“Mau kubawa
kemana dong perasaan kagum ini? Hahaha.” Tanya saya pada seorang kawan, usai
kecewa sebab merasa dibohongi setelah membaca tulisan seseorang yang
mengagumkan, yang saya pikir itu adalah tulisannya.
Seolah masih tak ingin percaya, jemari saya mengetik kembali paragraf
demi paragraf dan bait-bait sajaknya di mesin pencarian lalu terbitlah di sana
sang pemilik tulisan sebenarnya. Belum, saya masih belum mau percaya. Saya tak
ingin dilanda kecewa, saya ingin terus menikmati dan mempercayai setiap
tulisannya. Sembari menatap mesin pencarian, sembari berdoa, “semoga tak kutemukan yang sama lagi, jangan
lagi.”
“Selamat, ya!” ucap saya untuk buku barunya yang telah terbit pada minggu
lalu. Mungkin itu akan menjadi ucapan selamat yang terakhir untuk karyanya usai
saya merasa dikecewakan sampai sebegininya.
Mari pelajari dua hal dari kekecewaan yang terjadi pada hari ini :
Satu, menyadari bahwa yang layak untuk
dikagumi adalah Allah, bukan makhluk-Nya. Kalau kagum pada manusia, pasti ada
aja celah buruknya yang bisa membuat kita kecewa.
Dua, mencantumkan sumber atau referensi tulisan
sangatlah penting. Barangkali mungkin memang penulisnya tidak tahu tetapi
bagaimana jika tulisannya terus tersebar, mengalir, namun bukan nama penulisnya
yang dibawanya? Kalau suatu hari ia tahu, apa kau siap bertanggungjawab
menjelaskannya? Kau siap melihat penulis yang katanya kau sukai tulisannya itu
bersedih hati?
Ia pasti akan lebih senang jika tahu kau menuliskan kembali tulisannya
dengan mencantumkan namanya, lalu tulisan kebaikan itu menyebar ke ruang-ruang
di dunia, membawa banyak manfaat dan kesejukan hati, tanpa ada yang bersedih.
Sebaik itu caranya, sebaik itu pula tersampaikannya.
Lalu, apa ada yang bisa menjawab satu pertanyaan di benak saya ini,
Apakah membiarkan kebaikan menyebar dengan cara yang kurang baik itu tak
apa-apa?
Bandung, 29 April 2020
Perasaan kecewa adalah perasaan yang nggak
enak banget.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar