15/06/14

El Dan Keberandalannya [Chapter 2]



Dia sangat nakal, kan? Dan kenakalannya itu mempengaruhi 2 orang temanku yang culun. Aku mendapati mereka bertiga merokok di pinggir jalan.
“Heh, elu! Lu ajarin apa anaknya orang?!” bentakku dengan ganas. Seperti biasanya, ia hanya diam menatapku dengan alisnya yang tak biasa. Mulai saat itu, aku mulai menjaga jarak darinya. Cowok nakal ini bisa saja mempengaruhiku, atau aku sendiri yang terpengaruh olehnya. Beberapa kali aku menolak tebengannya.
“Nih, rokok nih.” Dia menyodorkanku dengan senyum lebar.
“Apaan sih? Gila lo!” seruku dengan ketus.
“Lo nginep di sini enggak, bro?” tanya Keenan.
“Gimana yah, bro? ini nih, ada bidadari mau diantar pulang dulu, kasian udah malam.” Jawabnya sambil melirikku.
“Idih, siapa yang mau diantar pulang sama elu?! Enggak usah, gue pulang sendiri aja. Gue mandiri kok.”
“Beneran bisa pulang sendiri?” tanyanya, seolah-olah aku tak akan baik-baik saja bila tak bersamanya. Aku hanya mengangguk yakin.
“Yaudah sana, pulang sendiri.” Katanya dengan nada cuek. Huh, kupikir tadi ia mengkhawatirkanku jika pulang sendiri, ternyata sama sekali tidak.
Suatu hari aku terkejut dengan kabar buruk tentangnya.
“El!” teriakku siang itu, ia tengah merokok di pinggir jalan.
“Lu bolos lagi?”
“Bolos?” ia tertawa keras. “Pura-pura enggak tahu lo.”
“Jadi? Berita itu emang benar?”
“Berita yang mana sih? Enggak usah sok simpati kayak gitu, gue tahu elu senang udah enggak satu sekolah lagi sama gue.”
“Maksud lu apa? Lu tuh kenapa? Kenapa sampai di keluarin dari sekolah? Lu gila, lu keterlaluan, kerja pr aja enggak becus lu, sekarang malah merokok di sini, sok dewasa banget tau enggak lu!”
“Diem aja deh kalau enggak tahu apa-apa.”
“Gue tahu hidup lu. Gue tahu latar belakang keluarga lu. Gue tahu lu pernah nangis gara-gara nyokap lu, ngaku lu!”
Dia terdiam sejenak.
“Lu tahu apa, Raisa? Hah?!!!”
Aku bergidik.
“Meskipun bokap lu kasar ke elu dan nyokap lu, meskipun dia ninggalin kalian berdua, lu seharusnya enggak boleh kayak gini. Tolol banget sih! Lu harusnya buktikan ke bokap lu, bahwa lu bisa jaga nyokap lu, bisa menjadi pria yang lebih baik dari dia!!!! Ngerti enggak sih, lu?! Dasar bocah!”
Dia diam, menatap jalanan.
“Yeee bocah ngatain bocah! Terserah lu aja.” Ucapnya pelan kemudian meninggalkanku.


El namanya. Bukan seorang pria dingin tetapi ia terbilang cukup cuek. Kami sama-sama terdiam selama beberapa saat.
“Eh, kok diem? Kabar lu sekarang gimana? Bisnis apa lo ampe udah punya mobil sendiri gitu?”
“Alah pura-pura enggak tahu lu, gue bisnis butik, gue juga kerja sebagai wartawan. Emang lu enggak pernah liat gue nongol di TV?”
“Jiahaha, enggak pernah tuh. Eh, lu mau pesan apa? Pesan aja. Lu tenang aja kalau jalan sama gue, dompet gue tebel.”
“Gila, lu masih sombong ya kayak dulu.” kami berdua sama-sama tertawa, hangat. “Hmm, lu masih merokok?” tanyaku dengan sedikit hati-hati.
“Hmm, ini lagi proses belajar berhenti merokok, soalnya lagi belajar mencintaimu, lu kan enggak suka sama bau rokok. Jadi, sebagai calon yang baik gue kudu berhenti dari kebiasaan merokok gue.”
“Tunggu dulu, calon? Lu mau kawin sama siapa?”
“Aduh loading banget sih lu, ya sama elu kali.” Jawabnya cuek.
 “Sialan, kagak mau gue.”
“Yeee, emangnya gue mau? Ogah..”

Hampir satu jam kami bernostalgia, flashback, mengingat hal-hal yang pernah terjadi dulu. sifat angkuh dan belagunya tak berubah, kekonyolannya juga.

***

“Cabut, yuk!”
“Kemana?”
“Keliling kota aja!”
“Naik motor?”
“Iya, lu kan sukanya jalan-jalan naik motor.”
“Hmm, lu enggak bosan jadi tukang ojek gue mulu?”
“Maksud lu?”
“Gimana kalau kita naik mobil gue, gantian. Gue yang jadi sopir lu, sopir yang dompetnya tebel.” godaku. Dia tertawa. “Okay!” tanggapnya.

Ia duduk di sebelahku, aku yang mengemudikan mobil. Kurasa, sejak tadi pandangannya tak lepas dariku.
“Apasih liat-liat?”
“Enggak. Enggak nyangka aja elo sekarang jadi sopir gue.” Ujarnya sambil berdecak dan menggelengkan kepala.
“Sialan lo!” gerutuku. “Lu beneran udah berhenti merokok?”
“Iya lagi belajar. Soalnya gue enggak pengen kematian gue dipercepat, gue masih pengen menghabiskan waktu sama elu, selama-lamanya kalau bisa.”
“Lebay lo!” seruku sambil tertawa, diikuti tawanya juga.

Bersambung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar