Waktu kecil, saya tinggal di perumahan padat penduduk.
Saya lupa waktu masih TK atau sudah masuk SD, tetapi ada suatu memori tentang
kematian yang tak pernah saya lupa. Waktu itu, di perumahan saya, empat remaja
putri yang masih duduk di bangku SMP meninggal dunia dalam waktu yang cukup
berdekatan, adalah namanya Kak Nindy, Kak Yuri, Kak Yeni, dan Kak Cindy. Saya cukup
mengenal Kak Nindy dan Kak Yuri karena keduanya sering ke rumah saya kala malam
Minggu, mereka sering ngobrol-ngobrol dengan Ibu saya.
Suatu hari kabar menyedihkan itu datang. Kak Nindy,
seorang kakak perempuan cantik yang ditemukan meninggal dunia oleh sang ibu di
kamarnya di lantai dua. Padahal malamnya Kak Nindy masih terdengar
telpon-telponan dengan temannya di dalam kamar. Iya, keluarga almarhumah
termasuk keluarga yang berada sehingga tak heran pada zaman itu ketika handphone tak bisa dimiliki semua
kalangan, bocah seusianya sudah memiliki alat tersebut yang saya perkirakan itu
hanyalah handphone yang hanya bisa
untuk SMS dan menelpon. Kabar duka kembali datang, kali ini Kak Yuri yang
meninggalkan kita semua. Kak Yuri, seorang kakak perempuan yang ceria, selalu
mengenakan kerudung kemana-mana padahal waktu zaman itu kerudung belum booming dan belum banyak yang paham
tentang kewajiban menutup aurat, tapi saya menduga barangkali Kak Yuri mungkin
anak rohis di sekolahnya. Kita semua tentu kehilangan karena Kak Yuri adalah
anak yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan, orangnya bergaul ke sana-sini,
sering keluar rumah, bukan tipe anak perempuan yang mendekam di rumah terus. Mungkin
di perumahan kami banyak orang yang tak asing dengannya. Untuk kedua kabar duka
itu, masih tak percaya karena yang kami tahu mereka orang yang sehat-sehat
saja. Tapi, hari itu Kak Yuri meninggal dunia karena sakit, katanya.
Selain keduanya, dalam waktu yang juga berdekatan Kak
Yeni juga dipanggil lebih dulu oleh Allah SWT. karena penyakit pernafasan yang
dideritanya. Setelah itu, ada berita duka lagi, Kak Cindy juga berpulang ke
Rahmatullah karena kecelakaan yang menimpanya. Waktu itu saya masih kecil, tak
begitu paham, tapi wajah orang-orang yang saya lihat di rumah duka membuat saya
mengerti bahwa mungkin kakak-kakak perempuan itu akan pergi, lama sekali, mungkin
kami tak bisa bertemu lagi, dan hal itu yang membuat orang-orang terlihat
begitu sedih sekali. Semoga Allah merahmati mereka semua. Aamiin.
Bukan hanya para kakak perempuan itu saja yang
memorinya masih terekam jelas di ingatan saya, tetapi kepergian bocah-bocah
seusia saya kala itu juga masih saya ingat, meskipun saya lupa namanya. Adalah
dua orang anak laki-laki yang masih saya ingat kepergiannya, sebut saja Farel
dan Tian. Sore itu selepas hujan deras mengguyur daerah kami, pengumuman duka
disiarkan. Seorang bocah ditemukan meninggal dunia di bebatuan tepi sungai
selepas hujan. Rupanya itu adalah Farel yang saya tahu. Kami seumuran tapi
bukan teman sepermainan. Menurut hasil menguping saya sebagai anak kecil kala
itu, Ibunya Farel sempat histeris dan berkali-kali tidak sadarkan diri. Saat
hujan, Farel minta digorengkan ayam goreng oleh Ibunya, rupanya barangkali
sambil menunggu ia keluar main hujan-hujanan, diduga sendalnya jatuh ke
selokan. Karena hujannya deras, sendalnya hanyut cepat sekali. Farel sepertinya
berusaha menyelematkan sendalnya namun tergelincir masuk ke selokan, hanyut,
dan menyebabkan nyawanya tak bisa diselamatkan. Sementara itu, saya tidak tahu
penyebab Tian meninggal dunia, hanya tahu Tian, tapi kami juga tidak satu
permainan. Tian beragama Kristen, sehingga saat itu saya cukup terkejut melihat
jenazahnya yang begitu rapi memakai jas dan banyak sekali proses serta cara
memperlakukan jenazah yang berbeda dengan jenazah muslim yang biasa saya lihat.
Saat itu saya seperti kepo bahkan sampai masuk melihat jenazahnya, wajar karena
masih anak-anak. Saat itu, saya mendapat pengetahuan baru bahwa cara
memperlakukan jenazah masing-masing agama berbeda.
Ketika usia saya beranjak remaja dan mulai mengerti
tentang kematian, bagaimana kematian tak pernah memandang siapa yang ingin
dibawanya pergi, tua muda, sehat sakit, kaya miskin, dan lain sebagainya. Saat
itu saya mengenang kembali para kakak perempuan itu, tentang bagaimana Allah
begitu cepat memanggil mereka untuk kembali pada-Nya dalam usia yang masih
sangat muda, baru remaja, bocah SMP. Terlebih lagi makam Kak Nindy yang terletak
dekat gerbang pemakaman membuat saya selalu melewatinya setiap hendak ziarah
kubur ke makam kakek saya. ‘Ya Allah,
Kak..’ batin saya, mengenangnya. Ternyata saya menulis ini pun tak kuat
menahan air mata (hehe), sejujurnya saya tak begitu mengenalnya karena saya
masih sangat kecil, barangkali sebagai seorang remaja yang mungkin menyukai
anak-anak, dia yang lebih mengenal saya. Barangkali jika dia masih hidup, dia
yang lebih mengingat tentang saya, mungkin juga menceritakan bagaimana tingkah
saya waktu kecil, seperti, ‘Nin, kamu
ingat nggak waktu kecil itu kamu….’ Begitu mungkin jika ia masih hidup dan
kami bertemu.
Entah kenapa, memori-memori
kepergian mereka masih tergambar jelas di benak saya. Waktu kecil, saya sering
sekali datang ke rumah duka, bahkan sampai masuk dan melihat jenazahnya,
tipikal anak kecil yang suka penasaran dan ingin mencari tahu. Sebagai penutup,
saya pernah membaca sebuah kalimat yang saya lupa nemu dimana, sebuah kalimat
yang membuat diri terhenyak tapi benar adanya; “Kehidupan diciptakan untuk menghargai kematian.” Maka dari itu, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan,
yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)
Bandung, 25
April 2020
Siapa
yang akan menjamin sedetik lagi kau masih hidup?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar