“Apa kau tahu bagaimana rasanya bagi mereka
yang ditinggalkan?” pertanyaan inilah yang muncul di benak
gadis itu ketika orang yang disayanginya dengan mudah mengorbankan nyawanya
demi dirinya. Ia sedih, bingung, dan tahu harus bagaimana? Bagaimana cara
menghentikan si pria dan mengubah pola pikirnya bahwa jika seseorang tewas sama
saja berakhir. Dalam keadaan seperti ini, mengorbankan nyawa bukanlah
satu-satunya solusi yang baik, gadis ini berusaha meyakinkan bahwa masih banyak
cara lain yang mereka bisa gunakan. Bukan malah menghilangkan nyawa salah
satunya jika sebenarnya mereka masih bisa untuk bersama-sama.
Si
pria yang memiliki sikap teguh pada pendiriannya, belum juga bisa mengubah pola
pikirnya. Namun, ketika gadis yang disayanginya menangis di sampingnya, ia
menatap gadis itu. Ditatapnya dengan penuh keyakinan, mencoba memilih kalimat
yang tepat agar gadis itu tak bersedih lagi. “Mempertaruhkan hidup dengan begitu mudahnya, aku tidak
akan melakukannya, tidak akan pernah. Karena itu, jangan menangis..”
ucapnya.
“Hei! Cepatlah kembali.” Entah
apakah si pria mengerti makna dari kalimat ini, kalimat yang memintanya untuk
segera kembali. Kalimat yang sangat singkat, tapi tahukah ia? Dalam hatinya,
wanita ini sangat mengharapkan kehadiran si pria untuk kembali ke sisinya dan
suatu saat berjanji tak akan meninggalkannya lagi. Bahkan, terkadang ada makna
lain yang tersembunyi dari kalimat itu seperti ‘aku belum cukup puas dengan
pertemuan kita kali ini..’ atau ‘rasa rinduku belum terbayar lunas, tapi kau
malah memilih untuk pergi lagi..’
“Jangan kemana-mana sesukamu tanpa
mengatakan apapun.” Kali ini si pria lagi yang berbicara. Berbicara
dengan bahasa yang sangat umum, tapi wanita dengan sangat mudah dapat
mengartikannya. Dari caranya berbicara saja, wanita sudah dapat menebaknya
bahwa si pria takut kehilangan. Ketika sekejap saja gadis yang disayanginya tak
jelas entah dimana, ia akan segera khawatir dan langsung mencarinya. Ia tak
akan membiarkan orang yang disayanginya berada dalam bahaya, karena itu ia
mengatakan kalimat sedemikian rupa, mencoba memberitahu sang gadis bahwa ia
akan cemas jika sang gadis tak ada di sampingnya.
“Kau menjagaku dan aku menjagamu.”
Si pria sebenarnya bingung dengan kalimat yang dilontarkan oleh gadis di
hadapannya itu. Bagaimana mungkin gadis ini dapat melindunginya sementara sang
gadis sendiri masih memerlukan perlindungan dari dirinya. Namun, si pria merasa
senang dengan kalimat polos yang diutarakan oleh gadis itu.
“Kau tidak pernah mengatakan ‘iya’ padaku.”
Si pria ini menyerah, ia cukup lelah dengan segala omelan-omelan dari mulut
sang gadis. Gadis itu tak henti-hentinya mengkhawatirkannya setiap waktu. Mereka
selalu berselisih, karena si pria tak pernah peka dan gadis itu harus selalu
mengingatkan pria itu tentang banyak hal seperti ‘kau harus istirahat yang
cukup! Tenagamu belum pulih!’
“Untuk memenuhi janji bahwa aku akan mengirimmu
kembali, kau harus tetap hidup!” pria ini berusaha
meyakinkan gadis itu untuk tetap berada di bawah perlindungannya, bagaimana ia
bisa menepati janjinya jika sang gadis tewas?
Maka
dari itu si pria berkata, “Tetaplah
dekat denganku.” Ia mengatakan hal itu agar ia dengan mudah dapat
menjaga dan melindungi sang gadis dari segala bahaya yang tengah mengancam
keduanya.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar