29/03/18

Sehat dan Syukur


Tidak ada hidup yang sempurna. Begitu juga dengan kesehatan yang dimiliki manusia, begitu pikir saya. Mesti ada saja riwayat penyakit yang dideritanya.

Terkadang begitu mudahnya kita menilai kehidupan seseorang yang begitu bahagia dan sempurna tanpa pernah kita berpikir bahwa setiap manusia memiliki sisi gelap atau kekurangan dalam hidup mereka.

Saya bertemu dengan beberapa orang yang membuat saya tergerak untuk menulis kisah mereka di sini. Orang pertama, sebut saja Mbak Eka. Beliau sudah bekerja, tetapi urusan di luar pekerjaannya juga banyak, orangnya senang membantu, intinya urusannya banyak tetapi betapa terkejutnya saya ketika saya tahu ia tinggal di Jogja bagian cukup agak dalam, dan sehari-hari ke kantornya serta untuk urusan lainnya dia menggunakan jasa ojek online, yang saya pikir pasti banyak sekali perbulannya dana yang ia habiskan untuk ongkos transportasi. “enak rumah jauh dan naik ojek, bisa berangan-angan dulu selama di perjalanan.” Ujarnya sambil cengar cengir. Nyatanya ia bercerita bahwa ia sebenarnya bisa saja membawa mobil karena ia bisa menyetir tetapi Jogja yang padat membuatnya lebih nyaman naik ojek online. Ia tidak membawa motor karena trauma pernah jatuh. Tuh, kan, kita tidak pernah tahu kenangan dan pengalaman hidup seseorang.

Orang kedua, sebut saja mbak Ratna, ia seorang dosen muda, belum menikah. Sehari-hari menggunakan jasa taksi online yang juga jika dipikir-pikir ia juga menghabiskan ongkos transportasi yang tidak sedikit, padahal setahu saya biasanya ia menggunakan mobil. Ternyata ia bercerita bahwa ia sempat kecelakaan dan membuat diantara jari tangannya harus diberi pen. Alhasil karena kondisi tangannya yang seperti itu membuatnya tak bisa menyetir untuk sementara waktu.

Orang yang ketiga adalah paman saya. Ia sehat, bisa berjalan, terlihat normal, tetapi ternyata ia tak bisa melakukan ibadah shalat dengan gerakan yang biasa dilakukan orang-orang normal lainnya. Sebab ketika muda dulu, ia pernah terjatuh saat bermain basket, yang membuat pangkal paha hingga lutut dan ke bagian kakinya terkena luka dalam yang cukup serius dan membuatnya harus menggunakan pen yang cukup panjang. Alhasil saat shalat, ia harus duduk sambil meluruskan kakinya.

Orang keempat, adalah kakek saya. Usianya kini sudah memasuki 80 tahun. Selama ini beliau masyaaAllah alhamdulillah sehat walafiat. Setahu saya beliau sangat menjaga gaya hidupnya, tidak makan sembarangan, pola makannya diatur, rajin berolahraga bahkan waktu masih berusia 60 tahun beliau setiap pagi jogging dengan jarak yang sangat jauh bahkan setahu saya hingga sampai ke arah jalan menuju Candi Borobudur, waktu itu juga masih kuat bawa motor untuk menjemput saya di ujung jalan, masih kuat mengurus kebun, mencabut rumput, atau sekedar menyapu dan mengepel rumah. Hingga suatu hari beliau terjatuh saat shalat dan membuat tulangnya bergeser. Karena sudah tua, sangat berisiko untuk dilakukan operasi, maka tidak dilakukan operasi itu. Saya sedih, sekarang kakek saya sehari-hari hanya bisa berbaring di atas tempat tidurnya. Yah, nangis lagi, deh.

Nah, orang terakhir adalah teman saya yang seorang arsitek. Saya lumayan berdecak kagum dengan suasana kontrakannya yang mungkin memang sederhana dan agak berantakan tetapi nyaman sekali untuk ditinggali dan dipakai mengerjakan tugas. Kami tertarik pada sebuah note yang tertempel di kulkasnya, lantas kami bertanya siapa diantara penghuni kontrakan di sini yang pantangan makannya banyak sekali list-nya, dan rata-rata makanan yang enak semua. Terus dia nyengir dan mengaku bahwa itu pantangan milik dia meski katanya tetap saja ia langgar.

Ia lalu bercerita akhir tahun lalu baru saja selesai operasi. Saya terkejut karena saya tahu ia arsitek yang bekerja dari Senin-Jumat dan urusannya juga cukup banyak. Selama ini setiap bertemu dengannya, ia terlihat baik-baik saja.  Ternyata ia baru saja operasi tumor, meski jinak tetapi tumornya ada beberapa.

“Ternyata operasi itu tidak sesakit yang kubayangkan, waktu bangun, ternyata sudah selesai, ternyata begitu doang.” Katanya sambil ketawa.

Saya sendiri sedang berencana melakukan suatu pemeriksaan tetapi sangat takut jika ternyata berujung pada kamar operasi. Namun, setelah mendengar cerita teman saya, jadi sedikit lega. Tapi, tetap merinding, deh.

Terungkap sebuah fakta juga bahwa memang akhir tahun kemarin ig story nya terlihat bahwa ia sedang liburan keliling Eropa, waktu itu saya mengirim pesan “sama siapa?” dia jawab, “sendiri.” wow, sehebat itu ya menjadi orang dewasa! Saya memang terpaut beberapa tahun dari dia. Saya jadi berpikir apakah nanti saya bisa sehebat itu? semandiri itu? sebisa itu keililing dunia sendirian?

Jadi, dia keliling Eropa pasca dia operasi. Pemulihannya luarbiasa cepat. Mungkin dia juga sudah merencanakan untuk liburan pasca operasi. Luarbiasa minta ampun, kalau bagi saya.

Karena dia seorang arsitek, maka story-nya berfaedah sekali. Dia mengupload foto-foto bangunan megah di Eropa. Seperti yang kita ketahui bahwa Eropa terkenal dengan banyaknya arsitektur bersejarah yang mereka miliki.  Selain itu, ia juga mengupload berbagai transportasi yang ia gunakan selama bepergian di sana. Keren banget sih kalau menurut saya. Mungkin karena orangnya tidak neko-neko, jadi saya selalu senang-senang saja melihat ig story-nya.

“Kok berani?” Tanya saya, konyol.
“Kan sudah biasa.” Yang jawab ini malah teman saya yang satunya.

Yang ditanya hanya cengar-cengir. Dia juga sempat mengungkit-ungkit pernah meditasi, yang saya pikir meditasinya sepertinya di luar negeri. Ah, keren. Dia juga bilang, selama meditasi 2 tahun itu, sebenarnya tumornya sempat mengecil bahkan hampir hilang, tetapi setelah itu membesar. Kata dia, mungkin akibat gaya hidupnya yang kurang sehat, makan sembarang makanan dan sering begadang.

Orangnya sederhana sekali, yang paling kentara adalah sepertinya dia no-make up. Saya bertemu  dengannya di beberapa acara, tetapi ia tetap datang dengan gayanya yang santai tanpa riasan, padahal dalam acara itu ia termasuk orang penting. Orangnya tidak suka merepotkan orang lain dan mau bertanggungjawab. Ah, saya selalu senang bertemu dengan orang-orang dewasa yang benar-benar dewasa. Mereka selalu punya cerita dan sisi hidup yang menarik. Yang tentunya membuat orang di sekitarnya menjadi terinspirasi dan lebih banyak mengucap syukur. Terima kasih!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar