10/07/21

Dua Kali Dinyatakan Positif Covid-19, Faktanya Justru Sebaliknya!

 

Source: freepik.com

Saya tidak menyangka bahwa pada akhirnya laman blog saya sampai pada chapter ini. Sebuah chapter yang siapapun tak inginkan di dalam hidupnya. Pernyataan positif covid yang pertama kali saya terima, membuat saya terduduk diam cukup lama. Bingung. Namun, pernyataan positif covid yang kedua kalinya saya terima, benar-benar saya terima dengan hati legowo. Mungkin karena pada momen itu, saya memang benar-benar ingin istirahat saja. Dua kali saya dinyatakan positif covid, inilah kisah keluarga saya sebagai penyintas covid-19.

 

Melakukan Perjalanan Panjang

Cerita ini akan saya mulai dari sebuah kekacauan yang terjadi di rumah. Usai saya merasa kehilangan diri sendiri, ibu saya akhirnya merestui saya untuk melakukan perjalanan panjang ke selatan pulau Jawa, Banyuwangi, guna menenangkan diri untuk bisa kembali berpikir jernih. Banyuwangi adalah sebuah kota yang sudah lama masuk waiting list saya bahkan jauh sebelum pandemi. Dulu rencananya perjalanan tersebut akan saya lakukan selesai saya sidang skripsi. Namanya juga rencana manusia, tak ada yang pasti. Akhirnya seluruh rencana manusia di 2020 kacau-balau karena datangnya pandemi.  Namun, saya tidak menduga bahwa momen ini akhirnya tiba juga pada bulan Juni tahun ini.

Sebelumnya, saya melakukan searching terkait berita potensi tsunami yang terjadi di Jawa Timur dan memastikan bahwa isu tersebut benar. Hanya saja di sini ada kesalahpahaman pada masyarakat dalam menangkap berita. Potensi bukanlah prediksi. Potensi merupakan hal yang berbeda dengan prediksi. Dengan memantapkan hati, akhirnya saya berangkat ke Banyuwangi dengan sebelumnya mampir terlebih dahulu ke Magelang dan Yogyakarta selama beberapa hari. Saat itu mulai terdengar isu lonjakan kasus covid di Yogyakarta. Khusus Yogyakarta, bukan daerah lainnya selama yang saya ketahui.

Berangkatlah saya pada tanggal 12 Juni 2021. Saya menuju ke Magelang terlebih dahulu untuk mengurus berkas-berkas BPJS saya. Dikarenakan saya sudah lulus kuliah, saya harus mengubah BPJS saya menjadi peserta mandiri dan proses ini tidak bisa dilakukan secara online karena terkait dengan persetujuan rekening bank. Saya sedang mengejar waktu untuk menyelesaikan urusan administrasi yang ternyata cukup rumit ini karena tidak cukup mengurusnya dalam satu hari. Saya butuh BPJS karena saya hendak melakukan operasi yang akan berlangsung sebanyak dua kali dengan biaya yang cukup mahal jika dilakukan tanpa BPJS. Errghh. Sabar.

Sembari menunggu berkas selesai, saya ke Yogyakarta menemui teman-teman yang saya sayangi. Teman-teman yang memang ingin saya temui.  Teman-teman yang sedang menghadapi berbagai masalah juga. Saya datang berharap kami bisa saling menguatkan.

 

Dinyatakan Positif Melalui Tes Genose

Tiba H-1 saya akan berangkat menuju Banyuwangi, saya melakukan tes. Hal ini saya lakukan untuk memastikan bahwa diri saya sehat, sebab di Banyuwangi nanti saya akan tinggal di tempat tinggal milik relasi saya. Setidaknya saya harus memastikan bahwa diri saya baik-baik saja agar tidak membawa virus ke tempat orang lain. Tes Genose pertama saya negatif ketika hendak berangkat dengan kereta api dari Bandung menuju Yogyakarta, namun selang beberapa hari begitu saya hendak ke Banyuwangi, tes Genose saya hasilnya positif. Deg. Aduh. Kayaknya gara-gara habis makan sate usus dan lontong sayur deh. Padahal kejadiannya sudah dua jam berlalu dari sebelum tes. Saya diam, kaku, bingung, dan segalanya berputar di pikiran saya.

Saya mengakui bahwa saya sering melakukan perjalanan keluar kota yakni ke Yogyakarta selama pandemi berlangsung. Terhitung di tahun ini sudah tiga kali saya bolak-balik ke Yogyakarta. Dan ini pertama kalinya tes Genose saya hasilnya positif. Kebetulan tesnya memang di RS bukan tes Genose yang bekerjasama dengan  PT. KAI.

Saya segera menenangkan diri, lalu ke apotek beli air NaCl untuk membersihkan hidung dan cepat-cepat ke RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang berada di dekat Malioboro untuk tes Antigen. Saya tidak percaya dengan hasil tes Genose saya, sementara saya harus memastikan status diri saya saat ini terkait covid.

Saya sempat curhat juga ke petugas Antigen, "Pak, saya nggak mau hasilnya positif. Saya nggak boleh positif sekarang soalnya saya baru abis ketemu teman-teman dan keluarga saya."

Saat itu di benak saya cuma kepikiran mereka. Orang-orang yang baru saja saya temui adalah orang-orang yang berharga dalam hidup saya. Apalagi pandemi begini, saya benar-benar memilih untuk bertemu dengan siapa, mengutamakan orang-orang yang prioritas dulu untuk ditemui.

Akhirnya petugas juga ikut menanggapi kegelisahan saya. "Banyak yang kemana-mana tetapi nggak kena, banyak juga yang cuma di rumah saja justru kena." Beliau seolah ingin membesarkan hati saya, memberitahu saya bahwa jangan terlalu panik dan jika terjadi apa-apa jangan terlalu menyalahkan diri sendiri.

 

Hasil Tes Antigen Menunjukkan Sebaliknya, Negatif!

Proses untuk tes Antigen sangat cepat karena saat itu situasinya belum seburuk sekarang, dimana semua orang justru berlomba-lomba untuk tes covid, entah karena bergejala atau karena memang habis bertemu dengan pasien covid-19, atau memang rutin mengecek. Hanya saja waktu itu sempat seluruh komputer di RS mati. Saya menunggu hampir dua jam hanya untuk proses membayar agar bisa mengambil hasil tes saya.

Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulilah. Hasil tes Antigen saya dinyatakan negatif. Meski begitu kejadian pagi itu membuat saya sedikit trauma, juga parno untuk bepergian. 

Tadinya saya memutuskan untuk batal melakukan perjalanan ini dan memilih untuk staycation di Yogyakarta saja. Saya sudah menyusun rencana untuk mencari penginapan yang asyik daerah Jakal mungkin, pergi ke Desa Minggir untuk berkunjung ke Warung Murakabi, memutari Ringroad macam orang galau padahal memang iya, eh, lalu makan hot plate cumi-cumi di warung seberang Hartono Mall. Saya juga berencana melakukan social experiment sebagaimana yang biasanya saya lakukan saat masih menetap di Yogyakarta pada waktu dulu. Namun, sebuah celutukan yang saya terima dari seorang teman lewat chat whatsApp membuat saya tersadar bahwa sebenarnya justru betapa bahayanya berada di Yogyakarta.

"Aku kayaknya batal ikut, deh. Mau staycation aja di Jogja."

"Lhaa kenapa?"

"Parno banget sama situasi covid."

"Lhaaa? Di Jogja malah lebih parah hahahaha.."

Waktu itu suasana covidnya belum separah saat ini. Waktu itu khusus untuk Yogyakarta memang sedang gawat dibanding daerah lain. Tapi mobilitas di daerah Yogyakarta masih sama saja seperti biasanya.

 

Menuju Banyuwangi

Singkat cerita namun penuh drama dengan teman-teman yang akan berangkat, akhirnya saya bismillah saja berusaha memantapkan hati untuk kembali pada rencawa paling awal, bahwasannya saya memang harus pergi ke Banyuwangi karena itu adalah inti dari perjalanan saya kali ini. Singkat cerita lagi, selama perjalanan hingga pulang kembali ke Yogyakarta semuanya aman terkendali, sehat walafiat.

Sebelumnya saya cerita sedikit ya soal Banyuwangi. Entah saat itu saya sedang berada di bagian pelosok atau bukan, tetapi saya melihat banyak sekali orang tidak menggunakan masker. Di sana, kita bukan menghitung berapa yang tidak memakai masker, tetapi menghitung berapa yang memakai masker dan jumlahnya hanya sedikit, makanya lebih mudah untuk menghitungnya.

Saya sempat lewat sebuah jalanan dimana terjadi sebuah kecelakaan yang menimbulkan korban tewas di tempat. Jalanan jadi sangat ramai, dan kami menghitung hanya ada satu-dua orang yang memakai masker padahal lokasi kejadian sangat ramai dan padat. Namun, ada hal lain yang menarik di sini selain menyoroti pelanggaran protocol kesehatan. Kami melihat bagaimana masyarakat di sini sudah mengurus jenazah tersebut dengan baik, diletakkan di pinggir jalan, ditutup dengan rapi entah menggunakan kain atau daun, juga mereka menunggui jenazah sampai petugas kepolisian tiba.

Saya perhatikan memang sangat jarang ditemui pos polisi di daerah yang saya lewati tersebut, sehingga tak heran jika petugas kepolisian cukup lama tiba di lokasi kejadian bahkan sampai jenazah sudah diurus terlebih dahulu oleh warga sekitar. Lalu, menariknya apa? Pernahkah mendengar cerita bagaimana korban kecelakaan tewas di tempat yang terjadi di sudut-sudut sepi di dalam kota besar justru mendapat pengabaian dari pengendara yang lewat? Ya, banyak cerita semacam ini yang bergulir, sebab banyak orang di kota yang tidak ingin ribet jika harus berurusan dengan polisi, harus memberi keterangan sebagai saksi, harus mengurus orang lain yang entah keadaannya masih setengah hidup atau justru sudah tewas di tempat. Ada cerita-cerita semacam itu. Walau mereka yang mengalami kecelakaan di kota besar memang tidak selalu mendapat pengabaian.

 

Mengurus Sisa-sisa Urusan

Kembali lagi pada cerita saya tentang mengurus BPJS yang belum kelar, saya kembali ke Magelang. Hari pertama kembali saya masih sehat, hari kedua ketika bangun di pagi hari badan saya sangat berat. Pundak saya seperti ditekan sesuatu. Sakit bukan main seluruh badan saya. Pasti karena terlalu capek ini sehabis naik gunung sejak pukul 01.00 dini hari dan turun ke Kawah Ijen, lalu perjalanan pulang ke Yogyakarta naik kereta  12 jam tanpa tidur karena terlalu asyik ngobrol, serta berkali-kali kehujanan saat bepergian selama di Yogyakarta, tidak mungkin tubuh saya tidak tumbang.

Akhirnya hari itu saya beristirahat dulu. Sehari setelah itu saya mulai batuk. Tidak karuan. Ini sangat buruk sampai malam pada hari-hari selanjutnya saya selalu terbangun ketika tengah malam karena batuk luar biasa. Dan egoisnya saya ingin tidur bareng nenek saya karena kasurnya enak. Ya Allah, maafin Nina. Tentu saya selalu pakai masker, bahkan ketika tidur. Begitu pun nenek saya. Sejak awal pandemi, beliau memang parno. Sudah tidak kemana-mana lagi. Paling jauh ya kedepan gerbang rumah membeli dagangan orang lewat.

Selesai mengurus BPJS, saya kembali ke Yogyakarta dan menginap di rumah saudara saya selama beberapa hari. Sepanjang itu, saya masih batuk-batuk. Parno, tetapi tetap berpikir negatif. Ya, kali ini harus berpikir negatif bahwa saya memang negatif covid. Namun, batuk saya kian parah. Ya Allah, ini tes Genose terakhir untuk saya bisa pulang ke rumah. Satu kali lagi yaa Allah, hasilnya harus negatif agar saya bisa pulang. Pagi itu saya kembali tes Genose untuk persyaratan naik kereta. Menunggu hasil tes Genose seperti sedang menunggu hasil nilai ujian. Separno itu, takut tidak lulus. Kali ini, takut tidak bisa pulang. Saya mau isolasi mandiri dimana, coba?

Saya berusaha tetap tenang, walau batin saya kacau. Hasil tes keluar, Alhamdulillah kali ini saya lolos lagi. Negatif!

 

Pulang ke Rumah

Saya pulang dan batuk saya mereda. Ah, mungkin kemaren-kemaren terlalu parno sampai tubuh tersugesti untuk batuk, begitu pikir saya. Niat hati manakala nanti tiba di rumah, saya mau isolasi mandiri selama sepuluh hari, bukan karena saya positif tetapi karena saya habis bepergian jauh. Utamanya saya tidak akan dekat-dekat dulu dengan nenek saya yang tinggal serumah dengan saya. Beliau stroke, kesadaran merespon sudah menurun, sudah tidak bisa apa-apa. Sangat berbahaya jika barangkali ada virus yang mendekat.

Sayang seribu sayang, begitu saya tiba di rumah, rumah sangat kacau. Kemarin-kemarin memang saya diminta bersegera pulang karena orang tua saya sakit, tetapi saya tidak menyangka mereka sakit sampai yang sebegininya. Sampai yang tidak bisa turun dari tempat tidur! Betapa paniknya saya dengan masih mencoba stay cool! Kedua orangtua saya bahkan tidur di kamar terpisah karena mereka khawatir jika salah satu dari mereka kemungkinan terkena covid. Akhirnya rencana saya untuk isolasi mandiri batal! Saya harus merawat tiga orang yang sakit termasuk nenek saya, di dalam tiga kamar yang berbeda. Satu rumah semuanya harus selalu memakai masker, kecuali nenek saya.  Saat itu, batuk saya berganti menjadi pilek. Tidak apa-apa. Saya memang terbiasa flu bahkan jauh sebelum pandemi ada.

 

Orang Tua Positif Covid-19!

Pada 29 Juni 2021, kedua orang tua saya memutuskan untuk pindah sementara dari rumah ke rumah sebelah rumah kami karena kebetulan rumah tersebut baru saja kosong. Penghuninya baru saja pindah sehabis lebaran kemarin. Orang tua kami pindah usai tes Antigen mereka dinyatakan positif covid. Kepindahan ini juga didukung pertimbangan bahwasannya di rumah kami ada nenek yang stroke sehingga akan lebih baik jika kami tinggal terpisah.

Pada hari itu pula, orang tua saya melakukan tes PCR dengan memanggil petugas untuk melakukan tes PCR mandiri di rumah. Kenapa? Karena ya masa orang positif covid disuruh jalan-jalan ke puskesmas? Dan untuk hasil PCR di puskesmas pun hasilnya lama sekali keluar. Menurut ayah saya, hasilnya bisa seminggu-dua minggu baru keluar. Terlalu lama. Selain itu, jika di tengah isolasi mandiri terjadi apa-apa dan harus ke rumah sakit, salah satu persyaratannya adalah sudah membawa bukti hasil tes PCR yang menyatakan positif covid. Nanti kalau belum punya suratnya, ribet khawatirnya. Dengan seluruh pertimbangan ini, kedua orang tua saya hendak memastikan diri lagi melalui tes PCR.

 

Hasil Tes Antigen Saya Positif!

Di hari yang sama pula, saya dan adik perempuan saya diminta oleh orang tua saya untuk pergi tes Antigen. Waktu itu masih pukul setengah sembilan pagi, kami datang ke sebuah klinik yang melayani tes Antigen. Sampai di sini ada sekitar dua puluh orang lebih mengantre untuk tes. Saya kaget. Masih pagi, lho! Kok banyak orang yang ingin tes Antigen? Ada apa, nih?

Karena saya tidak suka suasana ramai seperti tu, saya bilang ke adik saya untuk kita pindah tempat saja. Cari tempat lain. Akhirnya kami pergi ke rumah sakit swasta untuk tes Antigen, walau memang lebih mahal biayanya dibanding di klinik tadi. Di rumah sakit ini, kuota tes Antigen dibatasi hanya lima belas orang perharinya dengan jadwal tes serentak pukul 13.00 WIB. Walau harus bolak-balik karena tesnya nanti siang, akhirnya kami sepakat untuk tes di sana.

Siangnya kami melakukan tes. Perasaan saya tak enak. Wah, kayaknya saya positif, deh. Soalnya lagi pilek. Walau saya orangnya emang pilekan. Benar saja, tiga jam setelahnya hasil keluar, kami dihubungi pihak RS. Tes Antigen saya menunjukkan bahwa saya positif, sementara adik perempuan saya negatif. Saya santai karena sejujurnya saya memang pengen bangeeeet istirahat! Sehabis pulang dari perjalanan jauh beberapa hari yang lalu, saya belum istirahat dengan total. Positifnya saya juga didukung fakta bahwa kemarin-kemarin saya merawat kedua orang tua saya, berkali-kali masuk ke kamar mereka untuk membawakan makanan dan minuman, kami juga sharing kamar mandi. Walau selalu memakai masker, tidak menutup segala kemungkinan.

 

Isolasi Mandiri

Akhirnya saya ikut isolasi mandiri di rumah sebelah. Adik perempuan saya yang merawat nenek di rumah. Dia juga mengambil peran untuk merawat kami semua sebenarnya. Setiap jam makan dia akan membawakan makanan dan segala keperluan yang kami minta. Sebenarnya kasihan, tapi mau gimana lagi. Di samping itu, dia juga harus selalu ingat jam makan, buang urin, dan jam shalat nenek kami. Di sini peran dia sangat berharga, semoga Allah limpahkan banyak kebaikan untuknya. Aamiin. Sementara itu, adik laki-laki saya sudah mengungsi terlebih dahulu ke rumah saudara saya pada hari pertama saya pulang waktu itu.

Hari pertama dan kedua isoman, saya benar-benar lelah. Saya tidur sepanjang hari. Bangun hanya untuk makan dan shalat. Apa keluhan saya? Tidak ada, kecuali flu ringan, sama seperti yang saya biasanya rasakan. Kalau ditanya obat apa yang saya minum? Sejujurnya saya cuma minum obat flu. Jadi, kita minum obat memang sesuai dengan gejala kita masing-masing. Ditambah juga minum obat anti-virus. Hah? Anti-virus? sudah kayak laptop aja dikasih anti-virus. Heeee.

Hari-hari awal seperti “neraka”. Saya melihat bagaimana orang tua saya kesakitan. Ayah saya mengalami batuk parah sampai gemetar, sementara ibu saya muntah-muntah sepanjang hari. Yaa Allah kenapa harus saya yang diperlihatkan ini semua? Saya sedih..

Sebelumnya saya tidak pernah melihat orang tua saya sakit yang sampai sebegininya. Sakit berhari-hari. Biasanya kalau sakit hanya satu malam saja, esoknya sudah Kembali beraktivitas seperti biasanya. Namun, kali ini rasanya berbeda. Sebelum melakukan tes covid, ibu saya bahkan sudah seminggu muntah-muntah. Sayangnya, beliau juga sulit makan sehingga ketika muntah tidak ada yang bisa dikeluarkan. Seluruh cairan dalam tubuhnya hampir terkuras habis akibat muntah. Kami sempat berpikir apa sebaiknya beliau dibawa saja ke rumah sakit agar diinfus. Tetapi saya berpikir kembali bahwa rumah sakit bukanlah tempat yang aman, justru di sanalah banyak virus berkumpul. Dengan gejala tanpa sesak nafas, akhirnya kami berusaha untuk isoman di rumah saja. Saya juga bilang ke ibu saya, kalau di rumah sakit makanannya tidak selalu enak, tidak  bisa request, sebaiknya di rumah saja karena makannnya lebih enak. Gitu kata saya. Akhirnya ibu saya menurut.

 

Ternyata Hasil Tes PCR Saya Menunjukkan Sebaliknya!

Hari ketiga dan keempat saya mulai rajin main HP, juga mencuci piring karena piring-piring kotor mulai bertumpukkan. Nah, pada hari ke-empat saya melakukan tes PCR. Lagi-lagi disuruh ayah saya. Katanya untuk memastikan, sekalian juga nanti kalau ada apa-apa saya mudah untuk dirujuk ke rumah sakit.

Dua hari kemudian hasilnya keluar dan ternyata saya negatif! Ini adalah kaget yang Alhamdulillah. Kaget karena gimana ya, saya sudah seminggu lho isolasi mandiri bersama kedua orang tua saya yang jelas-jelas dinyatakan positif! Bahkan saya dan ayah saya tidur satu kasur di ruang tamu dan membiarkan ibu saya sendiri di kamar, sebab beliau sering tiba-tiba muntah. Untungnya kami sengaja tidur dengan posisi menyilang dan membelakangi. Dan selama isoman, kami selalu sama-sama memakai masker bahkan ketika tidur.

Sebelum memutuskan untuk pulang, kami menghubungi dokter terlebih dahulu tentang kondisi yang saya alami. “Antigen itu nggak pasti. Kl tes PCR negatif, nah itu berarti emang benar-benar negatif.” Begitu kata dokter.

Akhirnya saya kembali ke rumah. Saya memikirkan kembali hikmahnya; mungkin kata Allah saya dinyatakan positif dulu agar bisa isoman bersama orang tua saya untuk merawat mereka. Pada hari-hari awal, ibu saya bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur, ke kemar mandi seperlunya dan perlu dituntun. Lalu siapa yang melayani ayah saya untuk menyiapkan makan pagi, siang, malam? Menyiapkan maksudnya menyiapkan nasi di piring, mengambilkan lauk, air minum, dan lain-lain. Bahkan kalau saya tidak isoman, barangkali cucian piring kian menumpuk. Ah, ada-ada saja caranya Allah untuk memudahkan urusan hamba-Nya.

Sempat saat masih isoman, suatu siang adik perempuan saya datang sambil menangis. Katanya nenek saya nafasnya sesak! Kami yang sedang isoman bingung. Akhirnya minta tolong salah seorang tetangga untuk membantu adik perempuan saya. Masalahnya baru saja beberapa jam yang lalu tabung oksigen nenek saya dipindah ke rumah sebelah untuk barangkali sewaktu-waktu kami yang sedang isoman membutuhkannya.

Tetangga saya datang dan tidak berapa lama disusul om dan tante saya. Sungguh, punya tetangga yang ngomong, “jangan enggak enakan kalau sama saya” dan punya om yang selalu siap sedia menolong kalau ada apa-apa, that’s privilege! Akhirnya nenek saya baik-baik saja.

Ketika masa-masa isoman, setiap hari kami mengecek saturasi, pagi-malam. Ada hari dimana oximeter tidak bisa membaca saturasi saya, tetapi ketika di jari orang tua saya malah bisa. Saya sudah ganti alat, tetap tidak bisa. Aneh. Entahlah. Beberapa dokter juga memantau kami. Setiap hari kami membuat laporan ke dokter, juga teleponan dengan mereka. Terima kasih banyak saya haturkan pada dokter Andin dan dokter Helga yang sudah memantau orang tua saya selama masa isolasi hingga keduanya benar-benar sehat kembali.

 

Mengakhiri Isolasi Mandiri di Rumah Sebelah

Kembali ke cerita saat saya sudah kembali ke rumah. Saya masih harus isoman karena baru saja tinggal seminggu dengan orang tua saya yang dinyatakan covid. Sepanjang waktu itu tetaplah adik perempuan saya memegang semua pekerjaan, termasuk urusan duit dan sebagainya. Sementara itu, adik laki-laki saya sudah pulang ke rumah. Namun, esoknya dia sakit demam. Demam tinggi dan flu! Adik perempuan saya masih memegang seluruh kendali, sampai suatu hari dia flu berat dan tumbang! Akhirnya saya mengakhiri masa isoman saya dan mengambil alih pekerjaannya. Gantian saya yang merawat mereka.

Tiba pada suatu siang dimana saya ikutan tumbang akibat sakit kepala hebat. Saya tidak bisa bangun dari tempat tidur sebenarnya, tapi saya memaksakan diri karena harus masak untuk makan siang orang tua saya yang masih isoman. Setelahnya, saya roboh di tempat tidur. Hari itu adalah hari pertama saya “dapet”. Saya belum beli roti jepang, persediaan di rumah sudah habis. Kami mencoba mengontak layanan antar dari minimarket terdekat melalui online, tetapi lama sekali datangnya. Selain itu, adik laki-laki saya sedang susah makan. Ini bikin saya istighfar. Ada satu yang dia mau makan, biskuit regal! Pagi tadi rencananya saya mau keluar untuk beli segala macam kebutuhan, termasuk roti jepang dan biskuit regal, qodarullah saya malah sakit. Saya lupa kalau ada om saya yang tinggal dekat sini, namun tiba-tiba om tersebut menelepon. Akhirnya saya ingat keberadaannya, hehe. Saya kirim pesan untuk chat aja, saya sedang tidak bisa angkat telepon.

Akhirnya terpaksa saya kembali merepotkan om saya dengan meminta tolong dibelikan roti jepang dengan detail jenis apa, merek apa, ukuran berapa, yang isi berapa, pakai sayap atau tidak, ini memang ribet tapi lebih tidak nyaman lagi kalau menggunakan jenis lain yang tidak biasanya kita pakai. Serta saya juga minta tolong untuk dibelikan biskuit regal. Bukan itu saja, saya juga bilang bahwa saya butuh orang untuk angkat galon. Adik laki-laki saya masih sakit jadi saya tidak tega minta tolong dia untuk angkat galon. Om saya tiba dengan cepat, bukan hanya membawa pesanan saya dan mengangkat galon, tapi juga pergi mengisi ulang air galon yang kosong serta membawakan kami sayur dan perkedel yang masih hangat. Terima kasih banyak, Oom..

 

Mimisan

Besok paginya adik laki-laki saya bangun dan mimisan hebat! Saya kaget dan seperti biasa mencoba untuk stay cool ajalah. “Oh, nggak apa-apa, kok. Nggak apa-apa kalau mimisan. Ini tahan aja dulu pakai tissue, ya..” padahal dalam hati, “kumahaaaaa ieuuuuu?” saya bodoh soal P3K. Ini menjadi PR besar tersendiri dalam hidup saya untuk bekal hidup ke depannya. Malamnya waktu saya mau menyiapkan makan malam untuk dia, dia mimisan lagi! Saya tidak habis pikir dia itu kenapa. Belum selesai mimisannya, tiba-tiba dia muntah-muntah. Saya tergopoh-gopoh membawakan plastik walau dia sudah terlanjur muntah di sprei tempat tidur. Muntahnya bercampur dengan darah mimisan yang masih terus mengalir. Saya tetap berusaha menenangkan dia.

Ajaibnya, setelah itu dia tetap bersedia untuk makan. Saya suapi dan puji syukur dia berhasil makan hingga sepuluh suap, setelah hari-hari sebelumnya dia susah makan bahkan sempat skip untuk makan. Membujuk orang sakit untuk makan, susah banget ternyata. Hmmmm.

 

Seseorang Pergi Selamanya Karena Covid

Awalnya saya hanya menonton di berita soal kematian orang-orang akibat covid, sampai di tengah-tengah ini semua, suatu hari korban meninggal karena covid adalah orang yang saya kenal. Bagaimana perasaan saya? Hati saya patah. Gimana wajahnya terbayang, kebaikannya terbayang, apa yang dilakukannya untuk saya semasa hidup pun terbayang, seluruhnya terbayang, dan hati saya hancur. Bahkan ketika hati saya hancur, saya tidak bisa hadir di sana untuk melihat pemakamannya. Hancur.

Lalu hancur ini menjadi berkali-kali lipat lagi ketika melihat di media sosial bahwa ini tidak hanya terjadi pada perasaan saya. Banyak orang yang saya kenal mengalami hal yang serupa, mereka juga mengalami hari yang berat dan perasaan yang hancur seperti saya. Mereka juga ditinggalkan oleh orang-orang terdekat mereka yang wafat akibat wabah ini.

Teruntuk mereka yang berpulang terlebih dahulu, semoga sakit yang dirasakan pada detik-detik terakhir hidup menjadi penggugur dosa-dosa yang ada, menjadi jalan mudah untuk mencapai tempat yang lebih baik lagi di sisi-Nya. Aamiin.

Dan untuk kita semua yang masih hidup, semoga kematian tidak berhenti menjadi pengingat terbaik. Semoga nasehat kematian mampu membuat kita merenung setiap hendak melangkah dan berbuat.

 

Akhir Kata

Saya sempat dua kali dinyatakan positif covid-19 pada momen yang berbeda, walau pada akhirnya tes Antigen saya serta PCR saya justru membuktikan yang sebaliknya. Dan saya sangat bersyukur untuk itu. 

Seluruh cerita ini saya tulis untuk healing. Melihat kilas balik apa-apa yang saya alami beberapa waktu belakangan ini, menjadikannya sebagai salah satu pelajaran berharga yang hadir dalam hidup saya. Kini saya paham bagaimana bersyukurnya pagi-pagi bisa mandi, bisa sarapan dengan nyaman apapun lauknya, bisa menikmati apa yang disebut sebagai makanan enak karena lidah merasakan normal dan mood untuk makan sesuatu ada. Bersyukur juga punya energi untuk masak dan bisa beres-beres rumah dengan bahagia. Lebih baik tidur karena kelelahan seharian, daripada tidur karena sakit.

Hingga tulisan ini saya ketik sampai di sini, pada saat ini orang tua saya sudah semakin membaik keadaaannya. Setiap saya mengantar makanan, saya melihat wajah ayah dan ibu saya tersenyum dari balik jendela, membuat perasaan saya menjadi lega luar biasa dan saking bapernya kadang saya pulang menitikkan air mata. Allah baik sekali hingga sampai detik ini saya masih terus diizinkan untuk melihat senyum lebar dari bibir kedua orang tua saya. Alhamdulillah.

Terima kasih sudah membaca sampai kalimat ini. Mari saling mendoakan satu sama lain. Mari berikhtiar untuk sehat, mari berserah untuk apapun yang terjadi. Dunia sudah begini, kemana lagi kaki hendak melangkah selain untuk sesuatu yang berkah. Akhir kata, semoga kita dilimpahkan kesehatan untuk bisa terus-menerus merawat orang-orang yang membutuhkan di sekitar kita. Semoga Allah berikan kita takdir kematian yang baik, yang husnul khatimah. Aamiin yaa Rabbal’alamin.

 


1 komentar:

  1. Malam tadi kembali mencari informasi tentang seseorang. Dan mendapati postingan duka ini.
    Syafahumullah untuk kedua orang tuanya. laa basaa thohurun insya Allah. Dan semoga yang lainnya termasuk penulis senantiasa diberi kesehatan dan perlindungan, dimudahkan segala urusannya. Semangat

    BalasHapus