Tidak ada hidup
yang sempurna. Begitu juga dengan kesehatan yang dimiliki manusia, begitu pikir
saya. Mesti ada saja riwayat penyakit yang dideritanya.
Terkadang begitu
mudahnya kita menilai kehidupan seseorang yang begitu bahagia dan sempurna
tanpa pernah kita berpikir bahwa setiap manusia memiliki sisi gelap atau
kekurangan dalam hidup mereka.
Saya bertemu
dengan beberapa orang yang membuat saya tergerak untuk menulis kisah mereka di
sini. Orang pertama, sebut saja Mbak Eka. Beliau sudah bekerja, tetapi urusan
di luar pekerjaannya juga banyak, orangnya senang membantu, intinya urusannya
banyak tetapi betapa terkejutnya saya ketika saya tahu ia tinggal di Jogja
bagian cukup agak dalam, dan sehari-hari ke kantornya serta untuk urusan
lainnya dia menggunakan jasa ojek online, yang saya pikir pasti banyak sekali
perbulannya dana yang ia habiskan untuk ongkos transportasi. “enak rumah jauh
dan naik ojek, bisa berangan-angan dulu selama di perjalanan.” Ujarnya sambil
cengar cengir. Nyatanya ia bercerita bahwa ia sebenarnya bisa saja membawa
mobil karena ia bisa menyetir tetapi Jogja yang padat membuatnya lebih nyaman
naik ojek online. Ia tidak membawa motor karena trauma pernah jatuh. Tuh, kan,
kita tidak pernah tahu kenangan dan pengalaman hidup seseorang.
Orang kedua,
sebut saja mbak Ratna, ia seorang dosen muda, belum menikah. Sehari-hari
menggunakan jasa taksi online yang juga jika dipikir-pikir ia juga menghabiskan
ongkos transportasi yang tidak sedikit, padahal setahu saya biasanya ia
menggunakan mobil. Ternyata ia bercerita bahwa ia sempat kecelakaan dan membuat
diantara jari tangannya harus diberi pen. Alhasil karena kondisi tangannya yang
seperti itu membuatnya tak bisa menyetir untuk sementara waktu.
Orang yang
ketiga adalah paman saya. Ia sehat, bisa berjalan, terlihat normal, tetapi
ternyata ia tak bisa melakukan ibadah shalat dengan gerakan yang biasa
dilakukan orang-orang normal lainnya. Sebab ketika muda dulu, ia pernah
terjatuh saat bermain basket, yang membuat pangkal paha hingga lutut dan ke
bagian kakinya terkena luka dalam yang cukup serius dan membuatnya harus
menggunakan pen yang cukup panjang. Alhasil saat shalat, ia harus duduk sambil
meluruskan kakinya.
Orang keempat,
adalah kakek saya. Usianya kini sudah memasuki 80 tahun. Selama ini beliau
masyaaAllah alhamdulillah sehat walafiat. Setahu saya beliau sangat menjaga
gaya hidupnya, tidak makan sembarangan, pola makannya diatur, rajin berolahraga
bahkan waktu masih berusia 60 tahun beliau setiap pagi jogging dengan jarak
yang sangat jauh bahkan setahu saya hingga sampai ke arah jalan menuju Candi
Borobudur, waktu itu juga masih kuat bawa motor untuk menjemput saya di ujung
jalan, masih kuat mengurus kebun, mencabut rumput, atau sekedar menyapu dan
mengepel rumah. Hingga suatu hari beliau terjatuh saat shalat dan membuat
tulangnya bergeser. Karena sudah tua, sangat berisiko untuk dilakukan operasi,
maka tidak dilakukan operasi itu. Saya sedih, sekarang kakek saya sehari-hari
hanya bisa berbaring di atas tempat tidurnya. Yah, nangis lagi, deh.
Nah, orang
terakhir adalah teman saya yang seorang arsitek. Saya lumayan berdecak kagum
dengan suasana kontrakannya yang mungkin memang sederhana dan agak berantakan
tetapi nyaman sekali untuk ditinggali dan dipakai mengerjakan tugas. Kami
tertarik pada sebuah note yang tertempel di kulkasnya, lantas kami bertanya
siapa diantara penghuni kontrakan di sini yang pantangan makannya banyak sekali
list-nya, dan rata-rata makanan yang enak semua. Terus dia nyengir dan mengaku
bahwa itu pantangan milik dia meski katanya tetap saja ia langgar.
Ia lalu
bercerita akhir tahun lalu baru saja selesai operasi. Saya terkejut karena saya
tahu ia arsitek yang bekerja dari Senin-Jumat dan urusannya juga cukup banyak.
Selama ini setiap bertemu dengannya, ia terlihat baik-baik saja. Ternyata ia baru saja operasi tumor, meski
jinak tetapi tumornya ada beberapa.
“Ternyata
operasi itu tidak sesakit yang kubayangkan, waktu bangun, ternyata sudah
selesai, ternyata begitu doang.” Katanya sambil ketawa.
Saya sendiri
sedang berencana melakukan suatu pemeriksaan tetapi sangat takut jika ternyata
berujung pada kamar operasi. Namun, setelah mendengar cerita teman saya, jadi
sedikit lega. Tapi, tetap merinding, deh.
Terungkap sebuah
fakta juga bahwa memang akhir tahun kemarin ig story nya terlihat bahwa ia
sedang liburan keliling Eropa, waktu itu saya mengirim pesan “sama siapa?” dia
jawab, “sendiri.” wow, sehebat itu ya menjadi orang dewasa! Saya memang terpaut
beberapa tahun dari dia. Saya jadi berpikir apakah nanti saya bisa sehebat itu?
semandiri itu? sebisa itu keililing dunia sendirian?
Jadi, dia
keliling Eropa pasca dia operasi. Pemulihannya luarbiasa cepat. Mungkin dia
juga sudah merencanakan untuk liburan pasca operasi. Luarbiasa minta ampun,
kalau bagi saya.
Karena dia
seorang arsitek, maka story-nya berfaedah sekali. Dia mengupload foto-foto
bangunan megah di Eropa. Seperti yang kita ketahui bahwa Eropa terkenal dengan
banyaknya arsitektur bersejarah yang mereka miliki. Selain itu, ia juga mengupload berbagai
transportasi yang ia gunakan selama bepergian di sana. Keren banget sih kalau
menurut saya. Mungkin karena orangnya tidak neko-neko, jadi saya selalu
senang-senang saja melihat ig story-nya.
“Kok berani?” Tanya
saya, konyol.
“Kan sudah
biasa.” Yang jawab ini malah teman saya yang satunya.
Yang ditanya
hanya cengar-cengir. Dia juga sempat mengungkit-ungkit pernah meditasi, yang
saya pikir meditasinya sepertinya di luar negeri. Ah, keren. Dia juga bilang,
selama meditasi 2 tahun itu, sebenarnya tumornya sempat mengecil bahkan hampir
hilang, tetapi setelah itu membesar. Kata dia, mungkin akibat gaya hidupnya
yang kurang sehat, makan sembarang makanan dan sering begadang.
Orangnya sederhana
sekali, yang paling kentara adalah sepertinya dia no-make up. Saya bertemu dengannya di beberapa acara, tetapi ia tetap
datang dengan gayanya yang santai tanpa riasan, padahal dalam acara itu ia
termasuk orang penting. Orangnya tidak suka merepotkan orang lain dan mau
bertanggungjawab. Ah, saya selalu senang bertemu dengan orang-orang dewasa yang
benar-benar dewasa. Mereka selalu punya cerita dan sisi hidup yang menarik.
Yang tentunya membuat orang di sekitarnya menjadi terinspirasi dan lebih banyak
mengucap syukur. Terima kasih!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar