Aku dalam
perjalanan pulang. Titik-titik hujan di kaca jendela kereta menemaniku.
Pesan-pesan yang dia sampaikan padaku menyemangatiku. Dia mengatakan bahwa aku
selalu punya tempat di sisinya untuk kembali.
Dan memori itu
terulang-ulang di dalam ingatan yang kadang sulit untuk kuingat karena telah
memburam bersama waktu.
“Salamin saya
sama dia!”
“Malas!”
Aku tersenyum
menerawang, memandang arakan awan yang mendung di langit. Mengingatnya
memintaku menyampaikan salam untuk perempuan lain, rasanya adalah hal yang
tidak mungkin akan kulakukan, apa lagi dia memintanya dengan mata bersinar
seperti itu, seperti diiringi salam itu dengan cinta. Enak saja kau!
“Hai! Tadi di
acara yang kuhadiri itu ada laki-laki mirip kamu!”
“Berarti Tuhan
dengar doaku.”
Saat membaca
balasan pesannya yang jauh di sana, aku mengernyitkan dahi.
“Apa doamu?”
balasku.
“Satukan kita.”
Dan sekali lagi, dia berhasil membuatku tersenyum sekaligus geleng-geleng
kepala.
“Hah?” balasku.
“Lupakan.” Aku
hanya diam membaca balasannya lagi. Lalu, dia mengirim pesan lagi.
“Lupakan, nanti
baru ingat lagi.” Dan kali ini aku tertawa. “Jaga diri ya, untukku.” Tambahnya.
“Ah ngeri.”
Kataku. Mungkin kurang nyambung, tetapi aku merasa ngeri saja kalau dia sudah
berpesan hal yang serius padaku.
“Ngeri tapi
suka.” Lagi-lagi, lagi-lagi.
Lamunanku buyar,
sepasang kakek nenek datang mendekat. Rupanya mereka akan duduk pada bangku
kereta di hadapanku. Sang kakek membantu istrinya duduk. Kakek itu membantu
istrinya dengan sangat hati-hati, seolah ingin menunjukkan padaku bahwa ia
sangat mencintai perempuan tua itu hingga tak akan membiarkan perempuan itu
terluka sedikitpun. Kakek itu menoleh padaku yang sejak tadi memperhatikannya.
Ia tersenyum dan aku membalas senyumannya. Sepasang kekasih yang menua itu
duduk bersama dengan tenang, aku seperti melihat kedamaian yang tulus di antara
keduanya. Kekuatan cinta mereka membawa energi damai untukku, mungkin juga bagi
orang-orang yang melihat mereka.
Aku kembali
memandang keluar jendela.
“Kamu rindu sama
saya, kan?” tanyamu tetapi maksa.
“Iya. Iya aja.
Iyain aja.”
“Ah, dikasih
blur lagi.”
“Apanya blur?”
“Kangennya.”
Aku suka
melakukan perjalanan dengan kereta. Saat itu suasananya memang sendu betul,
entah mengapa. Awan terus mendung, tetapi ia hanya gerimis saja. Tiba-tiba
teringat perisitiwa gempa beberapa waktu yang lalu.
“Berapa sr?” dia
bertanya.
“5.” Balasku
diikuti emote cemberut.
“Kuat banget.”
“Iya, kayak hati
kamu, kuat.”
“Aduh, hati
lagi.” Katanya diikuti emote jengkel.
Aku tertawa
saja.
“Saya kambuh.”
“Penyakitnya
sudah akut.” Katanya ditambahi emote jengkel lagi.
“Sembuhin.”
“Caranya?”
“Nggak tahu.”
“Kamu yang ke
sini atau saya yang ke sana?”
Aku berpikir
sebentar.
“Kita di kota
masing-masing saja.” Aku tak ingin memilih.
“Atau ketemu di
Mal Ciputra saja?” ah, dia bercanda.
Aku tertawa.
“Sekalian saja
di kafe Network.” Aku membalas candaannya.
“Aduh, banyak
orang. Nanti kamu dilihati.”
“Di Mal Ciputra
juga banyak orang. Sekalian kamu kenalin saya sama perempuan yang pakai baju
merah waktu itu.” Waktu aku melihat dia tega mengupload foto bersama seorang
perempuan yang entah siapa namanya.
“Perempuan yang
pakai baju merah itu yang kerja di kafe Network. Jangan cemburulah.” Katanya
ditambahi kata “please” di belakangnya. “Ya sudah, kamu ke sini saja.” Katanya
lagi.
“Iya, saya tahu
itu pekerja di sana. Jangan-jangan kamu juga kerja di sana? Ya sudah, jemput.”
“Mana ada. Oke,
on the way.” Aku tahu, on the way itu hanya candaan belaka. Tak ada yang
bergerak, hanya jari-jari kami yang sibuk mengetik di layar ponsel.
Saat itu aku
sempat typo.
“Typo itu tanda
rindu.” Ah, dia.
“Udah, ah. Nanti
typo lagi.”
Sekejap kemudian
kualihkan pandanganku kembali pada pasangan tua itu. Sang kakek mendekap tangan
sang nenek, sedangkan nenek itu sendiri tengah memejamkan matanya. Entah betul
tidur atau sedang menghayati kehangatan yang ia peroleh dari suaminya. Pikiranku
belum juga teralih dari dia.
“Fiksi atau.. ?”
tanya dia begitu mengetahui aku membuat tulisan baru lagi.
“Baca saja, baru
akan mengerti.”
“Nggak mau, ah.
Nanti saya sakit.”
“Apanya yang
sakit? Mata kamu?” tanyaku dengan emote datar.
“Semuanya.”
Balasnya dengan cepat.
“Jadi, salah
saya?”
“Enggak tahu.”
Balasnya, kali ini dengan emote cemberut.
“Ya sudah, saya
saja yang salah, daripada kamu bingung.”
“Pasrah begitu.
“
Tiba-tiba
seorang pria yang kuperkirakan usianya berjarak dua sampai tiga tahun denganku
menduduki kursi kosong di sebelahku. Wajahnya cukup tampan, sayangnya ia
terlihat cuek. Ia duduk tanpa menoleh ke arahku dan memejamkan matanya. Di
telinganya terpasang earphone dan aku
bisa dengan jelas mendengar musik yang diputarnya. Besar sekali dia pasang
volumenya. Samar-samar aku mengenali lagu yang terputar di telinganya itu. Aku
menahan tawa karena geli, kelihatannya ia sedang galau.
BERSAMBUNG
23 5 ��
BalasHapus