Malam minggu
waktu itu seperti biasanya kami dari komunitas Pecandu Buku menggelar diskusi
ringan bersama anak-anak Akar Rumput mengenai pilkada. Wih, yakin itu diskusi ringan?
Enggak yakin? Sama.
Maka jadilah
malam itu saya pura-pura sibuk dengan lapak perputakaan jalanan yang digelar
teman-teman di sebelah tenggara Tugu Yogyakarta yang ajaib itu. Tugu yang tidak
pernah sepi itu. Tugu yang punya suatu magnet untuk mendatangkan orang-orang
dari seluruh belahan bumi ke Yogyakarta.
Sesekali juga
saya memandangi jalanan yang ramai oleh turis, para pengamen yang biasanya
adalah bencong-bencong tulen, dan para penjual sekoteng kesukaan saya itu. Tugu
punya kenangan sendiri untuk saya. Saya pernah melakukan hal konyol di
pinggiran Tugu sambil berdiri di tengah gerimis malam-malam. Ngapain coba saya?
Kalau jawabannya minta sumbangan, anda tidak kreatif, bung. Saya berdiri konyol
di sana hanya untuk nyari sopir bus yang rela memberi telolet-telolet. Agak
susah, tetapi benar ya, kalau mau usaha pasti bisa. Akhirnya saya dapat juga
telolet-telolet itu. Kami yang berdiri di sana bersorak gembira. Aih, norak.
Terserah.
Jadi, kembali ke
malam minggu waktu itu, saya memisahkan diri dari kumpulan orang-orang yang
berdiskusi. Saya senang berada di sana, saya bertemu dengan berbagai macam
orang. Akar rumput adalah himpunan mahasiswa S2 UGM, sedangkan komunitas
pecandu buku diisi dengan berbagai macam mahasiswa dari berbagai tingkat dan universitas
yang berada di Yogyakarta.
Mas Sandy,
seorang mahasiswa S2 di Universitas Atmajaya, malam itu belum terlihat juga.
Rupanya bannya bocor di jalan, makanya dia telat.
Sejam kemudian
ia datang dan menghampiriku. Selalu ada bahan diskusi kalau berbicara dengan
dia. kebanyakan seputar soal buku dan hal lain juga.
“Rencananya mau
bikin acara sama anak-anak.” Kata dia. aku melirik ke arah Mas Rhy dan
kawan-kawan yang membuka obrolan lain di dekat kami. Aku merespon dengan
anggukan pada Mas Sandy.
Mas Rhy, Mba Monic dan yang lainnya mau
bikin acara kemana, ya? Batinku.
“Acaranya emang
seperti apa, Mas?” tanyaku.
Apa mungkin semacam mendaki gunung? Atau
mantai? Batinku lagi.
“Semacam lomba
membaca puisi atau apa gitu.”
Saya melongo
sebentar.
“Hah? Maksudnya
tadi itu anak-anak siapa, ya?”
Saya kebingungan
dan Mas Sandy tertawa sambil memamerkan deretan giginya yang rapi itu.
“Memangnya kamu
tadi mikir anak-anak itu siapa? Mereka?” tanya Mas Sandy sambil melirik ke arah
Mas Rhy dan Mba Monic yang entah lagi membahas apa.
Saya hanya
merespon dengan raut agak malu sambil nyengir. Ternyata, maksud beliau adalah
bikin acara untuk anak-anak kecil, mungkin anak Sekolah Dasar, acaranya itu
semacam lomba-lomba yang berkenaan dengan sastra.
Maka,
pembicaraan malam itu berubah menjadi tawa yang pecah di langit Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar