Rasanya adem
tiap kali melintas di jalan di waktu-waktu shalat Ju’mat. Melihat seorang pria
dengan wajah yang terbasuh air wudhu, pakaian yang rapi, dengan tatapan teduh
berjalan menuju Masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at.
Hari itu membuat
saya teringat pada salah satu teman masa kecil saya. Sekitar 6 tahun yang lalu
kami sempat kontak-kontakan. Kami cukup dekat dan kami juga sudah saling tahu
tabiat dan latar belakang masing-masing. Waktu itu kami bercerita macam-macam. Saya
bertanya tentang kabarnya dan bagaimana ia sekarang menjalani hidupnya. Waktu itu
kami masih menjadi bocah SMP. Dia bilang pada saya bahwa dia bertambah nakal. Saya
bertanya mengapa ia tambah nakal, katanya ia sering main motor, balapan, sempat
beberapa kali kecelakaan. Dia dengan santainya menceritakan itu pada saya. Menurut
saya itu memang kelakuan yang nakal, karena saat itu kami masih berusia sekitar
14 tahun. Cukup sedih sih mendengar dia yang seperti itu. Lalu dia menambahkan,
“Lebih parah, Jum’at kemaren gua juga nggak ikut shalat Jum’at.” Begitu katanya.
Hari ini saya
merenung.
Berarti di usia
kami pada saat itu, ia sudah memahami bahwa shalat Jum’at adalah wajib bagi
laki-laki, ia berkata seperti itu seolah ia menyesali perbuatannya bahkan ia
mencap bahwa lalai karena tidak
melaksanankan shalat jumat termasuk dalam kenakalan yang dilakukan olehnya.
Berbeda halnya dengan laki-laki muslim yang pada saat di jam-jam shalat Jum’at
ia malah bersantai, tidak bersegera menjawab panggilan Allah, bahkan meremehkan
kewajiban shalat.
Meski, saya
tidak tahu alasan dia tidak pergi untuk shalat Jum’at itu karena apa, tetapi saya
percaya bahwa dia menyesali perbuatannya.
Ah, sudah lama
sekali kami tidak kontakan. Tapi, saya tahu dia sekarang kuliah dimana, dan
mungkin dia tahu juga saya kuliah dimana. Saya percaya, suatu saat nanti kami
bertemu kembali. Semoga benar-benar bisa menjadi teman lagi, sama seperti
saat-saat zaman sekolah dasar dulu, kami jajan bareng, taruhan, pinjem gopek, main
di padang ilalang, iseng pencet bel rumah orang, ngasal bikin sambal rujak buat
adek-adek kelas, minta ongkos pulang sama guru, atau bahkan jalan kaki bareng
karena tidak punya uang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar