu. Sebelum
ia meninggal, ia mengalami sebuah kecelakaan. Bukan kecelakaan itu yang
merenggut nyawanya, tetapi tentang penyakitnya yang ia berhasil sembunyikan
dariku.
Pasca kecelakaan Rio, aku sempat
mengunjunginya. Tetapi Rio malah mentah-mentah menolak kedatanganku. Ia berubah
menjadi temperamental.
“Ngapain kamu ke sini ?” Ujar Rio saat aku
menemuinya. Ia berbicara dengan nada kasar tak seperti biasanya.
“Kamu kenapa ? Aku khawatir sama kamu..”
Kataku mencoba menahan air mata karena bentakannya.
“Aku enggak butuh rasa khawatir dari kamu!
Jangan kasihani aku! “ Aku tak mengerti ucapan Rio. Sungguh.
“Kenapa Rio ?” Tanyaku dengan lirih. Aku
masih menahan air mataku.
“Karena.. aku udah enggak bisa lagi
ngebahagiain kamu. Sudahlah, kamu lebih baik pergi saja! “ Kali ini ia
berbicara dengan nada sangat lemah. Aku memperhatikannya. Astaga, kedua kaki
Rio diamputasi. Sekarang ia menggunakan kursi roda. Kepalanya juga masih
diperban. Kali ini aku tak bisa menahan air mataku, satu persatu butir bening meluncur
deras melewati pipiku.
“Berhentilah menatapku seperti itu! Jangan
menangis untukku! “ Kata-kata Rio semakin menjadi-jadi.
“Pergilah! Pergi! Jangan temui aku lagi!”
Gertakan Rio semakin membuatku perih.
“Rio, tolong jangan larang aku seperti
itu!”
“Kenapa ? Apa kamu masih membutuhkan orang
cacat seperti aku ? Enggak, kan ?!!”
Aku terdiam mendengar ucapannya.
“Pergilah!” usir Rio, lagi.
Sesaat aku terdiam sambil menatap wajah
orang yang kusayang itu. Lalu melangkah keluar meninggalkan rumah Rio dengan
isak tangis yang tertahan. Saat aku menutup pintu gerbang rumahnya, mamanya
memanggilku.
“Bella.. ?” Aku menoleh. “Tolong maafkan
sikap Rio tadi, yah.” Aku hanya bisa mengangguk.
“Kamu harus bisa mencari yang lain, yang
lebih baik dari Rio.” Katanya lagi. Aku terkejut, mataku membulat, dadaku
sesak. Kupandangi wajah wanita di depanku.
“Maksudnya ? Tante ingin aku meninggalkan
Rio ? Itu enggak mungkin, tante..” Kataku dengan suara tertahan. Matanya mulai
berkaca-kaca. Ia lalu menggelengkan kepalanya, kemudian meninggalkanku. Aku
masih ingat, bagaimana perkataannya itu begitu menggores hatiku.
***
Setelah hari itu, sekitar satu minggu aku
tidak menemuinya lagi. Aku tidak tahu kabarnya lagi. Tetapi itu bukan berarti
aku berhenti memikirkannya.
Hari ke delapan, aku mulai ditusuk oleh
rindu. Kuputuskan untuk menemuinya lagi. Entah perlakuan apa yang akan Rio beri
padaku, aku siap menerimanya. Dengan sebuket bunga dalam genggamanku, aku
bersiap menemuinya.
Tiba-tiba ponselku berbunyi,
“Hallo.. ? Iya, benar. APAAA ?!” Buket
bunga yang kubawa terlepas dari genggamanku begitu saja. Setelah aku mendengar
kabar itu seperti ada badai yang baru saja menerpaku. Aku terduduk lemas di
pinggir jalan.
Aku tak peduli berapa banyak kendaraan yang
lewat, air mataku jatuh begitu saja. Jatuh tanpa henti.
Seperti dugaanku, rumah Rio ramai
dikunjungi oleh orang-orang yang menyayangi Rio. Mataku bertemu dengan mata
mama Rio. Begitu ia melihatku, ia langsung menghampiriku seraya memelukku.
Semakin erat kurasakan dekapannya, semakin tak kuasa aku menahan air mata.
Pandanganku mengarah pada jasad Rio. Dia
terbujur kaku di sudut sana. Matanya terpejam, mungkin untuk selamanya. Untuk
selamanya. Aku pasti akan merindukannya, nanti. Sangat.
Sepeninggal Rio, aku berusaha menjalani
hidupku sendiri tanpa Rio. Tak ada lagi ucapan selamat pagi darinya, tak ada
lagi yang mengomel ketika aku tak mau makan, tak ada lagi yang menyuruhku tidur
ketika malam sudah terlalu larut. Tak ada lagi bayang-bayang indahnya, tak ada
lagi bunga-bunga di hari-hari spesial. Tak akan ada lagi Rio di sampingku.
‘Sejahat
itu kah kamu, Rio ? Meninggalkan aku seperti ini ? Lupakah kamu pada janjimu ?
Akan selalu bersamaku sampai kapanpun..’
***
Dua minggu sudah berlalu dari hari yang tak
pernah kulupa itu. Hari yang mengguncang hidupku. Aku teringat, beberapa
novelku tertinggal di kamar Rio. Kuberanikan hari ini untuk pergi ke rumah duka
itu.
“Sendirian aja mba ? Pacarnya kemana ?”
Penjaga kasir di toko bunga itu menegurku.
“Eh, iya. Lagi sendirian aja.” Jawabku.
Sebenarnya aku benar-benar terhenyak dengan pertanyaannya. Ya, dia menanyakan
tentang Rio. Aku dan Rio suka berbelanja bunga di toko ini. Kami selalu berdua
datang kemari. Tetapi, hari ini aku sendirian, tanpa Rio.
Dengan sebuket bunga, aku keluar dari toko
bunga tersebut. Menurutku, toko bunga ini bukan toko biasa. Toko ini berdiri
terpisah dengan bangunan lain. Ada taman-taman yang mengitari toko ini. Aku
biasanya mampir untuk duduk di salah satu bangku taman, tentunya bersama Rio.
Langkahku melewati salah satu bangku kenangan itu. Tiba-tiba teringat semua
percakapan yang dulu pernah ada saat bersama Rio.
“Kamu
tahu tidak ? Suatu saat nanti di tahun yang akan datang, aku akan membeli
sebuket bunga dan cincin, kemudian datang melamarmu..” Begitu ucap Rio padaku, dulu. Aku hanya
menanggapinya dengan senyuman.
‘Rio,
terimakasih untuk empat tahunnya.. terimakasih untuk senyumannya.. terimakasih
untuk lagu-lagu yang kau nyanyikan untukku.. terimakasih atas cintanya..’
Aku tak pernah merasa selemah ini. Kutarik
nafas dalam-dalam, aku tak boleh seperti ini.
“Permisi tante, maaf mengganggu.”
“Bella, masuk sayang.”
Wanita itu mempersilahkan aku masuk.
Sepertinya senyumnya telah kembali setelah hari yang merenggut kebahagiaan itu.
“Kamu enggak kuliah ?” tanyanya. Aku hanya
menggangguk.
“Aku ke sini mau mengambil beberapa
barangku yang sempat tertinggal di kamar Rio.” Kataku sambil menunduk. Aku
berusaha dengan hati-hati menyebut nama ‘Rio’.
“Hmm, kalau gitu langsung ke kamarnya aja,
enggak dikunci kok.” Setelah berbicara padaku, ia berdiri dari sofa dan
berjalan ke dapur. Aku tahu, ia berusaha menutupi kesedihannya. Kurasakan ada
emosi yang tertahan di raut wajahnya.
Perlahan-lahan kubuka pintu kamarnya. Aku
tahu yang akan terjadi pasti seperti ini. Seharusnya aku tidak mencoba masuk ke
kamarnya kalau aku tak ingin ada butir air mata yang jatuh lagi.
Kamarnya tak ada perubahan. Bedanya,
sekarang tak berpenghuni. Figura-figura fotoku bersamanya tetap tertata rapi di
tempatnya. Aku lemas setengah mati. Mataku tak mampu membendung butir-butir
bening yang semakin memberontak karena ada sesak yang begitu dalam di dada.
Mataku tak sengaja memandang ke arah atas
lemari. Di sana ada bunga mawar yang layu. Tak terawat. Aku langsung mengambil
bunga layu itu dan melemparnya jauh ke luar jendela. Kuganti bunga itu dengan
buket bunga yang kubawa.
Tiba-tiba ada suara seseorang yang bernyanyi.
Persis suara Rio. Aku tahu aku sedang berkhayal. Tetapi sungguh itu suara Rio!
Suaranya berasal dari belakangku. Begitu aku membalikkan badan, aku terlonjak
kaget. Kudapati Rio tengah bernyanyi dengan gitarnya di atas ranjang.
“Rio..” ucapku pelan. Kudekati dia
perlahan. Semakin aku mendekat, semakin bayang indahnya menghilang.
“Rio.. Rio.. Jangan menghilang!” Seketika
itu ia lenyap bersama dengan angin yang berhembus kencang di luar jendela.
“RIO!!” Aku berteriak histeris. Aku tidak
ingin Rio pergi.
Mama Rio yang mendengar teriakanku segera
menghampiriku.
“Ada apa Bella ? kamu kenapa ?” Ia tampak
panik. Kemudian ia memelukku. Aku terguncang di bahunya.
“Maafin tante sebelumnya. Tante enggak
pernah cerita kalau Rio punya masalah dengan paru-parunya. Rio meninggal karena
penyakitnya.”
Aku masih dalam dekapannya.
“Carilah orang lain yang lebih bisa
membuatmu bahagia..”
Kata-katanya membuatku makin terisak.
Dekapannya makin erat.
‘Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
Kan kujadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
Namun tak kan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang telah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah’
02/10/2012
11.10
Kelas bahasa jerman
ninaa ceritamu baguss lhoo
BalasHapus