Kamu harus tahu
apa yang akan terjadi dengan keluargamu.
Kamu harus tahu
apa yang akan terjadi dengan rumahmu.
Kamu harus tahu
apa yang akan terjadi dengan teman-temanmu.
Kamu harus tahu
apa yang akan terjadi dengan negaramu.
Kamu harus tahu
apa yang akan terjadi dengan duniamu.
Kamu harus tahu
apa yang akan terjadi dengan dirimu sendiri.
Ini bukan lagi
tentang sosial media, kedudukan, gaji tinggi, rumah mewah, impian-impian yang
terlampau tinggi. Ini tentang apa yang selama ini kau lakukan di dunia, hari
dimana semua itu akan dipertanggungjawabkan, aku merasa kian dekat saja.
Aku tidak tahu
apa yang sedang kutulis, tetapi banyak orang yang kutemui mereka mengatakan akan
ada perang. Sudah, sudah, berhenti memikirkan perang hati dan pikiranmu
sendiri. Kita terancam tetapi sepertinya mata hati kita luput dari itu semua.
Apa kita pikir
selamanya akan baik-baik saja? begini-begini saja? Selama apa yang kau maksud?
Bukankah jika kita mengaku muslim, kita beriman? Iman berarti percaya. Salah
satunya iman kepada hari akhir, bahwasannya kehidupan manusia melewati beberapa
masa. Masa dunia hanya salah satunya.
Tak kau bacakah
kitab sucimu itu? tak bergetarkah hatimu ketika membacanya? Berjuta kali hari
itu dibahas di dalamnya, hari dimana istri lupa dengan suami, suami lupa dengan
istri, ibu dan ayah lupa dengan anak mereka, anak lupa pada orangtuanya. Mereka
tak saling mencari, mereka sibuk mengurus diri mereka sendiri, memperhatikan
kedua tangannya, apa yang sudah dilakukannya selama di dunia? Apa?
Mengapa banyak
yang melampaui batas? Padahal dunia sudah di ujung tanduk, sudah porak poranda,
yang baik dan yang buruk kian menjadi samar, orang-orang sulit membedakan yang
mana yang hak dan yang batil. Kau pikir banyaknya gedung pencakar langit yang
menjulang itu tanda kemajuan sebuah bangsa? Manusia boleh saja berpikir begitu.
Tetapi, aku takut mengingat kita berada di tengah-tengah itu semua.
Sekali lagi, aku
tidak tahu sedang menulis apa.
Jari-jariku
mengetik ini sendiri.
Hatiku memaksa
menuliskannya.
Aku menangis
memeluk diriku sendiri.
Mungkin hari
ini, di bawah langit yang tak gaduh,
Kita masih bisa
bermain UNO sambil minum kopi,
Kita masih bisa
mengupdate status berbagi kebahagiaan,
Kita masih bisa
menonton drama-drama kehidupan,
Kita masih bisa
mendengarkan lagu Perfect by Ed Sheeran.
Satu hal yang
perlu kau tahu, kau tak akan pernah tahu kapan hari ini berhenti.
Satu hal yang
manusia tahu, ia tak akan pernah siap untuk ini.
Biar kali ini
kutulis hal seperti ini.
Aku menulis
ditemani lagu Rapuh dari Opick.
Aku yang rapuh, menuliskan ini.
Aku ingin kau
membaca dan memahaminya.
Biar kita
sama-sama merasa rapuh di hadapan-Nya.
Sangat rapuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar