16/03/16

Palu, Kota Kecil dengan Berjuta Bukit!



Halo! Kali ini gue bakalan bawa kalian untuk menjelajahi sebuah kota kecil di daerah Sulawesi Tengah. Tepatnya, kota dimana Pasha Ungu terpilih sebagai wakil walikota, yeaaah. Kota apa lagi kalau bukan kota Palu. Yuk, lihat sisi mana saja yang berhasil gue jelajahi!




Kita udah mendarat di kota Palu, nih. Pertama, yuk ikut gue menjelajahi salah satu pantai di desa Loli, Palu. Pantai ini berhasil mengejutkan gue dengan kesederhanaannya sekaligus keluarbiasannya. Pantai ini pantai biasa seperti pantai pada umumnya, bahkan terlalu biasa. Tetapi, yang bikin pantai ini luarbiasa adalah suasana di sekitarnya. Pantai ini dikelilingi bukit-bukit, dan laut. Keadaan penduduk yang jarang serta masih asri tumbuh-tumbuhannya membuat seseorang yang ingin berlibur untuk mengasingkan diri bakal betah di sini!


09/10/15

#Cerita dan Prosaku: Jika Nanti





Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk merawat kenangan. Katanya, salah satunya dengan cara menuliskannya.

Tetapi, aku memiliki satu alasan mengapa aku perlu menuliskannya. Bukan untuk merawat kenangan seperti kebanyakan orang.

Tetapi, ini tentang suatu hari nanti. Jika tiba-tiba aku lupa ingatan, aku tetap bisa mengingatmu, sebab aku selalu menuliskan tentangmu dalam tulisanku. Tentang awal perjumpaan kita, lalu bagaimana kita bisa saling kenal satu sama lain, kemudian menjadi teman, saling bercerita dan saling mendengarkan, hingga tiba-tiba saling jatuh cinta, dan kau maju untuk meminangku tanpa banyak ucap dan janji. Kau tahu, aku suka caramu.

Ya, hari itu adalah hari dimana tubuh kita berdua sudah renta dan mungkin sudah tak mampu menopang satu sama lain, bahkan mungkin aku sudah tak bisa menulis tentang kita lagi seperti saat ini. Tetapi, percayalah, kita masih bisa saling bercerita meski gigi-gigi kita telah ompong, meski kita sudah kesulitan untuk menguyah. Kita masih bisa saling mendengarkan meski pendengaran kita sudah terbatas. Kita bahkan mungkin masih bisa untuk saling memandang meski daya penglihatan kita sudah tak sempurna.

Ya, alasanku itu. Jika aku lupa ingatan. Meski aku tahu, kau tak akan mungkin mampu untuk aku lupakan. (Magelang, September 2015)



Sumber gambar: Tumblr.com

20/09/15

#Cerita dan Prosa Kurniawan Gunadi: Karena Apa



Jadi, begini cerita yang tertulis dalam prosa itu, aku singkat saja ya.

Aku kuno, kau mungkin tidak.
Aku tak suka membaca buku sepertimu.
Aku tak suka melakukan perjalanan menyeramkan macam naik gunung, tapi kau suka.
Aku lulusan kampus yang orang lokalpun tak tahu dimana kampusku itu saking tak terkenalnya, tapi kau punya almamater yang tinggi.
Agamaku pun belum begitu baik, tak sepertimu. Aku tidak lemah lembut, kata-kataku keras. Mengapa kau cinta?
Aku bahkan tak suka minum kopi, tak sama denganmu. Tentu aku tak bisa menemanimu minum kopi, seperti keseharianmu.

Lalu kau berkata,

“Aku tidak sedang mencari teman minum kopi atau membaca buku, tidak juga sedang mencari teman naik gunung. Aku mencari teman hidup di dunia dan akhirat. Seseorang yang bisa bersama menuju-Nya. Dan aku tidak peduli dengan selain itu.”


Sumber gambar: Tumblr.com

#Cerita dan Prosa Kurniawan Gunadi: Diam-Diam Peduli



“Aku kepadamu adalah seseorang dengan orang lain yang bukan siapa-siapa. Jika aku peduli padamu, itu semata karena aku tidak tahu tentang bagaimana cara mengatasi perasaan. Setidaknya aku mampu menahannya dengan cukup mendoakan. Aku menahannya untuk lebih dari itu.”



Sumber gambar: Tumblr.com

#Cerita dan Prosa Kurniawan Gunadi: Meminta Waktu



“Manusia memiliki batas waktu, hidup pun memiliki batas waktu. Sebaik-baiknya mengisi waktu adalah dengan hal yang terbaik.”





Sumber gambar: Tumblr.com