29/04/20

#AprilProduktifDay29 : Kecewa

“Mau kubawa kemana dong perasaan kagum ini? Hahaha.” Tanya saya pada seorang kawan, usai kecewa sebab merasa dibohongi setelah membaca tulisan seseorang yang mengagumkan, yang saya pikir itu adalah tulisannya.

Seolah masih tak ingin percaya, jemari saya mengetik kembali paragraf demi paragraf dan bait-bait sajaknya di mesin pencarian lalu terbitlah di sana sang pemilik tulisan sebenarnya. Belum, saya masih belum mau percaya. Saya tak ingin dilanda kecewa, saya ingin terus menikmati dan mempercayai setiap tulisannya. Sembari menatap mesin pencarian, sembari berdoa, “semoga tak kutemukan yang sama lagi, jangan lagi.”

“Selamat, ya!” ucap saya untuk buku barunya yang telah terbit pada minggu lalu. Mungkin itu akan menjadi ucapan selamat yang terakhir untuk karyanya usai saya merasa dikecewakan sampai sebegininya.

Mari pelajari dua hal dari kekecewaan yang terjadi pada hari ini :
Satu, menyadari bahwa yang layak untuk dikagumi adalah Allah, bukan makhluk-Nya. Kalau kagum pada manusia, pasti ada aja celah buruknya yang bisa membuat kita kecewa.
Dua, mencantumkan sumber atau referensi tulisan sangatlah penting. Barangkali mungkin memang penulisnya tidak tahu tetapi bagaimana jika tulisannya terus tersebar, mengalir, namun bukan nama penulisnya yang dibawanya? Kalau suatu hari ia tahu, apa kau siap bertanggungjawab menjelaskannya? Kau siap melihat penulis yang katanya kau sukai tulisannya itu bersedih hati?

Ia pasti akan lebih senang jika tahu kau menuliskan kembali tulisannya dengan mencantumkan namanya, lalu tulisan kebaikan itu menyebar ke ruang-ruang di dunia, membawa banyak manfaat dan kesejukan hati, tanpa ada yang bersedih. Sebaik itu caranya, sebaik itu pula tersampaikannya.
Lalu, apa ada yang bisa menjawab satu pertanyaan di benak saya ini,

Apakah membiarkan kebaikan menyebar dengan cara yang kurang baik itu tak apa-apa?

Bandung, 29 April 2020
Perasaan kecewa adalah perasaan yang nggak enak banget.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar