08/05/21

#4 Preloved

 

Source: Tumblr

Lagi-lagi anak-anak yang lain belum datang. Sulit sekali mengubah kebiasaan yang sudah diwajarkan, tapi Mentari selalu datang lebih dulu, Bima selalu menyusul setelahnya karena rumahnya cukup dekat dari titik kumpul.

"Mau ngirim barang jualan lagi? Preloved?" Bima memandangi barang-barang bawaan Mentari.

"Iya, nih." Respon Mentari.

"Barang apa?”

“Buku, ada juga baju-baju.”

“Nggak apa-apa dijual lagi?”

“Nggak apa-apa, bukunya sudah nggak saya baca lagi, bajunya juga sudah saya nggak mau pakai lagi.”

“Kenapa pada dijual, sih?”

“Kan sudah dijawab barusan.”

“Itu gua bukan nanya, tapi pernyataan. Heran. Pantas baju yang lo pakai itu-itu aja, yang lainnya pada dijualin, sih.”

“Dipakai berkali-kali karena nyaman.”

“Nyaman atau.. karena nggak punya pilihan lain.”

Mentari tersenyum kecut. Sembarangan, batinnya.

“Kenapa sih orang-orang suka mengumpulkan hal yang nggak penting, yang nggak bermanfaat buat kehidupan dia selanjutnya. Kalau kita mati besok gimana? Berusaha menyedikitkan barang-barang saja, supaya nggak ngerepotin orang-orang yang nanti kita tinggalkan. Nggak bikin mereka bingung dengan apa-apa yang pernah kita miliki.”

“Kenapa sih ngomong gitu?” Bima memancing.

“Kenapa sih orang-orang suka menghindar dari topik kematian?” Mentari membalas.

“Gue nggak menghindar. Gue justru tanya, kenapa lo ngomong gitu?”

“Tiba-tiba terlintas aja.”

“Terlintasnya sering, ya.”

Mentari hanya nyengir.

***

 

Besok sorenya, perkumpulan diadakan lagi. Kali ini Mentari sedikit terlambat karena tadi sehabis dari Pasar Baru dan terjebak macet.

“Darimana?”

“Pasar Baru.”

“Capek pasti.”

“Menyesal.”

“Karena?”

“Tadi di jalan menuju Pasar, saya ngeliat tukang sol sepatu yang tertidur di sebuah halte bus yang sepi, setelahnya ada juga badut yang duduk tertunduk di pinggir jalan seperti kelelahan, ada tukang parkir, anak kecil ngamen, tapi waktu belanja di pasar, saya nawar dagangannya orang.”

“Lha, terus kenapa?”

“Harusnya saya nggak usah nawar aja. Pedagang tadi pasti juga capek sudah jualan dari pagi, keuntungannya juga mungkin sebenarnya nggak terlalu banyak. Harusnya saya nggak usah nawar.”

“Oh, terus lo berhasil nawar, gitu?”

Mentari mengangguk.

“Saya nggak bangga karena berhasil nawar, justru saya menyesal, setelah apa yang saya lihat di pinggir jalan menuju Pasar Baru tadi.”

Bima menghela nafas. Ah, perempuan ini. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar