Hamparan sawah hijau menjadi
pemandangan di hadapanku saat ini. Sejak tadi tak henti-hentinya gadis kecil
berkuncir dua di sampingku berceloteh. Tiap hari sepulang sekolah kami selalu
datang ke tempat ini, kami membantu orangtua kami masing-masing bekerja di
ladang sawah milik pak Haji Imron. Di tempat ini, gadis itu selalu bercerita
tentang mimpi-mimpinya, tentang segala yang diimpikannya. Tiap ia bercerita,
aku tak berani memotong ceritanya. Aku hanya diam mendengarkan sambil
memandangi kerbau-kerbau di sawah.
“Deni, kau mendengarkanku, tidak?” aku
menoleh. Mata gadis itu sudah memelototiku.
“Aku mendengarkanmu.” Jawabku.
“Bagus. Apa kau bermimpi hal yang sama
denganku?”
Aku hanya mengangguk sambil
tersenyum. Namun, dalam hati kecilku kukubur itu semua. Mana mungkin orang
miskin seperti aku dan dia bisa pergi ke kota-kota indah di dunia ini.
Kami beranjak remaja bersama
dalam satu waktu. Aku selalu satu sekolah dan satu kelas dengannya. Ia selalu
mendapat peringkat pertama, selama itu pula aku yang menduduki peringkat kedua.
Kami selalu berlomba-lomba dalam prestasi, namun tetap saja aku tak pernah bisa
menggantikan peringkatnya.
Kini, gadis kecil berkuncir dua
itu telah menjadi gadis dewasa. Aku juga bukan bocah ingusan lagi seperti dulu.
Semakin berjalannya waktu, semakin jarang pula kami menghabiskan waktu
bersama-sama di sawah seperti dulu.
Hingga pada suatu hari, hari
dimana kami telah lulus sekolah menengah atas, gadis itu semakin sibuk dan aku
sudah jarang bertemu dengannya. Beberapa bulan setelah itu, aku tak pernah lagi
bertemu dengannya. Belakangan aku baru tahu bahwa gadis itu mendapatkan
beasiswa ke Roma, Italia.
“Deni, kamu enggak mau nyusul Rika ke
Italia?”
“Maksudnya, mak?”
“Kali aja kamu beruntung bisa dapat beasiswa
juga ke sana seperti Rika.”
“Enggak, mak. Deni di sini aja, temani abah
dan emak mengurus sawah.”
“Emak pengen tahun depan kamu coba ikut
tesnya.”
Aku hanya diam sambil memandangi langit biru.
Tahun berikutnya aku benar-benar
mengikuti tes itu atas saran emak. Sehari sebelum pengumuman, suatu kabar
mengejutkanku yang tengah berada di sawah.
“Deni, Deni..”
“Kenapa, Bimo?”
“Cepat pulang, Den.”
Bimo menyuruhku segera pulang.
Begitu sampai di rumah, kulihat jasad emak terbujur kaku dikelilingi
tetangga-tetanggaku. Beberapa di antara mereka membacakan yasin dan yang
lainnya menangisi kepergian emak. Tubuhku melemas. Emak telah pergi jauh.
Esoknya keadaan berubah sejak
kepergian emak yang sangat tiba-tiba itu. Abah tidak pergi ke sawah, sepanjang
waktu ia menyendiri di kamarnya.
“Deni..Deni..” tiba-tiba suara
Bimo mengejutkanku yang sedang melamun di teras rumah. “Lihat ini, Den. Lihat
apa yang kubawa. Surat, Deni. Surat!!” aku belum mengerti. “Coba buka amplop
ini!” serunya.
Dengan heran aku membukanya.
Sedetik, dua detik, tiga detik, mataku menelusuri isi surat tersebut.
“Bimo, ini…” Bimo mengangguk.
Spontan kamu berpelukan. Setelah itu, aku berlari-lari menuju sawah, berteriak
gembira sepuasnya di sana. Tiba-tiba aku teringat wajah emak. Aku menghentikan
kegembiraanku.
“Bimo, surat ini datang terlambat. Emak tak
akan tahu kalau aku lulus tes beasiswa.”
“Sudahlah, Deni. Kalau dia masih hidup, dia
pasti sangat bangga padamu.”
Aku menatap hampa surat itu.
***
Hari ini tepat 23 Mei 2012,
setahun kepergian emak. Aku selalu mengingat emak dan abah meski kini aku
berada di negeri orang. Gadis di sampingku tersenyum menatapku.
“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.
“Tidak ada. Aku hanya tak menyangka bisa
berada di sini bersamamu.”
“Aku bilang juga apa. Apapun yang kau impikan
bisa terwujud.”
“Tentunya dengan doa dan usaha.”
Aku berjalan beriringan dengan
Rika, gadis yang selalu berpikir positif terhadap mimpinya. Kau tak bisa begitu
saja berhenti dan menyerah, kau tak akan pernah tahu bahwa di antara mimpi akan
ada kenyataan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar