Masing-masing
orang punya rahasia. Banyak alasan mengapa setiap orang punya suatu hal yang
mereka jadikan rahasia. Kadang kala, aku harus menyesalkan tentang adanya
rahasia. Kadang kala, aku merasa bodoh karena kehadiran rahasia. Kadang kala, aku merasakan pahit akibat
datangnya rahasia. Kadang kala, aku harus menerima sesuatu dengan terlambat
karena rahasia. Kadang kala, aku bingung harus menunggu atau terus melangkah
karena ada rahasia. Bahkan, aku tak pernah tahu bahwa aku selalu tersenyum di
atas penderitaan yang lain, itu juga karena ada rahasia.
“Dira,
si Cindy cantik, yah. Sayangnya sikapnya begitu.” Kataku pada Indira. Entah dia
mendengarkan aku atau tidak, karena yang kulihat ia begitu sibuk dengan
gadgetnya.
“Kamu
suka sama dia, Lang ?” Oh, ternyata ia mendengarku. Tetapi pandangannya masih
saja ke arah gadgetnya.
“Hmm..
enggak. Aku lebih tertarik sama si Ririn.” Ucapku dengan begitu terbuka. Indira
adalah temanku sejak kecil. Bisa dibayangkan betapa dekatnya kami. Aku selalu
menceritakan banyak hal padanya. Tetapi, menurutku ia tidak begitu terbuka
padaku, seterbuka aku padanya.
“Oh,
Ririn ? Karena dia aktif ikut kegiatan ini itu yah ?” Kali ini ia bertanya
sambil menatap lurus ke arahku.
“Banyak
hal yang aku suka darinya.” Indira hanya mengangguk. Kemudian ia berkata, “
Banyak hal ? Aku tahu, dia aktif, cantik, ramah, pintar. Iya kan ?” Aku hanya
terdiam.
***
“Gilang,
kamu dimana ?” Tanya Indira di ujung telepon.
“Masih
di jalan. Kamu mau dijemput dimana ?” Tanyaku.
“Depan
kampus, Lang. DI bawah pohon besar.” Jawabnya lagi. Seperti biasa, jika aku
punya waktu, aku akan menjemput Indira, dan mengantarnya pulang. Rintik air
hujan mulai memenuhi kaca depan mobilku. Tiba-tiba, seorang perempuan menarik
perhatianku. Aku memberhentikan mobil dan keluar menemui perempuan itu.
“Rin
? Mau pulang ?” Ya, aku melihat Ririn di pinggir jalan. Wajahnya terlihat panik
karena melihat langit yang mendung.
“Iya,
nih. Tapi gimana yah ? Mau hujan.” Wajahnya masih panik.
“Aku
antar pulang, yuk.” Tawarku.
“Hmm
gimana yah ? Yaudah, deh. Ayuk.”
***
“Nyariin
siapa, Lang ?” Aku terkejut. Ririn sudah berdiri di sampingku.
“Eh,
enggak kok. Kamu lihat Indira, nggak ?”
“Dira
nggak masuk hari ini.”
“Hah
? Kenapa ?”
“Sakit.”
Jawabnya singkat.
Astaga
! Apa mungkin karena kemarin aku lupa menjemputnya ? Lalu dia kehujanan dan..
Kutinggalkan
Ririn dan bergegas ke parkiran mobil. Kutancap gas mobilku.
Rumah
Indira terlihat sepi. Indira anak tunggal dan mempunyai orangtua yang sibuk
luarbiasa. Bi Inah, pembantu rumah itu mempersilahkan aku masuk.
Di
ruang tengah, kudapati Indira terduduk lemas dan pandangannya kosong.
“Dira..”
Panggilku. Ia masih tak sadar. Tatapannya masih kosong. “Dir…” kupanggil ia
sekali lagi. Dia menoleh. Dia tersenyum, senyum yang sangat lemah.
“Mas
Gilang, kemarin mba Dira kehujanan. Sampai sakit kayak gini.” Ujar Bi Inah.
Benar dugaanku.
“Dira,
Aku mau..”
“Mau
minta maaf, kan ? Nggak apa-apa kok, Gilang. Ririn semalam cerita. Katanya dia
pulang sama kamu. Syukurlah kalau kamu nggak kenapa-kenapa. Aku takut, takut
kamu kenapa-kenapa di jalan waktu mau jemput aku. Ternyata kamu baik-baik
saja.” Jelasnya dengan senyum dipaksakan.
Aku
tak mengerti ucapannya. Kurasa, dia tidak pernah marah padaku. Tidak pernah.
Sekalipun aku mengecewakannya, atau bahkan sampai membuatnya jatuh sakit
seperti ini, ia masih terlihat tidak marah.
***
Pagi
ini aku sudah dikejutkan dengan penampilan Indira. Ia jauh cantik dari
biasanya.
“Hey,
Lang ! “ Sapanya dengan senyumannya yang manis. Yang selalu berhasil membuatku
luluh.
“Ada
setan apa pagi ini ? Bisa berubah gitu, Dir.” Dia hanya tertawa. Sangat manis.
“Lagi suka sama cowok sampai ngubah penampilan begini ?” Tanyaku.
“Enggak,
kok.” Lagi-lagi dia tidak mau terbuka padaku. Terus terang saja, bagaimanapun
penampilannya, ia tetap cantik.
“Kemarin
aku lihat nama kamu di daftar acara talkshow besok, terus juga di daftar anak
baru komunitas..hmm..” Aku lupa nama komunitasnya.
Dia
memandangku.
“Oh,
itu. Iya, aku join. Hehe.” Dia tertawa renyah.
“Tumbenan.
Biasanya malas ikut begituan, ada apaan sih ?” Aku benar-benar heran dibuatnya.
“Sumpah,
deh. Nggak ada apa-apa.” Ia selalu berhasil membuatku penasaran.
“Bilang
aja kalau lagi jatuh cinta.” Ucapku ceplas-ceplos. Dia memukul bahuku.
“Enggak,
kok. Mana sempat mikir begituan.” Bohong aja si Dira, batinku.
“Eh,
temenin aku, dong. Mau beli kado buat si Ririn, nih. Besok dia ultah.”
“Hmm..
Iya, deh.”
***
“Bagus
yang mana ? Boneka beruang yang ini atau yang itu ?” Aku meminta pendapat
Indira.
“Yang
ini aja.” Singkat jawabnya.
“Oke.”
Aku segera menuju kasir. “Dir, loh kok ngelamun ? Sini, cepetan! “ Seruku.
Seminggu
sudah aku lewati tanpa Dira. Dia begitu sibuk dengan semua kegiatannya. Sampai
tak sempat untuk sesekali menghubungiku. Aku juga baru dapat kabar, bahwa Dira
terpilih menjadi wakil ketua dalam komunitasnya. Ini sangat berbeda dari Dira
yang kukenal dulu. Dira yang dulu itu malas mengikuti berbagai kegiatan, malas
bergaya, dan malas bergaul. Nyatanya kini ? Ia sibuk dengan kegiatannya yang
segunung, ia juga mulai bergaya, dan mulai mempunyai banyak teman.
Aku
selalu memendam rasa ini. Rasaku pada Dira. Dira tak pernah memberi sinyal
apapun. Bahkan selalu mengalihkan pembicaraan kalau ditanya tentang orang yang
dia suka. Aku juga tak mau memaksa. Dia tidak pernah secara frontal memuji
lawan jenisnya, tidak seperti aku.
Besoknya
keadaan kembali seperti semula. Dira sudah kembali.
“Dir,
besok mau ikut ke pantai nggak ?”
“Mau,
mau.” Jawabnya penuh semangat.
“Besok
aku sama Ririn mau ke pantai.”
“Sama
Ririn ? Hmm oh, aku baru ingat besok aku mau kondangan, tante aku ada yang
nikah. Aku nggak bisa ikut kamu ke pantai. Maaf.”
“Hah
? Kondangan ? Sejak kapan kamu suka pergi kondangan ? Setahuku kamu enggak suka
ikut begituan. Emangnya tante kamu yang mana yang belum nikah ?” Dira terlihat
kikuk.
“Ada.
Kamu nggak kenal. Aku emang suka pergi kondangan, kok.” Aku tahu, Dira sedang
berbohong.
“Ya
udahlah, aku nggak maksa kamu buat ikut, kok.”
***
Sore
itu sepulang dari pantai, hujan turun dengan derasnya. Ririn tertidur di
sampingku. Jalanan yang tergenang menimbulkan macet yang parah. Pikiranku
melayang pada Indira. Masih kondangankah dia ? Atau sudah pulang ? Dia pulang
sama siapa kira-kira ? kehujanan tidak ? Tanda tanya tentang Dira memenuhi
ruang di otakku.
Sekarang
sudah pukul sepuluh malam. Aku baru saja selesai mengantar Ririn pulang. Hujan
mulai mereda. Namun gerimisnya tetap tinggal. Kurebahkan tubuhku di atas
ranjang. Rasanya malam ini sulit untuk kupejamkan mata. Perasaanku mendadak
jadi tidak enak. Kucoba hubungi Indira, namun sudah berkali-kali kucoba
nomornya tetap tidak aktif. Begitu lelahnya aku, sampai tak sadar aku sudah
memasuki alam mimpi.
Aku
terbangun di pagi buta. Kudapati tiga panggilan tidak terjawab dari Indira, dan
satu message darinya yang hanya berisi, “Gilang..”
Perasaanku
semakin tak karuan. Sekarang masih pagi buta. Tetapi, aku tak peduli. Aku ingin
menemui Indira. Sangat ingin menemuinya. Sangat rindu padanya.
Begitu
langkah kakiku memasuki halaman rumah Indira, kudengar jeritan keras dari dalam
rumah.
“Bi,
buka pintunya ! Ada apa Bi ?!! “ Pintu rumah terbuka. Kudapati wajah bibi
basah, karena airmata. Mataku mengarah ke ruang tengah, Indira ada di sana.
Tetapi.. matanya terpejam, tubuhnya kaku di atas lantai, darah tercecer di
sekitarnya. Aku terlonjak kaget, dan kupeluk tubuh Indira. Kudekap dia dengan
erat. Kusentuh pipinya. Kuperiksa denyut nadinya.
“
Diraaaaaaa!!!!” Aku berteriak histeris. Bi Inah masih menangis di sampingku.
***
Ada
yang kurang saat dia tak di sini. Seperti ada hampa yang menghampiri. Seperti
hanya ditemani sepi. Ada rindu yang menusuk. Membuat kesakitan tersendiri di
dalam diri.
Hari
ini tepat sebulan sesudah pemakaman Indira. Sahabat terbaik sepanjang masa.
Cinta pertamaku, Indira Permata. Lagi-lagi karena rahasia. Terlalu banyak
rahasia yang dia simpan. Terlalu banyak hal yang enggan dia bagi bersamaku. Aku
selalu berandai-andai, andai rahasia tidak pernah dihadirkan antara aku dengan
Indira. Entah harus menyalahkan siapa ?
Indira,
dia membuatku terkejut dengan apa yang dia tulis di dalam blognya. Selama ini
aku memang tak pernah mencoba melihat apa isi dari blognya. Betapa bodohnya
aku. Seandainya aku lebih pintar melihat. Ah, selalu saja menyakitkan jika kita
berandai-andai.
Ini
adalah isi dari blognya…
31 Desember 2010
Di ranjang rumah sakit, pukul 21.36
Ini adalah hari
terakhir di tahun ini. Banyak hal yang aku lewati bersamanya, Gilang. Entah
mengapa aku selalu merasakan kenyamanan yang luarbiasa bila di dekatnya.
Sayangnya, malam ini aku tak bisa merayakan tahun baru bersamanya. Aku
berbohong pada Gilang. Aku bilang bahwa aku akan merayakan tahun baru di luar
kota bersama mama dan papa. Pada kenyataannya sudah dua hari aku dirawat di
rumah sakit karena penyakitku kambuh. Aku berbohong karena aku tahu, jika
Gilang mengetahui aku di rumah sakit ia pasti membatalkan rencananya merayakan
tahun baru di pantai demi menemaniku di sini. Harapanku tak banyak, semoga aku
masih bisa melihat Gilang di hari esok, bahkan selamanya.
‘Bodoh ! seharusnya kau memberitahuku !
mengapa kau biarkan aku merayakan tahun baru dengan gembira, sementara itu aku
sama sekali tidak tahu bahwa kau sedang sakit ! benar-benar gadis yang bodoh !’
12
Februari 2011
Di jendela kamar dengan menggigil, pukul
10.01
Aku tak menyalahkan
Gilang dengan keadaanku sekarang. Aku sakit. Sepulang dari kampus tadi aku
kehujanan. Aku khawatir, kupikir Gilang kenapa-kenapa di jalan saat hendak
menjemputku, tetapi setelah kudengar cerita dari Ririn bahwa ia tadi diantar
Gilang pulang, berarti Gilang baik-baik saja. Yah, mungkin Gilang lupa atau aku
sadar, Gilang lebih memilih mengantar Ririn pulang karena aku juga tahu, dia
begitu tertarik dengan gadis bernama Ririn itu.
‘Aku tak bermaksud lupa, entah bagaimana
bisa, begitu melihat wajah Ririn yang panik, aku jadi ingin mengantarnya
pulang. Aku minta maaf, aku tahu ucapanku ini benar-benar terlambat..’
20 Februari 2011
Di Salon Rosse, pukul 19.00
Malam ini aku
berencana mengubah penampilanku agar terlihat lebih mencolok. Agar Gilang lebih
memperhatikan aku, agar dia tidak memuji perempuan lain lagi di hadapanku. Aku
selalu risih, bila ia memuji seseorang di depanku. Mungkin bisa dibilang
sedikit cemburu. Malam ini, aku mengubah penampilanku, mulai dari tataan
rambutku sampai wajahku. Aku ingin terlihat tak biasa di hadapan Gilang. Aku
ingin Gilang memujiku !
Esoknya Gilang
memang terkejut melihatku, tetapi ia tak frontal memujiku. Ia malah mengiraku
sedang jatuh cinta pada seseorang dan sedang berusaha memikat orang itu. Hatiku
tak pernah berubah, selalu tertuju padanya, tanpa sepengetahuannya. Lagi pula
untuk apa juga Gilang tahu ? Toh, dokter memvonis umurku. Cukup dengan
kehadirannya dia di sampingku, membuatku merasa sangat bahagia dan beruntung.
Aku juga mengikuti berbagai macam kegiatan, agar terlihat pintar dan aktif di
mata Gilang. Aku tahu Gilang menyukai gadis yang cantik, pintar, aktif, dan
lain-lainlah. Tetapi, aku juga tahu bahwa dokter selalu mengingatiku agar tidak
kecapaian. Aku tidak boleh punya banyak kegiatan. Tetapi aku membandel,
membandel untuk hal yang seperti ini saja.
‘Lagi-lagi kau bodoh ! Kau tak perlu
melakukan itu semua, Dira ! Kau pikir dengan begitu aku akan menyukaimu ? Meski
kau tidak berbuat semua itu, aku sudah mencintaimu, dari dulu !’
22 Februari 2011
Di dalam Rush-nya Gilang, pukul 16.05
Aku baru saja pulang
dari menemani Gilang membeli sebuah hadiah untuk Ririn. Sebuah boneka beruang
yang lucu. Sebenarnya aku juga ingin memilikinya. Sayangnya boneka tersebut
akan Gilang berikan pada Ririn. Sayang sekali. Aku berharap suatu saat Gilang
juga akan memberiku boneka seperti itu, yang bisa kupeluk saat aku menggigil,
yang bisa menemaniku saat Gilang tak bisa menemaniku.
‘Aku
bisa memberikan beribu boneka beruang jika kau mengatakannya padaku bahwa kau
ingin juga ! ketololan apa lagi yang kau perbuat, Dira ?!’
1 Maret 2011
Di taman kampus, pukul 09.30
Yeaay!
Aku sudah kembali ke
kampus lagi. Sudah bisa bertemu Gilang lagi. Kau tahu ? Aku tak bisa berhenti
memikirkannya saat aku berada di luar kota mengikuti serangkaian kegiatan
komunitasku. Aku begitu lelah. Lelah yang amat sangat. Hari ini kupaksakan
datang ke kampus untuk melihat senyum Gilang, senyumnya seperti membuat
tenagaku kembali utuh. Saat aku bertemu dengannya, dia mengajakku ke pantai.
Tetapi, ketika aku tahu Ririn juga akan pergi bersama, aku kembali berbohong.
Gilang pasti tahu kalau aku berbohong saat itu. Aku tidak suka pergi kondangan.
Tetapi, aku benar-benar bingung harus beralasan macam apa.
Kupikir, jika aku
ikut bersama mereka, aku akan mengganggu acara mereka berdua. Jadi aku
berbohong untuk menolak ajakannya. Entah sudah berapa banyak dosaku pada Gilang
karena aku sering membohonginya.
‘Harusnya kau mengerti, mengapa aku
mengajakmu ? Karena aku tak ingin hanya pergi berdua ke pantai bersama Ririn.
Ririn yang mengajakku. Padahal saat itu, aku benar-benar berharap kau akan ikut
bersamaku..’
2 Maret 2011
Di kamarku, pukul 10.00
Entah sudah berapa
banyak tissu dan kapas yang kupakai untuk memberhentikan darah yang tak
henti-hentinya keluar dari rongga hidungku. Bahkan sprei tepat tidurku kotor
karena darah-darah yang menetes itu. Kepalaku juga pening. Tetapi, aku juga
tidak tahu mengapa aku masih sanggup menulis tentang hal ini ? sedikit lucu
memang. Sepertinya aku harus segera beristirahat agar besok perasaanku jauh
lebih baik dan berharap besok aku masih bisa mendengar suara Gilang dan bisa
melihat senyumnya.
‘Aku juga berharap masih bisa mendengar
suaramu dan melihat senyummu, tetapi kenyataannya sangat jauh berbeda..’
3 Maret 2011
Masih di kamarku, pukul 00.50 dini hari
Kepalaku masih
pening. Aku hanya ingin menulis sedikit saja. Aku berharap Gilang membaca ini.
Tubuhku seperti ditusuk-tusuk. Aku sangat kesakitan. Aku mencoba menghubungi
Gilang. Mungkin Gilang sudah tertidur. Tetapi, aku terus mencoba
menghubunginya. Aku sangat kesakitan. Aku butuh Gilang ! Nafasku juga
benar-benar seperti tinggal setengah. Bi Inah juga tidak mendengar jeritan
kesakitanku yang amat pelan. Darah terus menetes dari hidungku. Aku kesakitan.
Aku berharap besok masih bisa menulis lagi. Sekarang, aku akan berusaha sendiri
mengambil obat di lantai bawah. Aku akan berusaha untuk tetap hidup.
‘Aku benar-benar bodoh, aku tidak bisa
datang tepat waktu, seharusnya aku sudah berada di sana, seharusnya aku bisa
membawakan Dira obat, maafkan aku, Dir…’
Berbagai
penyesalan harus kurasakan sampai saat ini. Hanya karena sebuah rahasia.
15/11/2012 13.21
Diary kecil

Tidak ada komentar:
Posting Komentar