25/04/20

#AprilProduktifDay25 : Menghargai Kematian


Waktu kecil, saya tinggal di perumahan padat penduduk. Saya lupa waktu masih TK atau sudah masuk SD, tetapi ada suatu memori tentang kematian yang tak pernah saya lupa. Waktu itu, di perumahan saya, empat remaja putri yang masih duduk di bangku SMP meninggal dunia dalam waktu yang cukup berdekatan, adalah namanya Kak Nindy, Kak Yuri, Kak Yeni, dan Kak Cindy. Saya cukup mengenal Kak Nindy dan Kak Yuri karena keduanya sering ke rumah saya kala malam Minggu, mereka sering ngobrol-ngobrol dengan Ibu saya.

Suatu hari kabar menyedihkan itu datang. Kak Nindy, seorang kakak perempuan cantik yang ditemukan meninggal dunia oleh sang ibu di kamarnya di lantai dua. Padahal malamnya Kak Nindy masih terdengar telpon-telponan dengan temannya di dalam kamar. Iya, keluarga almarhumah termasuk keluarga yang berada sehingga tak heran pada zaman itu ketika handphone tak bisa dimiliki semua kalangan, bocah seusianya sudah memiliki alat tersebut yang saya perkirakan itu hanyalah handphone yang hanya bisa untuk SMS dan menelpon. Kabar duka kembali datang, kali ini Kak Yuri yang meninggalkan kita semua. Kak Yuri, seorang kakak perempuan yang ceria, selalu mengenakan kerudung kemana-mana padahal waktu zaman itu kerudung belum booming dan belum banyak yang paham tentang kewajiban menutup aurat, tapi saya menduga barangkali Kak Yuri mungkin anak rohis di sekolahnya. Kita semua tentu kehilangan karena Kak Yuri adalah anak yang sangat aktif dalam berbagai kegiatan, orangnya bergaul ke sana-sini, sering keluar rumah, bukan tipe anak perempuan yang mendekam di rumah terus. Mungkin di perumahan kami banyak orang yang tak asing dengannya. Untuk kedua kabar duka itu, masih tak percaya karena yang kami tahu mereka orang yang sehat-sehat saja. Tapi, hari itu Kak Yuri meninggal dunia karena sakit, katanya.

Selain keduanya, dalam waktu yang juga berdekatan Kak Yeni juga dipanggil lebih dulu oleh Allah SWT. karena penyakit pernafasan yang dideritanya. Setelah itu, ada berita duka lagi, Kak Cindy juga berpulang ke Rahmatullah karena kecelakaan yang menimpanya. Waktu itu saya masih kecil, tak begitu paham, tapi wajah orang-orang yang saya lihat di rumah duka membuat saya mengerti bahwa mungkin kakak-kakak perempuan itu akan pergi, lama sekali, mungkin kami tak bisa bertemu lagi, dan hal itu yang membuat orang-orang terlihat begitu sedih sekali. Semoga Allah merahmati mereka semua. Aamiin.

Bukan hanya para kakak perempuan itu saja yang memorinya masih terekam jelas di ingatan saya, tetapi kepergian bocah-bocah seusia saya kala itu juga masih saya ingat, meskipun saya lupa namanya. Adalah dua orang anak laki-laki yang masih saya ingat kepergiannya, sebut saja Farel dan Tian. Sore itu selepas hujan deras mengguyur daerah kami, pengumuman duka disiarkan. Seorang bocah ditemukan meninggal dunia di bebatuan tepi sungai selepas hujan. Rupanya itu adalah Farel yang saya tahu. Kami seumuran tapi bukan teman sepermainan. Menurut hasil menguping saya sebagai anak kecil kala itu, Ibunya Farel sempat histeris dan berkali-kali tidak sadarkan diri. Saat hujan, Farel minta digorengkan ayam goreng oleh Ibunya, rupanya barangkali sambil menunggu ia keluar main hujan-hujanan, diduga sendalnya jatuh ke selokan. Karena hujannya deras, sendalnya hanyut cepat sekali. Farel sepertinya berusaha menyelematkan sendalnya namun tergelincir masuk ke selokan, hanyut, dan menyebabkan nyawanya tak bisa diselamatkan. Sementara itu, saya tidak tahu penyebab Tian meninggal dunia, hanya tahu Tian, tapi kami juga tidak satu permainan. Tian beragama Kristen, sehingga saat itu saya cukup terkejut melihat jenazahnya yang begitu rapi memakai jas dan banyak sekali proses serta cara memperlakukan jenazah yang berbeda dengan jenazah muslim yang biasa saya lihat. Saat itu saya seperti kepo bahkan sampai masuk melihat jenazahnya, wajar karena masih anak-anak. Saat itu, saya mendapat pengetahuan baru bahwa cara memperlakukan jenazah masing-masing agama berbeda.

Ketika usia saya beranjak remaja dan mulai mengerti tentang kematian, bagaimana kematian tak pernah memandang siapa yang ingin dibawanya pergi, tua muda, sehat sakit, kaya miskin, dan lain sebagainya. Saat itu saya mengenang kembali para kakak perempuan itu, tentang bagaimana Allah begitu cepat memanggil mereka untuk kembali pada-Nya dalam usia yang masih sangat muda, baru remaja, bocah SMP. Terlebih lagi makam Kak Nindy yang terletak dekat gerbang pemakaman membuat saya selalu melewatinya setiap hendak ziarah kubur ke makam kakek saya. ‘Ya Allah, Kak..’ batin saya, mengenangnya. Ternyata saya menulis ini pun tak kuat menahan air mata (hehe), sejujurnya saya tak begitu mengenalnya karena saya masih sangat kecil, barangkali sebagai seorang remaja yang mungkin menyukai anak-anak, dia yang lebih mengenal saya. Barangkali jika dia masih hidup, dia yang lebih mengingat tentang saya, mungkin juga menceritakan bagaimana tingkah saya waktu kecil, seperti, ‘Nin, kamu ingat nggak waktu kecil itu kamu….’ Begitu mungkin jika ia masih hidup dan kami bertemu.

 Entah kenapa, memori-memori kepergian mereka masih tergambar jelas di benak saya. Waktu kecil, saya sering sekali datang ke rumah duka, bahkan sampai masuk dan melihat jenazahnya, tipikal anak kecil yang suka penasaran dan ingin mencari tahu. Sebagai penutup, saya pernah membaca sebuah kalimat yang saya lupa nemu dimana, sebuah kalimat yang membuat diri terhenyak tapi benar adanya; “Kehidupan diciptakan untuk menghargai kematian.” Maka dari itu, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)

Bandung, 25 April 2020
Siapa yang akan menjamin sedetik lagi kau masih hidup?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar