‘Panggil gue Bayu, dan gue bukan
pembunuh. Kemarin bokap gue dibunuh, enggak jelas siapa pelakunya, dan polisi
ngejar gue yang dianggap sebagai pelaku sehingga sekarang gue adalah buronan.
Kemarin juga, gue kabur bareng sama abang gue. Sialnya, dia kena tembak di kaki
kirinya. Dia ketangkap. Dia sempat bilang ke gue kalau gue harus menemukan
siapa pelaku sebenarnya? Siapa yang berani menginginkan kematian bokap gue?
Tetapi, sekarang gue harus gimana? Gue harus apa? Gue cuma cowok bego yang
kehilangan arah,dan sekarang gue nyasar di rumah seorang cewek yang pura-pura
tuli dan bisu tiap gue ajak ngomong..’
Bayu
termenung di tempatnya. Sementara gadis itu masih sibuk dengan dunianya di
dapur, sepertinya dia akan membuat sarapan pagi untuk dirinya dan juga seorang
pria atau lebih jelas disebut buronan, mungkin?
Gadis
itu meletakkan sarapan pagi mereka di atas meja di depan Bayu yang sedang
termenung. Bayu tersadar dengan kehadiran gadis itu, ia memperbaiki posisi
duduknya.
“Silahkan
sarapan, seorang buronan juga perlu sarapan.” Ucap gadis itu dengan acuh. Bayu
memperhatikan wajah gadis itu. Wajah yang cuek dan dingin.
“Apa
lo bilang? Buronan? Apa semua orang yang dikejar polisi harus disebut sebagai
buronan? Bagaimana kalau sebenarnya dia enggak bersalah?”
Gadis
itu tersenyum sinis menatap Bayu. “Jadi, lo enggak salah?” tanyanya. Bayu
menggeleng. Keduanya berada di dalam pikiran masing-masing.
“Lo
bisa make up gue, enggak?” tanya Bayu tiba-tiba. Gadis itu mengernyitkan
dahinya.
“Gue
bukan penata rias lo!” serunya.
“Gue
pengen ke kantor polisi.” Ungkap Bayu pada akhirnya.
“Bagus,
deh. Mau menyerahkan diri, kan?” tanya gadis itu dengan ketus.
“Enggak,
gue mau ketemu sama abang gue.”
“Oh,
jadi kalian kakak beradik sama-sama jadi tersangka ya? Emangnya lo berdua udah
ngelakuin apa? Membunuh seseorang?” gadis itu menyerocos. Kalimat gadis itu
membuat Bayu menjadi geram.
“DIAM!
Kalau lo enggak tahu apa-apa, enggak usah banyak bicara! Lo enggak akan ngerti
kalau lo ada di posisi gue! Lo cuma gadis yang sok cuek yang enggak bisa jaga
omongannya!” gertak Bayu.
Mimik
wajah gadis itu berubah menjadi ketakutan.
“Gue
emang cewek yang sok cuek dan enggak bisa jaga omongannya sendiri, tapi lo
adalah cowok yang enggak tahu sopan santun yang tiba-tiba masuk ke rumah gue
dan sekarang lo berani bentak-bentak gue kayak gini? Lo pikir lo itu hebat?
ENGGAK!”
Bayu
mendekat ke arah gadis itu.
“Maafin
gue ya, lo jadi terlibat dalam masalah gue.”
Bayu
menarik nafasnya. Kebingungan masih melandanya.
“Ya
udahlah, enggak usah dipermasalahin. Mending sekarang elo keluar dari rumah
gue, deh. KELUARRR ENGGAK LO!!!” perintah gadis itu. Matanya menyala-nyala,
seperti ada dua buah tanduk di atas kepalanya. Bayu bergidik melihat tingkah
gadis itu.
“Please,
maafin gue. Please, tolongin gue.” Gadis itu masih berusaha mendorong tubuh
kekar Bayu ke arah pintu rumahnya.
“Gue bukan orang yang tepat untuk lo jadikan seorang
penolong!” gadis itu masih tak sependapat dengan Bayu.
“Gue
harus membebaskan abang gue, gue harus cari tahu siapa yang udah berani
ngebunuh bokap gue. Please, lo pasti ngerasa sulit juga kalau lo ada di posisi
gue.” Gadis itu terdiam.
“Yang
jelas, gue bukan elo. Jadi, gue enggak ada di posisi lo. Lagian kenapa elo
ngerasa cuma hidup lo doang yang sulit? Ewwwh..” gadis itu masih beradu mulut
dengan Bayu. Sementara itu, Bayu sendiri yakin bahwa ia akan bisa membuat gadis
di hadapannya ini luluh dan bersedia untuk membantunya.
“Gue
tahu lo cewek baik, gue tahu.”
“Enggak,
lo enggak tahu apapun soal gue. Lo itu sok tahu, SOK TAUUU!” gertaknya makin
menjadi-jadi. Bayu menyentuh kedua bahu gadis itu, dan berusaha menenangkannya.
“Bagaimana
kalau soal Raka?” Bayu tersenyum tipis.
“Apa?
Apa lo bilang?”
“Iya,
Raka. Bagaimana kalau Raka itu adalah abang gue yang kakinya kena tembak dan
sekarang dia dijebloskan ke penjara karena kesalahan yang enggak pernah sama
sekali dia lakuin, bagaimana?” Gadis itu diam. “Bagaimana? Apa lo akan terus
diam kalau lo liat orang yang lo sayangi ditahan di penjara?” omongan Bayu
membuat mata gadis itu berkaca-kaca.
“Gue..bakal..make
up lo..” katanya pada akhirnya.
Siang
itu Bayu dengan langkah hati-hati keluar dari rumah susun gadis itu. Siang itu
ia keluar dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya, hal itu dilakukannya
untuk mengelabui polisi. Langkahnya berhenti tepat di depan sebuah rumah
tahanan. Dengan penuh keyakinan ia masuk ke dalamnya. Tak berapa lama, Bayu
sudah bertatap muka dengan abangnya.
“Elo
Bayu? Ngapain lo ke sini? Nyari mati lo?” tanya abangnya bertubi-tubi. Bayu
hanya diam. “Siapa lagi ini yang ngedandanin elo kayak gini?” tanya abangnya
lagi dengan ketus.
“Rike,
bang..”
“Apa?
Rike? Lo kenal Rike?” nada bicara abangnya makin ketus.
“Sorry,
gue enggak sengaja buka buku lo,dan ternyata ada foto lo sama Rike nyelip di
situ. Cewek itu namanya Rike, kan? Soalnya di foto itu ada tulisannya..” jujur
Bayu.
“Berani
amet lo buka-buka buku gue. Jadi, lo kemaren ke rumahnya si Rike?”
“Iya
bang, gue benar-benar enggak tahu kalau rumah yang gue ketok itu rumahnya Rike.
Kemaren juga gue liat wajah si Rike itu babak belur gitu..”
“Kampret,
kerjaannya abangnya si Rike itu pasti!”
“Abangnya
emang kenapa, bang?”
“Abangnya
yang mukulin si Rike, dodol! Rike cuma tinggal berdua doang sama abangnya,
abangnya itu bukan manusia, abangnya itu iblis! Rike suka cerita, dia sering
dipukulin, gue suruh dia minggat aja, tapi katanya dia enggak tahu mau minggat
kemana, katanya dia cuma punya abangnya, enggak ada orang lain. Padahal ada gue..”
Bayu hanya terdiam. Sesaat kemudian Raka kembali berbicara.
“Ya
udahlah, kenapa jadi bahas si Rike?”
“Kan
elo yang bahas, bang! Jadi, gue mesti gimana? Lo tahu kan gimana begonya gue..”
“Iya,
gue tahu. Lo dari dulu emang enggak pinter-pinter.”
“Bukan
gitu maksud gue, bang. Maksudnya, gue mesti melakukan apa supaya gue bisa tahu
siapa yang ngebunuh papa?” Raka menghela nafas.
“Bayu,
sebelumnya gue mau nanya. Kenapa waktu papa dibunuh lo ada di TKP?”
“Itu
karena papa nyuruh gue ke sana.”
“Apa?
Terus lo mau ke sana? Bukannya lo yang bilang kalau lo enggak mau ketemu papa
lagi?”
“Masalahnya
waktu itu papa nelepon gue dan dia nyebut-nyebut namanya Citra. Suaranya papa
terputus-putus, dia nelepon gue setengah jam sebelum gue ke TKP dan di akhir
omongannya kalau enggak salah dengar, papa bilang ‘jangan ke sini’ gue bingung,
terus ada suara jeritan gitu, makanya gue..”
“Makanya
lo datang?”
“Iya,
lo sendiri kenapa bisa tiba-tiba nongol juga di sana?”
“Gue
juga dapat telepon kayak lo, dan bokap nyebut namanya si Rike, gue datang karena
gue takut Rike kenapa-kenapa, gue enggak pengen Rike sedih lagi, udah terlalu
banyak hal di dunia ini yang bikin dia sakit.”
“Gue
juga bang, gue datang karena Citra. Udah sekitar 2 bulan gue lose contact sama
dia. Makanya begitu bokap nyebut nama Citra, gue langsung datang.”
“Yang
bikin gue heran, kenapa bokap mesti beralasan pake nama cewek kita?” tanya Raka
dengan mimik serius.
“Gue
tahu bang, bokap pasti disuruh sama orang yang mau bunuh dia. Kalau bokap
bawa-bawa nama Rike dan Citra, udah pasti kita datang. Ini jebakan bang, supaya
kita yang dituduh bunuh bokap, itu makanya bokap sempat ngomong ‘jangan ke
sini’ ke gue.”
“Dari
awal juga gue udah bilang ke elo kalau ini jebakan! Benar banget, bokap
sebenarnya ngelarang lo datang karena dia tahu bahwa nanti kita yang akan
dituduh..”
“Jadi,
pikiran gue enggak bego-bego amet kan bang?”
“Iya,
enggak bego-bego amet, tapi bego dikit.”
“Okelah,
bego dikit. Abang sndiri udah bisa nebak siapa pelakunya?”
“Hmm
kayaknya..”
“Kayaknya
siapa, bang?”
“Kayaknya..gue
enggak tahu, deh.”
“Yaaaah,
bang.”
“Lo
mending balik aja, deh. Gue titip Rike, yah.”
“Tapi,
bang..”
“Masalah
ini kita pikirin lagi nanti. Oh ya, semoga si Citra cepat-cepat ngasih kabar ke
elo, ya..”
Siang
itu Bayu benar-benar tidak mendapatkan hasil sama sekali. Sepertinya abangnya
itu juga menyerah untuk sekarang ini. Bayu kembali ke rumah susun itu, sesuatu
yang tak ia duga terjadi. Gadis yang diketahui bernama Rike itu terduduk tak
berdaya di sudut rumahnya.
“Rike,
lo kenapa Rik?” Rike menatap Bayu dengan pandangan tak berdaya. Tiba-tiba saja
ia tak sadarkan diri.
“RIKEEEEEEE!!!!”
BERSAMBUNG
asli penasaran banget kakak, critanya bagus :D tapi mungkin bisa dibuat lebih serius suasananya. soalnya kalo buronan menyelinap ke polisi, harusnya dia waswas takut ketahuan, dan memanfaatkan waktu yang sedikit untuk mendapatkan info, bukan untuk nanya si bayu udah ga bego lagi/ga.
BalasHapusbut still, nice story :)
Terimakasih kritik dan sarannya :) ceritanya emang dibikin agak nyantai dengan konflik yang serius hehe jadi maaf kalau terlalu banyak kata-kata yang kurang penting hehe
BalasHapus