Hari ini saya sendirian di sebuah
kamar hotel. Ayah saya sedang pergi ke suatu acara bersama rekan-rekannya, ibu
saya sedang menjadi wisatawan dan jalan-jalan dengan teman-temannya yang
kebetulan disopiri oleh kakak saya, sementara itu adik saya sedang mengadakan
meet up dan reuni kecil-kecilan dengan teman-teman lamanya di kota ini. Saya
memilih sendirian di kamar hotel, ingin banyak merenung. Terlalu banyak waktu
yang sia-sia di tahun ini, banyak momen yang sebenarnya berharga, tetapi tidak
berhasil dibuat bermakna. Tahun ini banyak ekspetasi yang terlalu tinggi
sehingga tak sampai dan menyebabkan kecewa hati. Tahun ini banyak perubahan
dalam hidup; rumah baru, tempat baru, orang baru, keluarga baru, teman-teman
baru, perjalanan pulang yang baru, kehilangan yang baru, namun dengan rasa duka
yang tetap sama sampai sekarang. Kita tidak pernah baik-baik saja ketika
kehilangan orang yang kita cinta.
Akan tetapi, sebenarnya saya yakin
tahun depan akan lebih banyak lagi perubahan yang terjadi. Akan lebih banyak
lagi gejolak perasaan yang beraneka ragam akan timbul. Saya harus mulai
bergerak dari sekarang. Karena saya tahu saya adalah pribadi yang mudah panik,
maka saya harus membuat persiapan untuk segala kemungkinan yang akan terjadi
dalam hidup saya.
Duh, sial! Saya ketiduran, dua jam
lebih! Benar kata ayah saya, hotel itu
tempat untuk tidur, ujarnya ketika melihat saya semalam pada jam tidur
masih memegang ponsel.
Saya bergegas mencuci muka. Lalu
membuka hordeng jendela lebar-lebar, merenung lagi. Alam ini indah betul, ya. Dari
sini semuanya terlihat tentram. Tak bisa dibayangkan bila ada meteorid (menurut
berita) yang sedang bergerak menuju bumi itu jatuh menabrak bumi. Pembahasan ini
berawal dari pembicaraan keluarga saya pada waktu itu tentang peristiwa
Ad-Dukhan yaitu bencana asap sebagai pertanda kiamat. Kabut asap panas yang bernama
Dukhan ini akan menyelimuti bumi selama 40 hari 40 malam. Seorang teman dari tante
saya, bahkan sekeluarga besarnya telah menyiapkan rumah di daerah pegunungan
untuk menghadapi bencana kabut asap tersebut. Katanya, dajjal hanya turun ke
kota-kota, bukan ke pelosok desa. Mereka bahkan telah menyiapkan persediaan
makanan dan peralatan seperti oksigen, masker dan lain sebagainya di rumah
tersebut. Terlepas dari kebenaran berita tersebut yang katanya akan tiba
sebentar lagi peristiwa tersebut, kita sebagai umat Muslim sudah seharusnya
meyakini peristiwa Hari Akhir dan tidak ada salahnya untuk mempersiapkan hal
tersebut.
Boooom! Dunia akan hancur pada Hari
Kiamat nanti. Semua yang kita punya, yang kita banggakan di dunia, semuanya
akan hilang. Semuanya hancur. Semua yang kita punya tidak bisa menolong kita,
kecuali amalan-amalan kita sendiri. Di kuburan kelak, Al-Qur’an yang kita
sering baca akan datang kepada kita untuk menerangi kuburan kita sebagai orang
yang sering membacanya. Di akhirat kelak, Nabi Muhammad SAW. juga akan
menyelamatkan kita kalau kita sering bershalawat untuknya. Di hari akhir nanti,
kita bakal dilindungi dari dajjal kalau kita hafal sepuluh ayat pertama dari surah
Al-Kahfi, atau bisa juga dengan berusaha mengucapkan doa perlindungan dajjal
setiap di penghujung shalat yaitu saat tasyahud akhir sebelum salam.
Tring.. tring… sebentar, ada
telepon. Oh, rupanya ibuku menelpon.
“Masih di hotel? Sendirian?”
“Iya, masih dimana?”
“Ini baru mau pulang dari Tebing Breksi.”
“Oh.”
“Kamu udah pernah ke sini, ya?”
“Belum.”
“Yaudah kapan-kapan, ya.”
“Iya. Belum ke Beringharjo?”
“Belum. Ini baru mau melucur ke
sana. Kenapa?”
“Nggak apa-apa, buruan. Jangan sampai
kesorean kayak kemaren jalanan Malioboro keburu ditutup.”
“Iya, ini mau ke sana. Mau nitip
apa?”
“Nggak, nggak nitip apa-apa.”
“Ya sudah.”
“Iya, hati-hati, ya..”
Sebelumnya, saya meminta maaf kepada
siapapun yang pernah membaca tulisan saya. Maaf, pembaca, saya bukan seorang
penceramah, saya cuma seorang penulis. Saya cuma ingin menuangkan pemikiran
yang meresahkan ini. Tetapi saya pikir, siapa saya ini? Kok merasa pantas untuk
menasihati orang lain? Astaghfirullahaladzim.
Maafkan saya, ya. Semoga saya bisa mempelajari juga apa yang pernah saya
tuliskan. Maafkan saya jika terlalu berlebihan saat menuliskan sesuatu. Segala nasihat
yang saya tulis, selalu saya utamakan untuk diri saya sendiri. Pikiran dan hati
saya harus mengingat bahwa jemari-jemari diri ini pernah menuliskan nasihat ini
dan itu.
Saya cuma takut, sungguh takut.
Ketika sunyi mungkin saya ketakutan, tetapi ketika kehidupan dunia mulai
mengganggu, kemudian saya lupa dengan ketakutan itu. Kelupaan itulah yang membuat
saya kemudian terlena kembali, sibuk memikirkan dunia. Jadi, tolong saling menasihati,
ya.
Bukan, bukan saya merasa lebih baik,
memikirkan hal ini saja tidak membuat saya seolah terlihat eksklusif. Kalau
menurut kalian, pemikiran dan pembahasan ini terlalu berat, ya sudah tidak
apa-apa. Kalau menurut kalian hal-hal berat seperti ini tidak perlu dipikirkan,
ya sudah tidak apa-apa, tetapi, menurut saya, jika kita tidak memikirkannya,
kita tidak terpacu untuk melakukan perubahan besar dan baik dalam hidup kita. Bisa
jadi kita tidak terpacu dalam memperbaiki shalat kita, niat kita, atau amalan
kita yang lainnya.
Perubahan itu bisa dimulai dari hal
yang sederhana, seperti mengatur ulang jam tidur, mengubah kebiasaan buruk
begadang, kenapa saya bilang itu buruk? Ya, karena itu tidak baik buat tubuh
kita, yang seharusnya jam malam dipakai untuk tidur, malah digunakan untuk hal
lain.
Mengatur ulang jam tidur lebih cepat
berharap esok subuh tak kesiangan. Syukur-syukur masih ada waktu untuk shalat
malam. Saya akui, shalat malam itu luarbiasa beratnya ya untuk bangun. Apa
jangan-jangan kita kebanyakan dosa? Dosa dan maksiat bisa menjadi sebab
sulitnya kita untuk tergerak hatinya untuk bangun shalat malam. Dulu, kalau
saya susah bangun, ibu saya suka bilang,”Susah banget sih bangunnya, biasanya
kayak gini tuh gara-gara kebanyakan dosa. Kamu habis ngapain sih.” Gara-gara
diomongin begitu, langsung bangun ambil wudhu biar tidak dikira aneh-aneh di
luar, padahal emang tidak melakukan apa-apa juga. Tetapi, sumber dosa dan
maksiat emang banyak dan kita suka tidak menyadarinya. Astaghfirullahaladzim. Kadang, kita merasa tidak apa-apa saja,
padahal ternyata itu sudah dihukumi dosa.
Kenapa kita begitu mudah ya
melakukan dosa? Ah, namanya juga manusia.
Bukan, bukan seperti itu. Maksud saya, berarti ada yang salah nih dari diri
kita apabila memandang dosa sebagai hal yang biasa. Ingat ceramahnya Ustadz Adi
Hidayat. Misal, kita masih suka menonton video yang tidak baik, tetapi kok kita
masih mau menonton video itu padahal sudah tahu itu tidak baik? Ya berarti ada
yang salah sama diri kita, sama ibadah ita, shalat kita, karena kalau orang
yang ibadahnya benar, hatinya akan mengingkari jika ia melihat hal yang tidak
baik. Dia akan resah dan tidak jadi melakukan perbuatan tidak baik tersebut.
Sekarang ini ingin fokus pada
keinginan-keinginan sederhana saja, seperti memperbanyak waktu berkumpul dengan
keluarga karena harta yang paling berharga adalah keluarga, yang mau menerima
kita apa adanya adalah keluarga, yang tahu baik buruknya kita adalah keluarga.
Sekarang ini, ingin lebih selektif lagi dalam memilih kegiatan seperti
mempertimbangkan untuk meninggalkan kegiatan yang sekiranya kurang bermanfaat,
lalu ingin segera mennyelesaikan urusan duniawi seperti membayar hutang, entah
hutang materi, ilmu, pertemuan, atau keinginan-keinginan.
//Lt.3 Hotel Tentrem Yogyakarta, 8
November 2019//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar