Liburan tahun baru sempat diisi
dengan membaca sebuah buku yang bagus berjudul “Rumah Cinta Hasan al-Banna”
yang disusun oleh Muhammad Lili Nur Aulia, isinya tentang bagaimana Hasan al-Banna
membangun rumah tangganya dan bagaimana ia mendidik keluarganya. Salah satunya
ada pembahasan ketika Hasan al-Banna marah.
Pembahasan tersebut berada pada sub
bab “Tanamkan Solidaritas Terhadap Kondisi Dunia Islam”. Diceritakan ada sebuah
persitiwa yang paling membuat raut wajah Hasan al-Banna berubah karena memendam
kesedihan sekaligus kemarahan. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1948 ketika
pasukan al-Ikhwan terlibat dalam perang di Palestina.
Sana, seorang anak dari Hasan
al-Banna bercerita, “Ketika itu, aku takkan lupa selamanya seperti apa pandangan
mata ayah. Ibu bersama bibi dan nenekku berada dalam sebuah ruangan di rumah. Mereka
bersama-sama membuat berbagai kue untuk menyambut hari raya. Ayah memandang ibu
dan berkata, ‘Ya Ummu Wafa, apakah engkau akan tetap membuat roti, sedangkan
ada dua belas orang dari kader-kader al-Ikhwan yang gugur di Palestina..’
setelah itu, ayah meminta salah seorang pembantu kami untuk membereskan
peralatan roti dan kue, termasuk bahan bakunya. Ibuku tidak jadi meneruskan
pembuatan roti. Sejak hari itu, Ibu memang tidak pernah membuat roti lagi di
rumah. Ibu setidaknya pernah membuat biskuit, tetapi tidak pernah membuat roti,
bahkan sampai setelah ayah meningggal.”
Apa kabarnya kita yang setiap hari
dengan begitu mudahnya upload enak-enak di sosmed?
Rasanya jadi ingin menghukum diri
sediri dengan mengurangi main Instagram dulu sementara. Untuk saya, sosmed yang
satu itu yang benar-benar toxic untuk saya.
Kemarin, ketika saudara-saudara kita
di Jakarta terkena bencana banjir, saya malah bikin story enak-enak jalan-jalan
di Bandung, jajan es krim, rumput laut, kebab, baju, dan lain sebagainya.
Sebenarnya waktu mau posting itu
sempat mikir upload tidak, ya? Kayak tidak penting gitu, lho, tetapi ah orang-orang
lain juga selalu upload kebahagiaan mereka. Ya ampun! Ini tuh toxic banget sih
buat saya! Harusnya saya tidak ikut-ikut orang lain. Sosmed itu sudah kayak
penyakit, bikin kecanduan, bikin perasaan di hati jadi aneh-aneh banget, bikin
kuota jadi cepat habis juga!
Kadang, apa yang saya posting itu
juga menuai banyak prasangka yang salah dari netizen. Kemarin itu waktu pulang
ke Bandung, saya bikin story saat berboncengan dengan adik saya, perempuan pula.
Cuma emang dia pakai helm ayah saya dan jaketnya laki banget. Kemaren itu,
langit Bandungnya lagi enak banget, banyak pohon juga di sisi kiri kanan jalan,
dan tumben aja lagi sepi jalannya, padahal seringnya macet, makanya pengen
mengabadikan momen itu.
Selain itu, menanggapi berita World
War III yang menjadi trending topic di twitter selama beberapa hari pada awal
Januari, sepertinya kita memag harus berhenti bersenang-senang dalam artian
sampai berlebihan dan diuplod kemana-mana, apalagi memamerkan kemaksiatan. Apa
tidak malu kita dengan mereka yang setiap hari dapat ancaman tempat tinggalnya
dibom? Dikirim roket rudal? Dan lain sebagainya.
YaaAllah, maafkan kami.
Halo diriku, plis stop. Bersyukur bila
senang, bersedih secukupnya. Sudah plis, kurangi main sosmednya. Apalagi sampai
upload hal-hal secara berlebihan, ketawa-ketiwi. Sudahlah, jangan gitu. Tahan. Ayo,
pikirkan dan renungi apa yang terjadi di Irak, Afghanistan, Suriah, Palestina. Bila
setidaknya tidak mampu berbuat banyak, cukuplah hati bersimpati lewat sikap dan
tingkah laku kita.
Kalau kata Ustadz Adi Hidayat, “Janganlah
kita kasihan pada orang Palestina, justru harusnya kita mengasihani diri kita
sendiri. Orang palestina nyawanya cepat sekali diambil oleh Allah karena mereka
memang telah dipersiapkan untuk itu. Di sana, anak umur 5 tahun saja sudah
hafal Al-Qur’an, di sini kita umur 40 tahun saja masih terbata-bata membaca Al-Qur’an.”
“Just because it isn’t happening
here,
Doesn’t mean it isn’t happening.”
Berita tentang kedatangan perang III
di bumi ramai dibicarakan di dunia maya, meski begitu beritanya masih
simpang-siur. Tetapi, tidak ada salahnya kita berhati-hati karena kita tinggal
di bumi yang sama dengan orang-orang tersebut. Apa yang mengenai bumi, bisa mengenai
kita juga. Jangan sampai kita tuli terhadap isu nasional maupun internasional.
Toh, jika perang sungguh terjadi,
kita punya Allah, tempat untuk memasrahkan segala sesuatu.
Mari muhasabah diri nin,
BalasHapusYuk! :')
Hapus