14/05/13

Di Antara Mimpi dan Kenyataan

Hamparan sawah hijau menjadi pemandangan di hadapanku saat ini. Sejak tadi tak henti-hentinya gadis kecil berkuncir dua di sampingku berceloteh. Tiap hari sepulang sekolah kami selalu datang ke tempat ini, kami membantu orangtua kami masing-masing bekerja di ladang sawah milik pak Haji Imron. Di tempat ini, gadis itu selalu bercerita tentang mimpi-mimpinya, tentang segala yang diimpikannya. Tiap ia bercerita, aku tak berani memotong ceritanya. Aku hanya diam mendengarkan sambil memandangi kerbau-kerbau di sawah.

“Deni, kau mendengarkanku, tidak?” aku menoleh. Mata gadis itu sudah memelototiku.
“Aku mendengarkanmu.” Jawabku.
“Bagus. Apa kau bermimpi hal yang sama denganku?”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Namun, dalam hati kecilku kukubur itu semua. Mana mungkin orang miskin seperti aku dan dia bisa pergi ke kota-kota indah di dunia ini.

Kami beranjak remaja bersama dalam satu waktu. Aku selalu satu sekolah dan satu kelas dengannya. Ia selalu mendapat peringkat pertama, selama itu pula aku yang menduduki peringkat kedua. Kami selalu berlomba-lomba dalam prestasi, namun tetap saja aku tak pernah bisa menggantikan peringkatnya.

Kini, gadis kecil berkuncir dua itu telah menjadi gadis dewasa. Aku juga bukan bocah ingusan lagi seperti dulu. Semakin berjalannya waktu, semakin jarang pula kami menghabiskan waktu bersama-sama di sawah seperti dulu.

Hingga pada suatu hari, hari dimana kami telah lulus sekolah menengah atas, gadis itu semakin sibuk dan aku sudah jarang bertemu dengannya. Beberapa bulan setelah itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Belakangan aku baru tahu bahwa gadis itu mendapatkan beasiswa ke Roma, Italia.

“Deni, kamu enggak mau nyusul Rika ke Italia?”
“Maksudnya, mak?”
“Kali aja kamu beruntung bisa dapat beasiswa juga ke sana seperti Rika.”
“Enggak, mak. Deni di sini aja, temani abah dan emak mengurus sawah.”
“Emak pengen tahun depan kamu coba ikut tesnya.”
Aku hanya diam sambil memandangi langit biru.

Tahun berikutnya aku benar-benar mengikuti tes itu atas saran emak. Sehari sebelum pengumuman, suatu kabar mengejutkanku yang tengah berada di sawah.

“Deni, Deni..”
“Kenapa, Bimo?”
“Cepat pulang, Den.”

Bimo menyuruhku segera pulang. Begitu sampai di rumah, kulihat jasad emak terbujur kaku dikelilingi tetangga-tetanggaku. Beberapa di antara mereka membacakan yasin dan yang lainnya menangisi kepergian emak. Tubuhku melemas. Emak telah pergi jauh.

Esoknya keadaan berubah sejak kepergian emak yang sangat tiba-tiba itu. Abah tidak pergi ke sawah, sepanjang waktu ia menyendiri di kamarnya.

“Deni..Deni..” tiba-tiba suara Bimo mengejutkanku yang sedang melamun di teras rumah. “Lihat ini, Den. Lihat apa yang kubawa. Surat, Deni. Surat!!” aku belum mengerti. “Coba buka amplop ini!” serunya.

Dengan heran aku membukanya. Sedetik, dua detik, tiga detik, mataku menelusuri isi surat tersebut.

“Bimo, ini…” Bimo mengangguk. Spontan kamu berpelukan. Setelah itu, aku berlari-lari menuju sawah, berteriak gembira sepuasnya di sana. Tiba-tiba aku teringat wajah emak. Aku menghentikan kegembiraanku.

“Bimo, surat ini datang terlambat. Emak tak akan tahu kalau aku lulus tes beasiswa.”
“Sudahlah, Deni. Kalau dia masih hidup, dia pasti sangat bangga padamu.”
Aku menatap hampa surat itu.

***

Hari ini tepat 23 Mei 2012, setahun kepergian emak. Aku selalu mengingat emak dan abah meski kini aku berada di negeri orang. Gadis di sampingku tersenyum menatapku.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya.
“Tidak ada. Aku hanya tak menyangka bisa berada di sini bersamamu.”
“Aku bilang juga apa. Apapun yang kau impikan bisa terwujud.”
“Tentunya dengan doa dan usaha.”

Aku berjalan beriringan dengan Rika, gadis yang selalu berpikir positif terhadap mimpinya. Kau tak bisa begitu saja berhenti dan menyerah, kau tak akan pernah tahu bahwa di antara mimpi akan ada kenyataan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar