Yang pernah jatuh akan berdiri lagi..
Sama seperti
manusia kebanyakan, aku pernah jatuh dan patah. Aku pernah hampir menyerah pada
mimpi, pada hal-hal yang mungkin tak pantas dalam genggamku, pada dia yang
pernah membuatku jatuh setengah mati, pada kejadian-kejadian yang mungkin
kenangannya sulit untuk aku hindari.
Meski begitu,
tiap kali jatuh, kucoba berdiri lagi. Tiap kali gagal, kucoba yakini suatu saat
akan ada mimpi yang akan membersamaiku. Tiap kali aku diminta pergi, aku tak
beranjak dari tempatku berdiri. Ketika takdir membawaku pada suatu rentetan
kejadian yang kuanggap ajaib karena tak pernah terpikir sekalipun ini akan ada dalam
skenario di hidupku. Lalu, firasatku membenarkan. Hatiku akan memastikan diriku
jika suatu saat ada yang membuatku jatuh lagi, ia akan membantuku berdiri, tak akan
lagi memintaku untuk pergi, tak akan lagi, tak akan lagi.
Terimakasih untuk
yang jatuh padaku. Berdo’alah agar Allah lindungi kamu dari lemahnya jiwa yang
jatuh hati agar kamu tak rasakan bagaimana patah hati akan mempersulit
hari-harimu sendiri. Kau akan kesulitan makan, minum, tidur, dan melakukan
aktifitas normal lainnya. Kau akan menjadi tak normal, bahkan enggan memandang
dirimu sendiri di dalam cermin di kamarmu.
Terimakasih untuk
selalu mendukung apa yang aku lakukan, termasuk ucapan terimakasih karena
mengunjungi tulisan-tulisanku. Untuk mengetahui tentang seseorang khususnya di
jaman sekarang, bukankah sangat mudah? Ketika kau tak berhenti membaca
tulisannya kau akan memahami sendiri sang penulis itu, kau akan menyelami isi
pikirannya bahkan hatinya. Lantas, masih maukah melakukan cara-cara yang tak elegant? Bukankah lebih tepat sasaran
jika langsung meminta hatinya melalui Sang Penciptanya?
Yang patah tumbuh yang hilang berganti..
Seperti mimpi
semalam. Seperti yang aku tuliskan dalam lembaran-lembaran agenda bisuku. Mimpi
dengan sendirinya melukiskan dirinya. Keyakinan selalu menang bahwa Allah akan
gantikan. Meski kala itu, langkahku terbelenggu dan mataku tak sanggup
membendung, aku tahu, aku harus memilih. Meninggalkan hal baik untuk
mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Dari sebuah perjalanan yang ikhlas, aku
belajar banyak hal bahwa kau harus berani memilih, menjalani pilihan, dan
menghadapi risiko dari segala pilihanmu.
Bukankah setiap
manusia memiliki pilihan? Bukankah setiap manusia memiliki hak atas dirinya
sendiri? Bukankah setiap manusia bisa memberontak? Untuk hati dan jiwanya
sendiri. Setiap manusia adalah sama, sama-sama ditiupkan ruh ke dalam jiwanya,
perihal ia memiliki wajah tampan atau cantik, bukankah itu hanya sebagian kecil
bonus dari Sang Pencipta?
Lalu, di antara
manusia-manusia itu Allah takdirkan untuk bertemu. Pertemuan diciptakan adalah
untuk kau hargai. Jadi, aku ingin meminta maaf pada semua yang tak bisa
melangkah bersamaku mungkin karena beberapa alasan yang tak bisa aku kemukakan.
Tanpa mereka tahu, mereka selalu punya tempat di hatiku. Siapapun mereka. Tak kenal
jarak atau waktu. Karena tiap orang yang hadir di dalam hidupku, jauh atau
dekat, lama atau sebentar, selalu memberi kesan dengan cara mereka sendiri. Mungkin
aku dingin terhadap mereka, tetapi mereka akan selalu hangat di dalam hati, di
kenanganku. Tiap orang yang hadir adalah keputusan-Nya, adalah takdir dari-Nya.
Mereka dihadirkan bukan sekedarnya saja, tetapi membawa pelajaran yang kadang
manusia buru-buru tak ingin mengerti. Padahal, jikalau mereka memiliki waktu
sebentar saja untuk memikirkan takdir yang tengah berjalan, mungkin rasa bijak
akan hinggap.
Yang hancur lebur akan terobati..
Seperti apa
rasanya hancur lebur? Rasanya ketika tak ada satu manusiapun lagi yang mengerti
dirimu, sehingga seperti kodratnya manusia, ia akan selalu kembali kepada
Tuhannya. Dalam sujud panjang, rasanya ada kelegaan yang luarbiasa. Ketika sajadah
mulai basah oleh airmata, ketika segala dosa mulai mengenang dalam bayang
pikiran, ketika setiap langkah yang dijalani adalah suatu kesalahan, ketika do’a
seharusnya tak pernah berhenti, ketika hanya Tuhanmu yang mengerti dirimu. Kemudian,
kau melebur jadi satu dalam kepasrahanmu dalam do’a-do’amu pada-Nya, dalam
serpihan hatimu yang patah, dalam sayap-sayap semangat yang terluka. Ah,
rasanya tak ingin bangkit dari sujud malam itu.
Sampai saat ini,
hati masih berusaha berdamai dengan masa lalu. Pahamilah bahwa
kesalahan-kesalahan yang terjadi dahulu, Allah bertujuan untuk menjadikannya
alasan mengapa sampai hari ini kau selalu ingat kepada-Nya.
Yang sia-sia akan jadi makna..
Ketika aku
menemukan diriku hampir menyerah, aku merasa semua yang telah berlalu adalah sia-sia.
Tetapi, aku ingin bijak pada diriku sendiri. Mulailah otak kalang kabut
berpikir keras cara apa kiranya yang mampu ditempuh untuk memperbaiki kesalahan
dan menyempurnakan kelemahan? Pada akhirnya, kita hanya butuh cinta-Nya untuk
pulihkan diri.
Tentang masuk di
perguruan tinggi, bukankah itu termasuk bagian terbesar juga di dalam hidup
seseorang? Lalu bagaimana bagi mereka yang membeli tanpa berjuang? Mereka yang
membeli perjuangan tidak akan pernah tahu makna berjuang. Pendidikan saja perlu
perjuangan, apa lagi untuk memiliki hati seseorang yang napasnya sangat
berharga, tidak akan semudah itu. Perjuangan yang sesugguhnya tidak akan pernah
bisa dibeli.
Yang terus berulang suatu saat henti..
Ini berlaku pula
untuk usia tiap orang. Suatu saat, hari ini akan berhenti, ketika dunia tak
memintamu lagi untuk tinggal di sisinya.
Hari ini,
selamat mengulang tahun, Nina. Selamat bertanya pada diri sendiri bahwa selama
20 tahun di dalam hidupmu ini apa yang sudah kau lakukan terutama untuk
orangtuamu? Selamat bertemu tanggal 24 lagi, selamat berkepala dua, selamat
menjawab pertanyan-pertanyaan masa depan, selamat memilih dan menerima, selamat
berbagi nikmat dan rasa syukur, selamat membahagiakan orang-orang di
sekelilingmu, Nina. Seperti layaknya usia yang berulang, namun suatu saat akan
berhenti.
Catatan: Tulisan ini terinspirasi dari lirik
lagu Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti
24 Januari 1997 – 24 Januari 2017
:)
BalasHapushai anon :)
Hapus