17/05/18

#MuslimahSinauProjectDay2 : Sebuah Pelajaran Dari Pendakian


Sumber gambar : My Gallery

“Kamilah yang menghamparkan bumi, dan kami pula yang menegakkan gunung-gunung, serta menumbuhkan segalanya dengan imbang” (QS. Al Hijr: 19)

Alhamdulillah, pada tanggal 14 April kemarin saya berkesempatan menginjakkan kaki di puncak Prau setelah mengalami drama sakit dahulu, hehe. Awalnya sempat hampir batal karena menjelang keberangkatan saya sakit, namun ternyata begitu kerasnya kemauan untuk sembuh sehingga atas izin-Nya saya tetap berangkat dan masyaAllah, Allah perlihatkan pada saya bagaimana kuasa-Nya mampu menggerakkan kedua kaki saya hingga sampai di puncak dan memandang takjub pada bumi ciptaan-Nya meski hanya dari satu sisi kecil, yakni puncak Prau. Perjalanan saya menuju puncak Prau bisa teman-teman baca dalam postingan saya yang berjudul “Menginjakkan Kaki di Puncak Prau!” beberapa postingan sebelum postingan ini.

Saya tipe personal yang memiliki jarak lari pendek, tentu sangat terengah-engah ketika mendaki meski tak berlari. Memulai pendakian pada pukul sembilan malam, tentu saya kedinginan. Membawa ransel setinggi kepala, tentu bukan hal yang ringan bagi saya apalagi saya baru saja sembuh. Tetapi, malam itu tiada saya berucap bahwa saya ingin kembali, pantang bagi saya kembali, sebab kaki saya sudah melangkah sejauh ini, pun mata saya yang menahan kantuk luarbiasa dibuat melek terpesona dengan langit malam kala itu yang bertaburkan bintang. Pelan-pelan bibir saya tersenyum bisu di tengah nafas yang memburu.

Kejutan belum selesai rupanya, saya dibangunkan oleh angin yang mengetuk-ngetuk kemah saya hingga jendela kemah tersingkap dan terlihatlah sunrise yang menawan. Sungguh, saat itu rasanya tidak ingin pulang! Ingin membangun rumah saja di sana!

Secara tidak langsung pengalaman mendaki ini menguatkan saya untuk terus berjuang dalam menghadapi berbagai persoalan hidup yang datang. Seperti halnya saat menghadapi jalan mendaki demi mencapai puncak, saat saya memutuskan untuk terus naik hingga puncak meski seluruh tubuh telah lelah, seluruh peluh telah tumpah. Sesekali saya menengok ke belakang dan tersadar sudah sejauh apa saya melangkah, sudah sampai di titik mana saya berada dan pijakan saya saat itu terus menguatkan saya, hati terus menyemangati, lalu seolah berbisik, “sedikit lagi, sedikit lagi! Sudah hampir sampai!”

Hidup tak akan pernah lepas dari berbagai persoalan, tak mengenal usia, laki-laki atau perempuan, waktu, dan tempat, hidup terus saja menawarkan masalah, namun hidup juga menawarkan berbagai kisah dan pengalaman yang kiranya pandai-pandailah kita sebagai manusia melihat, berpikir, lalu mengambil pelajaran untuk kita pelajari dan bersiap menghadapi masalah - masalah berikutnya.

“Gunung tidak membuat kita melupakan masalah. Gunung hanya membuat kita merasa bahwa segala masalah tidak lagi berarti.” – Kawannya Fiersa Besari

4 komentar:

  1. Semoga bisa berjuang dengan gunung-gunung lain ya Mbak , kata orang , selalu ada pelajaran berharga setelah proses pendakian :D

    Sayangnya aku belum pernah naik gunung :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin Aamiin. Ini aja aku ketagihan hihi.

      Iya mbak, semoga kita termasuk orang-orang yang mudah mengambil pelajaran dari setiap proses pendakian maupun proses kehidupan. Aamiin :)

      Mendaki, yuk! :D

      Hapus
  2. Hwaaa.. Quotes nya itu lho bikin kangen aja naik gunung lagi

    BalasHapus