Dia
sangat nakal, kan? Dan kenakalannya itu mempengaruhi 2 orang temanku yang
culun. Aku mendapati mereka bertiga merokok di pinggir jalan.
“Heh,
elu! Lu ajarin apa anaknya orang?!” bentakku dengan ganas. Seperti biasanya, ia
hanya diam menatapku dengan alisnya yang tak biasa. Mulai saat itu, aku mulai
menjaga jarak darinya. Cowok nakal ini bisa saja mempengaruhiku, atau aku
sendiri yang terpengaruh olehnya. Beberapa kali aku menolak tebengannya.
“Nih,
rokok nih.” Dia menyodorkanku dengan senyum lebar.
“Apaan
sih? Gila lo!” seruku dengan ketus.
“Lo
nginep di sini enggak, bro?” tanya Keenan.
“Gimana
yah, bro? ini nih, ada bidadari mau diantar pulang dulu, kasian udah malam.”
Jawabnya sambil melirikku.
“Idih,
siapa yang mau diantar pulang sama elu?! Enggak usah, gue pulang sendiri aja. Gue
mandiri kok.”
“Beneran
bisa pulang sendiri?” tanyanya, seolah-olah aku tak akan baik-baik saja bila
tak bersamanya. Aku hanya mengangguk yakin.
“Yaudah
sana, pulang sendiri.” Katanya dengan nada cuek. Huh, kupikir tadi ia
mengkhawatirkanku jika pulang sendiri, ternyata sama sekali tidak.
Suatu
hari aku terkejut dengan kabar buruk tentangnya.
“El!”
teriakku siang itu, ia tengah merokok di pinggir jalan.
“Lu
bolos lagi?”
“Bolos?”
ia tertawa keras. “Pura-pura enggak tahu lo.”
“Jadi?
Berita itu emang benar?”
“Berita
yang mana sih? Enggak usah sok simpati kayak gitu, gue tahu elu senang udah
enggak satu sekolah lagi sama gue.”
“Maksud
lu apa? Lu tuh kenapa? Kenapa sampai di keluarin dari sekolah? Lu gila, lu
keterlaluan, kerja pr aja enggak becus lu, sekarang malah merokok di sini, sok
dewasa banget tau enggak lu!”
“Diem
aja deh kalau enggak tahu apa-apa.”
“Gue
tahu hidup lu. Gue tahu latar belakang keluarga lu. Gue tahu lu pernah nangis
gara-gara nyokap lu, ngaku lu!”
Dia
terdiam sejenak.
“Lu
tahu apa, Raisa? Hah?!!!”
Aku
bergidik.
“Meskipun
bokap lu kasar ke elu dan nyokap lu, meskipun dia ninggalin kalian berdua, lu
seharusnya enggak boleh kayak gini. Tolol banget sih! Lu harusnya buktikan ke
bokap lu, bahwa lu bisa jaga nyokap lu, bisa menjadi pria yang lebih baik dari
dia!!!! Ngerti enggak sih, lu?! Dasar bocah!”
Dia
diam, menatap jalanan.
“Yeee
bocah ngatain bocah! Terserah lu aja.” Ucapnya pelan kemudian meninggalkanku.
El
namanya. Bukan seorang pria dingin tetapi ia terbilang cukup cuek. Kami
sama-sama terdiam selama beberapa saat.
“Eh,
kok diem? Kabar lu sekarang gimana? Bisnis apa lo ampe udah punya mobil sendiri
gitu?”
“Alah
pura-pura enggak tahu lu, gue bisnis butik, gue juga kerja sebagai wartawan.
Emang lu enggak pernah liat gue nongol di TV?”
“Jiahaha,
enggak pernah tuh. Eh, lu mau pesan apa? Pesan aja. Lu tenang aja kalau jalan
sama gue, dompet gue tebel.”
“Gila,
lu masih sombong ya kayak dulu.” kami berdua sama-sama tertawa, hangat. “Hmm,
lu masih merokok?” tanyaku dengan sedikit hati-hati.
“Hmm,
ini lagi proses belajar berhenti merokok, soalnya lagi belajar mencintaimu, lu
kan enggak suka sama bau rokok. Jadi, sebagai calon yang baik gue kudu berhenti
dari kebiasaan merokok gue.”
“Tunggu
dulu, calon? Lu mau kawin sama siapa?”
“Aduh
loading banget sih lu, ya sama elu kali.” Jawabnya cuek.
“Sialan, kagak mau gue.”
“Yeee,
emangnya gue mau? Ogah..”
Hampir
satu jam kami bernostalgia, flashback, mengingat hal-hal yang pernah terjadi
dulu. sifat angkuh dan belagunya tak berubah, kekonyolannya juga.
***
“Cabut,
yuk!”
“Kemana?”
“Keliling
kota aja!”
“Naik
motor?”
“Iya,
lu kan sukanya jalan-jalan naik motor.”
“Hmm,
lu enggak bosan jadi tukang ojek gue mulu?”
“Maksud
lu?”
“Gimana
kalau kita naik mobil gue, gantian. Gue yang jadi sopir lu, sopir yang
dompetnya tebel.” godaku. Dia tertawa. “Okay!” tanggapnya.
Ia
duduk di sebelahku, aku yang mengemudikan mobil. Kurasa, sejak tadi
pandangannya tak lepas dariku.
“Apasih
liat-liat?”
“Enggak.
Enggak nyangka aja elo sekarang jadi sopir gue.” Ujarnya sambil berdecak dan
menggelengkan kepala.
“Sialan
lo!” gerutuku. “Lu beneran udah berhenti merokok?”
“Iya
lagi belajar. Soalnya gue enggak pengen kematian gue dipercepat, gue masih
pengen menghabiskan waktu sama elu, selama-lamanya kalau bisa.”
“Lebay
lo!” seruku sambil tertawa, diikuti tawanya juga.
Bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar