“Tanggung jawab adalah satu - satunya
definisi cinta yang sejauh ini dapat kupercaya. Saat kau belum siap bertanggung
jawab menjaga kebahagiaan seseorang, jangan memasukkannya ke dalam hidupmu.” – Azure Azalea
Postingan ini
akan menjadi postingan pertama dalam label terbaru blog saya, “Love story”.
Kisah yang akan saya ceritakan adalah kisah cinta seorang pilot dengan wanita
pujaan hatinya. Saya tahu bahwa di luar sana ada banyak jutaan kisah cinta yang
menyentuh hati, tetapi biarkan kisah cinta pilot yang satu ini menjadi kisah
pertama yang saya tuliskan kembali setelah sebelumnya seseorang juga sudah
pernah menuliskannya serta sudah pernah dibagikan dan direpost oleh puluhan
orang di jagat sosial media.
About my father.
He is an extraordinary man in many ways. But
I want to share story about his extraordinary Love and Loyalty to my mother.
Papa itu anak petani, anak ke-11 dari 13
bersaudara. Dengan segala keterbatasannya. Tiap hari makan seadanya itu bukan
karena lagi diet. Emang benar-benar kondisi keuangan keluarganya berat.
Sedangkan mama itu anak tentara, cukup berada, segalanya cukup.
Pertama kali papa liat mama itu waktu papa
kelas 5 SD, sore-sore lagi bantu ayahnya di sawah, dia lagi duduk di atas
kerbau (ngangon munding) mama lewat sama bapak ibunya, naik delman. Imut,
cantik, rambutnya dipitain. Papa terpana.
Setiap sore anak kelas 5 SD ini jadi rajin
ke sawah, berharap bisa melihat lagi mama. Dan benar seminggu sekali mama
lewat. Papa sampai masuk perguruan pencak silat di jalur delman mama lewat. 3
tahun sampai dia SMP gitu saja kerjannya, tiap minggu menunggu mama lewat.
Tanpa sekalipun berani mengajak kenalan.
Kelas 2 SMP, papa terpaksa keluar dari Tasik
karena harus ikut kakaknya, kondisi
ayahnya tidak mungkin menyekolahkan. 2 tahun tidak bertemu mama, saat kelas 2
SMA, papa kembali ke Tasik karena dapat kabar ayahnya kena serangan jantung
lalu meninggal. Dan dapat kabar juga bahwa mama sudah tidak di Tasik, SMA-nya
di Jakarta. (Ada emote nangisnya di bagian ini)
Kelas 3 SMA, mama lebaran ke Tasik dan untuk
kali ini papa berani menyapa dan kenalan. Mama cuma nanya, “nanti kalau lulus
SMA mau kemana?” papa jawab “Kalau enggak ke kedokteran ya pilot.” Terus mama
bilang, “wah, aku suka, itu dua profesi yang dipanggil sesuai profesinya.”
Kalimat itu nancep banget.
Mama waktu SMA dan kuliah itu cantik pakai
banget. Kapten tim basket SMA-nya. Dan pereli waktu umur 20-an, jago banget
nyetirnya, juara 2 balap reli DKI. Primadona di sekolah dan kampusnya. Saya
liat foto-foto mama jaman itu, terus mikir ini sih saingan papa pasti banyak
banget. Terus pas liat foto papa waktu SMA, dalam hati bilang, berat pap,
berat.
Papa enggak peduli, langsung dia lihat
gimana cara masuk ke kedokteran atau pilot. Pas liat harga, kedokteran mahal
sekali, masuk sekolah pilot gratis. Papa daftar masuk. Saingannya 3000 orang,
keterima cuma 100. Papa mati-matian belajar, di otaknya cuma ada mama.
Dan benar, tahun itu papa berhasil masuk
sekolah pilot. Mengalahkan ribuan peserta lain. Bukan itu saja, papa pun lulus
dengan predikat terbaik dan langsung diterima oleh Garuda.
Dan selama berjuang di sekolah pilot curug
itu, papa enggak ketemu mama sama sekali. Enggak tahu kabar mama sama sekali. Jangan
bayangin ada sosmed terus bisa stalking. Tapi selama enggak ketemu itu, enggak
sekalipun papa mengalihkan pandangannya ke perempuan lain.
Setelah papa pindah ke Jakarta. 2 tahun papa
nyariin mama, karena benar-benar enggak tahu dimana tinggalnya. Mama sudah
kerja, enggak tinggal lagi sama orangtuanya. Papa nanya-nanya ke saudara siapa
yang kira-kira tahu dimana mama. Cerita
papa nyari-nyari ini saya dapat dari om saya dan teman-teman pilot seangkatan
papa.
Aku mikir, ya ampun, pilot, sudah 2 tahun
kerja, terbang sama pramugari-pramugari setiap hari keluar kota, ini masih
repot nyari mama yang entah dimana dan enggak tahu kabarnya, is that true love?
Suatu hari saat sedang terbang di ketinggian
30ribu kaki, papa operan sama co-pilotnya, agar bisa ke belakang mengecek kondisi
penumpang dan lain-lain. Saat keluar pintu kokpit, papa lihat di tempat duduk
penumpang sebelah kiri, ada wanita cantik banget, pakai kacamata hitam, dan
formal dress rapi lagi asik ngeliatin pemandangan di luar jendela. Itu mama.
Enggak kebayang gimana perasaannya saat itu. undescribeable pasti. Kebahagiaan
yang meluap-luap. Tapi dia masih bisa sok cool nyapa mama. Dan dia masih bisa
ingat kalau dia masih harus mendaratkan pesawatnya. Sejak saat itu mama tidak
papa lepas. Telfon, surat-surat, semua alat yang ada di jaman itu digunakan
untuk komunikasinya. Sampai saat papa mau melamar, mama masuk rumah sakit.
Mama didiagnosis kena kanker kelenjar getah
bening dan divonis sama dokternya kalau umurnya tinggal 6 bulan lagi. Mam
devastated to hear the news, papa stay cool as cool as cucumber. Mama
nangis-nangis minta papa nyari perempuan lain yang enggak bakal papa turutin.
Papa minta mama ikuti semua prosedur, jangan nyerah, disuruh operasi, ikutin,
disuruh kemo, ikutin. Mama nurut. Mama mau dioperasi dan mau mengikuti semua
prosedur. “Neng, akang yakin neng pasti sembuh, neng kuat. Akang nya’ah pisan
ka eneng.” Itu aja yang diucapin papa setiap hari. Tiap hari. Dan sampai
sekarang bekas operasinya pun masih ada.
Waktu itu, setelah 6 bulan masa vonis lewat,
mama masih hidup, papa bulat hati langsung lamar saat itu juga. Benar-benar di
tengah ketidakpastian umur, his love wins. Beberapa bulan kemudian mereka
berdua menikah.
Cinta nunggu Rangga 12 tahun untuk dapat
pacaran kembali. Tita nunggu Adit 14 tahun untuk akhirnya dilamar. Papa nunggu
mama 20 tahun untuk akhirnya menikah, tapi, buat papa nikahin mama bukan akhir
cerita, ini justru baru permulaan. Cintanya ke mama bahkan berasa oleh kami
berdua anaknya, kami sangat menyadari bahwa orang paling penting di
kehidupannya papa ya mama, baru anak-anak.
Saya sampai merasa kalau Romeo dan Juliet
enggak meninggal muda, terus menikah terus punya anak, jadinya ya mereka berdua
itu. cintanya nyata, sering banget kami berdua dengar mama ketawa lepas dibercandain
papa di kamarnya. Sampai kedengeran ke kamar anak-anaknya. Dan kami anak-anaknya
juga enggak pernah lihat dan dengar papa bicara nada tinggi ke mama.
Cintanya juga tidak lekang oleh waktu, papa
itu romantisnya ampun deh, waktu itu pernah beliau pulang terbang dari
Amsterdam, sampai rumah dia bawa koper gede buanget, yang satu tahu itu pasti
baru karena saya belum pernah lihat. Saya sama adek saya salim ke beliau, terus
mama juga salim. Terus papa bilang, “oya mam, itu papa bawain sesuatu buat
mama, ada di dalam koper, buka deh.” Terus mama buka, pas dibuka, itu satu
koper gede, isinya bunga semua, bunga sekoper!! Mama langsung lumer, meleleh.
Ini bukan kejadian anak umur 20-an. Ini bapak-bapak umur mau pensiun.
Saya banyak dengar cerita dari teman-teman tentang
kehidupan gelap seorang pilot, tapi saya malah dengar dari banyak teman papa
bilang, “Gi, bapakmu itu bukan pilot, dia sih ustadz.” “Gi, kamu lihat itu
tembok? Bapakmu itu lebih lurus dari itu.”
Teman saya dokter setempat kerja, malah
pernah mergokin mereka berdua lagi di starbucks, buka laptop, lihat-lihat foto,
ketawa-ketawa bareng. Pegangan tangan, benar-benar kayak orang pacaran. Kalau
ada teman papa nanya, “Am, kamu ga kepikiran pengen poligami? Secara keuangan
kamu mampu, secara pribadi kamu juga punya kemampuan untuk adil.” Jawaban papa
selalu sama, “saya mau ikutin sunnah Rasul, yang tidak menikahi siapapun selama
bersama bunda Khadijah, sampai maut memisahkan.”
Ini adalah salah satu pesan beliau kepada
saya sebelum menikah, “A, definisi laki-laki itu tanggung jawab, kalau enggak
bisa tanggung jawab enggak usah jadi laki-laki. Terserah mau jadi apa yang
pasti bukan laki-laki.”
“I gree.
Because, being deeply loved by someone gives you strength,
While loving someone deeply gives you courage to be a better person.
Jadi orang yang lebih baik, baik dari segi fisik, mental, skill atau
finansial.” - @GiaPratamaMD
“When someone say to me that “cinta? Emang cinta bisa buat makan?” well,
cinta lebih daripada bisa buat makan. Tapi bisa buat kamu bertahan hidup.” - @hediarizki
“Moralnya adalah jangan salahkan mereka yang memang menjadikan orang lain
motivasi dalam menjalani harinya.
Yang salah, kalau kamu bersama orang yang malah membuatmu terpuruk.
Membuat kamu merasa kamu harus menjadi produk hasil fantasi dia.
Jangan salahkan perasaannya karena ternyata Tuhan memang menciptakan
manusia berpasang-pasangan.
Anyway, aku pribadi percaya kalau cinta adalah media. Sama seperti media
lainnya harus bisa dikendalikan. Semua yang berlebihan, memang tidak baik pada
akhirnya.” -
@hasquita
Jadi, semua hal
yang kita niatkan memang benar niatnya karena Allah, mencari keridhoan-Nya.
Cinta hanyalah media yang perlu kita kendalikan. Cinta yang benar dan baik akan
membawa si empunya pada jalan yang benar dan hal-hal yang baik. Semoga
bermanfaat!
*Tulisan ini
dipublikasikan setelah mendapat persetujuan dari Dr. Gia Pratama, anak pertama
pilot Amir Hamzah dan istrinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar