13/11/19

Renungan Menjelang Akhir Zaman


Hari ini saya sendirian di sebuah kamar hotel. Ayah saya sedang pergi ke suatu acara bersama rekan-rekannya, ibu saya sedang menjadi wisatawan dan jalan-jalan dengan teman-temannya yang kebetulan disopiri oleh kakak saya, sementara itu adik saya sedang mengadakan meet up dan reuni kecil-kecilan dengan teman-teman lamanya di kota ini. Saya memilih sendirian di kamar hotel, ingin banyak merenung. Terlalu banyak waktu yang sia-sia di tahun ini, banyak momen yang sebenarnya berharga, tetapi tidak berhasil dibuat bermakna. Tahun ini banyak ekspetasi yang terlalu tinggi sehingga tak sampai dan menyebabkan kecewa hati. Tahun ini banyak perubahan dalam hidup; rumah baru, tempat baru, orang baru, keluarga baru, teman-teman baru, perjalanan pulang yang baru, kehilangan yang baru, namun dengan rasa duka yang tetap sama sampai sekarang. Kita tidak pernah baik-baik saja ketika kehilangan orang yang kita cinta.

Akan tetapi, sebenarnya saya yakin tahun depan akan lebih banyak lagi perubahan yang terjadi. Akan lebih banyak lagi gejolak perasaan yang beraneka ragam akan timbul. Saya harus mulai bergerak dari sekarang. Karena saya tahu saya adalah pribadi yang mudah panik, maka saya harus membuat persiapan untuk segala kemungkinan yang akan terjadi dalam hidup saya.

Duh, sial! Saya ketiduran, dua jam lebih! Benar kata ayah saya, hotel itu tempat untuk tidur, ujarnya ketika melihat saya semalam pada jam tidur masih memegang ponsel.

Saya bergegas mencuci muka. Lalu membuka hordeng jendela lebar-lebar, merenung lagi. Alam ini indah betul, ya. Dari sini semuanya terlihat tentram. Tak bisa dibayangkan bila ada meteorid (menurut berita) yang sedang bergerak menuju bumi itu jatuh menabrak bumi. Pembahasan ini berawal dari pembicaraan keluarga saya pada waktu itu tentang peristiwa Ad-Dukhan yaitu bencana asap sebagai pertanda kiamat. Kabut asap panas yang bernama Dukhan ini akan menyelimuti bumi selama 40 hari 40 malam. Seorang teman dari tante saya, bahkan sekeluarga besarnya telah menyiapkan rumah di daerah pegunungan untuk menghadapi bencana kabut asap tersebut. Katanya, dajjal hanya turun ke kota-kota, bukan ke pelosok desa. Mereka bahkan telah menyiapkan persediaan makanan dan peralatan seperti oksigen, masker dan lain sebagainya di rumah tersebut. Terlepas dari kebenaran berita tersebut yang katanya akan tiba sebentar lagi peristiwa tersebut, kita sebagai umat Muslim sudah seharusnya meyakini peristiwa Hari Akhir dan tidak ada salahnya untuk mempersiapkan hal tersebut.

Boooom! Dunia akan hancur pada Hari Kiamat nanti. Semua yang kita punya, yang kita banggakan di dunia, semuanya akan hilang. Semuanya hancur. Semua yang kita punya tidak bisa menolong kita, kecuali amalan-amalan kita sendiri. Di kuburan kelak, Al-Qur’an yang kita sering baca akan datang kepada kita untuk menerangi kuburan kita sebagai orang yang sering membacanya. Di akhirat kelak, Nabi Muhammad SAW. juga akan menyelamatkan kita kalau kita sering bershalawat untuknya. Di hari akhir nanti, kita bakal dilindungi dari dajjal kalau kita hafal sepuluh ayat pertama dari surah Al-Kahfi, atau bisa juga dengan berusaha mengucapkan doa perlindungan dajjal setiap di penghujung shalat yaitu saat tasyahud akhir sebelum salam.

Tring.. tring… sebentar, ada telepon. Oh, rupanya ibuku menelpon.

“Masih di hotel? Sendirian?”
“Iya, masih dimana?”
“Ini baru mau pulang dari Tebing Breksi.”
“Oh.”
“Kamu udah pernah ke sini, ya?”
“Belum.”
“Yaudah kapan-kapan, ya.”
“Iya. Belum ke Beringharjo?”
“Belum. Ini baru mau melucur ke sana. Kenapa?”
“Nggak apa-apa, buruan. Jangan sampai kesorean kayak kemaren jalanan Malioboro keburu ditutup.”
“Iya, ini mau ke sana. Mau nitip apa?”
“Nggak, nggak nitip apa-apa.”
“Ya sudah.”
“Iya, hati-hati, ya..”

Sebelumnya, saya meminta maaf kepada siapapun yang pernah membaca tulisan saya. Maaf, pembaca, saya bukan seorang penceramah, saya cuma seorang penulis. Saya cuma ingin menuangkan pemikiran yang meresahkan ini. Tetapi saya pikir, siapa saya ini? Kok merasa pantas untuk menasihati orang lain? Astaghfirullahaladzim. Maafkan saya, ya. Semoga saya bisa mempelajari juga apa yang pernah saya tuliskan. Maafkan saya jika terlalu berlebihan saat menuliskan sesuatu. Segala nasihat yang saya tulis, selalu saya utamakan untuk diri saya sendiri. Pikiran dan hati saya harus mengingat bahwa jemari-jemari diri ini pernah menuliskan nasihat ini dan itu.

Saya cuma takut, sungguh takut. Ketika sunyi mungkin saya ketakutan, tetapi ketika kehidupan dunia mulai mengganggu, kemudian saya lupa dengan ketakutan itu. Kelupaan itulah yang membuat saya kemudian terlena kembali, sibuk memikirkan dunia. Jadi, tolong saling menasihati, ya.

Bukan, bukan saya merasa lebih baik, memikirkan hal ini saja tidak membuat saya seolah terlihat eksklusif. Kalau menurut kalian, pemikiran dan pembahasan ini terlalu berat, ya sudah tidak apa-apa. Kalau menurut kalian hal-hal berat seperti ini tidak perlu dipikirkan, ya sudah tidak apa-apa, tetapi, menurut saya, jika kita tidak memikirkannya, kita tidak terpacu untuk melakukan perubahan besar dan baik dalam hidup kita. Bisa jadi kita tidak terpacu dalam memperbaiki shalat kita, niat kita, atau amalan kita yang lainnya.

Perubahan itu bisa dimulai dari hal yang sederhana, seperti mengatur ulang jam tidur, mengubah kebiasaan buruk begadang, kenapa saya bilang itu buruk? Ya, karena itu tidak baik buat tubuh kita, yang seharusnya jam malam dipakai untuk tidur, malah digunakan untuk hal lain.

Mengatur ulang jam tidur lebih cepat berharap esok subuh tak kesiangan. Syukur-syukur masih ada waktu untuk shalat malam. Saya akui, shalat malam itu luarbiasa beratnya ya untuk bangun. Apa jangan-jangan kita kebanyakan dosa? Dosa dan maksiat bisa menjadi sebab sulitnya kita untuk tergerak hatinya untuk bangun shalat malam. Dulu, kalau saya susah bangun, ibu saya suka bilang,”Susah banget sih bangunnya, biasanya kayak gini tuh gara-gara kebanyakan dosa. Kamu habis ngapain sih.” Gara-gara diomongin begitu, langsung bangun ambil wudhu biar tidak dikira aneh-aneh di luar, padahal emang tidak melakukan apa-apa juga. Tetapi, sumber dosa dan maksiat emang banyak dan kita suka tidak menyadarinya. Astaghfirullahaladzim. Kadang, kita merasa tidak apa-apa saja, padahal ternyata itu sudah dihukumi dosa.

Kenapa kita begitu mudah ya melakukan dosa? Ah, namanya juga manusia. Bukan, bukan seperti itu. Maksud saya, berarti ada yang salah nih dari diri kita apabila memandang dosa sebagai hal yang biasa. Ingat ceramahnya Ustadz Adi Hidayat. Misal, kita masih suka menonton video yang tidak baik, tetapi kok kita masih mau menonton video itu padahal sudah tahu itu tidak baik? Ya berarti ada yang salah sama diri kita, sama ibadah ita, shalat kita, karena kalau orang yang ibadahnya benar, hatinya akan mengingkari jika ia melihat hal yang tidak baik. Dia akan resah dan tidak jadi melakukan perbuatan tidak baik tersebut.

Sekarang ini ingin fokus pada keinginan-keinginan sederhana saja, seperti memperbanyak waktu berkumpul dengan keluarga karena harta yang paling berharga adalah keluarga, yang mau menerima kita apa adanya adalah keluarga, yang tahu baik buruknya kita adalah keluarga. Sekarang ini, ingin lebih selektif lagi dalam memilih kegiatan seperti mempertimbangkan untuk meninggalkan kegiatan yang sekiranya kurang bermanfaat, lalu ingin segera mennyelesaikan urusan duniawi seperti membayar hutang, entah hutang materi, ilmu, pertemuan, atau keinginan-keinginan.


//Lt.3 Hotel Tentrem Yogyakarta, 8 November 2019//

Tidak ada komentar:

Posting Komentar