12/02/17

Dia Adalah Dilanku, Bukan Dilannya Milea



Aku dalam perjalanan pulang. Titik-titik hujan di kaca jendela kereta menemaniku. Pesan-pesan yang dia sampaikan padaku menyemangatiku. Dia mengatakan bahwa aku selalu punya tempat di sisinya untuk kembali.

Dan memori itu terulang-ulang di dalam ingatan yang kadang sulit untuk kuingat karena telah memburam bersama waktu.

“Salamin saya sama dia!”
“Malas!”
Aku tersenyum menerawang, memandang arakan awan yang mendung di langit. Mengingatnya memintaku menyampaikan salam untuk perempuan lain, rasanya adalah hal yang tidak mungkin akan kulakukan, apa lagi dia memintanya dengan mata bersinar seperti itu, seperti diiringi salam itu dengan cinta. Enak saja kau!
“Hai! Tadi di acara yang kuhadiri itu ada laki-laki mirip kamu!”
“Berarti Tuhan dengar doaku.”
Saat membaca balasan pesannya yang jauh di sana, aku mengernyitkan dahi.
“Apa doamu?” balasku.
“Satukan kita.” Dan sekali lagi, dia berhasil membuatku tersenyum sekaligus geleng-geleng kepala.
“Hah?” balasku.
“Lupakan.” Aku hanya diam membaca balasannya lagi. Lalu, dia mengirim pesan lagi.
“Lupakan, nanti baru ingat lagi.” Dan kali ini aku tertawa. “Jaga diri ya, untukku.” Tambahnya.
“Ah ngeri.” Kataku. Mungkin kurang nyambung, tetapi aku merasa ngeri saja kalau dia sudah berpesan hal yang serius padaku.
“Ngeri tapi suka.” Lagi-lagi, lagi-lagi.

Lamunanku buyar, sepasang kakek nenek datang mendekat. Rupanya mereka akan duduk pada bangku kereta di hadapanku. Sang kakek membantu istrinya duduk. Kakek itu membantu istrinya dengan sangat hati-hati, seolah ingin menunjukkan padaku bahwa ia sangat mencintai perempuan tua itu hingga tak akan membiarkan perempuan itu terluka sedikitpun. Kakek itu menoleh padaku yang sejak tadi memperhatikannya. Ia tersenyum dan aku membalas senyumannya. Sepasang kekasih yang menua itu duduk bersama dengan tenang, aku seperti melihat kedamaian yang tulus di antara keduanya. Kekuatan cinta mereka membawa energi damai untukku, mungkin juga bagi orang-orang yang melihat mereka.

Aku kembali memandang keluar jendela.

“Kamu rindu sama saya, kan?” tanyamu tetapi maksa.
“Iya. Iya aja. Iyain aja.”
“Ah, dikasih blur lagi.”
“Apanya blur?”
“Kangennya.”

Aku suka melakukan perjalanan dengan kereta. Saat itu suasananya memang sendu betul, entah mengapa. Awan terus mendung, tetapi ia hanya gerimis saja. Tiba-tiba teringat perisitiwa gempa beberapa waktu yang lalu.

“Berapa sr?” dia bertanya.
“5.” Balasku diikuti emote cemberut.
“Kuat banget.”
“Iya, kayak hati kamu, kuat.”
“Aduh, hati lagi.” Katanya diikuti emote jengkel.
Aku tertawa saja.
“Saya kambuh.”
“Penyakitnya sudah akut.” Katanya ditambahi emote jengkel lagi.
“Sembuhin.”
“Caranya?”
“Nggak tahu.”
“Kamu yang ke sini atau saya yang ke sana?”
Aku berpikir sebentar.
“Kita di kota masing-masing saja.” Aku tak ingin memilih.
“Atau ketemu di Mal Ciputra saja?” ah, dia bercanda.
Aku tertawa.
“Sekalian saja di kafe Network.” Aku membalas candaannya.
“Aduh, banyak orang. Nanti kamu dilihati.”
“Di Mal Ciputra juga banyak orang. Sekalian kamu kenalin saya sama perempuan yang pakai baju merah waktu itu.” Waktu aku melihat dia tega mengupload foto bersama seorang perempuan yang entah siapa namanya.
“Perempuan yang pakai baju merah itu yang kerja di kafe Network. Jangan cemburulah.” Katanya ditambahi kata “please” di belakangnya. “Ya sudah, kamu ke sini saja.” Katanya lagi.
“Iya, saya tahu itu pekerja di sana. Jangan-jangan kamu juga kerja di sana? Ya sudah, jemput.”
“Mana ada. Oke, on the way.” Aku tahu, on the way itu hanya candaan belaka. Tak ada yang bergerak, hanya jari-jari kami yang sibuk mengetik di layar ponsel.
Saat itu aku sempat typo.
“Typo itu tanda rindu.” Ah, dia.
“Udah, ah. Nanti typo lagi.”

Sekejap kemudian kualihkan pandanganku kembali pada pasangan tua itu. Sang kakek mendekap tangan sang nenek, sedangkan nenek itu sendiri tengah memejamkan matanya. Entah betul tidur atau sedang menghayati kehangatan yang ia peroleh dari suaminya. Pikiranku belum juga teralih dari dia.

“Fiksi atau.. ?” tanya dia begitu mengetahui aku membuat tulisan baru lagi.
“Baca saja, baru akan mengerti.”
“Nggak mau, ah. Nanti saya sakit.”
“Apanya yang sakit? Mata kamu?” tanyaku dengan emote datar.
“Semuanya.” Balasnya dengan cepat.
“Jadi, salah saya?”
“Enggak tahu.” Balasnya, kali ini dengan emote cemberut.
“Ya sudah, saya saja yang salah, daripada kamu bingung.”
“Pasrah begitu. “

Tiba-tiba seorang pria yang kuperkirakan usianya berjarak dua sampai tiga tahun denganku menduduki kursi kosong di sebelahku. Wajahnya cukup tampan, sayangnya ia terlihat cuek. Ia duduk tanpa menoleh ke arahku dan memejamkan matanya. Di telinganya terpasang earphone dan aku bisa dengan jelas mendengar musik yang diputarnya. Besar sekali dia pasang volumenya. Samar-samar aku mengenali lagu yang terputar di telinganya itu. Aku menahan tawa karena geli, kelihatannya ia sedang galau.


BERSAMBUNG

1 komentar: