20/09/15

#Cerita dan Prosa Kurniawan Gunadi: Karena Apa



Jadi, begini cerita yang tertulis dalam prosa itu, aku singkat saja ya.

Aku kuno, kau mungkin tidak.
Aku tak suka membaca buku sepertimu.
Aku tak suka melakukan perjalanan menyeramkan macam naik gunung, tapi kau suka.
Aku lulusan kampus yang orang lokalpun tak tahu dimana kampusku itu saking tak terkenalnya, tapi kau punya almamater yang tinggi.
Agamaku pun belum begitu baik, tak sepertimu. Aku tidak lemah lembut, kata-kataku keras. Mengapa kau cinta?
Aku bahkan tak suka minum kopi, tak sama denganmu. Tentu aku tak bisa menemanimu minum kopi, seperti keseharianmu.

Lalu kau berkata,

“Aku tidak sedang mencari teman minum kopi atau membaca buku, tidak juga sedang mencari teman naik gunung. Aku mencari teman hidup di dunia dan akhirat. Seseorang yang bisa bersama menuju-Nya. Dan aku tidak peduli dengan selain itu.”


Sumber gambar: Tumblr.com

#Cerita dan Prosa Kurniawan Gunadi: Diam-Diam Peduli



“Aku kepadamu adalah seseorang dengan orang lain yang bukan siapa-siapa. Jika aku peduli padamu, itu semata karena aku tidak tahu tentang bagaimana cara mengatasi perasaan. Setidaknya aku mampu menahannya dengan cukup mendoakan. Aku menahannya untuk lebih dari itu.”



Sumber gambar: Tumblr.com

#Cerita dan Prosa Kurniawan Gunadi: Meminta Waktu



“Manusia memiliki batas waktu, hidup pun memiliki batas waktu. Sebaik-baiknya mengisi waktu adalah dengan hal yang terbaik.”





Sumber gambar: Tumblr.com

#Cerita dan Prosa Kurniawan Gunadi: Pengembara



“Dari dulu, laki-laki itu adalah pengembara, anakku. Mereka adalah pengembara yang selalu berjalan ke sana ke mari. Singgah sebentar untuk menikmati suasana, mencari minum, atau beristirahat. Selebihnya dia akan melanjutkan perjalanan. Dan yang bisa memutuskan perjalanan itu hanya satu: pernikahan. Kitalah yang memutuskan perjalan mereka, membuat mereka menetap pada satu tempat dan menikmati kehidupan bersama-sama. Sebelum ada ikatan pernikahan, laki-laki akan tetap menjadi pengembara meskipun mulutnya bicara ingin tinggal menetap. Kau harus hati-hati, jangan sampai menjadi tempat persinggahan.”


Sumber gambar: Tumblr.com

#Cerita dan Prosa Kurniawan Gunadi: Sepi


“Tulisan adalah kata-kata kesepian. Suara yang tidak keluar dan didengar siapapun. Berbicara dengan diri sendiri, atau mungkin mendengarkan diri sendiri.”

Tibalah pada dialog,

“Aku tidak suka orang lain masuk ke dalam hidupku.”
“Jika begitu, jadikan dia tidak lagi sebagai orang lain dalam hidupmu.”


Sumber gambar: Tumblr.com