30/07/16

#3 A Story From Jogja: Cerita di Balik Angkringan Mas April





Mas April, penjaga angkringan di jalan Juwadi itu menyuguhkan kopi beserta asap-asap hangatnya. Pelanggan itu mengangguk-angguk sambil berdeham.

Mas April melirikku sambil tersenyum. Sebantar lagi ia pasti akan bertanya, “mau pesan apa, Neng?”
iya, Mas April tahu bahwa aku bukan asli Yogyakarta. Ini kali keenam aku duduk-duduk di angkringannya. Jangan tanya mengapa aku tahu ini kali keenam, ya, aku menghitungnya. Dengan mata seperti ditempati rembulan, bibir yang terus-menerus memamerkan senyuman dan tentunya tak lupa aku memesan secangkir kopi.

“Mas, kenapa namanya April? Kayak nama perempuan?” jujurku dengan polos tanpa bermaksud menyinggungnya pada saat pertama kali aku berkunjung ke angkringannya dan mendengar namanya.
“Mau gimana lagi, sudah pemberian dari orangtua. Lagi pula April itu nama bulan.” balas Mas April dengan logat Jawanya yang kalem sambil tersenyum malu-malu.
Aku hanya manggut-manggut. Percakapan terhenti pada saat mataku menemukan pria itu. Ia duduk di bangku paling ujung sisi kiri, sementara aku duduk di bangku paling ujung sisi kanan. Angkringan biasanya memang hanya memuat 2 bangku panjang, satu bangku untuk pelanggan dan satunya lagi bangku untuk si penjual. Tiap kali aku datang ke sini, memang selalu mengharap hadirnya.

Memoriku menyimpan keteduhan yang terpancar dari kedua matanya. Kala itu, ia memesan segelas kopi seduh, sama sepertiku.
“Ini kopinya, Mas Raka.” Rupanya pria itu bernama Raka. Sepertinya ia sering bertandang ke sini, tak heran Mas April mengetahui namanya.

Jarum di arlojiku bergerak dengan cepat, orang-orang silih berganti datang dan pergi dari angkringan. Tetapi, aku memaku dan Raka masih di sana dengan kopinya yang hampir habis.
Aku selalu berharap Raka yang duduk di ujung sana adalah Rakaku yang menghilang puluhan tahun lalu. Hatiku bahkan selalu berteriak meyakinkanku bahwa Raka si pelanggan angkringan Mas April itu adalah Rakaku. Tetapi, aku mengabaikan kata hatiku. Tak masuk akal bahwa kenyatannya hingga detik ini pria tersebut tak kungjung menyapaku. Aku mengkhianati kata hatiku sendiri. Aku tahu itu Raka, meski ia tak kungjung mengenali sosokku atau orang itu mungkin bukan Raka? Ah tidak, orang itu benar Raka. Hampir tiap malam aku datang ke sini, berharap pria itu memang Raka. Berharap ia menyapaku dan berharap angkringan ini menjadi sungguh manis dibanjiri cerita nostalgia kami.
Sampai detik ini, entah sudah berapa kali aku menatapnya. Sementara itu, ia hanya sesekali saja menatap ke arahku.
Desiran darahku, detakan jantungku, semuanya masih terkendali aman, meski di dalam sudut kebimbangan. Kopiku masih sisa banyak, padahal asapnya sudah pergi. Sedangkan, kopi Raka tinggal tegukan terakhir. Sekali lagi, jangan tanya mengapa aku tahu, aku menghitung berapa teguk setiap kali ia menghabiskan kopinya.

****


“Neng Mayang, ini kopinya.” Entah sudah berapa kali gadis itu bertandang ke sini, menghayati tiap kopi yang kuseduhkan untuknya, tiap kali ia menjawab, “terimakasih Mas April” tiap kali itu juga ia menarikku lebih dalam pada pesonanya. Tetapi, apalah aku ini, hanya penjaga kopi di angkringannya Pak Mukhlis kala malam hari. Ia berhasil mencipta lengkung senyum di bibirku saja itu sudah cukup membahagiakanku.

Aku sudah cukup terkesan dengan kesederhanaannya yang membawanya bertandang ke bilik kopi kecilku ini. Kemudian, sisanya membuatku membisu, ada gelombang kekuatan dalam suaranya, dan terakhir, senyuman mautnya yang selalu berhasil membuatku ikut tersenyum. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi begitulah yang ingin kugambarkan tentang dirinya.

Malam ini, seperti biasa, rembulan muncul, timbul tenggelam oleh awan yang usil. Kami hanya berempat, aku, Kirana, dan dua orang pelangganku, Raka dan Mayang. Aku sudah tahu sejak awal bahwa Raka sepertinya menaruh hati pada Kirana. Kirana adalah anak pemilik angkringan ini. Ia sebenarnya tidak tinggal di Jogja. Ia tengah berlibur, begitu katanya. Aku heran, membantuku di angkringan bisa-bisanya ia sebut dnegan liburan. Tetapi, begitulah Kirana. Aku tak bisa menolak kehadirannya untuk membantuku di angkringan karena ia adalah anak pemilik angkringan ini.

Tak sepertiku, sepertinya cinta Raka itu mulai mennemui titik pembalasan. Kirana lebih rajin lagi datang ke angkringan, leih rajin lagi melayani pelanggan, mulai sering kudapati mereka beradu pandang, saling menebar senyum.
Namun, di sudut yang lain, ada mata gadis lain yang penuh harap menatapi Raka. Ah, sepertinya Raka sudah menjadi magnet di dalam angkringanku sendiri. Ah, si penjual hanya hiasan, yang hanya bergerak saat ada pelanggan yang memesan kopi atau apalah. Kopi-kopi dingin sisa pelanggan yang telah berlalu menatapiku pahit, gorengan-gorengan di hadapanku pun sama, iba terhadapku.

Hatiku membeku, Mayang sepertinya belum sadar juga bahwa beberapa waktu kedepan hatinya akan tergores bila cinta yang ia punya untuk Raka begitu kuat. Pun Rakanya, entah ia sadari atau tidak bahwa dirinya sudah menjadi magnet yang menarik Mayang untuk selalu bertandang ke sini, membuat Mayang berpura-pura menyukai kopi, mengkhianati lidahnya sendiri. Sementara Kirana, ah, dia tak cukup pandai membaca suasana, tak cukup peka dengan mata pelanggannya.

Esok malamnya, Mayang kembali lagi. Kupikir malam itu rembulan tak nampak karena dikalahkan indahnya oleh Mayang, ternyata bukan itu sebabnya. Mayang duduk seorang diri di bangku pelanggan. Tak ada siapa-siapa. Kami hanya berdua. Mayang terlambat, beberapa waktu yang lalu Raka baru saja dari sini untuk menjemput Kirana, entah sekarang mereka pergi kemana, bukan urusanku.
Baru saja aku ingin bertanya apa yang ingin dipesannya, ia sudah membuka suara terlebih dahulu.
“Mas, Kirana pergi dengan Raka, ya?”
Aku tak tahu mengapa hatiku tiba-tiba seperti tergores, seketika aku tahu mengapa bulan tak muncul, bulan bersembunyi, takut dengan badai. Mungkin sebentar lagi hujan. Mungkin bukan hanya bumi saja yang basah, tetapi pipi gadis di hadapanku juga.



Sumber gambar: Tumblr

4 komentar:

  1. "Mas kok namanya April? Lahir bulan Oktober, ya?"
    #krikkrik #garing
    Terima kasih sudah mampir ke blogku dan meninggalkan komentar yang manis. I like your blog too, and followed it. Keep writing, semoga kita bisa ketemu one day ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwk.

      Sama-sama mba Prima cantik! ;)terimakasih banyak sudah mau meluangkan waktunya untuk mampir di kolom komentar dalam postinganku <3

      Aamiin ;)

      [aku bales ini sambil senyum-senyum sendiri loh mba, senang sekali dikomen sama Mba Prima <3 hehehe ]

      Hapus
  2. sedih banget, ditunggu kelanjutannya ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. thankyou Mba Ayu sudah main ke sini! :)

      Siap! sabar menanti ya :3

      Hapus