Hey,
nama gua Namira. Cukup panggil gua dengan sebutan “Nam”, lebih keren
kendengarannya, kan ? Gua gadis manis berdarah sunda, dan betah tinggal di Jakarta. Salah
deh, yang betah itu orangtua gua. Gua anggota dari The Dreamer gank. Gank yang
beranggotakan Fajar, Jonathan, Dani, dan si Dika abang tercakep gua, karena dia
satu-satunya kakak gua, dan gua satu-satunya adik dia. Kakak gua adalah
pemimpin gank ini. Dan anggotanya adalah teman-teman gua sendiri. Ini pasti
modus, supaya dia enak-enakan jadi bos dan teman-teman gua jadi kayak
kacungnya. Ini teman-teman gua yang bodoh atau gimana, sih ? Mereka mau aja
jadi anak buahnya kakak gua.
Masa remaja gua benar-benar penuh
kekonyolan. Tiap hari bisanya menghabiskan duit orangtua, dan tanpa cinta. Gua
masih normal, kok. Gua juga bisa jatuh cinta. Cuma malas aja untuk menyentuh
segala hal yang berbau cinta.
So, gua pilih gabung dengan ganknya
kakak gua. Gua maksa. Akhirnya gua berhasil menjadi satu-satunya anggota cewek
di The Dreamer gank. Sesuai dengan nama ganknya yang berarti Pemimpi, lihat aja
deh di kamarnya si Fajar penuh dengan poster “I want to be blabla..” hasil
karya tangannya sendiri, kayak anak Tk gitu. Gua cerita ke mama tentang hal
itu.
“Ma, si Fajar lucu, deh. Masa yah di kamarnya banyak banget
poster-poster ‘I want to be’ inilah itulah. Lucu deh, ma. Haha.” Di sini gua
amat berharap nyokap juga ikut ngakak, eh yang ada dia malah natap gua dengan
juteknya.
“Bagus dong kalau begitu ! Patut
dicontoh, tuh ! Kamu kalau mau cari calon suami yang kayak gitu aja, yang
berambisi !” ini teh nyokap meni
ngebetein, parah siah.
Kembali ke The Dreamer gank. Fajar,
dia anak band, pegang peran jadi vokalis, pintar main gitar, tapi gitu deh. Gua
udah sering ilfil. Gua kan dekat banget sama dia, jadi gua selalu ada
disaat-saat misalnya waktu ada cabe nyangkut di giginya, atau waktu dia ngorok,
bahkan pernah tuh kedapetan ngompol. Kurang malu apa coba, gua punya teman
kayak gitu ? Kelebihannya sih ada, salah satunya wawasannya luas, apa lagi soal
cewek, beeeh dahsyat ! Beralih ke si Jo, dia orangnya nggak macam-macam, penuh
perhatian, baik deh, enggak sok orangnya. Kalau si Fajar mah kan, soknya pake
banget. Kalau si Dani, orangnya stay cool, bikin banyak cewek geregetan. Tapi
menurut gua sih biasa aja. Beneran deh, Dani mah biasa aja. Nah, kalau si Dika
abang gua, dia aneh. Dia cakep tapi nggak laku.
Ada satu pengalaman waktu gua bete
parah. Tapi ini nggak ada hubungannya sama The Dreamer gank. Gua bete sama
seorang cowok, eh bukan seorang kali yah, tapi sama makhluk yang super-kepo,
ocho-ocho, plinplan, betein parah, dan lain-lain.
Ceritanya gini, gua bete sama sama
dia, dan sama segala curcolannya yang nggak bermutu dan norak !
Besok ada ulangan fisika, dan gua
udah bete berat karena itu. Lagi bete-betenya tahu nggak ? Dia share gitu.
Curcol gitu. Gua tambah bete. Nggak lama kemudian datang lagi curcolannya yang
lain, dan kebetean gua pun berlipat ganda. Saking betenya gua balas aja,
“Jangan pernah lagi curcol ke gue !”
dan ternyata dia malah jawab, “Maksudnya ?” Yaa Tuhan, ini manusia atau apaan,
sih ? Gua balas lagi aja, “Masa nggak ngerti, sih ?”
Dia jawab lagi, “Memang aku nggak
ngerti maksud kamu.” Idih, sok kalem banget nih orang. Oke, butuh kesabaran
untuk menghadapinya. Gua balas lagi aja, “Lupain deh.”
Dia balas lagi, “Btw, lagi ngapain ?”
Ya ampun, kurang ngocol apa ini orang ?? Lu makhluk apaan, sih ? makhluk yang
sengaja dikirimin Tuhan untuk meningkatkan rasa bete gua, yah ?._.
Besoknya ulangan fisika. Gua tahu,
gua nggak bakalan bisa, tapi ada satu hal yang mesti kalian tahu, ‘waktu’ cepat
berlalu, benar kan ? jadi, 2 jampun berlalu dan seketika saja semuanya sudah
berlalu. Tapi pikiran gua, pikiran gua woyy !! pikiran gua jadi blank begini.
Lihat aja waktu Siska minta ditemani untuk buang air kecil.
“Nam.. temenin gua dong, kebelet
nih.”
“Hah ? Dimana ?” Tanya gua dengan
terkejut.
“Di toiletlah.” Jawab Siska dengan
ogah. Pikiran gua masih blank.
“Oh iya, yah..” Pikiran gua
benar-benar blank.
***
Gua masih kelas 3 SMP. Nggak ngerti
sama yang namanya cinta. Awalnya gua berpikir, cinta itu suatu kebodohan. Bodoh
karena berairmata, bodoh karena cemburu, bodoh karena merusak pelajaran, bahkan
bodoh karena merusak persahabatan.
Tetapi, seorang cowok menyadarkan gua
tentang makna cinta. Piam, namanya. Aneh, tapi lucu didengar. Gua nggak ngerti
sama perasaan gua terhadap dia. Kadang suka, tiba-tiba benci, sedikit-sedikit
kangen. Gua sadar, gua masih labil. Gua biarkan aja rasa aneh ini mengalir.
***
Yeayyy!
Ini masih tentang perjalanan hidup gua.
Sekarang gua duduk di bangku SMA. Teman-teman gua kebanyakan ngincar kakak
kelas. Gua sih nyadar diri aja, gua cuma gadis biasa. Nggak kayak teman-teman
gua yang kece-kece. Ternyata si Piam juga satu sekolah sama gua. Perasaan yang
aneh itu muncul lagi. Kali ini lebih mendalam. Piam tambah hitam, tambah
tinggi, tapi cakepnya nggak berkurang sedikitpun. Cakep badai.
Diam-diam gua memperhatikan dia. Dia
masih setia dengan basket. Dia cool, masih seperti dulu. Setahu gua, dia nggak
pernah ngincar cewek. Karena dia selalu sendirian. Itu membuat gua sedikit
lega. Gua enggak butuh balasan cintanya. Gua suka dia tanpa alasan. Cinta nggak
selalu butuh alasan, kan ? Terjadi begitu saja. Buat gua, bisa nikmati
senyumnya dari jauh, itu sudah cukup. Meski senyumnya bukan untuk gua.
***
Masa SMA, gua lewati dengan amat lancar
tanpa ada acara patah hati, meski nilai kadang merah. Tapi, meski begitu, mama
dan papa selalu bangga punya anak kayak gua. Apa lagi sekarang gua berhasil
masuk ke salah satu universitas bergengsi dengan jurusan Sastra Bahasa
Indonesia. Abang gua juga nggak mau kalah, dia masuk jurusan Sastra Bahasa
Inggris.
Satu persatu kebebasan mulai gua
rasain di bangku kuliah. Gua enggak nyangka umur gua bisa sepanjang ini.
Siang itu gua lagi melukis di taman
belakang kampus. Tempatnya indah dan sejuk. Banyak pasangan yang nongkrong di
sini. Tapi, gua ke sini mau numpang melukis. Tempatnya juga sepi dan nggak
bising.
Gua emang anak sastra, tapi gua suka
melukis. Menulis dan melukis adalah dua cara gua untuk menuangkan segala macam
emosi yang berkelebat di pikiran gua.
Kuas di tangan gua tiba-tiba berhenti
bergerak saat mata gua melihat seorang cowok tinggi yang sedang sibuk dengan
kameranya. Dari jauh cowok ini “Wah banget!”. Kayaknya gua pernah lihat dia,
deh. Dimana yah ? Anak sastra juga bukan, yah ? Tiba-tiba dia mendekat. Masih
dengan kameranya. Dan tanpa sadar wajah gua yang sedang memperhatikannya
tersorot oleh kameranya. Dia memotret gua. Sekarang gua bisa melihat wajahnya
dengan jelas. Dia mendekat ke arah gua, dan melebarkan senyumnya. Sementara itu
gua nampak bego di depannya dengan wajah melongo penuh kekaguman yang luarbiasa
padanya.
“Hey.. bukannya elu anak sastra, yah
? Pintar melukis juga ternyata.” Gua kenal banget. Dia..
“Nama gua Piam. Anak sastra juga.”
Dia mengulurkan tangannya. Dia benar-benar nggak tahu kalau gua pernah satu
sekolah sama dia. “Kenapa diam ? Nama gua aneh yah ? Emang. Haha.” Begitu
mendengar gelakannya, gua tersadar. Dia memang Piam. Piam yang berhasil membuat
gua luluh.
“Enggak aneh kok, haha. Nama gua
Nam.” Gua membalas uluran tangannya.
“Kayaknya kita pernah bertemu
sebelumnya, deh ?”
“Emang, dulu kan kita pernah satu
sekolah.” Dia sedikit terkejut dan Nampak heran. Tetapi, kemudian ia
mengembangkan kembali senyumnya. Hari itu kami bercerita banyak tentang
masa-masa SMA dulu. Kami bernostalgia bersama. Andai hari ini lebih cepat
datangnya.
Semenjak hari itu, gua akrab
dengannya. Tanpa sadar, kami menjalin persahabatan. Dia join di The Dreamer
Gank, atas saran gua. Konyol. Dalam hati, gua selalu berharap semoga suatu saat
gua dan dia bisa lebih dari sekedar bersahabat.
***
Cerita tersebut adalah cerita-cerita
gua di masa-masa sekolah. Nggak ada yang bisa menggantikan masa-masa itu. Gua
selalu merindukan masa-masa itu.
Sekarang gua sudah lulus dan dapat
gelar sarjana. Gua juga udah married,
dong. Selalu saja ada rencana Tuhan yang enggak bisa kita kira. Cinta pertama
gua adalah cinta terakhir gua, Piam. Thank you So Much, Piam !
07/11/12 22.01 WITA
Diary kecil
Tidak ada komentar:
Posting Komentar