Pernah tidak kau
merasa ingin selalu dekat dengan-Nya tetapi sepertinya langkahmu tak
sampai-sampai? Langkahmu sangat lambat, orang-orang lain telah melangkah
menyusul dan mendahuluimu. Kau berada di belakang, tertinggal. Kau ingin
menangisi dosamu, tetapi kau merasa tak bisa, mungkin saking kerasnya hatimu.
Coba ingat-ingat,
apakah kau mungkin telah lupa berdoa meminta petunjuk dari yang Maha Pemberi Hidayah?
Coba saja, jikalau kau merasa hidayah itu tak sampai-sampai kepadamu coba kau
rayu Dia, minta petunjuk dari-Nya, minta tolong supaya dibukakan pintu hatimu
untuk melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Sebagai contoh
yang saya alami, suatu kali saya berpikir dan bertanya-tanya sendiri dalam
hati, “Ya Allah, mengapa orang-orang jika mengerjakan shalat Dhuha mereka
melakukannya sebanyak empat rakaat dua kali salam, apa memangnya keutamaannya? Ya
Allah, tolong tunjukkan kepadaku alasan di balik empat rakaat itu.” Selang
beberapa hari kemudian di beranda instagram saya muncul seseorang yang share
sebuah video ceramah ustadz tentang keutamaan shalat Dhuha sebanyak empat
rakaat itu. Saya terpukau? Jelas. Dalam kasus ini untuk orang-orang yang sibuk
bekerja dan kuliah di pagi hari, membuat shalat Dhuha menjadi dua rakaat saja
biasanya karena terburu-buru, maka dari itu saya penasaran tentang jumlah
rakaat tersebut dan hanya bertanya-tanya saja dalam hati.
Cerita lainnya
adalah ketika saya punya kebiasaan buruk. Saya adalah seseorang dengan manajemen
waktu yang sangat ketat. Bukan apa-apa ya, saya sulit untuk diajak bertemu
karena biasanya selama satu sampai dua bulan kedepan jadwal saya sudah penuh. Yang
saya maksud itu weekend, hari-hari aktif lainnya adalah hari kuliah, satu hari
aktif yang libur kuliah digunakan untuk nyuci dan beberes. Jangan salah, nyuci
itu butuh berjam-jam, thats I mean sampai jemurannya ditunggu hingga kering
lalu diangkat dan dilipat masuk ke keranjang, because kadang lemari sudah
penuh. Biasalah, sok sibuk, jadi tidak sempat menyetrika baju. Maka tolong ya,
kalau mau kasih saya kado pakaian, pakaiannya yang bahan licin saja gitu, yang
tidak perlu disetrika. Saya bukan kepedean, siapa tahu kalian mau ngasih kado. Seperti
dalam drama Korea, saat Suzy memberi semacam lingkaran kertas seukuran jari
manisnya dan ia memberikannya pada Lee Jong Suk dengan berujar “Ini buat kamu,
suatu saat kamu akan membutuhkannya.” Dan ternyata di suatu hari Lee Jong Suk
memang membutuhkannya, yaitu di hari dimana ia jatuh cinta pada Suzy dan
bermaksud membelikannya cincin.
Back to topic,
saya punya suatu kebiasaan, that is bobo siang. Why? Karena malam hari biasanya
saya baru akan tidur pukul sebelas malam. Jadi, saya harus istirahat dulu
siangnya. Biasanya sampai di asrama di jam-jam sepuluh menit menjelang azan Ashar.
Percaya tidak percaya, saya bisa tidur cuma lima atau sepuluh menit, yang
penting saya tidur siang. Percaya tidak percaya, tidur lima hingga sepuluh
menit itu kadang rasanya seperti sudah tidur dua jam, loh. Ajaib.
Tadi siang saya
bermaksud tidur dulu meskipun saya tahu sebentar lagi akan azan, tetapi saya
masih saja scrolling beranda instagram yang membuat saya menemukan postingan
teman saya. Lagi-lagi ceramah Ustadz. Beberapa detik pertama saya masih betah,
tapi ternyata beliau itu bahas neraka. Duh, saya kalau diajak diskusi tentang
neraka, hari kiamat, dan lain sebagainya, jujur saja tidak suka. Saya lebih
suka membahas hal-hal itu dalam hati dan pikiran saya sendiri. Lalu, waktu saya
mau memutuskan untuk pindah layar karena takut sama pembahasan neraka, ustadznya
itu mengatakan sesuatu yang menampar saya yang akhirnya membuat saya tidak jadi
tidur. Saya loncat dari kasur langsung ambil air wudhu. Jadi, ustadznya itu
membahas tentang “Nerakanya Orang Islam”.
“Di
neraka ada tempat khusus orang-orang Islam. Namanya Wail dan yang lainnya
namanya Saqar. Yang Wail itu tempatnya buat siapa? yang shalatnya sering
ditunda-tunda, shalatnya sering dipermainkan! Sedangkan Saqar untuk siapa?
untuk orang-orang Islam dari umat Nabi Muhammad yang memang ninggal-ninggalin
shalat kerjanya.”
Dan kalimat ini
saya merasa tidak asing, lalu saya ambil mushaf di dekat saya, membuka
pertengahan menjelang akhir surah Al-Mudddassir yang berada di juz 29. Sepertinya
juz 29 ini memang blak-blakan menceritakan tentang hari kiamat. Namun, dalam
juz 29, surah Al–Qiyamah lah yang menjadi surah favorit saya. Saya juga tidak
tahu mengapa, tetapi tiap mengingat terjemahannya yang bikin bergidik membuat
saya geleng-geleng kepala sendiri mengapa saya menyukai surah ini. Ya, mungkin
untuk reminder myself saja kali, ya.
About writing
point yang mau saya sampaikan adalah yang pertama tentang meminta petunjuk,
jangan pernah lupa untuk mendoakan diri sendiri juga. Yang kedua tentang “Neraka”
itu, sebab senantiasa mengingat akhirat membuat kita akan selalu mikir-mikir
lagi ketika hendak berbuat maksiat. Atau pernah tidak berpikir mengapa Allah
tak mencegahmu dari kemaksiatan? Saya pernah membaca arti dari sebuah ayat
bahwa bisa saja kamu bukan tidak diberi hidayah oleh-Nya tetapi barang siapa
yang dibiarkan tersesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk,
dalam surah Al-A’raf ayat 186.
The last, saya
ingin bilang untuk jangan lupa untuk berdo’a meminta wafat dalam keadaan syahid
atau mulia, ya. Wafat itu menjadi bagian akhir paling penting dalam perjalanan
hidup manusia di dunia, bukan?
Nabi Muhammad
SAW. bersabda, “Barangsiapa yang memohon
dikaruniai syahid dengan sejujur-jujurnya, maka ia akan diberi pahala sebagai
syuhada’ meskipun meninggal di atas
tempat tidur.” (HR. Imam Muslim)
Selamat berdoa
dan meminta petunjuk, ya!
omg, you're still blogging. haha.
BalasHapusand thank you so much for this post:)
Hello, thankyou for visited me! :)
HapusYes, of course! Because writing on the blog is one of the targets I want to achieve in this year. hehe.