15/05/16

#2 A Story From Jogja: Vinsyandana



Restoran-restoran yang berdiri megah di sepanjang jalan dengan berbagai macam menu yang disediakan dan dengan berbagai macam harga pula, mulai dari harga rendahan hingga menjulang, sukses membuat perutku bunyi.

Aku mulai memasuki gang demi gang yang sepanjang jalannya adalah bangunan sekolah yang sudah tua dan membuatku membuatku bergidik dengan reaksi pepohonan rindangnya yang dimainkan oleh sang angin. Kueratkan tasku dan kurapatkan jaketku. Suara sepatuku memenuhi jalanan yang hanya diterangi beberapa lampu yang berjarak begitu jauh antara satu dengan yang lainnya, itupun cahayanya cukup remang-remang.

Mungkin beberapa orang menilai aku beraura kelaki-lakian alias tomboi, tetapi itu tak menghadangku untuk memiliki rasa takut apalagi dalam kondisi seperti sekarang ini. Aku mulai membiasakan diriku pulang semalam ini karena tuntutan tugas yang tak bisa aku selesaikan bila hanya dikerjakan di dalam kost saja.

Rasa lega meliputiku saat pintu gerbang rumah megah nan tua sudah di depan mata. Tentu saja bukan rumahku, aku hanya menyewa satu kamar kost di salah satu sisi rumah ini, rumah Ibu Nurmala. Beliau memang hidup sendiri, untung saja Pak Parminto dan istrinya, Bu Laksmi, bersedia tinggal di sini menemani beliau. Entahlah, mereka bersedia atau karena mereka tidak punya pilihan tempat tinggal lainnya. Selain itu, Pak Parminto dan Bu Laksmi memiliki empat orang anak, maka bertambahlah ramai rumah besar itu.

Aku menggertakan gigiku, suara gerbang yang berisik memecah malam. Mau bagaimana lagi, dari awal aku datang ke kost ini, pintu gerbangnya berisik apabila dibuka atau ditutup. Pelan-pelan aku membuka pintu samping, pintu yang menghubungkan halaman depan dengan ruang tamu untuk penghuni kost. Aku menghembuskan nafas lega saat mendapati Arum tengah nangkring di kursi sambil memainkan ponselnya. Anak itu tak bergeming dengan kedatanganku. Dasar Arum, mendadak jadi autis saat ponsel berada di tangannya. Sementara itu, terlihat mie instant yang berada dalam bentuk cup mengepulkan asapnya bertanda Arum baru saja menyeduhnya.

Aku menerjunkan tubuhku di kursi tepat di samping Arum. Kuraih mie instant itu dan siap kutelan, mendadak keautisan Arum hilang.
"Enak aja! Bikin sendiri, dong!" aku menatapnya kesal. Aku memang hanya bercanda, sih, tetapi perutku sejak tadi lapar, itu seriusan.
Arum dengan lahapnya menghabiskan mie instant itu. Aku hanya diam sambil melirik-liriknya. Merasa dilirik, Arum melirik balik. Setelah itu, ia bangkit meninggalkanku. Aku bertambah kesal, dasar pelit!
Tak sampai lima menit, Arum kembali lagi dengan sendok dan garpu di tangannya.
"Ayo kita makan berdua." kata Arum, mataku tiba-tiba saja berbinar. Cukup terharu, sih. Aku tahu, Arum memang anak yang baik, kok.
"Gue tahu, seorang Arum nggak mungkin membiarkan gue kelaperan." ujarku.
"Lebay." gerutu Arum. Kuraih sendok dan garpu itu dari tangan Arum.
"Gimana, Mbak? Udah kerasan kan tinggal di sini?" tanya Arum. Aku hanys bisa mengangguk-anggukkan kepala, sementara mulutku dipenuhi mie. Arum ini sudah seperti ibu kost kedua, selain karena dia penghuni paling lama di kost ini alias penghuni senior, ia juga cukup bawel tentang kebersihan di sekitar kost.

Tiba-tiba suasana yang tadinya hening, pecah oleh suara nyanyian dari ruangan lain di rumah ini. Suara laki-laki. Aku berhenti mengunyah. Kulirik Arum yang kelihatan biasa-biasa saja. Aku menyenggol lengannya. Arum menatapku.
"Kenapa?" tanyanya dengan raut wajah biasa saja.
"Yang nyanyi tadi siapa, sih?" ujarku setengah bergidik.
"Emang kenapa? Takut, ya? HEHEHE." wajah Arum mendadak menjadi menyebalkan, dia pikir aku ketakutan, ditambah pula volume ketawanya diperbesar.
"Enggak, penasaran aja." kilahku.
"Pak Parmintolah, siapa lagi." jawab Arum dengan yakin.

 

Jadi, selama ini, suara lelaki yang sering bernyanyi itu adalah Parminto, toh. Tidak mungkin aku ketakutan, wong suara itu kalau menyanyi, selalu lagu-lagu kebangsaan, lagu-lagu nasional. Untung saja bukan suara perempuan yang menyanyikan lagu-lagu jawa. Duh, kalau itu benar terjadi, bisa-bisa aku pingsan di tempat dan membuat si Arum menjadi terpingkal-pingkal. Anak itu memang luarbiasa jiwa pemberaninya. Ia sering keliling-keliling sendirian di rumah ini, bahkan berani memasuki ruangan-ruangan di dalam rumah Bu Nur Mala, aku tadi sudah bilang, kan, ia memang seperti ibu kost kedua. Aku saja hanya menginjakkan kaki di wilayah yang masih merupakan wilayah kost di rumah ini.

Pagi harinya, aku terbangun di dalam kamar kostku. Kusibakkan kain gorden yang menutupi jendela kamarku. Kubiarkan cahaya matahari menembus ke dalam kamarku. Mataku mendapati seorang perempuan tengah sibuk menyiram taman bunga yang mengitari kost Vinsyandana itu. Sepertinya aku belum pernah melihatnya, mungkin penghuni baru. Aku memandangi sekeliling kamar, mencari-cari dimana gerangan keberadaan pakaian yang akan aku pakai hari ini. Kulirik kembali ke taman bunga di luar kost, perempuan yang menyiram bunga tadi sudah tidak ada. Sedetik aku terperangah. Gesit juga dia, batinku.

Aku mandi seperti biasanya, seperti biasanya pula tiap kali mandi perasaanku tidak enak. Aku selalu saja teringat sebuah film dari barat, aku lupa judulnya apa, tetapi film itu menceritakan seorang lelaki yang membangun sebuah apartemen dengan rancangannya sendiri. Ia membuat sebuah lubang kecil di titik tertentu di bagian kamar mandi. Aku tak perlu menjelaskan tujuannya untuk apa, tetapi yang dilakukannya jelas adalah sangat merusak.

Kuhanduki rambutku yang basah sehabis keramas. Sambil menunggu rambutku yang basah menjadi kering, aku nangkring di ruang tamu kost seperti kebiasannya si Arum. Kemana anak itu, jangan-jangan masih tidur.

Tiba-tiba ruangtamu menjadi ramai, anak-anak Bu Laksmi dan Pak Parminto saling kejar-kejaran, wajarlah. Hari ini hari Minggu, semua anak Bu Laksmi ada di rumah. 10 menit sudah mereka habiskan dengan berkejar-kejaran di depanku, menimbulkan suara ribut yang wajar dam decitan-decitan akibat gesekan kaki dengan lantai ruang tamu. Timbul rasa untuk ngobrol dengan mereka. segera saja kuhadang langkah mereka.
"Hallo, yang kecil imut-imut ini namanya siapa?"
Gadis dengan rambut ikal, kulit hitam manis, dan kuperkirakan ia belum sekolah, berhasil kuhentikan langkahnya. Ia menatapku dengan sedikit bingung.
"Belinda namanya, Mbak." kakak paling pertama menjawab pertanyaanku.
"Oh, Belinda. namanya bagus. Kalau kamu sendiri namanya siapa?" tanyaku pada si Kakak.
"Bina, Mbak."
Aku mengangguk-angguk.
"Kalau yang ini siapa?"
"Boni." kakak nomor dua menjawab.
Aku tersenyum.
"Dan yang paling kecil ini siapa namanya?"
"Bayu." si kakak nomor dua menjawab pertanyaanku atas adiknya.
Aku mengingat-ingat saat-saat aku berumur seperti mereka, sudah lama sekali rasanya. aku menahan sesak di dadaku saat ingatanku melayang ke masa lalu, saat aku seumuran dengan mereka, saat mama, papa, dan aku masih hidup damai dalam satu atap, saat-saat dimana sebelum wanita muda itu menggoda papaku dan mengubah hal yang indah dalam hidupku.

Lamunanku buyar saat kurasakan sesuatu melintas di belakang punggungku. Aku menoleh. Ah, cepat sekali dia. Entah, aku belum tahu siapa yang sejak tadi melintas seolah-olah menerorku. Mungkinkah gadis yang kulihat tadi pagi tengah menyiram bunga sendirian?

Kulangkahkan kakiku menuju dapur kost. Jantungku berdegup kencang. Seseorang di dapur tengah memunggungiku. Postur tubuhnya tak kukenali milik siapakah itu. Ia tengah mengaduk-aduk gelas kaca dengan sendok teh. Sepertinya ia tengah membuat teh hangat. Ia menoleh dan terkesiap melihatku. Buru-buru dipamerkan senyumannya padaku. Tidak ada yang aneh, sama seperti kebiasaan orang-orang Jawa yang ramah dan saling bertegur sapa. Tak berapa lama, ia pergi. Aku berdiri sendirian di dapur, terkurung sendiri oleh pikiranku. Benar, gadis itu adalah gadis yang tadi pagi menyiram bunga tepat di luar jendela kamarku.

Hari-hari berikutnya, aku sering sekali berpapasan dengannya. ia sering wara-wiri di sekitar kamar kost, bolak-balik dapur, menyiram bunga, kemudian masuk lagi ke dalam rumah bu NurMala. dia pasti punya hubungan darah dengan Bu NurMala.

Gadis itu sebenarnya cantik. Hanya saja, cahaya di matanya sangat redup, seperti orang yang tak memiliki semangat hidup. Aku bersyukur, ia masih mampu tersneyum kepadaku. Tubuhnya kurus, hidungnya mancung, bibirnya sedikit pucat, dan kulitnya bening pucat. Aku khawatir, jangan-jangan ia menderita suatu penyakit yang mematikan. Aku tak melihat kebiasaan lainnya seperti keluar rumah, hal itu membuatku penasaran.

Tiba pada suatu sore, aku tengah duduk-duduk santai di ruang tamu kost. Tiba-tiba gadis itu datang dan duduk di sebelahku, langsung saja kuajukan beberapa pertanyaan padanya.
"Mba, namanya siapa? Kuliah dimana?"
Ia tak bergeming.
"Mbak..." panggilku pelan.
Ia menoleh.
"Aku Nana, belum kuliah." katanya.
Aku hanya mengangguk-angguk.
"Kamu tinggal di rumahnya Bu Mala, ya? tanyaku.
"Iya. Kamarku yang jendelanya menghadap ke halaman, kamar paling ujung, samping kamarnya Bu Mala." jelasnya.
Benar dugaanku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari gadis ini. Baru saja aku ingin bertanya apakah ia menderita suatu penyakit ataukah sedang sakit, tetapi tiba-tiba saja Arum muncul dengan gaya labraknya sambil mendorong bahuku.
"Pelan-pelan dong, nanti kena si Nana."
Arum menatapku.
"Nana siapa?" tanyanya.
"Ini Nana." dan tiba-tiba saja bulu kudukku merinding, Nana menghilang. Aku terdiam beberapa saat.
"Nana siapa?" tanya Arum lagi.
Aku hanya menggeleng seraya berkata, "bukan siapa-siapa."
Arum menyipitkan matanya.
"Aku tahu." katanya sambil terseyum menakutkan.
"Tahu apa kamu?!" tanyaku galak.
"Nana, hantu perempuan yang sering gentayangan di rumah ini, kan? HAHAHA." tawa Arum pecah. Aku bingung, ingin ikut tertawa, ingin jengkel padanya, atau ingin diam saja karena aku merasa takut.
"Jangan bercanda, ah. Jadi dia bukan hantu, kan? kamu kenal juga kan sama dia?"
Arum hanya mengangkat kedua bahunya.
"Ckck, Mbak Pia benar-benar enggak punya selera humor, ya. Di sini enggak ada yang namanya Nana. Mbak Pia pasti sudah tersihir omongannya si Vero. Dia sering ceritain yang aneh-aneh ke anak-anak kost. Waktu itu aku enggak sengaja lewat, terus dia cerita tentang Nana, perempuan yang baru dia kenal, katanya tinggal di sini, nyatanya waktu Vero nanya ke bu Laksmi, di sini enggak ada yang namanya Nana.”
"Vero itu siapa? aku enggak kenal sama Vero."
"Maksud Mbak Pia, mbak ini kenal tahu tentang Nana bukan karena diceritain sama Vero? Maksudnya Mbak Pia mau bilang ke aku kalau mbak Pia ini kenalan langsung sama Nana? Jangan bercanda ah, Mbak, sudah mau Magrib ini."
Arum masih berbicara dengan setengah tertawa.
"Aku memang kenalan langsung sama Nana. Aku serius, Rum."
Seketika tawanya mereda, Arum menatapku diam.

Setelah kejadian sore itu, aku tak pernah lagi bertemu dengan Nana. Rasa paenasaranku telah memuncak, aku harus tahu kebenarannya, jika tidak aku tak akan pernah bisa merasa nyaman tinggal di sini. Maka, siang itu dengan gagah berani aku mengetuk pintu dapur rumah Bu Mala, kulihat Bu Laksmi tengah sibuk mencuci piring. Mendengar suara ketukanku, Bu Laksmi menoleh ke sumber suara.
"Eh Mbak Pia, ada yang bisa Bu Laksmi bantu?” tanyanya ramah.
"Saya mau nanya sesuatu, tetapi kayaknya lebih enak kita ngobrolnya di ruang tamu sambil duduk. sebelumnya, saya minta maaf banget ganggu kesibukannya Bu Laksmi."
"Ah, ini bukan kesibukan kok. Cuci piring mah kan emang rutinitasnya ibu." ujarnya sambil menujur ruang tamu bersamaku.
Kami berdua sudah duduk di ruang tamu rumah Bu Mala. aku terdiam beberapa saat.
"Ada apa, mbak? kalau ada yang perlu dibicarakan silahkan dibicarakan saja." Bu Laksmi membuka percakapan lebih dulu dibandingkan aku.
"Jadi, begini, saya cuma penasaran saja. Apa selain Bu Mala dan keluarga Bu Laksmi, apa ada saudara yang lain yang ikut tinggal di sini?"
Bu Laksmi terlihat ragu dan nampak mengingat-ingat. Kemudian ia menggeleng.
"Oh, tidak ada?" aku masih ragu.
ia kembali menggeleng.
"Jadi, di rumah ini enggak ada gadis yang namanya Nana?"
Mata bu Laksmi membulat, aku menyipitkan mata memandang reaksinya.
"Kenapa, bu? yang bernama Nana, ada, kan?"
Bu Laksmi terlihat ketakutan.
"Mbak, lebih baik jangan mengungkit-ungkit nama itu di sini." suaranya sedikit berbisik.
"Ngomong-ngomong mbak tahu darimana soal Nana?" kali ini berganti Bu Laksmi yang penasaran terhadapku.
"Aku kenalan sendiri dengan Nana.”
Raut wajah bu Laksmi bertambah ketakutan, posisi duduknya mundur ke belakang, matanya bergantian menatap mataku dan menatap sebuah pintu kamar yang terletak di ujung ruangan. meskipun di ujung ruangan, kamar itu termasuk kamar depan, sebab ia memiliki jendela yang menghadap ke arah halaman. Kuyakini itu adalah kamar Nana.
"Ndak mungkin, Mbak." Bu Laksmi menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.
"Kenapa?"
Bu laksmi mendekatkan bibirnya ke telingaku.
"Yang bernama Nana tinggal di kamar ujung situ, tapi ia sedang mengalami koma. sudah 11 tahun!!!"
Seketika itu aku merasakan hawa dingin di sekitarku. angin berrhembus melalui celah jendela, gorden-gorden di ruang tamu itu bergoyangan.
"Dia sebenarnya siapa?" tanyaku dengan terbata-bata. Bu Laksmi kembali berbisik.
"Anak angkatnya Bu Mala, dia kecelakaan, hampir meninggal dunia. Tapi, saking sayangnya bu Mala, ia tak mengijinkan siapapun termasuk para dokter untuk mencabut alat-alat medis di sekujur tubuh Nana. bu Mala punya harapan yang tinggi terhadap Nana. Maka dari itu kost ini namanya diubah menjadi kost Vinsyandana, nama lengkap dari Nana itu. Umurnya kira-kira ya sama dengan umurnya Mbak Pia!”
Aku menelan ludah, tenggorokanku kering. Aku merasa aneh dan tak adil. Mengapa sepertinya hanya aku seorang diri yang merasakan kehadirannya bahkan sempat berkenalan? Mengapa Arum yang lebih sering mengelilingi rumah ini tak merasakan kehadirannya?

Malam itu juga kukemas semua barangku. Aku menyadari bahwa mentalku terlalu kecil. Tetapi, aku sungguh tak bisa tinggal di sini dengan berbagai pengalaman hidupku yang aneh-aneh dan traumatik sejak kecil.

Keesokan paginya aku bersiap mencari kost yang baru. Arum panik melihatku mengeluarkan seisi kamarku. Ia panik dan bingung.
"Ada apa toh, Mbak?" Arum sempoyongan jalan ke arahku.
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Kukatakan beberapa alasanku untuk pindah, tentu saja aku berbohong, tak mungkin kubeberkan soal Nana.
Semalam aku sudah pamitan pada Bu Mala dan Bu Laksmi sekeluarga, Bu Mala menatapku bingung. Sementara, Bu Laksmi mengerti apa yang terjadi denganku.

Arum memelukku kencang, "Jangan sombong-sombong nanti, rajin-rajin main ke sini!"
"Iya, iya! bawel!" balasku.
Arum melepas pelukannya. Kemudian berbisik di telingaku.
"Semoga semua ini bukan karena Nana alias Vinsyandana."
Tubuhku tiba-tiba menegang. Jadi, Arum tahu juga tentang Nana? Rntahlah.

Kupandangi bangunan megah milik bu Mala itu. Arum sudah masuk ke dalam kost. Angi berhembusan lagi. Aku bersiap melangkah keluar.
“Mau pergi kemana, Mbak?”
Aku berhenti, sebuah suara dingin bertanya padaku dari belakang.
Aku menoleh, dan tak mendapati siapapun di sana. Suasana mendadak sepi. Kuputuskan untuk terus melangkah, namun begitu kepalaku kembali menoleh ke depan, sesosok perempuan dengan kulit pucat menghadangku. Tubuhku menegang, sesudah itu semuanya gelap, aku tak ingat apa-apa lagi.

Sumber gambar:
https://bluegirl016.files.wordpress.com/2015/03/girl-window.jpg?w=500&h=373












Sumber gambar:

https://bluegirl016.files.wordpress.com/2015/03/girl-window.jpg?w=500&h=373



Tidak ada komentar:

Posting Komentar