22/02/14

Jangan Tenggelamkan Surat Cintaku, Oh Kancut Keblenger #SuratCintaKK


Dear,
   My Beloved Kancut Keblenger

Cut, begitulah panggilan yang kuucap untuk sesekali memanggilmu. Mungkin bukan hanya sesekali tetapi berkali-kali.

Ketika dengan bangganya aku menceritakanmu pada teman-temanku yang berwajah lugu nan polos itu, bisa dibayangkan ketika aku menyebut namamu yang mereka bayangkan adalah penampakanmu yang sesungguhnya.

 Penampakanmu

Mereka hanya bisa melongo dengan mimik yang tak enak dipandang, ya semacam tablo gitu. Mereka kebingungan, Cut.

Mereka berkata, “itu nama apaan? Itu namanya siapa?” dan aku cuma bisa tersenyum menanggapi mereka.

Terlalu banyak hal tentangmu yang tak bisa kujelaskan satu-persatu pada mereka. Ah, kamu memang absurd, kayak mantan aku, Kemal Palevi. Hihi.

Cut, ketika aku menyimpan kagum padamu, kemudian diam-diam menaruh hati padamu, namun kuberpikir, aku bisa apa? Aku ini siapa? Aku cuma satu diantara tigaribu orang lebih yang mencintaimu, yang kagum padamu, yang menaruh perhatian padamu.

Boleh aku cerita sedikit? Malam itu, ketika aku tengah online, papi melintas di belakangku. Lalu, dengan tatapan menyelidik ia menyerangku dengan perkataannya.
“Kamu buka web apaan lagi? Pasti kancut-kancut itu, kan?”
“Iya nih, lagi buka blognya si kancut. Kok papi bisa tahu? Jangan-jangan selama ini diam-diam papi juga menyimpan rasa sama Kancut Keblenger?”
“Maksud kamu itu apa?! Kamu itu jatuh cinta sama orang yang salah! Eh, maksudnya sama benda yang salah!”

Kemudian, papi pergi. Kamu lihat kan, Cut? Betapa terbakar api cemburunya dia denganmu. #Halaaaah

Aku sempat berpikir, mungkin dia ingin join juga, tetapi apa daya gengsi karena umurnya sudah tua jadi dia memutuskan untuk menjadi secret admire saja.


Cut, surat cintaku ini mungkin tenggelam diantara banyaknya surat cinta lain yang dating padamu. Tetapi, rasaku untukmu tak akan tenggelam, akan selalu berlabuh, selamanya di hatimu, Cut, eaaaaaaaaakkk..

Oh iya Cut, bukan kecut loh ya, Happy Birthday to youuuuu yaaaa :) We will always love you :) {}

 Cieee makin tua nihhhh <3

Salam cinta dari penggemarmu,


Nina Mentari


16/02/14

3 Hati [Chapter 3]



Taman Kampus, Pukul 10.53
‘Maudy masih seperti dulu, sangat suka menggambar sketsa wajah, menulis sajak, dan membaca novel. Kali ini apa lagi yang ia sedang lakukan di taman?’

Lucky menerka-nerka apa yang tengah diperbuat gadis yang tengah sendirian duduk di kursi taman. Dengan sigap Lucky memainkan kameranya, ia kembali memotret gadis itu dari kejauhan. Satu, dua, tiga foto, sampai tak terasa sudah berpuluh-puluh foto yang ia hasilkan.

‘Sebelumnya, aku belum pernah melihatnya seperti ini, ternyata ketika ia tengah menggambar, menulis, atau membaca, banyak ekspresi wajah yang ditimbulkannya. Terkadang ia tersenyum, gelisah, kesal, cemberut ataupun tertawa. Dia benar-benar manis. Dia menemukan banyak rasa ketika melakukan itu semua..’

Tanpa sadar, seseorang memperhatikan gelagat Lucky sejak tadi. Risky memperhatikan Lucky, ketika pria itu tengah memperhatikan Maudy. Api cemburu sepertinya meledak diam-diam lagi. Sementara itu, Lucky tak berhenti tersenyum memandangi foto hasil jepretannya.

Risky berlalu dengan memendam beribu cemburu. Sedangkan Lucky, ia berlalu dengan perasaan bahagia karena telah berhasil menangkap banyak ekspresi gadis itu.

Maudy beranjak pergi dari taman dengan perasaan sedikit tenang setelah menggambar dan menulis sebuah sajak, sajaknya tentang apa lagi kalau bukan tentang sosok itu, Risky.

“Hai, Maudy?” Deg. Suara itu. Lucky. Maudy menoleh, semyuman tulus pria itu membuatnya tak bisa membendung sebuah senyuman juga. Maudy tersenyum, “Hai..” tiba-tiba saja pada saat bersamaan sosok itu melintas, menatap ke arah Maudy, Maudy membalas tatapan itu. Sosok itu memandanginya dengan pandangan kecewa dan dengan cepat berlalu.

Mungkin Risky begitu membenci Lucky atas semua ini. Bagaimana tidak, Risky dan Lucky, mereka bersahabat sejak dulu dan mereka melakukan satu kesalahan, mereka jatuh cinta pada orang yang sama tanpa mereka rencanakan. 

15/02/14

Kangen. Titik.





Kangen sate ayam bang Are.
Kangen kue pisang bu Docun.
Kangen pempek kapal selam pak Taufik.
Kangen pempek telur pak Salim.
Kangen nasi uduk bu Sumadi.
Kangen sambel kacang bu Intan.
Kangen lontong sayur bu Mul.
Kangen ikan tongkol dicabein bude Ibnu.
Kangen beli sayur di warung Mami.
Kangen beli kelapa di bang Udin.
Kangen jamu mba Ayu.
Kangen pizza mama Rike.
Kangen nasi goreng dan mie goreng Elok.
Kangen bakso wonogiri Elok.
Kangen mie ayam bu Joko.
Kangen gado-gado bude Ibnu.
Kangen piscok Bojong.
Kangen minum bajigur.
Kangen makan sekoteng.
Kangen main ke danau dekat puskesmas yang ada perahu bebeknya.
Kangen main ke danau bakos Cibinong.
Kangen iseng ngebolang di rumah kosong di Bilabong.
Kangen ngerujak di danau Bilabong.
Kangen duduk-duduk di bawah pohon-pohon cemara di bukit-bukit Bilabong.
Kangen ngebolang ke jalan-jalan setapak perkampungan, main ke air terjun kecil, menangkap kepiting, manjat pohon cersen, cersen untuk menu buka puasa.
Kangen duduk-duduk gelantungan di besi portal samai jatuh kepala duluan.
Kangen coret-coret dinding nulis nama sendiri.
Kangen nekat naik ke atap, lewat cerobong asap dan bersender di balik tangki air demi menikmati sunset.
Kangen nonton layar tancep ramai-ramai di lapangan sampai tengah malam.
Kangen main lompat karet.
Kangen main skuter. (tulisannya gimana sih-_-)
Kangen main skiping. (bener gak tulisannya?._.)
Kangen main bekel.
Kangen main monopoli, siapa yang kalah, dia yang membereskan.
Kangen main bola gebok, batasan larinya kalao bukan ujung portal sampai ujung portal, ya satu RT atau satu RW.
Kangen main petak umpet.
Kangen main taplak meja.
Kangen main Barbie.
Kangen keliling naik sepeda.
Kangen main donald bebek.
Kangen main sabun colek.
Kangen kalian.

22/01/14

Member Paling Teristimewa Di Vedit

Member Paling Teristimewa Di Vedit, hmm dari judulnya udah jelas kalau gue bakal cerita tentang seseorang yang terisitimewa di tempat les gue, VEDIT. Jadi, VEDIT adalah tempat les gue, di sini kita diajarkan fotografi, desain grafis, bisnis online, sosial media, dan lain sebagainya.

 

Ngomong-ngomong soal Member Paling Teristimewa Di Vedit, gue juga bingung mau menceritakan tentang siapa, tapi ada satu orang yang gue nilai lebih, dia manis dan smart. Sebut aja namanya Wahyuni Islami Alam, dia biasa dipanggil Ayunda. Hihi. Ini nih orangnya, cekidottt...

 

 

Member Paling Teristimewa Di Vedit itu yang berada di tengah, si Ayunda. Hihi. Kenapa gue bilang dia itu smart? Secara ya, tiap kali kita belajar di VEDIT, si Ayunda ini cepat banget mengerti, padahal kita semua yang belajar di VEDIT sama-sama nagh gaul dan enggak gaptek. Tapi, si Ayunda ini emang smart, dia bisa dengan cepat menguasai apa yang diajarkan. Udah gitu, nanti malam nih, kalau dia sorenya sudah belajar desain grafis, dia bakal upload fotonya yang dari hasil desainnya lewat corel draw. Kalau gue, paling foto selfie, foto diri sendiri. Hehe, postingannya sampai sini aja dulu, ya. Thankyou ya udah mau baca :)

11/01/14

3 Hati [Chapter 2]

Studio Foto, Pukul 17.15
Lucky mulai membereskan studio fotonya. Studio itu bukan miliknya seorang diri, tetapi ia membangunkannya bersama dengan 3 orang temannya yang lain. Ia menghela nafas sejenak. Lagi-lagi teringat pada gadis itu. Gadis itu selalu berhasil menyelinap ke dalam pikirannya, lalu merusak semua konsentrasi yang dimilikinya.

Sudah seminggu Maudy tak membalas pesan singkatnya. Begitu gelisahnya Lucky sampai-sampai ia berniat untuk menemui gadis itu. Lucky tak pernah putus asa, ia tetap mengirimkan pesan singkat-pesan singkat yang manis dan hangat kepada gadis itu. Berkali-kali pula ia menelepon gadis itu, tetapi berkali-kali pula nomornya tak aktif. Lucky gelisah bukan main, ada apa dengan gadis itu? Terakhir mereka membuka conservation, mereka baik-baik saja.

Sampai suatu ketika Lucky mengetahui penyebabnya. Ponsel milik gadis itu hilang. Tentu saja hal itu membuat gadis itu tak mengetahui keberadaan pesan-pesan singkat yang selalu Lucky kirim untuknya.

Meskipun begitu, Lucky tak pernah berhenti mengirimi Maudy pesan singkat, meski ia tahu ia tak akan mungkin mendapatkan balasan. Maudy tak membalas cintanya, dan kini Maudy tak akan pernah lagi membalas pesan singkatnya. Pagi, siang, malam, ia rutin mengirimi gadis itu pesan.

“Selamat pagi, Maudy..”
“Jangan lupa sarapan ya..”
“Selamat siang, Maudy..”
“Semoga hari ini menyenangkan ya..”
“Selamat malam, Maudy..”
“Tidur yang nyenyak ya, sampai ketemu besok..”
“Maudy, sebenarnya..”
“Maudy, ini pulsa terakhir, jadi maaf kalau besok aku enggak bisa ngirim SMS..”

Lucky seperti tak waras. Bukan hanya sekedar mengatakan itu semua, Lucky juga mencurahkan segala perasaannya lewat pesan singkat itu dengan amat berani, karena ia tahu Maudy tak akan pernah menemukan pesan-pesannya apa  lagi membacanya. Tak akan pernah. Lucky mengatakan bagaimana menyesalnya ia dulu pernah meninggalkan Maudy, ia tak mengerti bagaimana bisa dulu ia lebih memilih yang lain, sementara dulu Maudy begitu mencintai dan mempercayainya. Bagaimana mungkin ia menukar itu semua dengan memilih gadis yang lain. Ia tahu, penyesalannya amat terlambat. Semuanya sudah lama sekali. Perasaan Maudy untuknya mungkin benar-benar sudah terkubur.