13/11/17

Meminta Petunjuk-Nya



Pernah tidak kau merasa ingin selalu dekat dengan-Nya tetapi sepertinya langkahmu tak sampai-sampai? Langkahmu sangat lambat, orang-orang lain telah melangkah menyusul dan mendahuluimu. Kau berada di belakang, tertinggal. Kau ingin menangisi dosamu, tetapi kau merasa tak bisa, mungkin saking kerasnya hatimu.

Coba ingat-ingat, apakah kau mungkin telah lupa berdoa meminta petunjuk dari yang Maha Pemberi Hidayah? Coba saja, jikalau kau merasa hidayah itu tak sampai-sampai kepadamu coba kau rayu Dia, minta petunjuk dari-Nya, minta tolong supaya dibukakan pintu hatimu untuk melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya.

Sebagai contoh yang saya alami, suatu kali saya berpikir dan bertanya-tanya sendiri dalam hati, “Ya Allah, mengapa orang-orang jika mengerjakan shalat Dhuha mereka melakukannya sebanyak empat rakaat dua kali salam, apa memangnya keutamaannya? Ya Allah, tolong tunjukkan kepadaku alasan di balik empat rakaat itu.” Selang beberapa hari kemudian di beranda instagram saya muncul seseorang yang share sebuah video ceramah ustadz tentang keutamaan shalat Dhuha sebanyak empat rakaat itu. Saya terpukau? Jelas. Dalam kasus ini untuk orang-orang yang sibuk bekerja dan kuliah di pagi hari, membuat shalat Dhuha menjadi dua rakaat saja biasanya karena terburu-buru, maka dari itu saya penasaran tentang jumlah rakaat tersebut dan hanya bertanya-tanya saja dalam hati.

Cerita lainnya adalah ketika saya punya kebiasaan buruk. Saya adalah seseorang dengan manajemen waktu yang sangat ketat. Bukan apa-apa ya, saya sulit untuk diajak bertemu karena biasanya selama satu sampai dua bulan kedepan jadwal saya sudah penuh. Yang saya maksud itu weekend, hari-hari aktif lainnya adalah hari kuliah, satu hari aktif yang libur kuliah digunakan untuk nyuci dan beberes. Jangan salah, nyuci itu butuh berjam-jam, thats I mean sampai jemurannya ditunggu hingga kering lalu diangkat dan dilipat masuk ke keranjang, because kadang lemari sudah penuh. Biasalah, sok sibuk, jadi tidak sempat menyetrika baju. Maka tolong ya, kalau mau kasih saya kado pakaian, pakaiannya yang bahan licin saja gitu, yang tidak perlu disetrika. Saya bukan kepedean, siapa tahu kalian mau ngasih kado. Seperti dalam drama Korea, saat Suzy memberi semacam lingkaran kertas seukuran jari manisnya dan ia memberikannya pada Lee Jong Suk dengan berujar “Ini buat kamu, suatu saat kamu akan membutuhkannya.” Dan ternyata di suatu hari Lee Jong Suk memang membutuhkannya, yaitu di hari dimana ia jatuh cinta pada Suzy dan bermaksud membelikannya cincin.

Back to topic, saya punya suatu kebiasaan, that is bobo siang. Why? Karena malam hari biasanya saya baru akan tidur pukul sebelas malam. Jadi, saya harus istirahat dulu siangnya. Biasanya sampai di asrama di jam-jam sepuluh menit menjelang azan Ashar. Percaya tidak percaya, saya bisa tidur cuma lima atau sepuluh menit, yang penting saya tidur siang. Percaya tidak percaya, tidur lima hingga sepuluh menit itu kadang rasanya seperti sudah tidur dua jam, loh. Ajaib.

Tadi siang saya bermaksud tidur dulu meskipun saya tahu sebentar lagi akan azan, tetapi saya masih saja scrolling beranda instagram yang membuat saya menemukan postingan teman saya. Lagi-lagi ceramah Ustadz. Beberapa detik pertama saya masih betah, tapi ternyata beliau itu bahas neraka. Duh, saya kalau diajak diskusi tentang neraka, hari kiamat, dan lain sebagainya, jujur saja tidak suka. Saya lebih suka membahas hal-hal itu dalam hati dan pikiran saya sendiri. Lalu, waktu saya mau memutuskan untuk pindah layar karena takut sama pembahasan neraka, ustadznya itu mengatakan sesuatu yang menampar saya yang akhirnya membuat saya tidak jadi tidur. Saya loncat dari kasur langsung ambil air wudhu. Jadi, ustadznya itu membahas tentang “Nerakanya Orang Islam”.

“Di neraka ada tempat khusus orang-orang Islam. Namanya Wail dan yang lainnya namanya Saqar. Yang Wail itu tempatnya buat siapa? yang shalatnya sering ditunda-tunda, shalatnya sering dipermainkan! Sedangkan Saqar untuk siapa? untuk orang-orang Islam dari umat Nabi Muhammad yang memang ninggal-ninggalin shalat kerjanya.”

Dan kalimat ini saya merasa tidak asing, lalu saya ambil mushaf di dekat saya, membuka pertengahan menjelang akhir surah Al-Mudddassir yang berada di juz 29. Sepertinya juz 29 ini memang blak-blakan menceritakan tentang hari kiamat. Namun, dalam juz 29, surah Al–Qiyamah lah yang menjadi surah favorit saya. Saya juga tidak tahu mengapa, tetapi tiap mengingat terjemahannya yang bikin bergidik membuat saya geleng-geleng kepala sendiri mengapa saya menyukai surah ini. Ya, mungkin untuk reminder myself saja kali, ya.

About writing point yang mau saya sampaikan adalah yang pertama tentang meminta petunjuk, jangan pernah lupa untuk mendoakan diri sendiri juga. Yang kedua tentang “Neraka” itu, sebab senantiasa mengingat akhirat membuat kita akan selalu mikir-mikir lagi ketika hendak berbuat maksiat. Atau pernah tidak berpikir mengapa Allah tak mencegahmu dari kemaksiatan? Saya pernah membaca arti dari sebuah ayat bahwa bisa saja kamu bukan tidak diberi hidayah oleh-Nya tetapi barang siapa yang dibiarkan tersesat oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk, dalam surah Al-A’raf ayat 186.

The last, saya ingin bilang untuk jangan lupa untuk berdo’a meminta wafat dalam keadaan syahid atau mulia, ya. Wafat itu menjadi bagian akhir paling penting dalam perjalanan hidup manusia di dunia, bukan?

Nabi Muhammad SAW. bersabda, “Barangsiapa yang memohon dikaruniai syahid dengan sejujur-jujurnya, maka ia akan diberi pahala sebagai syuhada’ meskipun meninggal di atas  tempat tidur.” (HR. Imam Muslim)

Selamat berdoa dan meminta petunjuk, ya!

2 komentar:

  1. omg, you're still blogging. haha.

    and thank you so much for this post:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hello, thankyou for visited me! :)

      Yes, of course! Because writing on the blog is one of the targets I want to achieve in this year. hehe.

      Hapus