Mas April, penjaga angkringan di jalan Juwadi itu menyuguhkan kopi
beserta asap-asap hangatnya. Pelanggan itu mengangguk-angguk sambil berdeham.
Mas April melirikku sambil tersenyum. Sebantar lagi ia pasti akan
bertanya, “mau pesan apa, Neng?”
iya, Mas April tahu bahwa aku bukan asli Yogyakarta. Ini kali keenam aku
duduk-duduk di angkringannya. Jangan tanya mengapa aku tahu ini kali keenam,
ya, aku menghitungnya. Dengan mata seperti ditempati rembulan, bibir yang
terus-menerus memamerkan senyuman dan tentunya tak lupa aku memesan secangkir
kopi.
“Mas, kenapa namanya April? Kayak nama perempuan?” jujurku dengan polos
tanpa bermaksud menyinggungnya pada saat pertama kali aku berkunjung ke
angkringannya dan mendengar namanya.
“Mau gimana lagi, sudah pemberian dari orangtua. Lagi pula April itu nama
bulan.” balas Mas April dengan logat Jawanya yang kalem sambil tersenyum
malu-malu.
Aku hanya manggut-manggut. Percakapan terhenti pada saat mataku menemukan
pria itu. Ia duduk di bangku paling ujung sisi kiri, sementara aku duduk di bangku
paling ujung sisi kanan. Angkringan biasanya memang hanya memuat 2 bangku
panjang, satu bangku untuk pelanggan dan satunya lagi bangku untuk si penjual. Tiap
kali aku datang ke sini, memang selalu mengharap hadirnya.
Memoriku menyimpan keteduhan yang terpancar dari kedua matanya. Kala itu,
ia memesan segelas kopi seduh, sama sepertiku.
“Ini kopinya, Mas Raka.” Rupanya pria itu bernama Raka. Sepertinya ia
sering bertandang ke sini, tak heran Mas April mengetahui namanya.
Jarum di arlojiku bergerak dengan cepat, orang-orang silih berganti datang
dan pergi dari angkringan. Tetapi, aku memaku dan Raka masih di sana dengan
kopinya yang hampir habis.
Aku selalu berharap Raka yang duduk di ujung sana adalah Rakaku yang menghilang
puluhan tahun lalu. Hatiku bahkan selalu berteriak meyakinkanku bahwa Raka si pelanggan
angkringan Mas April itu adalah Rakaku. Tetapi, aku mengabaikan kata hatiku. Tak
masuk akal bahwa kenyatannya hingga detik ini pria tersebut tak kungjung menyapaku.
Aku mengkhianati kata hatiku sendiri. Aku tahu itu Raka, meski ia tak kungjung mengenali
sosokku atau orang itu mungkin bukan Raka? Ah tidak, orang itu benar Raka. Hampir
tiap malam aku datang ke sini, berharap pria itu memang Raka. Berharap ia
menyapaku dan berharap angkringan ini menjadi sungguh manis dibanjiri cerita
nostalgia kami.
Sampai detik ini, entah sudah berapa kali aku menatapnya. Sementara itu,
ia hanya sesekali saja menatap ke arahku.
Desiran darahku, detakan jantungku, semuanya masih terkendali aman, meski
di dalam sudut kebimbangan. Kopiku masih sisa banyak, padahal asapnya sudah
pergi. Sedangkan, kopi Raka tinggal tegukan terakhir. Sekali lagi, jangan tanya
mengapa aku tahu, aku menghitung berapa teguk setiap kali ia menghabiskan
kopinya.
****
“Neng Mayang, ini kopinya.” Entah sudah berapa kali gadis itu bertandang
ke sini, menghayati tiap kopi yang kuseduhkan untuknya, tiap kali ia menjawab, “terimakasih
Mas April” tiap kali itu juga ia menarikku lebih dalam pada pesonanya. Tetapi,
apalah aku ini, hanya penjaga kopi di angkringannya Pak Mukhlis kala malam
hari. Ia berhasil mencipta lengkung senyum di bibirku saja itu sudah cukup
membahagiakanku.
Aku sudah cukup terkesan dengan kesederhanaannya yang membawanya
bertandang ke bilik kopi kecilku ini. Kemudian, sisanya membuatku membisu, ada
gelombang kekuatan dalam suaranya, dan terakhir, senyuman mautnya yang selalu
berhasil membuatku ikut tersenyum. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi
begitulah yang ingin kugambarkan tentang dirinya.
Malam ini, seperti biasa, rembulan muncul, timbul tenggelam oleh awan
yang usil. Kami hanya berempat, aku, Kirana, dan dua orang pelangganku, Raka
dan Mayang. Aku sudah tahu sejak awal bahwa Raka sepertinya menaruh hati pada
Kirana. Kirana adalah anak pemilik angkringan ini. Ia sebenarnya tidak tinggal
di Jogja. Ia tengah berlibur, begitu katanya. Aku heran, membantuku di
angkringan bisa-bisanya ia sebut dnegan liburan. Tetapi, begitulah Kirana. Aku
tak bisa menolak kehadirannya untuk membantuku di angkringan karena ia adalah
anak pemilik angkringan ini.
Tak sepertiku, sepertinya cinta Raka itu mulai mennemui titik pembalasan.
Kirana lebih rajin lagi datang ke angkringan, leih rajin lagi melayani
pelanggan, mulai sering kudapati mereka beradu pandang, saling menebar senyum.
Namun, di sudut yang lain, ada mata gadis lain yang penuh harap menatapi
Raka. Ah, sepertinya Raka sudah menjadi magnet di dalam angkringanku sendiri.
Ah, si penjual hanya hiasan, yang hanya bergerak saat ada pelanggan yang
memesan kopi atau apalah. Kopi-kopi dingin sisa pelanggan yang telah berlalu
menatapiku pahit, gorengan-gorengan di hadapanku pun sama, iba terhadapku.
Hatiku membeku, Mayang sepertinya belum sadar juga bahwa beberapa waktu
kedepan hatinya akan tergores bila cinta yang ia punya untuk Raka begitu kuat.
Pun Rakanya, entah ia sadari atau tidak bahwa dirinya sudah menjadi magnet yang
menarik Mayang untuk selalu bertandang ke sini, membuat Mayang berpura-pura
menyukai kopi, mengkhianati lidahnya sendiri. Sementara Kirana, ah, dia tak
cukup pandai membaca suasana, tak cukup peka dengan mata pelanggannya.
Esok malamnya, Mayang kembali lagi. Kupikir malam itu rembulan tak nampak
karena dikalahkan indahnya oleh Mayang, ternyata bukan itu sebabnya. Mayang
duduk seorang diri di bangku pelanggan. Tak ada siapa-siapa. Kami hanya berdua.
Mayang terlambat, beberapa waktu yang lalu Raka baru saja dari sini untuk
menjemput Kirana, entah sekarang mereka pergi kemana, bukan urusanku.
Baru saja aku ingin bertanya apa yang ingin dipesannya, ia sudah membuka
suara terlebih dahulu.
“Mas, Kirana pergi dengan Raka, ya?”
Aku tak tahu mengapa hatiku tiba-tiba seperti tergores, seketika aku tahu
mengapa bulan tak muncul, bulan bersembunyi, takut dengan badai. Mungkin
sebentar lagi hujan. Mungkin bukan hanya bumi saja yang basah, tetapi pipi
gadis di hadapanku juga.
Sumber gambar: Tumblr

"Mas kok namanya April? Lahir bulan Oktober, ya?"
BalasHapus#krikkrik #garing
Terima kasih sudah mampir ke blogku dan meninggalkan komentar yang manis. I like your blog too, and followed it. Keep writing, semoga kita bisa ketemu one day ;)
wkwkwkwk.
HapusSama-sama mba Prima cantik! ;)terimakasih banyak sudah mau meluangkan waktunya untuk mampir di kolom komentar dalam postinganku <3
Aamiin ;)
[aku bales ini sambil senyum-senyum sendiri loh mba, senang sekali dikomen sama Mba Prima <3 hehehe ]
sedih banget, ditunggu kelanjutannya ya :)
BalasHapusthankyou Mba Ayu sudah main ke sini! :)
HapusSiap! sabar menanti ya :3