04/06/13

Drama Korea "FAITH"


“Apa kau tahu bagaimana rasanya bagi mereka yang ditinggalkan?” pertanyaan inilah yang muncul di benak gadis itu ketika orang yang disayanginya dengan mudah mengorbankan nyawanya demi dirinya. Ia sedih, bingung, dan tahu harus bagaimana? Bagaimana cara menghentikan si pria dan mengubah pola pikirnya bahwa jika seseorang tewas sama saja berakhir. Dalam keadaan seperti ini, mengorbankan nyawa bukanlah satu-satunya solusi yang baik, gadis ini berusaha meyakinkan bahwa masih banyak cara lain yang mereka bisa gunakan. Bukan malah menghilangkan nyawa salah satunya jika sebenarnya mereka masih bisa untuk bersama-sama.



Si pria yang memiliki sikap teguh pada pendiriannya, belum juga bisa mengubah pola pikirnya. Namun, ketika gadis yang disayanginya menangis di sampingnya, ia menatap gadis itu. Ditatapnya dengan penuh keyakinan, mencoba memilih kalimat yang tepat agar gadis itu tak bersedih lagi. “Mempertaruhkan hidup dengan begitu mudahnya, aku tidak akan melakukannya, tidak akan pernah. Karena itu, jangan menangis..” ucapnya.



Hei! Cepatlah kembali.” Entah apakah si pria mengerti makna dari kalimat ini, kalimat yang memintanya untuk segera kembali. Kalimat yang sangat singkat, tapi tahukah ia? Dalam hatinya, wanita ini sangat mengharapkan kehadiran si pria untuk kembali ke sisinya dan suatu saat berjanji tak akan meninggalkannya lagi. Bahkan, terkadang ada makna lain yang tersembunyi dari kalimat itu seperti ‘aku belum cukup puas dengan pertemuan kita kali ini..’ atau ‘rasa rinduku belum terbayar lunas, tapi kau malah memilih untuk pergi lagi..’


“Jangan kemana-mana sesukamu tanpa mengatakan apapun.” Kali ini si pria lagi yang berbicara. Berbicara dengan bahasa yang sangat umum, tapi wanita dengan sangat mudah dapat mengartikannya. Dari caranya berbicara saja, wanita sudah dapat menebaknya bahwa si pria takut kehilangan. Ketika sekejap saja gadis yang disayanginya tak jelas entah dimana, ia akan segera khawatir dan langsung mencarinya. Ia tak akan membiarkan orang yang disayanginya berada dalam bahaya, karena itu ia mengatakan kalimat sedemikian rupa, mencoba memberitahu sang gadis bahwa ia akan cemas jika sang gadis tak ada di sampingnya.





“Kau menjagaku dan aku menjagamu.” Si pria sebenarnya bingung dengan kalimat yang dilontarkan oleh gadis di hadapannya itu. Bagaimana mungkin gadis ini dapat melindunginya sementara sang gadis sendiri masih memerlukan perlindungan dari dirinya. Namun, si pria merasa senang dengan kalimat polos yang diutarakan oleh gadis itu.






“Kau tidak pernah mengatakan ‘iya’ padaku.” Si pria ini menyerah, ia cukup lelah dengan segala omelan-omelan dari mulut sang gadis. Gadis itu tak henti-hentinya mengkhawatirkannya setiap waktu. Mereka selalu berselisih, karena si pria tak pernah peka dan gadis itu harus selalu mengingatkan pria itu tentang banyak hal seperti ‘kau harus istirahat yang cukup! Tenagamu belum pulih!’



“Untuk memenuhi janji bahwa aku akan mengirimmu kembali, kau harus tetap hidup!” pria ini berusaha meyakinkan gadis itu untuk tetap berada di bawah perlindungannya, bagaimana ia bisa menepati janjinya jika sang gadis tewas? 


Maka dari itu si pria berkata, “Tetaplah dekat denganku.” Ia mengatakan hal itu agar ia dengan mudah dapat menjaga dan melindungi sang gadis dari segala bahaya yang tengah mengancam keduanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar