Iyus
Siapapun mungkin akan mengira bahwa kami anak-anak muda yang duduk-duduk di utara tugu Yogyakarta bukanlah asli warga Yogyakarta. Ya, kami sering menghabiskan malam di luar kamar kost kami yang mungkin pengap dan membosankan. Kami menghabiskan banyak waktu kami di luar tembok-tembok kost, menikmati suasana Yogyakarta dalam segala kondisi menurutku adalah pilihan terbaik.
Malam ini aku menjadwalkan diri untuk mampir ke suatu perpustakaan jalanan yang rutin diadakan oleh sebuah komunitas buku yang dilakukan oleh mahasiswa dari beragam universitas yang ada di Yogyakarta. Buku memang menjadi alasan kehadiranku, tetapi perempuan itu menjadi alasan lebih utama mengapa aku memilih malam ini untuk bertandang ke sini.
Dia, perempuan yang selalu mampu untuk kuajak berdiskusi tentang apapun, tentang alam, dunia, buku, pendidikan, politik, pariwisata, apapun itu. Perempuan yang tentu sulit kutemukan di lingkungan lain.
Aku melirik jam tanganku, ia belum juga tiba. Mungkin masih dalam perjalanan. Aku menyibukkan diri dengan melihat-lihat buku yang ditawarkan di perputakaan jalanan itu. Diam-diam kuperhatikan orang-orang di sana. Beberapa dari mereka membuka diskusi, beberapa lainnya tak tertarik dan memilih untuk mengobrol sendiri.
Sesaat lampu-lampu yang terpancar dari kendaraan yang lewat menyilaukan pandangan. Dari balik cahaya-cahaya itu aku menemukannya. Ia datang dengan senyuman di wajahnya. Ah, selalu begitu. Setiap kali kulihat kedatangannya. Tetapi, matanya tak menyorotiku. Ia menegur seseorang, seseorang yang lain, seorang pria berkulit terang dengan kacamata di wajahnya. Sesaat aku menyadari mungkin ia tak melihatku karena aku memakai jaket dan topi yang cukup menenggelamkan diriku.
Sebenarnya jarak dudukku dengannya cukup dekat tetapi ia terlihat tenggelam dalam obrolan bersama pria berkacamata itu. Mereka sepertinya sudah akrab sejak lama. Sesekali tawa menyelingi obrolan keduanya. Aku masih saja tenggelam ditikam pekatnya malam dan kebisingan jalan raya.
Segerombolan pengamen tambah meriuhkan suasana, aku masih berpura-pura sibuk dengan buku yang kubaca, sedang mungkin yang lain menolehkan pandangan pada gerombolan pengamen yang cukup menyita suasana. Oh, rupanya perempuan itu menoleh juga tepat saat kulayangkan pandanganku ke arahnya. Terimakasih dalam hati kuhaturkan pada gerombolan pengamen tadi, kedatangan mereka membuat perempuan itu menoleh ke sini.
“Hai! Apa kabar?” matanya berbinar. Pada akhirnya perempuan itu menemukanku, seorang mahasiswa yang senang mendaki gunung namun seringkali tersesat di hutan buku kemudian mengikhlaskan diri untuk terus tersesat demi selalu bertemu dengan perempuan yang memilih tenggelam diantara beribu buku.
Evan
Setiap orang yang datang ke Yogyakarta, mereka selalu membawa cinta mereka masing-masing. Cinta mereka terhadap beragam hal, aku yakin mereka ingin mengembangkannya di tempat ini. Yogyakarta selalu saja ada wadah bagi rasa cinta orang-orang yang datang. Yogyakarta, kota yang membuatmu berkumpul dengan orang-orang yang memiliki perasaan cinta yang sama denganmu. Kau akan selalu menemukan mereka, menemukan tempat dimana kau bisa berbagi banyak hal tanpa kau takut atau ragu padanya.
“Halo, Mas!” sapa perempuan yang sejak dari awal pertemun kami sudah berhasil membuatku penasaran. Aku tentu tak bisa menahan senyum lebar di wajahku. Selalu begitu setiap ia datang dengan senyuman di wajahnya.
Kami bercerita apapun. Ya, apapun. Selama kami berbincang, pria yang sejak tadi duduk dipunggungi oleh perempuan di hadapanku ini beberapa kali melirik kami. Mungkin ia sedikit terganggu dengan obrolan kami, kuperhatikan ia tengah duduk dengan sebuah buku di tangannya. Aku tak ingin mengganggu pria itu, tetapi obrolan kami semakin melebar kemana-mana. Aku dan perempuan di hadapanku ini jarang bertemu sehingga jika bertemu, cerita kami menjadi meluap-luap.
Segerombolan pengamen menuju ke arah utara tugu, tempat kami berkumpul. Hampir perhatian semua orang tertuju pada para pengamen jalanan itu. Mereka mengundang perhatian dengan riuh yang diciptakan oleh alat musik yang mereka gunakan.
Kami menoleh ke arah para pengamen itu, tetapi perempuan di hadapanku ini bukan hanya menoleh tetapi menyapa seseorang yang sejak tadi dipunggunginya itu. Oh, rupanya pria itu memang sengaja menatap berkali-kali ke arah kami. Di matanya, sejak tadi kulihat kegugupan dan keberanian yang timbul tenggelam. Namun, tatkala perempuan ini berhasil menemukannya, diangkatnya kepalanya tinggi-tinggi hingga aku bisa melihat jelas wajahnya di balik topi yang ia gunakan sejak tadi. Diam-diam aku merasa malam ini tak berjudul aku dan dia, pria yang sejak tadi dipunggunginya perlahan menjadi dunianya. Tanpa ragu, perempuan itu membiarkan aku masuk ke dalam obrolan keduanya. Atau, bukankah pria itu yang tiba-tiba hadir di tengah obrolan kami berdua?
Rania
“Permisi, Mbak..” ujarku pada Mbak Eka, anak ibu kostku.
“Dari Tugu lagi?” tanyanya. Aku mengangguk sambil tersenyum. Ia mengernyitkan dahinya melihat bingkisan yang ada di tanganku. “buku lagi?” tanyanya lagi. Untuk kedua kalinya aku mengangguk lagi.
Aku sudah tiba di kost sebelum pukul sebelas malam. Meskipun aku senang bepergian di malam hari, tetapi aku tak suka pulang tengah malam, biasanya maksimal pukul sebelas malam aku sudah pulang ke kost.
Kuperhatikan rak buku di dalam kamar kostku. Lalu kurogoh bingkisan yang kubawa malam ini, lagi-lagi aku diberi buku. Kali ini oleh bang Iyus dan mas Evan. Segera kusimpan kedua buku itu di rak bukuku, sebuah rak buku yang hampir semua buku di dalamnya adalah buku pemberian. Ya, beberapa orang yang berusaha mendekatiku, mereka memberiku buku-buku kesukaanku. Mereka mencoba untuk menarik perhatianku. Jika saja mereka tahu berapa banyak buku yang sudah kudapatkan dari mereka yang mendekatiku.
Jemariku menyentuh satu-persatu buku-buku itu dan berhenti pada sebuah buku berjudul “Comeback”. Diam-diam kupeluk buku itu, membiarkan waktu berpura-pura berhenti, membiarkan memoriku berputar di tempatnya, memori yang tak akan pernah bergerak maju. Sebab, judul buku hanyalah sebuah judul buku. Ia memberikan buku ini hanyalah sekedar memberi, tak mengartikan ia akan datang kembali. Selamanya “comeback” hanyalah sebuah karangan. Selamanya ia tak akan kembali lagi dalam dekapku. Selamanya kenangannya tertinggal di sela-sela barisan buku-buku di rak kamar kostku ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar