Kak Ziiizuuu :3
Namanya Khadijah
Nur Azizah, nama yang begitu istimewa. Kak Zizu aku biasa memanggilnya.
Aku mengenalnya
sekitar 2 tahun yang lalu ketika kami bertemu di acara Makassar International Writer Festival. Acara itu
diadakan di sebuah tempat bersejarah di kotaku, tepatnya di Fort Rotterdam. Sebuah
benteng yang berada di dekat pantai dengan bangunan unik nan kokoh, tempat
berkumpulnya manusia yang ingin menikmati hari dengan menghirup udara bebas
sebab terkadang hidup membosankan dengan keberisikan orang-orang yang
berpura-pura peduli namun entah bagaimana bisa pada celah bagian belakang
mereka saggup membeberkan keburukan kita.
Kalimatku terlalu
panjang, ya? begitulah mungkin ketika aku mengeluarkan segala hal dalam
pikiranku yang luarbiasa bukan main banyaknya. Otak manusia mampu memikirkan
banyak hal dalam waktu yang bersamaan, sayangnya seringkali lupa apa yang
pernah selalu menjadi terpikir kemudian hal itu hilang entah kemana dibawa
pergi angin nakal. Seperti aku yang kini telah hilang dalam pikiran pria yang
kucintai itu. Maaf, aku seharusnya membicarakan gadis cantik bernama Zizu ini,
bukan hatiku yang sedang terombang-ambing puingnya di tengah laut luas,
seseorangpun tak mungkin bisa menemukannya.
Sebenarnya, sejak lama aku selalu tak sengaja melihatnya, entah itu ketika di pinggir jalan, di depan sekolahnya, atau di tempat umum lainnya. Entah aku dapat feeling darimana jika suatu hari nanti aku akan mengenalnya. Bisikan rahasia untuk para pria, aku beritahu ya, feeling wanita sangat kuat, terkadang yang dikatakannya tidak masuk akal, tetapi kau baru akan mempercayainya begitu hal itu terjadi di depan matamu.
Sebenarnya, sejak lama aku selalu tak sengaja melihatnya, entah itu ketika di pinggir jalan, di depan sekolahnya, atau di tempat umum lainnya. Entah aku dapat feeling darimana jika suatu hari nanti aku akan mengenalnya. Bisikan rahasia untuk para pria, aku beritahu ya, feeling wanita sangat kuat, terkadang yang dikatakannya tidak masuk akal, tetapi kau baru akan mempercayainya begitu hal itu terjadi di depan matamu.
Kemudian setelah
berhari-hari aku mengenalnya, aku mengetahui bagaimana karakter gadis itu. Ceria,
penuh semangat, optimis, dan mempunyai teman yang banyak. Singkatnya seperti
itu.
Aku kemudian
masuk sekolah yang sama dengannya. Diperkenalkannya aku dengan teman-teman
sepermainannya. Apa dia tahu bagaimana perasaanku saat itu? aku gembira betul
mendapat sapaan serta sambutan hangat dari mereka.
Hari-hari itupun
berlanjut menjadi sebuah kisah panjang pertemanan seorang gadis remaja
sepertiku dengan senior yang dikenal seantero sekolah. Kami sering menikmati
hari bersama, terkadang aku yang pergi dengannya dan teman-temannya, terkadang
pula ia yang pergi denganku dan teman-temanku.
Dari kiri ke kanan: Kak Zizu (alumni
2013), kak Batara (alumni2011), kak Aziz (alumni 2014), aku.
Banyak moment
yang kami lalui bersama. Aku pernah melihatnya menangis tak jauh dari kelasnya.
Aku tahu, jika ia membaca tulisan ini ia pasti mengutukiku. Aku hanya senang
mengingat moment-moment kecil ketika aku melihat orang yang aku sayangi. Ketika
ia menangis, ia tak bercerita banyak, tetapi aku bisa membaca semuanya dari
gerak-gerik dan sinar di matanya. Wanita sangat mudah dibaca pikirannya, jadi
jangan salahkan aku mengapa aku tahu ia menangis. Penyebabnya sangat sepele,
karena itu aku tak ingin menceritakannya di sini.
Oh, iya, mana
mungkin aku lupa dengan tanggal ulangtahunnya. Sebab, tanggalnya hanya berbeda
satu minggu dari orang yang selalu ada pikiranku, hehe.
Kini, ia sudah
lulus dan masuk sebuah perguruan tinggi. Sayangnya, ia mengeluh jenuh dengan
apa yang dilaluinya. Ia tak menyukai tempatnya menuntut ilmu. Sekali lagi, ia
mencoba di tempat lain. Ia membawaku pada kabar gembira, katanya ia akan pergi
ke Bandung, kota impianku! Ya, dia akan menuntut ilmu di sana, berjuang menjadi
yang terbaik di sana.
Aku sangat
percaya ia mampu menjadi yang terbaik. Ia selalu optimis dan mandiri, bahkan ia
menjadi sopir untuk mobilnya sendiri.
Abaikan wajahku!
Bulan depan ia
akan segera berkemas dan berpisah denganku. Entah kapan lagi aku dengannya
bertemu. Meskipun ia sudah lulus dan tak satu sekolah lagi denganku, ia
terkadang mampir ke sekolahku (jika aku menyebutnya ‘sekolahku’ ia mungkin
kesal, sebab ini juga pernah menjadi sekolahnya), maksudku sekolah kami, ia
pernah satu kali bersamaku menikmati es krim. Seperti yang kalian sudah duga,
ia tentu saja lebih ‘gaul’ daripada aku. Ia membawaku ke tempat yang belum
pernah kuinjak sebelumnya. Kali itu kami pergi ke jalan Gunung Nona. Sekarang sudah
tak asing lagi, dan tak seistimewa dulu. Sebab, hampir semua anak menjadikan
tempat tersebut tempat es krim favorit mereka. Sepertinya, kami perlu mencari
tempat favorit lain.
Kak Sarah, aku, dan kak Zizu di Fort
Rotterdam
Sering kali pula
ia bercerita soal percintaannya. Ya, biasanya aku dulu yang mulai bertanya. Aku
rasa tak adil jika ia yang terus-menerus mengepoi aku. Jadi, akupun juga
bertanya tentang kisah yang ia punya. Terkadang aku tak mengerti dengan jalan
pikiran pria yang katanya menyayanginya tetapi sikapnya tak menunjukkan itu
semua, terlebih yang namanya status membuat segalanya menjadi rumit dan tak
sederhana.
Aku tahu ia
pasti menertawai tulisanku ini. Tetapi, tak apa, aku berbeda dua tahun darinya.
Pikiranku tak sedewasa pikirannya. Tetapi, ia perlu tahu bahwa aku selalu
mengingat moment-moment ketika aku bersamanya, dari awal aku mengenalnya hingga
kini ia harus berjuang di kota orang dan meninggalkanku.
Terimakasih untuk
sambutan hangatnya selama ini. Aku cukup terkesan melihat seniorku mau berbagi
waktu dan cerita denganku. Aku jarang merasa seistimewa ini. Jangan lupa padaku
ya, Hello Kitty addict! :)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar