![]() |
| Source: freepik.com |
Saya tidak menyangka bahwa pada
akhirnya laman blog saya sampai pada chapter ini. Sebuah chapter yang siapapun
tak inginkan di dalam hidupnya. Pernyataan positif covid yang pertama kali saya
terima, membuat saya terduduk diam cukup lama. Bingung. Namun, pernyataan
positif covid yang kedua kalinya saya terima, benar-benar saya terima dengan
hati legowo. Mungkin karena pada momen itu, saya memang benar-benar ingin
istirahat saja. Dua kali saya dinyatakan positif covid, inilah kisah keluarga
saya sebagai penyintas covid-19.
Melakukan Perjalanan
Panjang
Cerita ini akan saya mulai dari
sebuah kekacauan yang terjadi di rumah. Usai saya merasa kehilangan diri
sendiri, ibu saya akhirnya merestui saya untuk melakukan perjalanan panjang ke
selatan pulau Jawa, Banyuwangi, guna menenangkan diri untuk bisa kembali
berpikir jernih. Banyuwangi adalah sebuah kota yang sudah lama masuk waiting list saya bahkan jauh sebelum
pandemi. Dulu rencananya perjalanan tersebut akan saya lakukan selesai saya
sidang skripsi. Namanya juga rencana manusia, tak ada yang pasti. Akhirnya
seluruh rencana manusia di 2020 kacau-balau karena datangnya pandemi. Namun, saya tidak menduga bahwa momen ini akhirnya
tiba juga pada bulan Juni tahun ini.
Sebelumnya, saya melakukan
searching terkait berita potensi tsunami yang terjadi di Jawa Timur dan
memastikan bahwa isu tersebut benar. Hanya saja di sini ada kesalahpahaman pada
masyarakat dalam menangkap berita. Potensi bukanlah prediksi. Potensi merupakan
hal yang berbeda dengan prediksi. Dengan memantapkan hati, akhirnya saya
berangkat ke Banyuwangi dengan sebelumnya mampir terlebih dahulu ke Magelang
dan Yogyakarta selama beberapa hari. Saat itu mulai terdengar isu lonjakan
kasus covid di Yogyakarta. Khusus Yogyakarta, bukan daerah lainnya selama yang
saya ketahui.
Berangkatlah saya pada tanggal 12
Juni 2021. Saya menuju ke Magelang terlebih dahulu untuk mengurus berkas-berkas
BPJS saya. Dikarenakan saya sudah lulus kuliah, saya harus mengubah BPJS saya
menjadi peserta mandiri dan proses ini tidak bisa dilakukan secara online
karena terkait dengan persetujuan rekening bank. Saya sedang mengejar waktu
untuk menyelesaikan urusan administrasi yang ternyata cukup rumit ini karena
tidak cukup mengurusnya dalam satu hari. Saya butuh BPJS karena saya hendak
melakukan operasi yang akan berlangsung sebanyak dua kali dengan biaya yang
cukup mahal jika dilakukan tanpa BPJS. Errghh.
Sabar.
Sembari menunggu berkas selesai,
saya ke Yogyakarta menemui teman-teman yang saya sayangi. Teman-teman yang
memang ingin saya temui. Teman-teman yang
sedang menghadapi berbagai masalah juga. Saya datang berharap kami bisa saling
menguatkan.
Dinyatakan Positif
Melalui Tes Genose
Tiba H-1 saya akan berangkat
menuju Banyuwangi, saya melakukan tes. Hal ini saya lakukan untuk memastikan
bahwa diri saya sehat, sebab di Banyuwangi nanti saya akan tinggal di tempat
tinggal milik relasi saya. Setidaknya saya harus memastikan bahwa diri saya
baik-baik saja agar tidak membawa virus ke tempat orang lain. Tes Genose pertama saya negatif ketika
hendak berangkat dengan kereta api dari Bandung menuju Yogyakarta, namun selang
beberapa hari begitu saya hendak ke Banyuwangi, tes Genose saya hasilnya positif. Deg. Aduh. Kayaknya gara-gara habis makan sate usus dan lontong sayur
deh. Padahal kejadiannya sudah dua jam berlalu dari sebelum tes. Saya diam,
kaku, bingung, dan segalanya berputar di pikiran saya.
Saya mengakui bahwa saya sering
melakukan perjalanan keluar kota yakni ke Yogyakarta selama pandemi berlangsung.
Terhitung di tahun ini sudah tiga kali saya bolak-balik ke Yogyakarta. Dan ini pertama kalinya tes Genose saya hasilnya
positif. Kebetulan tesnya memang di RS bukan tes Genose yang bekerjasama
dengan PT. KAI.
Saya segera menenangkan diri,
lalu ke apotek beli air NaCl untuk membersihkan hidung dan cepat-cepat ke RS
PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang berada di dekat Malioboro untuk tes Antigen.
Saya tidak percaya dengan hasil tes Genose saya, sementara saya harus
memastikan status diri saya saat ini terkait covid.
Saya sempat curhat juga ke
petugas Antigen, "Pak, saya nggak
mau hasilnya positif. Saya nggak boleh positif sekarang soalnya saya baru abis
ketemu teman-teman dan keluarga saya."
Saat itu di benak saya cuma
kepikiran mereka. Orang-orang yang baru saja saya temui adalah orang-orang yang
berharga dalam hidup saya. Apalagi pandemi begini, saya benar-benar memilih
untuk bertemu dengan siapa, mengutamakan orang-orang yang prioritas dulu untuk
ditemui.
Akhirnya petugas juga ikut
menanggapi kegelisahan saya. "Banyak
yang kemana-mana tetapi nggak kena, banyak juga yang cuma di rumah saja justru
kena." Beliau seolah ingin membesarkan hati saya, memberitahu saya
bahwa jangan terlalu panik dan jika terjadi apa-apa jangan terlalu menyalahkan
diri sendiri.
Hasil Tes Antigen
Menunjukkan Sebaliknya, Negatif!
Proses untuk tes Antigen sangat
cepat karena saat itu situasinya belum seburuk sekarang, dimana semua orang
justru berlomba-lomba untuk tes covid, entah karena bergejala atau karena
memang habis bertemu dengan pasien covid-19, atau memang rutin mengecek. Hanya
saja waktu itu sempat seluruh komputer di RS mati. Saya menunggu hampir dua jam
hanya untuk proses membayar agar bisa mengambil hasil tes saya.
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulilah. Hasil tes Antigen saya dinyatakan negatif. Meski begitu kejadian
pagi itu membuat saya sedikit trauma, juga parno untuk bepergian.
Tadinya saya memutuskan untuk batal melakukan perjalanan ini dan memilih untuk staycation di Yogyakarta saja. Saya sudah menyusun rencana untuk mencari penginapan yang asyik daerah Jakal mungkin, pergi ke Desa Minggir untuk berkunjung ke Warung Murakabi, memutari Ringroad macam orang galau padahal memang iya, eh, lalu makan hot plate cumi-cumi di warung seberang Hartono Mall. Saya juga berencana melakukan social experiment sebagaimana yang biasanya saya lakukan saat masih menetap di Yogyakarta pada waktu dulu. Namun, sebuah celutukan yang saya terima dari seorang teman lewat chat whatsApp membuat saya tersadar bahwa sebenarnya justru betapa bahayanya berada di Yogyakarta.
"Aku kayaknya batal ikut, deh. Mau staycation aja di Jogja."
"Lhaa kenapa?"
"Parno banget sama situasi covid."
"Lhaaa? Di Jogja malah lebih parah hahahaha.."
Waktu itu suasana covidnya belum
separah saat ini. Waktu itu khusus untuk Yogyakarta memang sedang gawat dibanding
daerah lain. Tapi mobilitas di daerah Yogyakarta masih sama saja seperti
biasanya.
Menuju Banyuwangi
Singkat cerita namun penuh drama
dengan teman-teman yang akan berangkat, akhirnya saya bismillah saja berusaha
memantapkan hati untuk kembali pada rencawa paling awal, bahwasannya saya
memang harus pergi ke Banyuwangi karena itu adalah inti dari perjalanan saya
kali ini. Singkat cerita lagi, selama perjalanan hingga pulang kembali ke
Yogyakarta semuanya aman terkendali, sehat walafiat.
Sebelumnya saya cerita sedikit ya
soal Banyuwangi. Entah saat itu saya sedang berada di bagian pelosok atau
bukan, tetapi saya melihat banyak sekali orang tidak menggunakan masker. Di
sana, kita bukan menghitung berapa yang tidak memakai masker, tetapi menghitung
berapa yang memakai masker dan jumlahnya hanya sedikit, makanya lebih mudah
untuk menghitungnya.
Saya sempat lewat sebuah jalanan
dimana terjadi sebuah kecelakaan yang menimbulkan korban tewas di tempat.
Jalanan jadi sangat ramai, dan kami menghitung hanya ada satu-dua orang yang
memakai masker padahal lokasi kejadian sangat ramai dan padat. Namun, ada hal
lain yang menarik di sini selain menyoroti pelanggaran protocol kesehatan. Kami
melihat bagaimana masyarakat di sini sudah mengurus jenazah tersebut dengan
baik, diletakkan di pinggir jalan, ditutup dengan rapi entah menggunakan kain
atau daun, juga mereka menunggui jenazah sampai petugas kepolisian tiba.
Saya perhatikan memang sangat
jarang ditemui pos polisi di daerah yang saya lewati tersebut, sehingga tak
heran jika petugas kepolisian cukup lama tiba di lokasi kejadian bahkan sampai
jenazah sudah diurus terlebih dahulu oleh warga sekitar. Lalu, menariknya apa?
Pernahkah mendengar cerita bagaimana korban kecelakaan tewas di tempat yang
terjadi di sudut-sudut sepi di dalam kota besar justru mendapat pengabaian dari
pengendara yang lewat? Ya, banyak cerita semacam ini yang bergulir, sebab
banyak orang di kota yang tidak ingin ribet jika harus berurusan dengan polisi,
harus memberi keterangan sebagai saksi, harus mengurus orang lain yang entah
keadaannya masih setengah hidup atau justru sudah tewas di tempat. Ada
cerita-cerita semacam itu. Walau mereka yang mengalami kecelakaan di kota besar
memang tidak selalu mendapat pengabaian.
Mengurus Sisa-sisa
Urusan
Kembali lagi pada cerita saya
tentang mengurus BPJS yang belum kelar, saya kembali ke Magelang. Hari pertama
kembali saya masih sehat, hari kedua ketika bangun di pagi hari badan saya
sangat berat. Pundak saya seperti ditekan sesuatu. Sakit bukan main seluruh
badan saya. Pasti karena terlalu capek ini sehabis naik gunung sejak pukul
01.00 dini hari dan turun ke Kawah Ijen, lalu perjalanan pulang ke Yogyakarta
naik kereta 12 jam tanpa tidur karena
terlalu asyik ngobrol, serta berkali-kali kehujanan saat bepergian selama di
Yogyakarta, tidak mungkin tubuh saya tidak tumbang.
Akhirnya hari itu saya beristirahat
dulu. Sehari setelah itu saya mulai batuk. Tidak karuan. Ini sangat buruk
sampai malam pada hari-hari selanjutnya saya selalu terbangun ketika tengah
malam karena batuk luar biasa. Dan egoisnya saya ingin tidur bareng nenek saya
karena kasurnya enak. Ya Allah, maafin
Nina. Tentu saya selalu pakai masker, bahkan ketika tidur. Begitu pun nenek
saya. Sejak awal pandemi, beliau memang parno. Sudah tidak kemana-mana lagi.
Paling jauh ya kedepan gerbang rumah membeli dagangan orang lewat.
Selesai mengurus BPJS, saya
kembali ke Yogyakarta dan menginap di rumah saudara saya selama beberapa hari.
Sepanjang itu, saya masih batuk-batuk. Parno, tetapi tetap berpikir negatif.
Ya, kali ini harus berpikir negatif bahwa saya memang negatif covid. Namun,
batuk saya kian parah. Ya Allah, ini tes
Genose terakhir untuk saya bisa pulang ke rumah. Satu kali lagi yaa Allah,
hasilnya harus negatif agar saya bisa pulang. Pagi itu saya kembali tes
Genose untuk persyaratan naik kereta. Menunggu hasil tes Genose seperti sedang
menunggu hasil nilai ujian. Separno itu, takut tidak lulus. Kali ini, takut
tidak bisa pulang. Saya mau isolasi mandiri dimana, coba?
Saya berusaha tetap tenang, walau
batin saya kacau. Hasil tes keluar,
Alhamdulillah kali ini saya lolos lagi. Negatif!
Pulang ke Rumah
Saya pulang dan batuk saya
mereda. Ah, mungkin kemaren-kemaren
terlalu parno sampai tubuh tersugesti untuk batuk, begitu pikir saya. Niat
hati manakala nanti tiba di rumah, saya mau isolasi mandiri selama sepuluh hari,
bukan karena saya positif tetapi karena saya habis bepergian jauh. Utamanya
saya tidak akan dekat-dekat dulu dengan nenek saya yang tinggal serumah dengan
saya. Beliau stroke, kesadaran
merespon sudah menurun, sudah tidak bisa apa-apa. Sangat berbahaya jika
barangkali ada virus yang mendekat.
Sayang seribu sayang, begitu saya
tiba di rumah, rumah sangat kacau. Kemarin-kemarin memang saya diminta
bersegera pulang karena orang tua saya sakit, tetapi saya tidak menyangka
mereka sakit sampai yang sebegininya. Sampai yang tidak bisa turun dari tempat
tidur! Betapa paniknya saya dengan masih mencoba stay cool! Kedua orangtua saya bahkan tidur di kamar terpisah
karena mereka khawatir jika salah satu dari mereka kemungkinan terkena covid.
Akhirnya rencana saya untuk isolasi mandiri batal! Saya harus merawat tiga
orang yang sakit termasuk nenek saya, di dalam tiga kamar yang berbeda. Satu
rumah semuanya harus selalu memakai masker, kecuali nenek saya. Saat itu, batuk saya berganti menjadi pilek.
Tidak apa-apa. Saya memang terbiasa flu bahkan jauh sebelum pandemi ada.
Orang Tua Positif
Covid-19!
Pada 29 Juni 2021, kedua orang
tua saya memutuskan untuk pindah sementara dari rumah ke rumah sebelah rumah
kami karena kebetulan rumah tersebut baru saja kosong. Penghuninya baru saja
pindah sehabis lebaran kemarin. Orang tua
kami pindah usai tes Antigen mereka dinyatakan positif covid. Kepindahan
ini juga didukung pertimbangan bahwasannya di rumah kami ada nenek yang stroke sehingga akan lebih baik jika
kami tinggal terpisah.
Pada hari itu pula, orang tua
saya melakukan tes PCR dengan memanggil petugas untuk melakukan tes PCR mandiri
di rumah. Kenapa? Karena ya masa orang positif covid disuruh jalan-jalan ke
puskesmas? Dan untuk hasil PCR di puskesmas pun hasilnya lama sekali keluar.
Menurut ayah saya, hasilnya bisa seminggu-dua minggu baru keluar. Terlalu lama.
Selain itu, jika di tengah isolasi mandiri terjadi apa-apa dan harus ke rumah
sakit, salah satu persyaratannya adalah sudah membawa bukti hasil tes PCR yang
menyatakan positif covid. Nanti kalau belum punya suratnya, ribet khawatirnya.
Dengan seluruh pertimbangan ini, kedua orang tua saya hendak memastikan diri
lagi melalui tes PCR.
Hasil Tes Antigen Saya
Positif!
Di hari yang sama pula, saya dan
adik perempuan saya diminta oleh orang tua saya untuk pergi tes Antigen. Waktu
itu masih pukul setengah sembilan pagi, kami datang ke sebuah klinik yang
melayani tes Antigen. Sampai di sini ada sekitar dua puluh orang lebih
mengantre untuk tes. Saya kaget. Masih
pagi, lho! Kok banyak orang yang ingin tes Antigen? Ada apa, nih?
Karena saya tidak suka suasana
ramai seperti tu, saya bilang ke adik saya untuk kita pindah tempat saja. Cari
tempat lain. Akhirnya kami pergi ke rumah sakit swasta untuk tes Antigen, walau
memang lebih mahal biayanya dibanding di klinik tadi. Di rumah sakit ini, kuota
tes Antigen dibatasi hanya lima belas orang perharinya dengan jadwal tes
serentak pukul 13.00 WIB. Walau harus bolak-balik karena tesnya nanti siang,
akhirnya kami sepakat untuk tes di sana.
Siangnya kami melakukan tes.
Perasaan saya tak enak. Wah, kayaknya
saya positif, deh. Soalnya lagi pilek. Walau saya orangnya emang pilekan.
Benar saja, tiga jam setelahnya hasil keluar, kami dihubungi pihak RS. Tes Antigen saya menunjukkan bahwa saya
positif, sementara adik perempuan saya negatif. Saya santai karena
sejujurnya saya memang pengen bangeeeet istirahat! Sehabis pulang dari
perjalanan jauh beberapa hari yang lalu, saya belum istirahat dengan total.
Positifnya saya juga didukung fakta bahwa kemarin-kemarin saya merawat kedua
orang tua saya, berkali-kali masuk ke kamar mereka untuk membawakan makanan dan
minuman, kami juga sharing kamar mandi. Walau selalu memakai masker, tidak
menutup segala kemungkinan.
Isolasi Mandiri
Akhirnya saya ikut isolasi
mandiri di rumah sebelah. Adik perempuan saya yang merawat nenek di rumah. Dia
juga mengambil peran untuk merawat kami semua sebenarnya. Setiap jam makan dia
akan membawakan makanan dan segala keperluan yang kami minta. Sebenarnya
kasihan, tapi mau gimana lagi. Di samping itu, dia juga harus selalu ingat jam
makan, buang urin, dan jam shalat nenek kami. Di sini peran dia sangat
berharga, semoga Allah limpahkan banyak kebaikan untuknya. Aamiin. Sementara itu,
adik laki-laki saya sudah mengungsi terlebih dahulu ke rumah saudara saya pada
hari pertama saya pulang waktu itu.
Hari pertama dan kedua isoman,
saya benar-benar lelah. Saya tidur sepanjang hari. Bangun hanya untuk makan dan
shalat. Apa keluhan saya? Tidak ada, kecuali flu ringan, sama seperti yang saya
biasanya rasakan. Kalau ditanya obat apa yang saya minum? Sejujurnya saya cuma
minum obat flu. Jadi, kita minum obat memang sesuai dengan gejala kita
masing-masing. Ditambah juga minum obat anti-virus. Hah? Anti-virus? sudah kayak laptop aja dikasih anti-virus. Heeee.
Hari-hari awal seperti “neraka”.
Saya melihat bagaimana orang tua saya kesakitan. Ayah saya mengalami batuk parah
sampai gemetar, sementara ibu saya muntah-muntah sepanjang hari. Yaa Allah kenapa harus saya yang
diperlihatkan ini semua? Saya sedih..
Ternyata Hasil Tes PCR
Saya Menunjukkan Sebaliknya!
Hari ketiga dan keempat saya
mulai rajin main HP, juga mencuci piring karena piring-piring kotor mulai
bertumpukkan. Nah, pada hari ke-empat saya melakukan tes PCR. Lagi-lagi disuruh
ayah saya. Katanya untuk memastikan, sekalian juga nanti kalau ada apa-apa saya
mudah untuk dirujuk ke rumah sakit.
Dua hari kemudian hasilnya keluar dan ternyata saya negatif! Ini
adalah kaget yang Alhamdulillah. Kaget karena gimana ya, saya sudah seminggu
lho isolasi mandiri bersama kedua orang tua saya yang jelas-jelas dinyatakan
positif! Bahkan saya dan ayah saya tidur satu kasur di ruang tamu dan
membiarkan ibu saya sendiri di kamar, sebab beliau sering tiba-tiba muntah.
Untungnya kami sengaja tidur dengan posisi menyilang dan membelakangi. Dan
selama isoman, kami selalu sama-sama memakai masker bahkan ketika tidur.
Sebelum memutuskan untuk pulang,
kami menghubungi dokter terlebih dahulu tentang kondisi yang saya alami. “Antigen itu nggak pasti. Kl tes PCR negatif,
nah itu berarti emang benar-benar negatif.” Begitu kata dokter.
Akhirnya saya kembali ke rumah.
Saya memikirkan kembali hikmahnya; mungkin kata Allah saya dinyatakan positif
dulu agar bisa isoman bersama orang tua saya untuk merawat mereka. Pada
hari-hari awal, ibu saya bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur, ke kemar
mandi seperlunya dan perlu dituntun. Lalu siapa yang melayani ayah saya untuk
menyiapkan makan pagi, siang, malam? Menyiapkan maksudnya menyiapkan nasi di
piring, mengambilkan lauk, air minum, dan lain-lain. Bahkan kalau saya tidak
isoman, barangkali cucian piring kian menumpuk. Ah, ada-ada saja caranya Allah
untuk memudahkan urusan hamba-Nya.
Sempat saat masih isoman, suatu
siang adik perempuan saya datang sambil menangis. Katanya nenek saya nafasnya
sesak! Kami yang sedang isoman bingung. Akhirnya minta tolong salah seorang
tetangga untuk membantu adik perempuan saya. Masalahnya baru saja beberapa jam
yang lalu tabung oksigen nenek saya dipindah ke rumah sebelah untuk barangkali
sewaktu-waktu kami yang sedang isoman membutuhkannya.
Tetangga saya datang dan tidak
berapa lama disusul om dan tante saya. Sungguh, punya tetangga yang ngomong, “jangan enggak enakan kalau sama saya” dan
punya om yang selalu siap sedia menolong kalau ada apa-apa, that’s privilege! Akhirnya nenek saya
baik-baik saja.
Ketika masa-masa isoman, setiap
hari kami mengecek saturasi, pagi-malam. Ada hari dimana oximeter tidak bisa
membaca saturasi saya, tetapi ketika di jari orang tua saya malah bisa. Saya
sudah ganti alat, tetap tidak bisa. Aneh. Entahlah. Beberapa dokter juga
memantau kami. Setiap hari kami membuat laporan ke dokter, juga teleponan
dengan mereka. Terima kasih banyak saya haturkan pada dokter Andin dan dokter
Helga yang sudah memantau orang tua saya selama masa isolasi hingga keduanya
benar-benar sehat kembali.
Mengakhiri Isolasi
Mandiri di Rumah Sebelah
Kembali ke cerita saat saya sudah
kembali ke rumah. Saya masih harus isoman karena baru saja tinggal seminggu
dengan orang tua saya yang dinyatakan covid. Sepanjang waktu itu tetaplah adik
perempuan saya memegang semua pekerjaan, termasuk urusan duit dan sebagainya.
Sementara itu, adik laki-laki saya sudah pulang ke rumah. Namun, esoknya dia
sakit demam. Demam tinggi dan flu! Adik perempuan saya masih memegang seluruh
kendali, sampai suatu hari dia flu berat dan tumbang! Akhirnya saya mengakhiri
masa isoman saya dan mengambil alih pekerjaannya. Gantian saya yang merawat
mereka.
Tiba pada suatu siang dimana saya
ikutan tumbang akibat sakit kepala hebat. Saya tidak bisa bangun dari tempat
tidur sebenarnya, tapi saya memaksakan diri karena harus masak untuk makan
siang orang tua saya yang masih isoman. Setelahnya, saya roboh di tempat tidur.
Hari itu adalah hari pertama saya “dapet”. Saya belum beli roti jepang,
persediaan di rumah sudah habis. Kami mencoba mengontak layanan antar dari
minimarket terdekat melalui online, tetapi lama sekali datangnya. Selain itu,
adik laki-laki saya sedang susah makan. Ini bikin saya istighfar. Ada satu yang
dia mau makan, biskuit regal! Pagi tadi rencananya saya mau keluar untuk beli
segala macam kebutuhan, termasuk roti jepang dan biskuit regal, qodarullah saya malah sakit. Saya lupa
kalau ada om saya yang tinggal dekat sini, namun tiba-tiba om tersebut menelepon.
Akhirnya saya ingat keberadaannya, hehe. Saya kirim pesan untuk chat aja, saya
sedang tidak bisa angkat telepon.
Akhirnya terpaksa saya kembali
merepotkan om saya dengan meminta tolong dibelikan roti jepang dengan detail
jenis apa, merek apa, ukuran berapa, yang isi berapa, pakai sayap atau tidak,
ini memang ribet tapi lebih tidak nyaman lagi kalau menggunakan jenis lain yang
tidak biasanya kita pakai. Serta saya juga minta tolong untuk dibelikan biskuit
regal. Bukan itu saja, saya juga bilang bahwa saya butuh orang untuk angkat galon.
Adik laki-laki saya masih sakit jadi saya tidak tega minta tolong dia untuk
angkat galon. Om saya tiba dengan cepat, bukan hanya membawa pesanan saya dan
mengangkat galon, tapi juga pergi mengisi ulang air galon yang kosong serta
membawakan kami sayur dan perkedel yang masih hangat. Terima kasih banyak, Oom..
Mimisan
Besok paginya adik laki-laki saya
bangun dan mimisan hebat! Saya kaget dan seperti biasa mencoba untuk stay cool ajalah. “Oh, nggak apa-apa, kok.
Nggak apa-apa kalau mimisan. Ini tahan aja dulu pakai tissue, ya..” padahal
dalam hati, “kumahaaaaa ieuuuuu?”
saya bodoh soal P3K. Ini menjadi PR besar tersendiri dalam hidup saya untuk
bekal hidup ke depannya. Malamnya waktu saya mau menyiapkan makan malam untuk
dia, dia mimisan lagi! Saya tidak habis pikir dia itu kenapa. Belum selesai
mimisannya, tiba-tiba dia muntah-muntah. Saya tergopoh-gopoh membawakan plastik
walau dia sudah terlanjur muntah di sprei tempat tidur. Muntahnya bercampur
dengan darah mimisan yang masih terus mengalir. Saya tetap berusaha menenangkan
dia.
Ajaibnya, setelah itu dia tetap
bersedia untuk makan. Saya suapi dan puji syukur dia berhasil makan hingga
sepuluh suap, setelah hari-hari sebelumnya dia susah makan bahkan sempat skip
untuk makan. Membujuk orang sakit untuk
makan, susah banget ternyata. Hmmmm.
Seseorang Pergi
Selamanya Karena Covid
Awalnya saya hanya menonton di
berita soal kematian orang-orang akibat covid, sampai di tengah-tengah ini
semua, suatu hari korban meninggal karena covid adalah orang yang saya kenal.
Bagaimana perasaan saya? Hati saya patah. Gimana wajahnya terbayang,
kebaikannya terbayang, apa yang dilakukannya untuk saya semasa hidup pun
terbayang, seluruhnya terbayang, dan hati saya hancur. Bahkan ketika hati saya
hancur, saya tidak bisa hadir di sana untuk melihat pemakamannya. Hancur.
Lalu hancur ini menjadi
berkali-kali lipat lagi ketika melihat di media sosial bahwa ini tidak hanya
terjadi pada perasaan saya. Banyak orang yang saya kenal mengalami hal yang
serupa, mereka juga mengalami hari yang berat dan perasaan yang hancur seperti
saya. Mereka juga ditinggalkan oleh orang-orang terdekat mereka yang wafat
akibat wabah ini.
Teruntuk mereka yang berpulang
terlebih dahulu, semoga sakit yang dirasakan pada detik-detik terakhir hidup
menjadi penggugur dosa-dosa yang ada, menjadi jalan mudah untuk mencapai tempat
yang lebih baik lagi di sisi-Nya. Aamiin.
Dan untuk kita semua yang masih
hidup, semoga kematian tidak berhenti menjadi pengingat terbaik. Semoga nasehat
kematian mampu membuat kita merenung setiap hendak melangkah dan berbuat.
Akhir Kata
Saya sempat dua kali dinyatakan
positif covid-19 pada momen yang berbeda, walau pada akhirnya tes Antigen saya
serta PCR saya justru membuktikan yang sebaliknya. Dan saya sangat bersyukur
untuk itu.
Seluruh cerita ini saya tulis
untuk healing. Melihat kilas balik apa-apa yang saya alami beberapa waktu
belakangan ini, menjadikannya sebagai salah satu pelajaran berharga yang hadir
dalam hidup saya. Kini saya paham bagaimana bersyukurnya pagi-pagi bisa mandi,
bisa sarapan dengan nyaman apapun lauknya, bisa menikmati apa yang disebut
sebagai makanan enak karena lidah merasakan normal dan mood untuk makan sesuatu ada. Bersyukur juga punya energi untuk
masak dan bisa beres-beres rumah dengan bahagia. Lebih baik tidur karena
kelelahan seharian, daripada tidur karena sakit.
Hingga tulisan ini saya ketik
sampai di sini, pada saat ini orang tua saya sudah semakin membaik keadaaannya.
Setiap saya mengantar makanan, saya melihat wajah ayah dan ibu saya tersenyum
dari balik jendela, membuat perasaan saya menjadi lega luar biasa dan saking
bapernya kadang saya pulang menitikkan air mata. Allah baik sekali hingga
sampai detik ini saya masih terus diizinkan untuk melihat senyum lebar dari
bibir kedua orang tua saya. Alhamdulillah.
Terima kasih sudah membaca sampai
kalimat ini. Mari saling mendoakan satu sama lain. Mari berikhtiar untuk sehat,
mari berserah untuk apapun yang terjadi. Dunia sudah begini, kemana lagi kaki
hendak melangkah selain untuk sesuatu yang berkah. Akhir kata, semoga kita
dilimpahkan kesehatan untuk bisa terus-menerus merawat orang-orang yang
membutuhkan di sekitar kita. Semoga Allah berikan kita takdir kematian yang
baik, yang husnul khatimah. Aamiin yaa Rabbal’alamin.

Malam tadi kembali mencari informasi tentang seseorang. Dan mendapati postingan duka ini.
BalasHapusSyafahumullah untuk kedua orang tuanya. laa basaa thohurun insya Allah. Dan semoga yang lainnya termasuk penulis senantiasa diberi kesehatan dan perlindungan, dimudahkan segala urusannya. Semangat