![]() |
| Source: Tumblr |
Lagi-lagi
anak-anak yang lain belum datang. Sulit sekali mengubah kebiasaan yang sudah
diwajarkan, tapi Mentari selalu datang lebih dulu, Bima selalu menyusul
setelahnya karena rumahnya cukup dekat dari titik kumpul.
"Mau
ngirim barang jualan lagi? Preloved?" Bima memandangi barang-barang bawaan
Mentari.
"Iya,
nih." Respon Mentari.
"Barang
apa?”
“Buku,
ada juga baju-baju.”
“Nggak
apa-apa dijual lagi?”
“Nggak
apa-apa, bukunya sudah nggak saya baca lagi, bajunya juga sudah saya nggak mau
pakai lagi.”
“Kenapa
pada dijual, sih?”
“Kan
sudah dijawab barusan.”
“Itu
gua bukan nanya, tapi pernyataan. Heran. Pantas baju yang lo pakai itu-itu aja,
yang lainnya pada dijualin, sih.”
“Dipakai
berkali-kali karena nyaman.”
“Nyaman
atau.. karena nggak punya pilihan lain.”
Mentari
tersenyum kecut. Sembarangan,
batinnya.
“Kenapa
sih orang-orang suka mengumpulkan hal yang nggak penting, yang nggak bermanfaat
buat kehidupan dia selanjutnya. Kalau kita mati besok gimana? Berusaha menyedikitkan
barang-barang saja, supaya nggak ngerepotin orang-orang yang nanti kita
tinggalkan. Nggak bikin mereka bingung dengan apa-apa yang pernah kita miliki.”
“Kenapa
sih ngomong gitu?” Bima memancing.
“Kenapa
sih orang-orang suka menghindar dari topik kematian?” Mentari membalas.
“Gue
nggak menghindar. Gue justru tanya, kenapa lo ngomong gitu?”
“Tiba-tiba
terlintas aja.”
“Terlintasnya
sering, ya.”
Mentari hanya nyengir.
***
Besok
sorenya, perkumpulan diadakan lagi. Kali ini Mentari sedikit terlambat karena
tadi sehabis dari Pasar Baru dan terjebak macet.
“Darimana?”
“Pasar
Baru.”
“Capek
pasti.”
“Menyesal.”
“Karena?”
“Tadi
di jalan menuju Pasar, saya ngeliat tukang sol sepatu yang tertidur di sebuah halte
bus yang sepi, setelahnya ada juga badut yang duduk tertunduk di pinggir jalan
seperti kelelahan, ada tukang parkir, anak kecil ngamen, tapi waktu belanja di
pasar, saya nawar dagangannya orang.”
“Lha,
terus kenapa?”
“Harusnya
saya nggak usah nawar aja. Pedagang tadi pasti juga capek sudah jualan dari
pagi, keuntungannya juga mungkin sebenarnya nggak terlalu banyak. Harusnya saya
nggak usah nawar.”
“Oh,
terus lo berhasil nawar, gitu?”
Mentari
mengangguk.
“Saya
nggak bangga karena berhasil nawar, justru saya menyesal, setelah apa yang saya
lihat di pinggir jalan menuju Pasar Baru tadi.”
Bima
menghela nafas. Ah, perempuan ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar