11/12/16

Melalui Cara Tuhan [Chapter 3]




Selama beberapa waktu kuputuskan untuk beristirahat, berhari-hari menjadi anak rumahan. Ketika di asrama dulu, begitu banyak waktu yang kuhabiskan tanpa keduaorangtuaku. Rasanya sekarang ingin aku menggantinya. Aku ingin berlama-lama di dalam rumah, menemani kedua orangtuaku, memperhatikan gerak-gerik mereka, membantu mereka melakukan pekerjaan rumah, makan bersama mereka, bercengkrama bersama mereka. Kupikir aku perlu melakukan ini hingga aku betul-betul nanti pergi bekerja dan menemukan gadis itu. Setelah menikah nanti, mungkin akan lebih banyak waktu yang kuhabiskan bersama pasanganku.

Hingga suatu pagi ibuku menyarankanku untuk pergi ke rumah pamanku.
“Pergilah ke rumah paman Sammy.”
“Ada apa di sana? Panen durian? Ikan-ikannya pada bertelor? Atau aku disuruh menjadi kuda-kudaannya si Bima lagi?“
Ibu menggeplak kepalaku dengan serbet.
“Kau ini seperti masih bocah!”
“Aku? Seperti bocah? Ha ha ha..” kutirui nada bicara Anggun dalam iklan shampoo itu, tetapi ibu malah menjitakku kali ini.
“Bicaralah kamu sama paman Sammy, tentang pekerjaan seperti apa yang kau inginkan, atau tentang rumah seperti apa yang kau cari, katanya kau ingin punya rumah sendiri, atau tanya paman Sammy mungkin ia punya kenalan perempuan yang bisa kau lamar.”
“Soal rumah, darimana aku bisa membelinya? Pakai uang ibu? Hih. Tabunganku belum cukup untuk membangun rumah idamanku. Tentang lamaran itu, ibu mudah sekali mengatakannya, seolah itu seperti games cocok-cocokkan. Enggak cocok, buang, cari yang lain. Hih.”

Ibu benar-benar membuatku berpikir kali ini.
“Ibu bosan melihatmu di rumah, sekali-sekali pergilah ke rumah Paman Sammy. Kali aja benar lagi panen durian.”
“Ibu mencoba merayuku, ya?” selidikku.
Ibu hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
“Jangan coba-coba merayuku, Bu. Cukup dia saja yang bisa merayu dan memenuhi pikiranku, Bu.” Ujarku sambil spontan mencium pipi ibu.
Sesaat ibu terkejut dan tersenyum lebar.
“Dia siapa, Nak? Kamu sudah menemukannya?” ibu terlihat bahagia sekali.
Aku langsung berlari ke kamar tanpa menjawabnya.
Ibu masih sibuk bolak-balik dari dapur menuju ruang makan. Aku sudah menyiapkan ranselku, ibu melihatku dan sedikit terkejut.
“Aku berangkat Bu! Ke rumah paman Sam, seperti permintaan ibu! Aku tahu di sana akan ada ilmu dan pencerahan yang kudapatkan dari Paman Sam! Aku mengerti perintah Ibu! Siap laksanakan!” ujarku dengan nada tegas.
Ibu membalas hormatku. Tetapi, langsung menarik tanganku, memintaku untuk duduk di kursi, dan merayuku untuk memakan masakannya terlebih dahulu sebelum pergi.

***

Kembali lagi aku dikejutkan oleh takdir. Tak ada bagian dari waktu yang sia-sia, semuanya merupakan suatu proses untuk menuju pada sebuah tujuan yang direncanakan oleh-Nya.
“Mengapa kau mengulang-ulang terus videoku yang itu?” Paman Sam terheran-heran padaku. Aku tengah melihat-lihat video liburan paman Sam. Ia senang sekali traveling, entah itu sendirian, berduaan dengan istrinya, bersama keluarganya atau teman-temannya. Jelasnya, paman Sam akan selalu membuat banya video dalam perjalananya. Seperti video kali ini, ia membuat banyak rekaman gambar ketika melakukan perjalanan di Yogyakarta.

Tak sama seperti video-videonya yang lain. Kali ini sebuah video begitu membuatku keringat dingin, aku menahan napas. Kuperhatikan berulangkali video tersebut.
Paman Sam membuat sebuah rekaman sewaktu ia sedang asyik naik becak bersama sang istri di jalan Malioboro, tepatnya mendekati 0 Km. Paman merekam suasana di sekitar jalan itu, bagaimana gerak-gerik para penjual, wajah memelas pengamen jalanan, para pejalan kaki yang didominasi turis, dan seseorang yang selama ini begitu samar, tetapi di dalam video itu wajahnya terlihat begitu jelas. Ia terlihat iseng melambaikan tangannya ke arah kamera paman yang tengah merekam. Ia tersenyum bahagia dalam video itu.
“Paman, terimakasih atas videonya. Aku terinspirasi untuk melakukan perjalanan ke Yogyakarta.”
Ia tertawa mendengar perkataanku.
“Ya, ya, kawasan Malioboro memang tak pernah gagal menarik perhatian orang-orang.” Ia mengakhiri perkataannya sambil tertawa kembali. Aku hanya menggelengkan kepala. Paman Sam tak mengerti. Mungkinkah ini awal terjawabnya doa-doaku yang tiada berhenti itu?
“Berapa lama kamu akan di sana?” ibu bertanya padaku begitu ia mengetahui niat mendadakku ini.
“Setelah aku menemukannya.”
“Gadis itu di sana?”
“Mungkin.”
“Kenapa mungkin?”
“Karena aku masih belum tahu akhir dari takdirku.”
“Kau akan menemukannya.”
Ibu menatapku sambil tersenyum. Aku membalas dengan pelukan.

***

Aku sudah sampai di Yogyakarta, namun aku bingung harus menelusuri Yogya bagian mananya dulu? Dahiku dipenuhi peluh. Mula-mula aku menuju jalan Malioboro, mencoba seperti kebanyakan wisatawan, aku berpura-pura berjalan sambil melihat-lihat barang dagangan yang dijajakan di sepanjang pinggir  trotoar, meski sebenarnya aku sedang tak tertarik sama sekali. Oh Tuhan, mungkinkah aku menemukannya di sini? Di antara orang-orang ini? Dan akankah ia mengenaliku bila benar takdir memberiku kesempatan untukku bertemu dengannya?
Aku masih berpikiran bahwa mungkin saja ia tinggal di sekitar jalan Malioboro ini. Kutelaah satu persatu gang kecil sambil bertanya-tanya pada orang-orang sekitar dengan menunjukkan sebuah foto dirinya yang sengaja ku ambil dari cuplikan video paman. Dalam foto itu ia tersenyum lebar dan mengenakan kerudung berwarna merah maroon. Sebenarnya, aku takjub dengan ekspresinya, sudah lama sekali aku tak melihat ia seperti itu.
Sudah dua jam aku mengitari kawasan ini, mungkin ia memang tak bertempat tinggal di daerah sini. Pemandangan penjual yang menjajakan es dawetnya di pinggiran jalan berhasil menarik minatku untuk membeli es dawetnya. Sekalian pula aku bertanya perihal gadis itu. Penjual itupun sama seperti orang-orang sebelumnya, tak mengenal gadis itu.
Setelah habis meneguk es dawetku, aku melanjutkan perjalanan dan bergaya seperti wisatawan lainnya. Kumainkan kameraku, berpura-pura bahagia menikmati kota ini, tetapi di dasar hatiku paling dalam ada kerisauan yang tak  bisa dilukiskan.
Tiba di 0 Km Malioboro, kuistirahatkan sejenak tubuhku sembari melihat-lihat kembali hasil jepretanku. Lumayan bagus. Sambil duduk, aku kembali memainkan kameraku. Beberapa kejadian berhasil kuabadikan, tiba-tiba saja kameraku tertuju pada seorang gadis. Kameraku melakukan zoom-in pada objek gadis itu. Jantungku seketika berdegup kencang. Apakah gadis yang duduk di seberang jalan sana sambil makan es krim adalah dirinya? Atau ini hanya khayalanku saja yang telah letih? mungkinkah Tuhan tengah menunjukkan kuasa-Nya padaku?
Aku mendekati gadis itu dengan sedikit tergopoh-gopoh.
“Fasya?”

BERSAMBUNG


Sumber gambar: Dokumen pribadi 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar