03/03/17

[All About Life] : Menertawai Diri Sendiri



Malam minggu waktu itu seperti biasanya kami dari komunitas Pecandu Buku menggelar diskusi ringan bersama anak-anak Akar Rumput mengenai pilkada. Wih, yakin itu diskusi ringan? Enggak yakin? Sama.

Maka jadilah malam itu saya pura-pura sibuk dengan lapak perputakaan jalanan yang digelar teman-teman di sebelah tenggara Tugu Yogyakarta yang ajaib itu. Tugu yang tidak pernah sepi itu. Tugu yang punya suatu magnet untuk mendatangkan orang-orang dari seluruh belahan bumi ke Yogyakarta.

Sesekali juga saya memandangi jalanan yang ramai oleh turis, para pengamen yang biasanya adalah bencong-bencong tulen, dan para penjual sekoteng kesukaan saya itu. Tugu punya kenangan sendiri untuk saya. Saya pernah melakukan hal konyol di pinggiran Tugu sambil berdiri di tengah gerimis malam-malam. Ngapain coba saya? Kalau jawabannya minta sumbangan, anda tidak kreatif, bung. Saya berdiri konyol di sana hanya untuk nyari sopir bus yang rela memberi telolet-telolet. Agak susah, tetapi benar ya, kalau mau usaha pasti bisa. Akhirnya saya dapat juga telolet-telolet itu. Kami yang berdiri di sana bersorak gembira. Aih, norak. Terserah.

Jadi, kembali ke malam minggu waktu itu, saya memisahkan diri dari kumpulan orang-orang yang berdiskusi. Saya senang berada di sana, saya bertemu dengan berbagai macam orang. Akar rumput adalah himpunan mahasiswa S2 UGM, sedangkan komunitas pecandu buku diisi dengan berbagai macam mahasiswa dari berbagai tingkat dan universitas yang berada di Yogyakarta.

Mas Sandy, seorang mahasiswa S2 di Universitas Atmajaya, malam itu belum terlihat juga. Rupanya bannya bocor di jalan, makanya dia telat.

Sejam kemudian ia datang dan menghampiriku. Selalu ada bahan diskusi kalau berbicara dengan dia. kebanyakan seputar soal buku dan hal lain juga.

“Rencananya mau bikin acara sama anak-anak.” Kata dia. aku melirik ke arah Mas Rhy dan kawan-kawan yang membuka obrolan lain di dekat kami. Aku merespon dengan anggukan pada Mas Sandy.
Mas Rhy, Mba Monic dan yang lainnya mau bikin acara kemana, ya? Batinku.
“Acaranya emang seperti apa, Mas?” tanyaku.
Apa mungkin semacam mendaki gunung? Atau mantai? Batinku lagi.
“Semacam lomba membaca puisi atau apa gitu.”
Saya melongo sebentar.
“Hah? Maksudnya tadi itu anak-anak siapa, ya?”
Saya kebingungan dan Mas Sandy tertawa sambil memamerkan deretan giginya yang rapi itu.
“Memangnya kamu tadi mikir anak-anak itu siapa? Mereka?” tanya Mas Sandy sambil melirik ke arah Mas Rhy dan Mba Monic yang entah lagi membahas apa.

Saya hanya merespon dengan raut agak malu sambil nyengir. Ternyata, maksud beliau adalah bikin acara untuk anak-anak kecil, mungkin anak Sekolah Dasar, acaranya itu semacam lomba-lomba yang berkenaan dengan sastra.

Maka, pembicaraan malam itu berubah menjadi tawa yang pecah di langit Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar