“Jadi, karena saya suka sama kamu, kamu
pikir kamu bisa seenaknya pada saya?”
Wuih. Ini kejam
banget nggak sih, guys? Kalimat yang satu ini benar-benar menonjok saya
sekaligus menyadarkan saya. Memangnya saya terhadap kamu gimana? Saya
semena-mena?
Buat saya, satu
kalimat ini jahat banget meski sebenarnya jika saya mengungkapkannya, wajah
saya akan tetap datar.
Beberapa waktu
lalu saya sempat mengadakan polling lewat instagram story selama beberapa jam
dengan menuliskan opsi pertama, apakah saya cuek? Kedua, ataukah jutek? Hasilnya
menunjukkan bahwa kurang lebih lupa-lupa ingat 10 orang vote cuek dan 18 orang
vote jutek. Waw. Saya jutek?
Iya deh iya. Jika
diperhatikan, saya bukan tipe orang yang peduli di depan chat group. Bukan tipe
orang yang akan copy–paste ucapan selamat ulangan tahun atau belasungkawa
kepada temannya di grup. THAT IS NOT ME. Then, my dad until jengkel because I didn’t
say thankyou to my aunt on big family group? Hi, what’s up? What’s wrong ? apa
semua hal mesti dipublikasikan? Saya tanya begitu kepada bapak saya. Then, see,
my Dad said sorry to me because I said I’ve done to say thankyou to her via
personality chat. Why I must say thankyou on group? THAT IS NOT ME. If you really care then you will reach her personally.
Pernah suatu
malam, seorang teman laki-laki saya tidur tepat di bawah AC, dia memang tidak
prepare apapun untuk malam itu karena suatu keadaan yang membuatnya terpaksa
tidur di sana malam itu. Dia tertidur dengan meringkuk. Jelas kedinginan.
Bajunya lengan pendek, segera saja saya selimuti dia pakai jaket saya, posisi
saya saat itu juga kedinginan tetapi saya ada selimut. Sedangkan, teman saya
itu pakai kaos lengan pendek dan celana selutut, namanya juga laki-laki.
Besoknya dia
nanya di depan kami semua,
“Semalam siapa
yang ngejaketin gue?”
Saya diam saja sambil
ngebatin, “halah, ngapain lu segala nanya-nanya. Kan udah tahu itu jaket gue
kali.”
Coba bayangkan
kalau teman laki-laki saya ini sensitif dan bawa-bawa perasaan, bisa saja hal
baik yang kita lakukan jika terang-terangan malah akan membuat dia salah paham.
Untung saja saya tahu betul karakter dia seperti apa. Jadi, kalau mau peduli
mungkin kita perlu lihat-lihat dulu siapa orangnya. Banyak kejadian peduli yang
berujung pada kesalahpahaman.
Lalu setelah
semua orang sibuk masing-masing, dia hampiri saya, “elu kan?” Tanya dia sambil
cengar-cengir. Dan saya tetap diam.
Terimakasih untuk
yang sudah voting, saya akan terus belajar untuk memperbaiki diri saya. Semoga
kamu bisa benar-benar meletakkan perasaan kamu di tempatnya, bukan di segala
tempat apalagi di sembarang tempat. Beberapa tempat hanya butuh logika dan
ketegasan, beberapa tempat lainnya memang perlu menghadirkan perasaan. Sikap kamu
yang menggelikan hanya bisa saya jadikan pelajaran, bukan menjadi perasaan.
If you as human can to love other human,
then why I as a human can not to reject the other human feelings?
Jadi, karena saya 'PERNAH' suka sama kamu, kamu pikir kamu bisa seenaknya pada saya?
BalasHapuskok kamu kesal ?:)
HapusKarena kamu telah menghilangkan kata pernah
BalasHapusOH IYA HAHAHAHA SORRY.
Hapus