15/06/13

Panggil Gue Bayu! ( part II )



‘Panggil gue Bayu, dan gue bukan pembunuh. Kemarin bokap gue dibunuh, enggak jelas siapa pelakunya, dan polisi ngejar gue yang dianggap sebagai pelaku sehingga sekarang gue adalah buronan. Kemarin juga, gue kabur bareng sama abang gue. Sialnya, dia kena tembak di kaki kirinya. Dia ketangkap. Dia sempat bilang ke gue kalau gue harus menemukan siapa pelaku sebenarnya? Siapa yang berani menginginkan kematian bokap gue? Tetapi, sekarang gue harus gimana? Gue harus apa? Gue cuma cowok bego yang kehilangan arah,dan sekarang gue nyasar di rumah seorang cewek yang pura-pura tuli dan bisu tiap gue ajak ngomong..’

Bayu termenung di tempatnya. Sementara gadis itu masih sibuk dengan dunianya di dapur, sepertinya dia akan membuat sarapan pagi untuk dirinya dan juga seorang pria atau lebih jelas disebut buronan, mungkin?
Gadis itu meletakkan sarapan pagi mereka di atas meja di depan Bayu yang sedang termenung. Bayu tersadar dengan kehadiran gadis itu, ia memperbaiki posisi duduknya.
“Silahkan sarapan, seorang buronan juga perlu sarapan.” Ucap gadis itu dengan acuh. Bayu memperhatikan wajah gadis itu. Wajah yang cuek dan dingin.
“Apa lo bilang? Buronan? Apa semua orang yang dikejar polisi harus disebut sebagai buronan? Bagaimana kalau sebenarnya dia enggak bersalah?”
Gadis itu tersenyum sinis menatap Bayu. “Jadi, lo enggak salah?” tanyanya. Bayu menggeleng. Keduanya berada di dalam pikiran masing-masing.
“Lo bisa make up gue, enggak?” tanya Bayu tiba-tiba. Gadis itu mengernyitkan dahinya.
“Gue bukan penata rias lo!” serunya.
“Gue pengen ke kantor polisi.” Ungkap Bayu pada akhirnya.
“Bagus, deh. Mau menyerahkan diri, kan?” tanya gadis itu dengan ketus.
“Enggak, gue mau ketemu sama abang gue.”
“Oh, jadi kalian kakak beradik sama-sama jadi tersangka ya? Emangnya lo berdua udah ngelakuin apa? Membunuh seseorang?” gadis itu menyerocos. Kalimat gadis itu membuat Bayu menjadi geram.
“DIAM! Kalau lo enggak tahu apa-apa, enggak usah banyak bicara! Lo enggak akan ngerti kalau lo ada di posisi gue! Lo cuma gadis yang sok cuek yang enggak bisa jaga omongannya!” gertak Bayu.
Mimik wajah gadis itu berubah menjadi ketakutan.
“Gue emang cewek yang sok cuek dan enggak bisa jaga omongannya sendiri, tapi lo adalah cowok yang enggak tahu sopan santun yang tiba-tiba masuk ke rumah gue dan sekarang lo berani bentak-bentak gue kayak gini? Lo pikir lo itu hebat? ENGGAK!”
Bayu mendekat ke arah gadis itu.
“Maafin gue ya, lo jadi terlibat dalam masalah gue.”
Bayu menarik nafasnya. Kebingungan masih melandanya.
“Ya udahlah, enggak usah dipermasalahin. Mending sekarang elo keluar dari rumah gue, deh. KELUARRR ENGGAK LO!!!” perintah gadis itu. Matanya menyala-nyala, seperti ada dua buah tanduk di atas kepalanya. Bayu bergidik melihat tingkah gadis itu.
“Please, maafin gue. Please, tolongin gue.” Gadis itu masih berusaha mendorong tubuh kekar Bayu ke arah pintu rumahnya.
 “Gue bukan orang yang tepat untuk lo jadikan seorang penolong!” gadis itu masih tak sependapat dengan Bayu.
“Gue harus membebaskan abang gue, gue harus cari tahu siapa yang udah berani ngebunuh bokap gue. Please, lo pasti ngerasa sulit juga kalau lo ada di posisi gue.” Gadis itu terdiam.
“Yang jelas, gue bukan elo. Jadi, gue enggak ada di posisi lo. Lagian kenapa elo ngerasa cuma hidup lo doang yang sulit? Ewwwh..” gadis itu masih beradu mulut dengan Bayu. Sementara itu, Bayu sendiri yakin bahwa ia akan bisa membuat gadis di hadapannya ini luluh dan bersedia untuk membantunya.
“Gue tahu lo cewek baik, gue tahu.”
“Enggak, lo enggak tahu apapun soal gue. Lo itu sok tahu, SOK TAUUU!” gertaknya makin menjadi-jadi. Bayu menyentuh kedua bahu gadis itu, dan berusaha menenangkannya.
“Bagaimana kalau soal Raka?” Bayu tersenyum tipis.
“Apa? Apa lo bilang?”
“Iya, Raka. Bagaimana kalau Raka itu adalah abang gue yang kakinya kena tembak dan sekarang dia dijebloskan ke penjara karena kesalahan yang enggak pernah sama sekali dia lakuin, bagaimana?” Gadis itu diam. “Bagaimana? Apa lo akan terus diam kalau lo liat orang yang lo sayangi ditahan di penjara?” omongan Bayu membuat mata gadis itu berkaca-kaca.
“Gue..bakal..make up lo..” katanya pada akhirnya.
Siang itu Bayu dengan langkah hati-hati keluar dari rumah susun gadis itu. Siang itu ia keluar dengan penampilan yang berbeda dari sebelumnya, hal itu dilakukannya untuk mengelabui polisi. Langkahnya berhenti tepat di depan sebuah rumah tahanan. Dengan penuh keyakinan ia masuk ke dalamnya. Tak berapa lama, Bayu sudah bertatap muka dengan abangnya.
“Elo Bayu? Ngapain lo ke sini? Nyari mati lo?” tanya abangnya bertubi-tubi. Bayu hanya diam. “Siapa lagi ini yang ngedandanin elo kayak gini?” tanya abangnya lagi dengan ketus.
“Rike, bang..”
“Apa? Rike? Lo kenal Rike?” nada bicara abangnya makin ketus.
“Sorry, gue enggak sengaja buka buku lo,dan ternyata ada foto lo sama Rike nyelip di situ. Cewek itu namanya Rike, kan? Soalnya di foto itu ada tulisannya..” jujur Bayu.
“Berani amet lo buka-buka buku gue. Jadi, lo kemaren ke rumahnya si Rike?”
“Iya bang, gue benar-benar enggak tahu kalau rumah yang gue ketok itu rumahnya Rike. Kemaren juga gue liat wajah si Rike itu babak belur gitu..”
“Kampret, kerjaannya abangnya si Rike itu pasti!”
“Abangnya emang kenapa, bang?”
“Abangnya yang mukulin si Rike, dodol! Rike cuma tinggal berdua doang sama abangnya, abangnya itu bukan manusia, abangnya itu iblis! Rike suka cerita, dia sering dipukulin, gue suruh dia minggat aja, tapi katanya dia enggak tahu mau minggat kemana, katanya dia cuma punya abangnya, enggak ada orang lain. Padahal ada gue..” Bayu hanya terdiam. Sesaat kemudian Raka kembali berbicara.
“Ya udahlah, kenapa jadi bahas si Rike?”
“Kan elo yang bahas, bang! Jadi, gue mesti gimana? Lo tahu kan gimana begonya gue..”
“Iya, gue tahu. Lo dari dulu emang enggak pinter-pinter.”
“Bukan gitu maksud gue, bang. Maksudnya, gue mesti melakukan apa supaya gue bisa tahu siapa yang ngebunuh papa?” Raka menghela nafas.
“Bayu, sebelumnya gue mau nanya. Kenapa waktu papa dibunuh lo ada di TKP?”
“Itu karena papa nyuruh gue ke sana.”
“Apa? Terus lo mau ke sana? Bukannya lo yang bilang kalau lo enggak mau ketemu papa lagi?”
“Masalahnya waktu itu papa nelepon gue dan dia nyebut-nyebut namanya Citra. Suaranya papa terputus-putus, dia nelepon gue setengah jam sebelum gue ke TKP dan di akhir omongannya kalau enggak salah dengar, papa bilang ‘jangan ke sini’ gue bingung, terus ada suara jeritan gitu, makanya gue..”
“Makanya lo datang?”
“Iya, lo sendiri kenapa bisa tiba-tiba nongol juga di sana?”
“Gue juga dapat telepon kayak lo, dan bokap nyebut namanya si Rike, gue datang karena gue takut Rike kenapa-kenapa, gue enggak pengen Rike sedih lagi, udah terlalu banyak hal di dunia ini yang bikin dia sakit.”
“Gue juga bang, gue datang karena Citra. Udah sekitar 2 bulan gue lose contact sama dia. Makanya begitu bokap nyebut nama Citra, gue langsung datang.”
“Yang bikin gue heran, kenapa bokap mesti beralasan pake nama cewek kita?” tanya Raka dengan mimik serius.
“Gue tahu bang, bokap pasti disuruh sama orang yang mau bunuh dia. Kalau bokap bawa-bawa nama Rike dan Citra, udah pasti kita datang. Ini jebakan bang, supaya kita yang dituduh bunuh bokap, itu makanya bokap sempat ngomong ‘jangan ke sini’ ke gue.”
“Dari awal juga gue udah bilang ke elo kalau ini jebakan! Benar banget, bokap sebenarnya ngelarang lo datang karena dia tahu bahwa nanti kita yang akan dituduh..”
“Jadi, pikiran gue enggak bego-bego amet kan bang?”
“Iya, enggak bego-bego amet, tapi bego dikit.”
“Okelah, bego dikit. Abang sndiri udah bisa nebak siapa pelakunya?”
“Hmm kayaknya..”
“Kayaknya siapa, bang?”
“Kayaknya..gue enggak tahu, deh.”
“Yaaaah, bang.”
“Lo mending balik aja, deh. Gue titip Rike, yah.”
“Tapi, bang..”
“Masalah ini kita pikirin lagi nanti. Oh ya, semoga si Citra cepat-cepat ngasih kabar ke elo, ya..”
Siang itu Bayu benar-benar tidak mendapatkan hasil sama sekali. Sepertinya abangnya itu juga menyerah untuk sekarang ini. Bayu kembali ke rumah susun itu, sesuatu yang tak ia duga terjadi. Gadis yang diketahui bernama Rike itu terduduk tak berdaya di sudut rumahnya.
“Rike, lo kenapa Rik?” Rike menatap Bayu dengan pandangan tak berdaya. Tiba-tiba saja ia tak sadarkan diri.
“RIKEEEEEEE!!!!”
BERSAMBUNG

2 komentar:

  1. asli penasaran banget kakak, critanya bagus :D tapi mungkin bisa dibuat lebih serius suasananya. soalnya kalo buronan menyelinap ke polisi, harusnya dia waswas takut ketahuan, dan memanfaatkan waktu yang sedikit untuk mendapatkan info, bukan untuk nanya si bayu udah ga bego lagi/ga.

    but still, nice story :)

    BalasHapus
  2. Terimakasih kritik dan sarannya :) ceritanya emang dibikin agak nyantai dengan konflik yang serius hehe jadi maaf kalau terlalu banyak kata-kata yang kurang penting hehe

    BalasHapus