Tentang kendali diri. Mungkin bagi yang telah menikah, di suatu hari pernah ada momen-momen dimana diri menjadi hilang kendali, bingung hadapi situasi, diduga masih terus berlangsungnya proses adaptasi, ya memang tanpa henti.
Apa yang membuat kita hilang kendali?
Sebelum pernikahan terjadi, di dalam pikiran—kita punya konsep ideal tentang sebuah pernikahan. Kemudian ada suatu hal yg tak sesuai ekspektasi kita. Wajar kecewa. Ada sebab-akibat.
Apa yang dilakukan ketika mulai hilang kendali?
Cobalah untuk tidak merespon emosi secara langsung. Berhitung dulu, tidak langsung reaktif.
Lakukan deeptalk dengan pasangan. Tanyakan hal apa yang bikin kamu tak nyaman soal aku? Dan sebaliknya. Jangan pernah bosan lakukan obrolan ini, kasih tahu lagi, kasih tahu terus, bahas berulang-ulang karena memang seperti itu, perlu diingatkan.
Selain itu, buat satu aktivitas bersama di luar aktivitas harian yang menjenuhkan. Kembalikan memorinya untuk mengingat tentang kita, bukan tentang tugas-tugas keseharian.
Apa yang penting untuk disadari?
STANDAR PENTING antara kita dan pasangan boleh jadi berbeda. Tak penting bagiku, bisa penting baginya, juga sebaliknya.
Kemudian, hadirkan sikap toleran pada pasangan. Ya kali mau mengubah satu orang dalam waktu singkat, sementara dia sudah seperempat abad hidup dengan orang tuanya yang memiliki pola asuh berbeda dengan orang tua kita. Hasilnya tentu ada perbedaan dalam keseharian dan hal-hal kecil lainnya yang memang cukup mengganggu.
Bila ada sesuatu yang tak sesuai ekspektasi, contoh kecilnya seperti dalam rumah saya, suami kalau ngepel ampun deh sampai becek lantainya kayak abis banjir, kalau nyuci piring airnya ngucur terus kan boros, kalau bantu cuci baju pernah salah gitu lho padahal pakai mesin cuci, kalau nyapu berisik gedabruk-gedabruk sampai saya takut sapunya rusak hih. Akhirnya berdamai dengan keadaan~ fyuuuuh.
Caranya dengan: diterima aja dulu apa-apa yang tidak sesuai ekspektasi kita. Karena ini dua makhluk yang berbeda dan tidak sempurna. Karena menikah bisa dikatakan adalah kompromi seumur hidup. Maka pilihlah seseorang yang kamu bisa berkompromi atas tindakannya walau itu bikin kamu kesal. Kalau kamu tak bisa terima, jangan paksakan untuk bersama, risiko seumur hidup dihinggapi rasa dongkol apa tidak lelah, sis?
Selanjutnya, sampaikan value kita—yang kalau dilanggar kita akan marah besar.
Merubah seseorang adalah hal di luar kendali kita. Oleh karena itu pikirkan apakah dia bisa toleran dengan value kita? Apakah bisa diupayakan? Ya, pikirkan ya tolong.
Sadar nggak sih, kita kadang nggak sabar sama prosesnya. Terlalu fokus sama tujuan. Jangan bergelut dengan perasaan dan harapan. Fokuslah ke aktivitas.
Proses pahit adalah buah dari tidak sabarnya kita pada diri sendiri, belum menerima dan merasa tidak utuh. Solusinya memang sedikit berat: yaitu ikhlas, ridho.
Jadi, sabar dulu pada diri. Sabar yang ngasih itu Allah, tapi kita bisa berusaha. Let it go, perbolehkan dirimu untuk belum mampu.
Sekian evaluasi pernikahan yang semoga bermanfaat buat yang membacanya.
Bogor, 31 Maret 2023
Tidak ada komentar:
Posting Komentar