15/06/14

El Dan Keberandalannya [Chapter 1]




Mobilku berhenti tepat di depan sebuah kafe. Sosok kecil dan imut yang dulu kukenal itu sudah duduk tenang menungguku di salah satu kursi kafe. Ia terlihat memperhatikanku dari kursinya. Mungkin ia sedikit terperangah, langganan ojeknya dulu kini telah menjadi seseorang yang berani membawa mobil sendiri.

Kini, dia nampak tak imut seperti dulu, tetapi dia memancarkan pesonanya yang lain. Ketampanannya tak berubah. Raut alisnya yang tak biasa, hidung mancungnya, dan bibirnya yang sedikit menghitam, sebab ia seorang perokok. Tubuhnya tegap tak terlalu berisi, namun lekuknya benar-benar seperti memamerkan otot-ototnya, meski sekarang ia tengah menggunakan jas rapi. Tinggiku dengannya hampir sama, hanya saja dirinya lebih tinggi beberapa centimeter.

Awalnya tak pernah di benakku muncul kata “imut” untuk dirinya. Tetapi, suatu kali ketika kami tengah berboncengan, iya, dulu dia sempat menjadi tukang ojekku, aku berteriak, “Lu kurus banget!” teriakku.

“Hah? Gue bukan kurus! Gue imut!” protesnya.
“Gue enggak suka cowok kurus! Enggak enak dipeluk!” gurauku.
“Alah, sekarang cewek enggak ngeliat muka sama body, asal dompet tebel, cewek pasti mau.” Ujarnya dengan pede.
“Tapi, gue bukan cewek kayak gitu!”
“Ih yaudah sih, yang penting dompet gue tebel. Ingat ya, gue imut bukan kurus!”
“Iya iya, avatar lu nipu banget! Ototnya gede banget! Itu kan efek kameranya aja, aslinya kerempeng lu!”
“Namanya juga fotografer, bermain dengan efek.”

Ya, meski kami kala itu baru duduk di kelas 2 SMA, ia berpenghasilan sendiri sebagai seorang fotografer, makanya ia selalu percaya diri mengatakan bahwa dompetnya tebal.

Dia masih memperhatikanku sampai kami berhadapan. Dia tersenyum tipis.
“Hai mba, lu udah banyak berubah. Makin kece , apa lagi sekarang udah jadi hijabers gitu.”
“Hai bang, lu juga, alisnya makin badai aja. Berandalan kok pakai jas?” ledekku.
“Emang enggak boleh? Gue kan pebisnis profesional, cuy.” Pamernya.

Ya, dulu ia adalah seseorang yang kukenal seperti berandalan, amat nakal. Selama aku berteman dengannya, aku hanya mendapat kesan polos dari sikapnya. Tetapi, suatu hari aku menemukan akun instagramnya. Dari sanalah aku mendapatkan kesan nakal. Berbagai macam fotonya dari mulai yang ditindik memakai anting-anting di telinganya layaknya preman, lalu menggunakan tato meskipun bukan yang permanen, hingga posenya yang terbanyak adalah ketika ia tengah merokok. Tak tanggung-tanggung fotonya bersama mantan kekasihnya juga ada di sana. Mereka berpose berpelukan, berciuman, dan saat itulah aku merasakan jijik dan ilfeel yang amat sangat, meski harus kuakui gadis yang bersamanya itu amat sangat cantik.
“Gila lu, anaknya orang udah lu apain?!”
“Biasa aja keles, pasti lu belum pernah begitu, kan? Makanya lu norak..”
“Lu kali yang kagetan sama yang namanya gaul! Salah gaul lu!”
“LU YANG NORAK!” 
  
Waktu masih bocah dulu, kami sering adu mulut. Seperti ketika suatu kali ia menjadi tukang ojekku lagi. Ia merokok sambil membawa motor.
“Matiin tuh rokok!” bentakku. Dia melirik jutek ke arahku sambil memainkan kedua alisnya yang menurutku begitu badai.
“Apa?!!” bentakku, tak suka diperhatikan seperti itu. “Alisnya biasa aja, dong!” seruku.

Akhirnya ia mengalah membuang punting rokoknya. Kami berboncengan diikuti gerimis yang turun mengikuti kami. Gerimis itu semakin deras dan mengejar kami. Ia membelokkan motornya dan kami berteduh. Ia melirik ban belakang motornya.
“Sialan, ban gue bocor.” Katanya sambil menatapku tajam.
“Apa liat-liat?!” bentakku.
“Lu kali yang ngeliatin gue!” bentaknya dengan pede.
“Liat nih ban gue bocor! Gara-gara elu!” dia menyalahkanku.
“Kok gue??”
“Gue udah 3 tahun pakai ini motor, baru kali ini bannya bocor, dan ini pada saat gue bonceng elu!”
“Bohong aja lu!”

Aku hanya bisa manyun. Cowok ini menyebalkan. Harusnya dia berterimakasih, karena ada aku, kalau tidak ada aku pasti dia berteduh sendirian.
“Eh, lu tuh mestinya makasih ke gue! Kalau sekarang gue enggak ada, lu berteduh sendirian!”
“Biarin, gue emang suka sendirian, daripada sama elu! Ngerepotin!”
“Oh, pantes lu jomblo mulu, suka menyendiri, sih.”
“Daripada elu, nunggu seseorang yang enggak peka-peka, itu bego banget.”

Aku bertambah manyun. Sementara itu, ia asyik menyalakan koreknya untuk apa lagi jika bukan untuk merokok. Beberapa orang bapak-bapak yang juga tengah menuduh memandanginya, namun ia tetap cuek dan asyik dengan rokoknya. Waktu itu kami baru duduk di kelas 2 SMA. Menurutku, masih terlalu kecil untuk mengenal rokok, tetapi masa-masa umur seperti itu pula dimana remaja menaruh banyak rasa penasaran terhadap hal-hal yang sebenarnya negatif. Aku tak tahan, aku berkali-kali terbatuk-batuk. Ia menghentikan aksi merokoknya, dan lagi-lagi memandangiku dengan tatapan serta alisnya yang tak biasa itu. Mungkin tersinggung dengan batukanku.
“Apa liat-liat lagi?! Lanjutin aja merokoknya! Lu juga ngapain sih merokok segala, sama aja bikin kematian lu dipercepat!”
Ia diam, masih menatapku dengan memainkan alisnya. ‘Ah, sial! Sok keren banget! Tapi, dia emang keren, sih. Arrrrghhh ngapain sih gue ngatain dia keren, ewh.’ Batinku kala itu.
Lalu ia bersuara, “Lo siapa ya? Lo itu nyokap gue aja bukan! Nyokap gue aja enggak ngelarang gue merokok!!” dan ia kembali melanjutkan aksi merokoknya. Sebatang habis ia hisap saat itu.
“Untung gue bawa mantel, kita pakai mantel aja. Cari tukang tambal ban dulu. Pokoknya selama elu sama gue, lu tenang aja!”

Sepanjang perjalanan aku mengeluh.
“Aduh, kita enggak usah pakai mantel, deh! Kita hujan-hujanan aja, hujan itu untuk dinikmati!”
“Pinter banget lu ya, nanti kita kebasahan, bego!”
“Aduh, tapi gue enggak bisa liat apa-apa, bego. Ini hujannya tahu aja ya kalau gue belum mandi.”
“Yaudah bagus, lu sekalian mandi aja!”

Motor kami melaju sampai berhenti di tukang tambal ban. Tak butuh waktu lama, ban motor sudah selesai diperbaiki. Pada saat di jalan raya, motor kami melewati sebuah mobil yang pengemudinya adalah seorang cewek yang tengah merokok.
“Tuh, liat, cewek aja merokok!” ujarnya. Aku hanya diam. “Itu namanya cewek nakal.” Sahutnya lagi.
“Berarti elu cowok nakal dong?”
“Iya, kalau gue cowok nakal. Lu enggak pengen jadi cewek nakal gitu?” tanyanya sambil tertawa, mengejek. “Eh, lu enggak kedinginan?” tanyanya lagi.
“Kedinginan banget ini.”
“Yaudah, peluk gue aja!” refleks aku menoyor helmnya dari belakang.
“Dasar gatel! Lu kurus! Susah dipeluk!”
“Gue enggak kurus! Gue imut!” kukuhnya. Begitulah kami selalu cek cok.

Selain ia pandai menembus hujan, ia juga pandai melanggar lalu lintas. Kami sering kali melawan arah di jalan raya, itu kami lakukan ketika macet. Kami ambil jalan dengan jalur berbeda. Dengan begitu kami terhindar dari macet. Menurutku, dia tukang ojek paling the best.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar