23/12/12

T e r s e l u b u n g




Meidina menatap Dicky yang sedang duduk berisitirahat di bawah pohon. Sepoi-sepoi angin sore menggoyangkan rambutnya yang panjang, membuat poninya sedikit berantakan. Meidina bermaksud menghampiri Dicky. Dicky yang merasa diperhatikan, menatap balik ke arah Meidina.
“Udah mau pulang ?” Tanya Meidina dengan hati-hati.
“Belum, nanti.” Jawabnya.
“Oh, nanti.” Meidina berharap sore ini ia bisa pulang dari sekolah bersama Dicky. Namun, jawaban Dicky sedikit mengecewakannya.
“Iya, nanti. Kamu duluan aja.” Kata Dicky dengan halus. Meidina hanya mengangguk. Meidina tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan tiap kali matanya bertemu dengan wajah Dicky, tiap ia berhadapan dengan Dicky. Meidina takut menyebutnya dengan cinta. Bagi Meidina, hanya seorang Randy lah yang bisa membuatnya terpikat. Cukup Randy, bukan Dicky. Tetapi, bagaimana kalau ia salah ?
Terkadang ia ingin menahan senyumannya ketika ia berbicara dengan Dicky, ia ingin Dicky tak menatapnya dengan cara yang membuatnya terpikat. Hanya saja hatinya selalu terenggut dan terenggut ketika Dicky menatap dan berbicara padanya.
“Yaudah, aku pulang sendiri aja.” Meidina meninggalkan Dicky.
“Mei !” Dicky memanggil namanya. Jantung Meidina berdegup kencang. Dicky memanggilnya.
“Ya ?” jawab Meidina seraya menoleh ke belakang.
“Hati-hati, yah.” Meidina mengangguk begitu Dicky menitip pesan untuk berhati-hati, meskipun Dicky berbicara dengan wajah yang datar, tanpa sebuah senyuman. Meskipun begitu, Meidina merasa hatinya bahagia, meski sesaat saja.
Entah kenapa Dicky tak pernah lagi ingin berusaha tersenyum di depan Meidina. Meidina juga ingin Dicky menatapnya dengan senyuman, sama seperti yang Dicky lakukan pada teman-teman perempuannya. Ingin sekali.
Dicky adalah seorang pemimpin, lebih tepatnya ketua OSIS di sekolahnya. Bagaimana mungkin Meidina tidak merasa kagum pada lelaki yang mempunyai gaya kepemimpinan dan bertanggungjawab seperti Dicky ? Di sisi lain Meidina lebih kagum pada Randy, seorang pria sejati yang berbakat menjadi seorang pesepak bola. Randy berhasil membuat hatinya penasaran. Selalu bertanya-tanya mengapa pria sedingin itu bisa begitu menarik perhatiannya ?
“Tugas dikumpul besok, kan?” Tanya Syela pada Dicky.
“Iya.” Jawab Dicky dengan penuh senyuman. Meidina menatap miris dari kejauhan. Meidina merasa tatapan Dicky terhadap Syela sangat berbeda ketika Dicky menatapnya. Oh, mungkinkah ? Meidina menduga-duga arti tatapan Dicky terhadap Syela. Meidina melangkah maju ke arah Dicky. Dia ingin tahu bagaimana ekspresi Dicky terhadapnya di hari ini.
“Hey.” Sapa Meidina.
“Hey.” Dicky membalasnya. Lagi-lagi dengan wajah datar. Tak lama, Dicky meninggalkan Meidina. Meidina masih ingat betul bagaimana dulu ia dan Dicky sangat akrab. Mereka selalu berbicara sepanjang hari. Menanyakan kabar, dan bercerita banyak hal. Meidina merasa ada sekat antara dirinya dengan Dicky. Meidina masih teringat dengan perkataan Dicky beberapa waktu lalu melalui pesan singkat,

“ km nggak kyk biasanya, td d sklah cmberut terus. Aku mau ngajak km bicara, mau bkin km trsenyum. “
Betapa perhatiannya Dicky pada Meidina. Meidina tidak sadar bahwa dulu Dicky benar-benar memperhatikannya di sekolah. Betapa dulu, Dicky ingin Meidina selalu tersenyum. Betapa dulu, Dicky peduli dengan suasana hati Meidina. Bahkan Dicky sempat mengatakan lewat sebuah pesan singkat,

“ trimakasih sdh membuat hari-hariku lbh brwrna. “

Sekarang Dicky berubah. Meidina masih ingin bersama Dicky yang dulu. Masih ingin bercerita tentang banyak hal yang mungkin tidak bisa ia ceritakan pada Randy. Masih ingin mendapatkan senyuman Dicky. Masih ingin Dicky mengisi harinya. Dicky melakukan banyak hal yang membuatnya senang. Meidina sempat berharap Randy juga bisa menjadi seorang Dicky. Dicky yang begitu baik padanya. Dicky yang mau mendengar semua cerita dan keluh kesahnya. Sekarang keadaannya berubah. Meidina merasa kehilangan Dicky, apa arti dari rasa kehilangan yang begitu mendalam ini ? Entah apa harus Meidina mengatakannya sebagai sebuah cinta yang terselubung ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar