Meidina
menatap Dicky yang sedang duduk berisitirahat di bawah pohon. Sepoi-sepoi angin
sore menggoyangkan rambutnya yang panjang, membuat poninya sedikit berantakan.
Meidina bermaksud menghampiri Dicky. Dicky yang merasa diperhatikan, menatap
balik ke arah Meidina.
“Udah mau
pulang ?” Tanya Meidina dengan hati-hati.
“Belum,
nanti.” Jawabnya.
“Oh, nanti.”
Meidina berharap sore ini ia bisa pulang dari sekolah bersama Dicky. Namun,
jawaban Dicky sedikit mengecewakannya.
“Iya, nanti.
Kamu duluan aja.” Kata Dicky dengan halus. Meidina hanya mengangguk. Meidina
tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan tiap kali matanya bertemu dengan
wajah Dicky, tiap ia berhadapan dengan Dicky. Meidina takut menyebutnya dengan
cinta. Bagi Meidina, hanya seorang Randy lah yang bisa membuatnya terpikat.
Cukup Randy, bukan Dicky. Tetapi, bagaimana kalau ia salah ?
Terkadang ia
ingin menahan senyumannya ketika ia berbicara dengan Dicky, ia ingin Dicky tak
menatapnya dengan cara yang membuatnya terpikat. Hanya saja hatinya selalu
terenggut dan terenggut ketika Dicky menatap dan berbicara padanya.
“Yaudah, aku
pulang sendiri aja.” Meidina meninggalkan Dicky.
“Mei !” Dicky
memanggil namanya. Jantung Meidina berdegup kencang. Dicky memanggilnya.
“Ya ?” jawab
Meidina seraya menoleh ke belakang.
“Hati-hati,
yah.” Meidina mengangguk begitu Dicky menitip pesan untuk berhati-hati,
meskipun Dicky berbicara dengan wajah yang datar, tanpa sebuah senyuman. Meskipun
begitu, Meidina merasa hatinya bahagia, meski sesaat saja.
Entah kenapa
Dicky tak pernah lagi ingin berusaha tersenyum di depan Meidina. Meidina juga
ingin Dicky menatapnya dengan senyuman, sama seperti yang Dicky lakukan pada
teman-teman perempuannya. Ingin sekali.
Dicky adalah
seorang pemimpin, lebih tepatnya ketua OSIS di sekolahnya. Bagaimana mungkin
Meidina tidak merasa kagum pada lelaki yang mempunyai gaya kepemimpinan dan
bertanggungjawab seperti Dicky ? Di sisi lain Meidina lebih kagum pada Randy,
seorang pria sejati yang berbakat menjadi seorang pesepak bola. Randy berhasil
membuat hatinya penasaran. Selalu bertanya-tanya mengapa pria sedingin itu bisa
begitu menarik perhatiannya ?
“Tugas
dikumpul besok, kan?” Tanya Syela pada Dicky.
“Iya.” Jawab
Dicky dengan penuh senyuman. Meidina menatap miris dari kejauhan. Meidina
merasa tatapan Dicky terhadap Syela sangat berbeda ketika Dicky menatapnya. Oh,
mungkinkah ? Meidina menduga-duga arti tatapan Dicky terhadap Syela. Meidina
melangkah maju ke arah Dicky. Dia ingin tahu bagaimana ekspresi Dicky
terhadapnya di hari ini.
“Hey.” Sapa
Meidina.
“Hey.” Dicky
membalasnya. Lagi-lagi dengan wajah datar. Tak lama, Dicky meninggalkan
Meidina. Meidina masih ingat betul bagaimana dulu ia dan Dicky sangat akrab.
Mereka selalu berbicara sepanjang hari. Menanyakan kabar, dan bercerita banyak
hal. Meidina merasa ada sekat antara dirinya dengan Dicky. Meidina masih
teringat dengan perkataan Dicky beberapa waktu lalu melalui pesan singkat,
“ km nggak kyk biasanya, td d sklah cmberut terus. Aku mau
ngajak km bicara, mau bkin km trsenyum. “
Betapa perhatiannya
Dicky pada Meidina. Meidina tidak sadar bahwa dulu Dicky benar-benar
memperhatikannya di sekolah. Betapa dulu, Dicky ingin Meidina selalu tersenyum.
Betapa dulu, Dicky peduli dengan suasana hati Meidina. Bahkan Dicky sempat
mengatakan lewat sebuah pesan singkat,
“ trimakasih sdh membuat hari-hariku lbh brwrna. “
Sekarang Dicky
berubah. Meidina masih ingin bersama Dicky yang dulu. Masih ingin bercerita
tentang banyak hal yang mungkin tidak bisa ia ceritakan pada Randy. Masih ingin
mendapatkan senyuman Dicky. Masih ingin Dicky mengisi harinya. Dicky melakukan
banyak hal yang membuatnya senang. Meidina sempat berharap Randy juga bisa
menjadi seorang Dicky. Dicky yang begitu baik padanya. Dicky yang mau mendengar
semua cerita dan keluh kesahnya. Sekarang keadaannya berubah. Meidina merasa
kehilangan Dicky, apa arti dari rasa kehilangan yang begitu mendalam ini ?
Entah apa harus Meidina mengatakannya sebagai sebuah cinta yang terselubung ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar