29/11/17

Saya; Jutek



“Jadi, karena saya suka sama kamu, kamu pikir kamu bisa seenaknya pada saya?”

Wuih. Ini kejam banget nggak sih, guys? Kalimat yang satu ini benar-benar menonjok saya sekaligus menyadarkan saya. Memangnya saya terhadap kamu gimana? Saya semena-mena?

Buat saya, satu kalimat ini jahat banget meski sebenarnya jika saya mengungkapkannya, wajah saya akan tetap datar.

Beberapa waktu lalu saya sempat mengadakan polling lewat instagram story selama beberapa jam dengan menuliskan opsi pertama, apakah saya cuek? Kedua, ataukah jutek? Hasilnya menunjukkan bahwa kurang lebih lupa-lupa ingat 10 orang vote cuek dan 18 orang vote jutek. Waw. Saya jutek?

Iya deh iya. Jika diperhatikan, saya bukan tipe orang yang peduli di depan chat group. Bukan tipe orang yang akan copy–paste ucapan selamat ulangan tahun atau belasungkawa kepada temannya di grup. THAT IS NOT ME. Then, my dad until jengkel because I didn’t say thankyou to my aunt on big family group? Hi, what’s up? What’s wrong ? apa semua hal mesti dipublikasikan? Saya tanya begitu kepada bapak saya. Then, see, my Dad said sorry to me because I said I’ve done to say thankyou to her via personality chat. Why I must say thankyou on group? THAT IS NOT ME. If you really care then you will reach her personally.

Pernah suatu malam, seorang teman laki-laki saya tidur tepat di bawah AC, dia memang tidak prepare apapun untuk malam itu karena suatu keadaan yang membuatnya terpaksa tidur di sana malam itu. Dia tertidur dengan meringkuk. Jelas kedinginan. Bajunya lengan pendek, segera saja saya selimuti dia pakai jaket saya, posisi saya saat itu juga kedinginan tetapi saya ada selimut. Sedangkan, teman saya itu pakai kaos lengan pendek dan celana selutut, namanya juga laki-laki.

Besoknya dia nanya di depan kami semua,
“Semalam siapa yang ngejaketin gue?”

Saya diam saja sambil ngebatin, “halah, ngapain lu segala nanya-nanya. Kan udah tahu itu jaket gue kali.”

Coba bayangkan kalau teman laki-laki saya ini sensitif dan bawa-bawa perasaan, bisa saja hal baik yang kita lakukan jika terang-terangan malah akan membuat dia salah paham. Untung saja saya tahu betul karakter dia seperti apa. Jadi, kalau mau peduli mungkin kita perlu lihat-lihat dulu siapa orangnya. Banyak kejadian peduli yang berujung pada kesalahpahaman.

Lalu setelah semua orang sibuk masing-masing, dia hampiri saya, “elu kan?” Tanya dia sambil cengar-cengir. Dan saya tetap diam.

Terimakasih untuk yang sudah voting, saya akan terus belajar untuk memperbaiki diri saya. Semoga kamu bisa benar-benar meletakkan perasaan kamu di tempatnya, bukan di segala tempat apalagi di sembarang tempat. Beberapa tempat hanya butuh logika dan ketegasan, beberapa tempat lainnya memang perlu menghadirkan perasaan. Sikap kamu yang menggelikan hanya bisa saya jadikan pelajaran, bukan menjadi perasaan.

If you as human can to love other human, then why I as a human can not to reject the other human feelings?

4 komentar:

  1. Jadi, karena saya 'PERNAH' suka sama kamu, kamu pikir kamu bisa seenaknya pada saya?

    BalasHapus
  2. Karena kamu telah menghilangkan kata pernah

    BalasHapus