03/06/21

#12 Kepada Tuan Sam

 

Source: Tumblr/Swedishlandscapes

Yang terhormat,

Tuan Sam

di tempat

 

Pertama, dengan berat hati saya harus menulis surat ini. Biar kuceritakan kembali perihal malam itu, barangkali engkau lupa.

Saya adalah anak perempuan yang berdiri di bawah gerimis suatu malam pada bertahun-tahun yang lalu. Seharusnya saya bisa berlari pulang karena hujan hanyalah gerimis, tetapi gelapnya jalanan perumahan yang belum begitu ramai penghuni itu membuat langkah saya tertahan. Saya baru saja pulang dari masjid usai shalat Magrib bersama anak-anak sebaya saya kala itu. Setiap sore pada Rabu dan Sabtu, kami rutin ikut TPA di masjid yang dilanjutkan shalat Magrib berjamaah. Saya ingat saat itu seorang anak laki-laki dengan bangga menceritakan sebuah pengalamannya yang menyeramkan. Anak-anak ketakutan dan berhamburan seolah dalam sekejap harus segera tiba di rumah. Mungkin saya berlari paling pelan hingga ketinggalan rombongan. Saya diam di tepi jalan.

Adalah engkau, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang lewat kala itu. Melihat saya dan menghampiri menawarkan bantuan untuk mengantarkan sampai rumah. Sejak saat itu barangkali awal mula terpikatlah saya, bahwa kebaikanmu tak pernah bisa dilupakan. Kemudian kita berteman. Kepindahan saya ke kota lain menjadi sebab berakhirnya seluruh cerita kita yang ternyata barangkali sebenarnya belum benar-benar berakhir.

Sam, saya telah mencari engkau kemana-mana. Berbekal sebuah nama milikmu. Saya menelusuri setiap linimasa, berharap jumpa sedikit kabar tentangmu. Suatu hari saya menemukan sebuah akun medsos milikmu, tetapi rupanya kau tidak terlalu aktif di sana. Beberapa kali saya menelusuri lewat mesin pencarian, bersyukur nan bahagia namamu berulang kali muncul sebab mempublikasikan beberapa jurnal ilmiah. Kau keren, Tuan! Tentu saja seperti sejak dulu. Bahkan namamu berkali-kali masuk artikel, tentu artikel yang baik-baik. Semoga orang itu memang engkau, bukan orang lain yang memiliki kesamaan nama. Saya takut salah mengira.

Pada akhirnya yang orang-orang katakan itu benar, Tuan. Seorang wanita, jika tidak menikah dengan orang ia cintai, ia akan menikah dengan orang yang mencintainya. Cinta itu sebenarnya sederhana, tapi jadi rumit karena kau yang pergi tanpa kabar, kau yang bilang akan pulang tapi entah kapan.

Sam, ketahuilah bahwa para pria mulai mencari saya. Menjodoh-jodohkan anaknya kini menjadi hobi baru bagi orang tua saya. Oleh karena itu, surat ini mungkin jalan terakhir saya kepadamu jika barangkali kau membacanya, tetapi saya harap kau membacanya sebelum terlambat, jauh sebelum saya harus menikah dengan laki-laki yang mencintai saya, namun belum tentu saya mencintainya balik. Rupanya saya salah ketika saat itu menuliskan bahwa tidak masalah menikah dengan seseorang yang saya belum mencintainya, asal dia mencintai saya. Saya salah besar sebab benak ini selalu menoleh, hati ini selalu berkata ada yang belum usai. Kau pandai mengikat perempuan sepertiku hanya dengan satu kalimat pamungkas, "nanti kita bertemu lagi, ya!"

Sam, tahukah engkau? Minggu depan bunda akan mengenalkan saya pada anak kerabatnya. Saya takut jika dia datang dan akan menggoyahkan pendirian saya atasmu. Tetapi kata Kica, kalau kita mencintai yang pertama, kita tidak akan mempertimbangkan yang kedua, bukan?

Kata Kak Kia, minta kejelasan itu adalah boleh-boleh saja, tetapi minta dinikahkan perlu dipikirkan lagi. Sebenarnya kalau seseorang memang mau serius dan yakin pada kita, tanpa kita minta pun dia akan mengajak kita pada jenjang keseriusan tersebut. Masalahnya adalah saya tak tahu banyak tentang kau, apalagi soal perasaanmu. Barangkali saat ini kau pun sedang bersama orang lain atau kau sudah mempunyai tambatan hati yang kau temukan dalam lingkaran pertemananmu. Kalau begitu, saya akan mencoba baik-baik saja. Tetapi bisakah kita bicara sebentar? Saya butuh kau tegaskan jika memang apa-apanya sudah usai. Berat langkah saya menengok engkau ada di bagian masa lalu saya yang belum selesai.

Bunda bilang saya perlu menyelesaikannya, tetapi tanpa bunda memberi aba-aba, Minggu depan saya sudah akan diperkenalkan dengan seseorang yang saya tidak tahu dia seperti apa, makanya namanya perkenalan.

Mengapa saya begitu yakin bahwa engkau masih mengingatku? Sebab sepotong tulisan yang saya temukan dalam caption akun media sosialmu soal samudra dan matahari;

‘Walau aku samudra, akan kuberikan banyak langit untuk matahari karena luasku tak mampu menampung seluruh sinarnya.’

Kau banyak memotret dan mengunggah gambar langit atau pun sinar matahari yang masuk lewat celah-celah kaca jendela. Barangkali sebab kau tak lupa bahwa saya pernah mengatakan betapa kagumnya saya pada kuasa Tuhan yang satu itu. Iya pada yang satu itu; langit biru!

Akhir surat, saya berharap Tuhan menunjukkanmu jalan untuk menuju ke sini, ke sebuah tempat dimana telah kuletakkan suratku untukmu. Letakkanlah juga sebuah balasan di sebuah tempat dimana saya bisa dengan mudah melihatnya.

Terima kasih.

 

With love,

Mentari

 

Mentari menghela nafas usai berhasil memposting sebuah surat ke dalam blognya. Ya, surat itu bukan dikirim langsung pada orangnya, Mentari memilih untuk membiarkan orang tersebut menemukan jalannya sendiri untuk membaca suratnya. Sedikit alay, batinnya. Tapi tidak apa-apa, namanya juga usaha.

Mentari menatap ke luar jendela, bersamaan dengan cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam kamarnya. Seketika ia teringat sesuatu. Senyum merekah di bibir kecilnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar