11/07/14

Dear Hello Kitty Addict

Kak Ziiizuuu :3
 

Namanya Khadijah Nur Azizah, nama yang begitu istimewa. Kak Zizu aku biasa memanggilnya.

Aku mengenalnya sekitar 2 tahun yang lalu ketika kami bertemu di acara Makassar  International Writer Festival. Acara itu diadakan di sebuah tempat bersejarah di kotaku, tepatnya di Fort Rotterdam. Sebuah benteng yang berada di dekat pantai dengan bangunan unik nan kokoh, tempat berkumpulnya manusia yang ingin menikmati hari dengan menghirup udara bebas sebab terkadang hidup membosankan dengan keberisikan orang-orang yang berpura-pura peduli namun entah bagaimana bisa pada celah bagian belakang mereka saggup membeberkan keburukan kita.

Kalimatku terlalu panjang, ya? begitulah mungkin ketika aku mengeluarkan segala hal dalam pikiranku yang luarbiasa bukan main banyaknya. Otak manusia mampu memikirkan banyak hal dalam waktu yang bersamaan, sayangnya seringkali lupa apa yang pernah selalu menjadi terpikir kemudian hal itu hilang entah kemana dibawa pergi angin nakal. Seperti aku yang kini telah hilang dalam pikiran pria yang kucintai itu. Maaf, aku seharusnya membicarakan gadis cantik bernama Zizu ini, bukan hatiku yang sedang terombang-ambing puingnya di tengah laut luas, seseorangpun tak mungkin bisa menemukannya.


Sebenarnya, sejak lama aku selalu tak sengaja melihatnya, entah itu ketika di pinggir jalan, di depan sekolahnya, atau di tempat umum lainnya. Entah aku dapat feeling darimana jika suatu hari nanti aku akan mengenalnya. Bisikan rahasia untuk para pria, aku beritahu ya, feeling wanita sangat kuat, terkadang yang dikatakannya tidak masuk akal, tetapi kau baru akan mempercayainya begitu hal itu terjadi di depan matamu.

Kemudian setelah berhari-hari aku mengenalnya, aku mengetahui bagaimana karakter gadis itu. Ceria, penuh semangat, optimis, dan mempunyai teman yang banyak. Singkatnya seperti itu.

Aku kemudian masuk sekolah yang sama dengannya. Diperkenalkannya aku dengan teman-teman sepermainannya. Apa dia tahu bagaimana perasaanku saat itu? aku gembira betul mendapat sapaan serta sambutan hangat dari mereka.

Hari-hari itupun berlanjut menjadi sebuah kisah panjang pertemanan seorang gadis remaja sepertiku dengan senior yang dikenal seantero sekolah. Kami sering menikmati hari bersama, terkadang aku yang pergi dengannya dan teman-temannya, terkadang pula ia yang pergi denganku dan teman-temanku.

Dari kiri ke kanan: Kak Zizu (alumni 2013), kak Batara (alumni2011), kak Aziz (alumni 2014), aku.
                                                           
Banyak moment yang kami lalui bersama. Aku pernah melihatnya menangis tak jauh dari kelasnya. Aku tahu, jika ia membaca tulisan ini ia pasti mengutukiku. Aku hanya senang mengingat moment-moment kecil ketika aku melihat orang yang aku sayangi. Ketika ia menangis, ia tak bercerita banyak, tetapi aku bisa membaca semuanya dari gerak-gerik dan sinar di matanya. Wanita sangat mudah dibaca pikirannya, jadi jangan salahkan aku mengapa aku tahu ia menangis. Penyebabnya sangat sepele, karena itu aku tak ingin menceritakannya di sini.

Oh, iya, mana mungkin aku lupa dengan tanggal ulangtahunnya. Sebab, tanggalnya hanya berbeda satu minggu dari orang yang selalu ada pikiranku, hehe.

Kini, ia sudah lulus dan masuk sebuah perguruan tinggi. Sayangnya, ia mengeluh jenuh dengan apa yang dilaluinya. Ia tak menyukai tempatnya menuntut ilmu. Sekali lagi, ia mencoba di tempat lain. Ia membawaku pada kabar gembira, katanya ia akan pergi ke Bandung, kota impianku! Ya, dia akan menuntut ilmu di sana, berjuang menjadi yang terbaik di sana.

Aku sangat percaya ia mampu menjadi yang terbaik. Ia selalu optimis dan mandiri, bahkan ia menjadi sopir untuk mobilnya sendiri.

Abaikan wajahku!

Bulan depan ia akan segera berkemas dan berpisah denganku. Entah kapan lagi aku dengannya bertemu. Meskipun ia sudah lulus dan tak satu sekolah lagi denganku, ia terkadang mampir ke sekolahku (jika aku menyebutnya ‘sekolahku’ ia mungkin kesal, sebab ini juga pernah menjadi sekolahnya), maksudku sekolah kami, ia pernah satu kali bersamaku menikmati es krim. Seperti yang kalian sudah duga, ia tentu saja lebih ‘gaul’ daripada aku. Ia membawaku ke tempat yang belum pernah kuinjak sebelumnya. Kali itu kami pergi ke jalan Gunung Nona. Sekarang sudah tak asing lagi, dan tak seistimewa dulu. Sebab, hampir semua anak menjadikan tempat tersebut tempat es krim favorit mereka. Sepertinya, kami perlu mencari tempat favorit lain.

Kak Sarah, aku, dan kak Zizu di Fort Rotterdam

Sering kali pula ia bercerita soal percintaannya. Ya, biasanya aku dulu yang mulai bertanya. Aku rasa tak adil jika ia yang terus-menerus mengepoi aku. Jadi, akupun juga bertanya tentang kisah yang ia punya. Terkadang aku tak mengerti dengan jalan pikiran pria yang katanya menyayanginya tetapi sikapnya tak menunjukkan itu semua, terlebih yang namanya status membuat segalanya menjadi rumit dan tak sederhana.

Aku tahu ia pasti menertawai tulisanku ini. Tetapi, tak apa, aku berbeda dua tahun darinya. Pikiranku tak sedewasa pikirannya. Tetapi, ia perlu tahu bahwa aku selalu mengingat moment-moment ketika aku bersamanya, dari awal aku mengenalnya hingga kini ia harus berjuang di kota orang dan meninggalkanku.

Terimakasih untuk sambutan hangatnya selama ini. Aku cukup terkesan melihat seniorku mau berbagi waktu dan cerita denganku. Aku jarang merasa seistimewa ini. Jangan lupa padaku ya, Hello Kitty addict! :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar