“Nina, saya
jatuh cinta sama Yogyakarta!”
“Kenapa?” saya
ingin tahu alasannya, tentu saja.
“Semalam, saya
datang ke angkringan yang berada di depan hotel yang saya inapi. Saya melihat
pemandangan yang sangat jarang saya temui. Dalam satu bangku di pinggir gerobak
angkringan tersebut, duduk berjejer beberapa orang, dari mulai tukang parkir,
mahasiswa, sampai pegawai bank mereka semua duduk bersama dalam satu bangku
panjang.” Ia menceritakan dengan takjub. “Kota ini berbeda dengan kota-kota
lainnya yang rasa gengsinya begitu tinggi.” Saya menyimak ucapannya, ia masih
akan meneruskan.
“Lalu, saya
menguping pembicaraan dua orang yang saya ketahui ternyata mereka adalah
mahasiwa. Di tempat seperti itupun, di pinggir jalan, mereka membahas geotermal, bayangkan saja. Di kota lain
mungkin bukan itu pembahasannya, tetapi seperti ini misalnya, “Sekarang siapa
gebetan lu?” yah hal-hal seperti itu yang saya sering dengar pembicaraan anak
mudanya di kota saya. Itu mengapa di sini, kehidupan mahasiswa benar-benar
hidup.”
“Iya, itu
mengapa saya memilih kota Yogyakarta. Karena semua komunitas ada di sini,
tinggal pilih ingin join yang mana. Event-event besarpun selalu ingin mampir di
kota Yogya, festival yang beraneka ragam selalu ada tiap bulan, dan yang paling
menyenangkan adalah Yogyakarta membuat saya bertemu dengan orang-orang hebat,
orang-orang yang menginspirasi, orang-orang yang membuat saya merasa disenangi
dan dipercayai, orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengan kita. Yogyakarta
memang istimewa.” Saya membalas ucapannya.
Dan kami berdua
tersenyum memandang satu sama lain, saling setuju dengan pendapat kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar