30/12/22

Menjaga Perasaan (Orang Lain)

 Aku melayangkan sebuah tanya bertubi-tubi kepada seorang kawan dekat via whatsApp,

"Oh gtu hahaha eeeeh kok bs pindah gtu siih? Nyari2 lg sendiri atau emang ditransfer sama kantor yg lamaa? Kamu tipenyaa yg gak suka update kerjaan gak siihhh? Asliii lhooo kalo liat story kmuu kyk gak pernah stres krn kerjaan? Apa iya betul kerjaan kamu ga bikin stres? Kalo iyaaa berarti itu berkah dan salah satu rejeki dalam hidup kamu yaaa😃 banyak orang yg aku kenal tuh pada tertekan sm pekerjaan mereka😂 atau nggak, banyak yg gak dpt2 kerjaaa.."

Lalu, apa jawabnya?

 "Aku berusaha untuk keep semuanya karena banyak yg belum dapet kerja plus ada yg kerjaannya banyak problem kayak yg kamu bilang tadi."

Aaaaa iya, menjaga perasaan orang lain! :')

Kalau yang tadi tentang menjaga perasaan orang lain dari hal-hal yang belum berhasil mereka miliki, di sisi lain di hari yang sama aku juga membaca kalimat yang menyentuh dari media quora. Ini tentang penerimaan terhadap diri kita. Ini tentang bagaimana menyikapi takdir yang belum tiba.

"Kalau kita sudah 100% menerima kondisi kita, tidak ada yang bisa membuat kita kesal atau tersinggung :)"

"Hidup ternyata sesederhana itu, asalkan kita mau berdamai dengan kenyataan serta berhenti menghabiskan waktu untuk mendamba hal-hal yang tidak kita miliki."

Ini potongan cerita dari seorang perempuan kepala tiga yang belum dipertemukan dengan jodohnya. Alih-alih resah, ia memilih untuk berdamai dengan takdir hidupnya. Terima kasih sudah berbagi cerita, mbak.

 

Bogor, 7 Des '22 | 08.22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar