04/01/21

Review: Buku Zam-zam dan Harta Karun di Dalamnya!

 


Pergantian tahun ini masih membaca buku yang sama, Zam-zam judulnya, ditulis oleh kak Choqi Isyroqi. Buku ini merupakan kumpulan cerita tentang makna kehidupan. Sebenarnya pembahasannya ringan saja mengenai fenomena sehari-hari, tetapi isinya daging semua. Bagi saya pribadi, begitu banyak hal dalam pandangan saya yang berubah usai membaca tulisan-tulisan kak Choqi dalam buku ini. Karena ini buku indie, saya tidak tahu apakah buku ini masih bisa didapatkan atau tidak, tetapi setidaknya di sini saya ingin membagikan beberapa poin dalam buku ini yang berhasil mengubah cara pandang saya. Dengan penjelasan yang sederhana, justru Kak Choqi membuat pembaca mudah memahami apa yang perlu diubah dalam pikiran kita mengenai hal-hal besar dalam hidup kita.

Sebelumnya, saya mau bilang bahwa kamu beruntung menemukan tulisan saya kali ini. Tinggallah sejenak, bacalah tulisan ini sampai akhir karena setelah ini akan saya ceritakan harta karun dalam buku Zam-zam tersebut. Kamu tidak buru-buru, kan?

 

Pernikahan adalah perlombaan?

Apakah benar bahwa pernikahan adalah perlombaan? Hal ini seolah didukung fakta bahwa orang-orang senang sekali bertanya tentang rencana hidup orang lain. “Kapan nikah?” mungkin lebih tepatnya bukan rencana, tetapi takdir. Kalau sudah begitu, bukankah cuma tuhan yang tahu, ya?

Akhirnya hal ini membuat yang ditanya geram. Sehingga jika ditanya, “kapan nikah?” ia akan menjawab, “besok. Kalau nggak hujan.” Hal ini akan membuat yang bertanya langsung terdiam.

Pernikahan memang momen membahagiakan, mungkin orang-orang di sekitar kita tidak sabar melihat kita bahagia. Lha, dipikirnya sebelum menikah ini, kita menderita?! Nggak juga, kan.

Sebelum menikah, bebannya memang ditanggung sendiri, kalau sudah menikah bebannya ditanggung berdua. Ya, berdua, sih, tapi bebannya juga lebih banyak dari sebelumnya. Jadi, kalau ada orang yang menikah tapi yang terbebani cuma salah satunya aja, mending evaluasi ulang deh pernikahannya. Lha, saya siapa sih bisa-bisanya ngasih saran gitu, nikah aja belum.

Jadi gini, sebenarnya pernikahan itu memang benar adalah sebuah perlombaan, tetapi bukan perlombaan siapa yang lebih cepat menikah. Pernikahan adalah perlombaan, yakni perlombaan tentang pernikahan siapa yang paling bermanfaat.

Ketika dua orang yang senang menebar manfaat dipersatukan dalam sebuah ikatan pernikahan, kebayang gimana terang benderangnya, kan?

 

Berjalan tanpa tujuan?

Banyak di antara kita memilih untuk mengikuti jalan hidup yang mengalir saja. Betul, jalannya memang ada, tetapi hendak kemana kita saat melewati jalan tersebut? Bukan tidak mungkin bahwa kita akan tersesat ketika membiarkan diri terus berjalan tanpa memiliki tujuan.

“Sama dengan kebanyakan orang, banyak dari mereka yang memilih jalan, namun tidak menentukan tujuannya terlebih dahulu. Hanya karena jalanan itu nampak terbuka, mereka langsung saja mengikuti pilihan tersebut. Padahal bisa jadi, jalan itu tidak membawa mereka pada tujuan mereka. Mungkin memutar atau bahkan berlawanan arah.” – Zam-zam, hal. 16

Benar nggak, sih? Kalau tidak punya tujuan, rasanya seolah perjalanan kita sia-sia dan tidak akan pernah ada rasa puas usai mengejar sesuatu, kecuali kita tahu tujuan dari perjalanan kita apa.

Misal, kamu mencintai seseorang. Dengan kata lain, dia adalah tujuanmu. Seseorang yang ingin kamu rebut hatinya. Kamu akan fokus pada bagaimana perjalanan yang harus kamu tempuh dalam menujunya, kamu memegang peta itu, peta tentang dirinya. Kamu tahu bagaimana jalan menujunya karena kamu tahu dia seperti apa. Bukankah begitu?

Jadi, jika inign berjalan lebih cepat, tentukan tujuan dulu. Dengan begitu, kita tak akan tergoda atas jalan yang orang lain pilih. Selain itu, kita juga perlu mengetahui kemampuan kita, sehingga kita dapat menentukan, perlu seberapa cepat kita menuju tujuan kita. Tidak harus selalu sama dengan langkah orang lain.

Kalau kita tahu tujuan, maka setiap jalan adalah proses. Setiap jalan adalah penting. Misal, tujuan kita ingin beli rumah. Maka masa-masa menabung dan berjuang dalam hidup sederhana, irit, terbatas, menjadi masa yang mahal karena merupakan perjalanan dari proses mencapai tujuan yang mahal.

Misal, mendaftarkan diri ke suatu lowongan kerja. Ada proses menunggu yang mahal. Menunggu merupakan bagian dari perjuangan sampai akhirnya tiba di pintu kemenangan. Agar menunggu tidak sekedar menunggu, siapkan plan A, B, C, dan D. Bukankah begitu banyak orang atau motivator yang bercerita pengalaman masa lalu mereka saat belum menjadi apa-apa? Bukankah mereka sedang membanggakan proses dari keberhasilan yang mereka kini dapatkan? Ya, karena bagi mereka proses tersebut amat berharga. Lihat, betapa berbincar-binarnya mereka menceritakan masa lalu yang tidak disangka akan mengantarkan mereka pada masa keemasan sekarang ini. Berbeda ketika rasanya mendengarkan seseorang menceritakan apa yang ia dapatkan tanpa melalui proses.

 

Kita selalu punya pilihan?

“Boleh nggak, kita nggak salat?”

Nggak bolehlah, masa nggak salat?”

“Yakin nggak boleh?”

“Yakin.”

“Padahal boleh loh kita nggak salat.”

Bingung, kan? Jadi, boleh-boleh saja kalau tidak mau salat. Yang tidak boleh adalah menentukan sebuah pilihan, tetapi tidak menjalankan konsekuensi dari pilihan tersebut!

“Setiap pilihan itu memiliki konsekuensinya masing-masing. Hal itulah yang selalu kita lupakan. Kita merasa, selama pilihan itu membuat nyaman, maka kita memilih pilihan tersebut. Tak peduli, konsekuensi apa yang kita hadapi.” – Zam-zam, hal. 51

Kita benar-benar bisa memilih untuk menjadi apapun dalam menjalani hidup. Jadi, apakah kita siap juga menghadapi konsekuensi dari pilihan kita? Mungkin konsekuensi tersebut tidak terasa sekarang, tapi di masa mendatang.

 

Tidak mengerjakan Sunnah tidak apa-apa?

Ada yang salah dengan mindset kita selama ini soal “sunnah”. Sedihnya, sejak kecil kita sudah diajarkan bahwa sunnah adalah sesuatu yang jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak apa-apa.

Nyatanya, apanya coba yang tidak apa-apa?!!! Coba kita baca beberapa hadis di bawah ini,

“Barangsiapa yang selalu mengerjakan shalat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Turmudzi)

“Barangsiapa yang menunaikan shalat Dhuha ia tergolong sebagai orang yang bertaubat kepada Allah. “Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.” (HR. Hakim).

“Barang siapa yang tidak meninggalkan dua belas rakaat pada shalat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surge.” (HR. At-Tarmidzi no. 414 dan An-Nasa’i no. 1794)

“Barangsiapa yang menjaga sholat empat rakaat sebelum dhuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka.” (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi)

Dan masih banyak hadis lainnya mengenai sunnah.

Jadi, ubahlah mindset kita yang awalnya, “tidak apa-apa jika tidak dikerjakan” menjadi “rugi jika tidak dikerjakan.”

Rugi, kan?

Bagaimana? Apakah setelah membaca poin-poin di atas, sudut pandangmu kian meluas? Apakah ada mindset dalam dirimu yang ingin kamu ubah? 

19/11/20

MADRASAH PERTAMA


Foto: 25 Agustus 2019 – Masa KKN di Dusun Kembaran, Magelang, Jawa tengah.


Hari ini aku bertemu Rasya dan Reynald untuk mengajar mereka. Rasya terlihat begitu banyak bicara walau ia masih duduk di bangku TK, sementara Reynald yang sudah duduk di bangku SD kelas satu terlihat aktif namun gugup ketika berbicara.

Bertemu anak-anak selalu menyenangkan. Rasanya hidup menjadi lebih hidup ketika mendengar suara anak-anak menggema di penjuru ruangan. Namun, sisi menarik lainnya adalah anak-anak selalu membawa pelajaran baru bagi orang-orang dewasa yang masih belajar bagaimana menjadi dewasa itu.

Ada saat dimana ketika Rasya bertanya padaku dengan tiba-tiba.

"Kak, kalau sombong tuh kayak gini bukan, 'eh eh aku punya sepeda bagus lho' itu sombong ya?"

Aku menjawab dengan caraku sembari bertanya balik,

"Jadi sombong itu boleh nggak?"

"Nggak."

Pinter!

Aku juga menjelaskan lawan kata dari sombong itu apa dan bagaimana, agar ia lebih memahami sifat mana kiranya yang baik untuk dimiliki.

Aku juga menambah pertanyaanku padanya karena penasaran.

"Kenapa nanya itu, Rasya?"

Rasya pun menjawab,

"Iya, soalnya aku belum tahu sombong itu apa dan kayak gimana."

JLEB. Dari sini aku sadar betapa pentingnya peran seorang Ibu (yang baik dan punya pemahaman yang cukup) untuk menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Anak-anak ini nampak polos dan banyak belum memahami sesuatu.

Bayangkan jika mereka tinggal di lingkungan yang mengajarkan hal-hal yang tidak benar? Yang justru malah memberi jawaban tidak benar ketika mereka bertanya sesuatu.

Mereka belum tahu apakah hal ini dan itu benar atau tidak karena mereka pun masih mencari tahu apa maknanya ini dan itu, apa maksudnya begini dan begitu. Mereka belum tahu apakah hal yang ini salah, atau hal yang itu benar. Mereka masih sangat butuh pengarahan dan pengajaran yang baik.

Pada masa-masa ini, kita perlu memberi pengajaran yang terbaik, pengajaran yang jujur. Bayangkan bagaimana ini menjadi amalan tersendiri untuk kita ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan mereka apa arti jujur, arti rendah hati, arti dermawan dan lain sebagainya. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan huruf hijaiyah pada mereka. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan apa arti tauhid dan iman pada mereka. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang membacakan kisah para nabi untuk mereka. Bayangkan ketika kita adalah orang pertama yang mengajarkan mereka tentang doa-doa.

Jadi, apakah kita masih ragu untuk menjadi yang pertama bagi anak-anak kita kelak?

 

Catatan Bdg, 18 Nov 2020 | 20.10 

2020; Tahun yang Hampir Usai!

 

Jadi, bingung mau cerita dari mana, setidaknya ketika baru hendak menuliskan ini. Walau nanti tulisan ini seperti punya kerangka dan terarah, tetapi percayalah ketika hendak saya tulis, saya perlu menggali-gali isi pikiran tentang apa yang terjadi belakangan ini.

Sekedar memberi tahu saja, ini hanyalah cerita biasa dari seseorang seperti saya, tetapi barangkali di antara kamu ada yang merindukan kehadiran sederetan kalimat baru di ruang ini, so I’m here. Kamu tidak perlu mencari kemana-mana lagi karena saya telah kembali lagi ke sini. Gimana? Apa benar kamu mencari saya?

Kelihatannya saya sudah tidak mengisi ruang ini selama hampir setengah tahun, kelihatannya saya tidak pernah lagi menulis, tetapi benarkah saya seperti itu? Barangkali ada yang pernah melihat postingan terakhir sebelum tulisan ini ada, tetapi postingan itu sudah tiada karena memang sengaja ditiadakan. Sorry, sepertinya waktu itu saya sulit mengendalikan pikiran saya dan yang terpikir adalah saya perlu posting puisi ala-ala tersebut tanpa memikirkan dampak kedepannya, sehingga maaf jika saya kemudian lancang menghapusnya. Sebenarnya sih, suka-suka saya, kan? Wong saya yang menulis. Jadi, kalau kemudian saya kurang sreg, wajar bila kemudian saya menghapusnya. Tak ada alasan khusus mengapa menghapusnya, jadi tak perlu lagi dipertanyakan.

 

Bertemu Keramaian

Rekor terbanyak pada tahun ini dalam waktu setahun saya sudah empat kali pulang ke rumah. Selain karena hanya fokus pada skripsi, tiket menuju pulang ke rumah juga murah setelah sebelum-sebelumnya rumah saya berada di antah-berantah. Boro-boro mau pulang.

Sebelum corona tiba di Indonesia, saya beberapa kali menghabiskan waktu di dalam keramaian; tempat wisata yang sedang ngehitz, kondangan, acara seminar, meeting, dan hal-hal lainnya dalam keramaian. Suatu kesadaran yang patut untuk disyukuri karena telah memuaskan diri sendiri walau masih awal tahun. Hingga pada akhirnya, berusaha patuh untuk di rumah saja padahal sebenarnya memang tidak ada panggilan untuk kemana-mana, kecuali panggilan hati, sih, teriak-teriak minta jalan-jalan, setidaknya cuma keliling kota gitu, kek.

 

April Produktif

Kelas menulis April Produktif yang saya adakan pada tahun ini adalah ide iseng sembari menunggu antrian skripsi, disembari juga berrharap corona cepat pergi ternyata membawa saya pada banyak gerbang keberkahan dan pintu menuju letak harta karun yang tersembunyi di jagat media sosial yang membisingkan. Ada satu tempat di media sosial yang begitu tentram dan banyak tersembunyi harta karun di sana, juga orang-orang yang menulis dengan teramat jujur di dalamnya. Banyak di antara kami menulis secara anonim, namun saling merepost dan memberi like pada tulisan seolah-olah kami sudah mengenal lama.

Pada blog, saya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meningkatkan jumlah followers, sementara di ruang baru tersebut, tak sampai setengah tahun, saya berhasil mendapatkan 300 followers. Jika membicarakan angka followers, saya akan dinilai duniawi sekali pikirannya, tetapi bukan itu poin saya. Bahwasannya ruang tersebut benar tentram, tetapi ada banyak sekali penulis di dalamnya dengan berbagai macam pola pikiran juga pandangan mengenai kehidupan. Kebanyakan dari mereka memiliki kesamaan, sama-sama mengajak manusia pada kebaikan dan selalu mengingatkan pada kebesaran Tuhan.

Sebenarnya bagi saya, ruang tersebut bukanlah ruang baru. Saya telah menghuninya sejak 2013, akan tetapi saya mengunjunginya barangkali hanya sekali setahun dengan maksud agar saya tidak pernah lupa menyimpan dimana kuncinya. Beberapa teman yang mengikuti April Produktif memiliki “rumah” di tempat tersebut yang mengharuskan saya harus kembali berkunjung ke rumah lama saya guna mengunjungi “tetangga-tetangga baru” saya di sana.

Begitu tiba di sana, saya terkejut dan mendapati dunia tersebut begitu ramai. Barangkali hal inilah yang menjadi alasan mengapa saya tidak pernah lagi datang ke ruang ini, sebab saya betah berada di sana. Tenang, saya tidak berhenti menulis, sebab di tempat tersebut, hampir setiap hari saya menulis.

Mungkin memang saya tidak pandai menghilang, toh untuk apa juga menghilang jika tak ada yang datang mencari. Kini saya kembali dan berharap bisa membuat suatu terobosan baru di sini.

 

Sidang Skripsi

Saya sangat bersyukur mengadakan kelas menulis April Produktif. Sebab, selama satu bulan tersebut, skripsi saya sama sekali tidak mengalami kemajuan. Bulan April tahun ini memang diciptakan sebagai bulan untuk menunggu bagi saya. Sementara menunggu, rasanya tidak sia-sia setiap hari diberi kesempatan untuk membaca tulisan teman-teman yang begitu luarbiasa dan mencerahkan.

Bulan Mei datang mengejutkan saya, membawa berita baik sekaligus deg-degan karena dosbing saya membiarkan saya menginjak pedal gas tanpa rem hingga diputuskanlah bahwa sidang skripsi saya jatuh pada tanggal 28 Mei 2020. Ada kalanya kita harus berhenti sejenak untuk menunggu, ada kalanya jalan untuk kita terbuka lebar dan kita harus bersiap diri untuk menginjak gas yang sudah disediakan.

Para penguji pun sepertinya tidak sabar untuk menyidang saya. Maka di hari lebaran, salah satu dosen penguji mengirim chat yang awalnya mengucapkan selamat lebaran dan maaf-maafan, namun berakhir dengan “saya tunggu ya file skripsi kamu..”

 

Komunitas Baru

Berkesempatan untuk memiliki teman-teman baru yang berada dalam satu frekuensi adalah salah satu hal yang benar-benar saya syukuri di tahun yang gelap ini. Dengan kecanggihan teknologi pada abad ini, kita tak perlu repot-repot keluar rumah untuk mendapatkan teman baru. Jika ingin, hanya dalam waktu 1x24 jam kita bisa mendapatkan teman sebanyak-banyakanya di jagat dunia maya. Orang-orang yang sefrekuensi di jagat dunia maya ini kelak memiliki kesempatan besar untuk bisa menjadi teman yang nyata di dunia sebenarnya jika kita pandai memelihara hubungan.

 

Wisuda Tanpa Perayaan

Saya pernah berpikiran bagaimana wisuda tanpa perayaan. Nyatanya tahun ini kejadian. Bukan suatu kejutan lagi bagi saya karena pernah membayangkan hal tersebut terjadi. Tanpa ada rasa iri dengki, tetapi rasanya muak melihat bagaimana segala macam perayaan diadakan dengan begitu berlebihan khususnya di media sosial karena sudah mengalami pemolesan yang luarbiasa niatnya.

Semakin bertambah usia, semakin merasa segala macam perayaan adalah sesuatu yang biasa-biasa saja karena memang alur kehidupan akan berjalan seperti itu, dari satu perayaan menemui perayaan lainnya. Banyak orang yang mengadakan perayaan secara berlebihan tanpa mau memaknai lebih dalam arti dari perayaan itu sendiri. Untuk kedepannya, saya berharap bisa menjadi orang yang biasa-biasa saja dalam menjalani perayaan, walau begitu ada rasa terima kasih yang besar dan apresiasi yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata untuk mereka yang berusaha membuat hari-hari perayaan saya menjadi begitu istimewa.

 

Meninggalkan Yogyakarta

Tidak ada yang baik-baik saja ketika harus pergi meninggalkan yang dicintai, tetapi toh untuk apa juga lama-lama bersedih, jika tahu bahwa diri sendiri akan mengusahakan yang terbaik untuk bisa kembali.

Terima kasih Yogyakarta untuk segala pelajarannya. Mungkin ada beberapa hal yang saya sesali di Yogyakarta, tetapi membawa pelajaran tersendiri bagaimana untuk memaafkan diri sendiri dan berusaha untuk memperbaiki apa-apa yang dirasa salah. Yogyakarta telah mempertemukan saya dengan banyak hal, salah satunya jalan bagi saya untuk menemukan diri sendiri. Terima kasih, Yogyakarta!

 

Rumah Baru

Rumah baru berarti kehidupan baru. Bagaimana tidak? Tetangga baru, satpam baru, masjid baru, pertokoan baru, tukang sate baru, tukang fotocopyan baru, tukang galon baru, tukang gas baru, semua serba baru, termasuk hal-hal yang menjadi fokus adaptasi terbaru seperti alergi dan ketidakcocokan dengan suhu udara.

Perjalanan yang terjadi di tahun ini ikut pula dirasakan oleh kulit si yang punya tubuh. Bukan hati dan pikiran saja yang berjuang mati-matian menyelesaikan satu-persatu urusan kehidupan, tetapi kulit juga ikut berjuang bagaimana beradaptasi dari perpisahan satu suhu udara ke suhu udara lainnya. Alhasil alergi tak dapat dihindarkan, juga serangan jerawat yang tanpa perhitungan, mati satu tumbuh seribu.

Ayolah, bayi sungguh kalah menggemaskan dengan jerawat mungil yang memerah di dagumu, yang kemudian tanpa babibu berubah menjadi raksasa yang mendominasi mood kamu sepanjang hari.  Ayolah, ini bukan tentang bersyukur, hanya lebih kepada kekagetan kecil yang sebenarnya bisa diatasi tetapi butuh waktu berbulan-bulan memang untuk menghilangkan bekasnya apalagi teruntuk seseorang seperti saya yang kudet terhadap dunia perskincarean. Yah, setidaknya ada bahan untuk dibicarakan ketika telponan dengan kawan, daripada menggosipi orang lain, lebih baik obrolan mendadak jadi bak ruang konsultasi skincare. Mantap, bukan?

Ayolah, akui saja bahwa jerawat memang salah satu faktor yang dapat membuat kita insecure, tetapi tenang saja, saya berkeyakinan bahwa kita tetap terlihat cantik di mata orang yang tepat.

Jika kita dicintai karena pikiran dan hati kita, maka seharusnya urusan perjerawatan ini bukanlah suatu masalah yang besar.

 

Menjadi Volunteer

Rasanya ingin marah besar pada corona, tetapi tidak jadi karena melihat di media sosial sudah banyak orang yang marah-marah pada corona dengan menggunakan serangkaian kata-kata kasar. Toh juga untuk apa marah, percuma, corona tidak akan pernah tahu juga bahwa kita marah padanya. Menyedihkan.

Tetap ada sedikit rasa jengkel juga, sih, sebab corona mengubah banyak hal yang telah direncanakan. Menjadi volunteer usai lulus kuliah adalah impian saya sejak lama. Namun, mengingat betapa berbahayanya virus ini, membuat saya berpikir ulang untuk bepergian ke luar daerah. Bukan saya sih sebenarnya, tetapi orang tua saya.

Kemudian timbullah suatu keinginan. Menjadi volunteer di rumah sendiri, why not? Untuk apa juga jauh-jauh menyebrangi lautan jika ternyata orang-orang di rumah sendiri membutuhkan bantuan saya. Rencana tetap berjalan, hanya saja lokasinya yang berpindah. Sebagai anak perempuan yang sudah berusia kepala dua, rasanya semakin sedikit waktu untuk berada di rumah sendiri. Menjadi volunteer di rumah sendiri dengan visi untuk memaksimalkan bakti sebelum pangeran berkuda putih atau bermotor Vario atau bermobil (kata Muya) menjemput kita, barangkali adalah suatu keputusan yang tepat di masa pandemi seperti ini.

 

Hidup Minimalis

Kembali ke rumah artinya kembali membereskan seluruh barang-barang pribadi. Sedikit banyak terbantu tercerahkan alias terperdaya oleh kata-kata di dalam buku-buku motivasi hidup minimalis. Akhirnya memutuskan untuk membuang sebagian barang kenangan. Katanya barang kenangan, tetapi dikenang kembali saja tidak pernah. Maka buanglah barang-barang yang bersifat seperti itu, sebab pada dasarnya manusia lebih senang mengenang sesuatu dalam hati dan pikiran mereka, bukan dengan melihat benda-benda yang mengandung kenangan tersebut.

Tahu tidak apa yang memiliki nilai rahasia yang begitu besar? Benar, kenangan! Karena ia berada di hati dan pikiran. Orang lain tidak pernah tahu apa yang saat ini sedang kita kenang. Seram, bukan? Sebab, walau barang kenangan telah dibuang, memori tersebut sudah menjadi salah satu folder di dalam pikiran kita, sudah menyatu dengan diri kita. Benar kata Almarhum Eyang Habibi, bahwa masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tetapi masa depan adalah milik kita. Bagaimana caranya agar kita mampu menghapus folder masa lalu?  Tentu dengan memperbanyak folder masa kini. Ketika kepenuhan, maka dengan terpaksa kita akan menghapus folder-folder lama yang sebenarnya sudah tidak berharga.

Mari saya beritahu prinsip belanja saat ada diskon. Sebelumnya, sini saya bisiki dulu, tidak masalah jika tidak membeli apa-apa pada harbolnas. Kamu tidak harus membeli sesuatu pada harbolnas.

Prinsip belanja saat ada diskon; hanya belanja kebutuhan sehari-hari, misal promo tissue beli 1 gratis 1; belanja suatu barang yang memang sedang dibutuhkan.

Adapun tips untuk menyingkirkan barang-barang; sumbang ke panti asuhan, sumbang ke saudara, jual dengan tagar preloved, atau langsung saja berikan pada yang membutuhkan, siapapun itu. Gampang, kan?

Milih-milihnya yang susah. Kadang, melepaskan memang seperti itu. Susah.

 

Menemui Ruang Konsultasi

Mental health menjadi hal yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini. Orang-orang mengatakan bahwa di tahun yang gelap ini, mental health adalah yang utama. Padahal jikapun tiada covid, mental health tetap menjadi yang utama, bukan?

Memiliki masalah pada kesehatan mental bukanlah hal yang memalukan, tetapi juga tidak perlu digembor-gemborkan. Jika kita tahu ada sesuatu yang salah dengan diri kita, bukankan kita perlu mencari tahu penyebabnya dan mencari solusinya?

Berharap ini tidak pernah terjadi, tetapi mana ada kehidupan yang lurus-lurus saja. Kalau kata Kak Choqi, “itu kehidupan atau penggaris?”

 

Anak Kedua

Usai kelahiran anak pertama (baca: skripsi) yang jatuh di bulan Mei tahun ini, rasanya tak sabar menanti kelahiran anak kedua (baca: kumpulan prosa). Hal-hal memang sebatas rencana dan cita-cita, hingga terwujud barulah menjadi suatu kenyataan, tidak ada salahnya mendoakan agar karya yang tengah dikandung lancar hingga hari kelahiran. Tidak mengincar perayaan, apalagi kepopularitasan. Hanya mencari cara bagaimana bertahan dalam kewarasan di tengah dunia yang kian mencekam.

 

Pernikahan

Sorry, tidak ingin membicarakan ini di sini.

Saat seorang perempuan tidak pernah menunjukkan perasaannya pada anda, barangkali itu merupakan suatu bentuk penjagaan dirinya terhadap hati manusia yang mudah jatuh dan berharap.

 

Untuk apa cerita kali ini? Jawabannya seperti kata Mas Gun, kita menulis untuk mendengarkan diri sendiri, bukan untuk mencari perhatian orang lain atau hal-hal yang tak jauh dari itu.

30/04/20

#AprilProduktifDay30 : Ini, Untuk Kau Baca


April berganti Mei.

Kita kembali ke kesibukan masing-masing.

Berkutat dengan pekerjaan masing-masing.

Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Nanti setiap malamnya, aku tak ada lagi untuk melemparkan tema,

Nanti esok malamnya, kau tak ada lagi untuk menyetorkan tulisan,

Nanti hari-hari berikutnya, kau membuat tulisan dengan tema berdasarkan pikiranmu sendiri,

Nanti bulan-bulan berikutnya, tau-tau kau tak menyangka tulisanmu sudah banyak sekali,

Nanti tahun-tahun berikutnya, barangkali kau baca tulisanku ini kembali,

Seraya tersenyum, “kapan ya kita menulis sama-sama lagi?”

Mungkin usai semua mimpi-mimpi ini berhasil kita kejar lagi, usai mereda badai covid yang menghentikan sementara seluruh mimpi-mimpi kita ini.

29/04/20

#AprilProduktifDay29 : Kecewa

“Mau kubawa kemana dong perasaan kagum ini? Hahaha.” Tanya saya pada seorang kawan, usai kecewa sebab merasa dibohongi setelah membaca tulisan seseorang yang mengagumkan, yang saya pikir itu adalah tulisannya.

Seolah masih tak ingin percaya, jemari saya mengetik kembali paragraf demi paragraf dan bait-bait sajaknya di mesin pencarian lalu terbitlah di sana sang pemilik tulisan sebenarnya. Belum, saya masih belum mau percaya. Saya tak ingin dilanda kecewa, saya ingin terus menikmati dan mempercayai setiap tulisannya. Sembari menatap mesin pencarian, sembari berdoa, “semoga tak kutemukan yang sama lagi, jangan lagi.”

“Selamat, ya!” ucap saya untuk buku barunya yang telah terbit pada minggu lalu. Mungkin itu akan menjadi ucapan selamat yang terakhir untuk karyanya usai saya merasa dikecewakan sampai sebegininya.

Mari pelajari dua hal dari kekecewaan yang terjadi pada hari ini :
Satu, menyadari bahwa yang layak untuk dikagumi adalah Allah, bukan makhluk-Nya. Kalau kagum pada manusia, pasti ada aja celah buruknya yang bisa membuat kita kecewa.
Dua, mencantumkan sumber atau referensi tulisan sangatlah penting. Barangkali mungkin memang penulisnya tidak tahu tetapi bagaimana jika tulisannya terus tersebar, mengalir, namun bukan nama penulisnya yang dibawanya? Kalau suatu hari ia tahu, apa kau siap bertanggungjawab menjelaskannya? Kau siap melihat penulis yang katanya kau sukai tulisannya itu bersedih hati?

Ia pasti akan lebih senang jika tahu kau menuliskan kembali tulisannya dengan mencantumkan namanya, lalu tulisan kebaikan itu menyebar ke ruang-ruang di dunia, membawa banyak manfaat dan kesejukan hati, tanpa ada yang bersedih. Sebaik itu caranya, sebaik itu pula tersampaikannya.