Selama beberapa waktu kuputuskan untuk beristirahat, berhari-hari menjadi
anak rumahan. Ketika di asrama dulu, begitu banyak waktu yang kuhabiskan tanpa
keduaorangtuaku. Rasanya sekarang ingin aku menggantinya. Aku ingin
berlama-lama di dalam rumah, menemani kedua orangtuaku, memperhatikan
gerak-gerik mereka, membantu mereka melakukan pekerjaan rumah, makan bersama
mereka, bercengkrama bersama mereka. Kupikir aku perlu melakukan ini hingga aku
betul-betul nanti pergi bekerja dan menemukan gadis itu. Setelah menikah nanti,
mungkin akan lebih banyak waktu yang kuhabiskan bersama pasanganku.
Hingga suatu pagi ibuku menyarankanku untuk pergi ke rumah pamanku.
“Pergilah ke rumah paman Sammy.”
“Ada apa di sana? Panen durian? Ikan-ikannya pada bertelor? Atau aku
disuruh menjadi kuda-kudaannya si Bima lagi?“
Ibu menggeplak kepalaku dengan serbet.
“Kau ini seperti masih bocah!”
“Aku? Seperti bocah? Ha ha ha..” kutirui nada bicara Anggun dalam iklan
shampoo itu, tetapi ibu malah menjitakku kali ini.
“Bicaralah kamu sama paman Sammy, tentang pekerjaan seperti apa yang kau
inginkan, atau tentang rumah seperti apa yang kau cari, katanya kau ingin punya
rumah sendiri, atau tanya paman Sammy mungkin ia punya kenalan perempuan yang
bisa kau lamar.”
“Soal rumah, darimana aku bisa membelinya? Pakai uang ibu? Hih.
Tabunganku belum cukup untuk membangun rumah idamanku. Tentang lamaran itu, ibu
mudah sekali mengatakannya, seolah itu seperti games cocok-cocokkan. Enggak
cocok, buang, cari yang lain. Hih.”
Ibu benar-benar membuatku berpikir kali ini.
“Ibu bosan melihatmu di rumah, sekali-sekali pergilah ke rumah Paman
Sammy. Kali aja benar lagi panen durian.”
“Ibu mencoba merayuku, ya?” selidikku.
Ibu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Jangan coba-coba merayuku, Bu. Cukup dia saja yang bisa merayu dan memenuhi
pikiranku, Bu.” Ujarku sambil spontan mencium pipi ibu.
Sesaat ibu terkejut dan tersenyum lebar.
“Dia siapa, Nak? Kamu sudah menemukannya?” ibu terlihat bahagia sekali.
Aku langsung berlari ke kamar tanpa menjawabnya.
Ibu masih sibuk bolak-balik dari dapur menuju ruang makan. Aku sudah
menyiapkan ranselku, ibu melihatku dan sedikit terkejut.
“Aku berangkat Bu! Ke rumah paman Sam, seperti permintaan ibu! Aku tahu
di sana akan ada ilmu dan pencerahan yang kudapatkan dari Paman Sam! Aku
mengerti perintah Ibu! Siap laksanakan!” ujarku dengan nada tegas.
Ibu membalas hormatku. Tetapi, langsung menarik tanganku, memintaku untuk
duduk di kursi, dan merayuku untuk memakan masakannya terlebih dahulu sebelum
pergi.
***
Kembali lagi aku dikejutkan oleh takdir. Tak ada bagian dari waktu yang
sia-sia, semuanya merupakan suatu proses untuk menuju pada sebuah tujuan yang
direncanakan oleh-Nya.
“Mengapa kau mengulang-ulang terus videoku yang itu?” Paman Sam
terheran-heran padaku. Aku tengah melihat-lihat video liburan paman Sam. Ia
senang sekali traveling, entah itu sendirian, berduaan dengan istrinya, bersama
keluarganya atau teman-temannya. Jelasnya, paman Sam akan selalu membuat banya
video dalam perjalananya. Seperti video kali ini, ia membuat banyak rekaman
gambar ketika melakukan perjalanan di Yogyakarta.
Tak sama seperti video-videonya yang lain. Kali ini sebuah video begitu
membuatku keringat dingin, aku menahan napas. Kuperhatikan berulangkali video
tersebut.
Paman Sam membuat sebuah rekaman sewaktu ia sedang asyik naik becak
bersama sang istri di jalan Malioboro, tepatnya mendekati 0 Km. Paman merekam
suasana di sekitar jalan itu, bagaimana gerak-gerik para penjual, wajah memelas
pengamen jalanan, para pejalan kaki yang didominasi turis, dan seseorang yang
selama ini begitu samar, tetapi di dalam video itu wajahnya terlihat begitu
jelas. Ia terlihat iseng melambaikan tangannya ke arah kamera paman yang tengah
merekam. Ia tersenyum bahagia dalam video itu.
“Paman, terimakasih atas videonya. Aku terinspirasi untuk melakukan
perjalanan ke Yogyakarta.”
Ia tertawa mendengar perkataanku.
“Ya, ya, kawasan Malioboro memang tak pernah gagal menarik perhatian
orang-orang.” Ia mengakhiri perkataannya sambil tertawa kembali. Aku hanya
menggelengkan kepala. Paman Sam tak mengerti. Mungkinkah ini awal terjawabnya
doa-doaku yang tiada berhenti itu?
“Berapa lama kamu akan di sana?” ibu bertanya padaku begitu ia mengetahui
niat mendadakku ini.
“Setelah aku menemukannya.”
“Gadis itu di sana?”
“Mungkin.”
“Kenapa mungkin?”
“Karena aku masih belum tahu akhir dari takdirku.”
“Kau akan menemukannya.”
Ibu menatapku sambil tersenyum. Aku membalas dengan pelukan.
***


