24/01/17

Catatan 20 Tahun

Yang pernah jatuh akan berdiri lagi..
Sama seperti manusia kebanyakan, aku pernah jatuh dan patah. Aku pernah hampir menyerah pada mimpi, pada hal-hal yang mungkin tak pantas dalam genggamku, pada dia yang pernah membuatku jatuh setengah mati, pada kejadian-kejadian yang mungkin kenangannya sulit untuk aku hindari.

Meski begitu, tiap kali jatuh, kucoba berdiri lagi. Tiap kali gagal, kucoba yakini suatu saat akan ada mimpi yang akan membersamaiku. Tiap kali aku diminta pergi, aku tak beranjak dari tempatku berdiri. Ketika takdir membawaku pada suatu rentetan kejadian yang kuanggap ajaib karena tak pernah terpikir sekalipun ini akan ada dalam skenario di hidupku. Lalu, firasatku membenarkan. Hatiku akan memastikan diriku jika suatu saat ada yang membuatku jatuh lagi, ia akan membantuku berdiri, tak akan lagi memintaku untuk pergi, tak akan lagi, tak akan lagi.

Terimakasih untuk yang jatuh padaku. Berdo’alah agar Allah lindungi kamu dari lemahnya jiwa yang jatuh hati agar kamu tak rasakan bagaimana patah hati akan mempersulit hari-harimu sendiri. Kau akan kesulitan makan, minum, tidur, dan melakukan aktifitas normal lainnya. Kau akan menjadi tak normal, bahkan enggan memandang dirimu sendiri di dalam cermin di kamarmu.

Terimakasih untuk selalu mendukung apa yang aku lakukan, termasuk ucapan terimakasih karena mengunjungi tulisan-tulisanku. Untuk mengetahui tentang seseorang khususnya di jaman sekarang, bukankah sangat mudah? Ketika kau tak berhenti membaca tulisannya kau akan memahami sendiri sang penulis itu, kau akan menyelami isi pikirannya bahkan hatinya. Lantas, masih maukah melakukan cara-cara yang tak elegant? Bukankah lebih tepat sasaran jika langsung meminta hatinya melalui Sang Penciptanya?

Yang patah tumbuh yang hilang berganti..
Seperti mimpi semalam. Seperti yang aku tuliskan dalam lembaran-lembaran agenda bisuku. Mimpi dengan sendirinya melukiskan dirinya. Keyakinan selalu menang bahwa Allah akan gantikan. Meski kala itu, langkahku terbelenggu dan mataku tak sanggup membendung, aku tahu, aku harus memilih. Meninggalkan hal baik untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Dari sebuah perjalanan yang ikhlas, aku belajar banyak hal bahwa kau harus berani memilih, menjalani pilihan, dan menghadapi risiko dari segala pilihanmu.

Bukankah setiap manusia memiliki pilihan? Bukankah setiap manusia memiliki hak atas dirinya sendiri? Bukankah setiap manusia bisa memberontak? Untuk hati dan jiwanya sendiri. Setiap manusia adalah sama, sama-sama ditiupkan ruh ke dalam jiwanya, perihal ia memiliki wajah tampan atau cantik, bukankah itu hanya sebagian kecil bonus dari Sang Pencipta?

Lalu, di antara manusia-manusia itu Allah takdirkan untuk bertemu. Pertemuan diciptakan adalah untuk kau hargai. Jadi, aku ingin meminta maaf pada semua yang tak bisa melangkah bersamaku mungkin karena beberapa alasan yang tak bisa aku kemukakan. Tanpa mereka tahu, mereka selalu punya tempat di hatiku. Siapapun mereka. Tak kenal jarak atau waktu. Karena tiap orang yang hadir di dalam hidupku, jauh atau dekat, lama atau sebentar, selalu memberi kesan dengan cara mereka sendiri. Mungkin aku dingin terhadap mereka, tetapi mereka akan selalu hangat di dalam hati, di kenanganku. Tiap orang yang hadir adalah keputusan-Nya, adalah takdir dari-Nya. Mereka dihadirkan bukan sekedarnya saja, tetapi membawa pelajaran yang kadang manusia buru-buru tak ingin mengerti. Padahal, jikalau mereka memiliki waktu sebentar saja untuk memikirkan takdir yang tengah berjalan, mungkin rasa bijak akan hinggap.

Yang hancur lebur akan terobati..
Seperti apa rasanya hancur lebur? Rasanya ketika tak ada satu manusiapun lagi yang mengerti dirimu, sehingga seperti kodratnya manusia, ia akan selalu kembali kepada Tuhannya. Dalam sujud panjang, rasanya ada kelegaan yang luarbiasa. Ketika sajadah mulai basah oleh airmata, ketika segala dosa mulai mengenang dalam bayang pikiran, ketika setiap langkah yang dijalani adalah suatu kesalahan, ketika do’a seharusnya tak pernah berhenti, ketika hanya Tuhanmu yang mengerti dirimu. Kemudian, kau melebur jadi satu dalam kepasrahanmu dalam do’a-do’amu pada-Nya, dalam serpihan hatimu yang patah, dalam sayap-sayap semangat yang terluka. Ah, rasanya tak ingin bangkit dari sujud malam itu.

Sampai saat ini, hati masih berusaha berdamai dengan masa lalu. Pahamilah bahwa kesalahan-kesalahan yang terjadi dahulu, Allah bertujuan untuk menjadikannya alasan mengapa sampai hari ini kau selalu ingat kepada-Nya.

Yang sia-sia akan jadi makna..
Ketika aku menemukan diriku hampir menyerah, aku merasa semua yang telah berlalu adalah sia-sia. Tetapi, aku ingin bijak pada diriku sendiri. Mulailah otak kalang kabut berpikir keras cara apa kiranya yang mampu ditempuh untuk memperbaiki kesalahan dan menyempurnakan kelemahan? Pada akhirnya, kita hanya butuh cinta-Nya untuk pulihkan diri.

Tentang masuk di perguruan tinggi, bukankah itu termasuk bagian terbesar juga di dalam hidup seseorang? Lalu bagaimana bagi mereka yang membeli tanpa berjuang? Mereka yang membeli perjuangan tidak akan pernah tahu makna berjuang. Pendidikan saja perlu perjuangan, apa lagi untuk memiliki hati seseorang yang napasnya sangat berharga, tidak akan semudah itu. Perjuangan yang sesugguhnya tidak akan pernah bisa dibeli.

Yang terus berulang suatu saat henti..
Ini berlaku pula untuk usia tiap orang. Suatu saat, hari ini akan berhenti, ketika dunia tak memintamu lagi untuk tinggal di sisinya.

Hari ini, selamat mengulang tahun, Nina. Selamat bertanya pada diri sendiri bahwa selama 20 tahun di dalam hidupmu ini apa yang sudah kau lakukan terutama untuk orangtuamu? Selamat bertemu tanggal 24 lagi, selamat berkepala dua, selamat menjawab pertanyan-pertanyaan masa depan, selamat memilih dan menerima, selamat berbagi nikmat dan rasa syukur, selamat membahagiakan orang-orang di sekelilingmu, Nina. Seperti layaknya usia yang berulang, namun suatu saat akan berhenti.


Catatan: Tulisan ini terinspirasi dari lirik lagu Banda Neira – Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti
24 Januari 1997 – 24 Januari 2017





2 komentar: