13/11/17

Tulisan si Penikmat Isu Kah?



Kamu harus tahu apa yang akan terjadi dengan keluargamu.
Kamu harus tahu apa yang akan terjadi dengan rumahmu.
Kamu harus tahu apa yang akan terjadi dengan teman-temanmu.
Kamu harus tahu apa yang akan terjadi dengan negaramu.
Kamu harus tahu apa yang akan terjadi dengan duniamu.
Kamu harus tahu apa yang akan terjadi dengan dirimu sendiri.

Ini bukan lagi tentang sosial media, kedudukan, gaji tinggi, rumah mewah, impian-impian yang terlampau tinggi. Ini tentang apa yang selama ini kau lakukan di dunia, hari dimana semua itu akan dipertanggungjawabkan, aku merasa kian dekat saja.

Aku tidak tahu apa yang sedang kutulis, tetapi banyak orang yang kutemui mereka mengatakan akan ada perang. Sudah, sudah, berhenti memikirkan perang hati dan pikiranmu sendiri. Kita terancam tetapi sepertinya mata hati kita luput dari itu semua.

Apa kita pikir selamanya akan baik-baik saja? begini-begini saja? Selama apa yang kau maksud? Bukankah jika kita mengaku muslim, kita beriman? Iman berarti percaya. Salah satunya iman kepada hari akhir, bahwasannya kehidupan manusia melewati beberapa masa. Masa dunia hanya salah satunya.

Tak kau bacakah kitab sucimu itu? tak bergetarkah hatimu ketika membacanya? Berjuta kali hari itu dibahas di dalamnya, hari dimana istri lupa dengan suami, suami lupa dengan istri, ibu dan ayah lupa dengan anak mereka, anak lupa pada orangtuanya. Mereka tak saling mencari, mereka sibuk mengurus diri mereka sendiri, memperhatikan kedua tangannya, apa yang sudah dilakukannya selama di dunia? Apa?

Mengapa banyak yang melampaui batas? Padahal dunia sudah di ujung tanduk, sudah porak poranda, yang baik dan yang buruk kian menjadi samar, orang-orang sulit membedakan yang mana yang hak dan yang batil. Kau pikir banyaknya gedung pencakar langit yang menjulang itu tanda kemajuan sebuah bangsa? Manusia boleh saja berpikir begitu. Tetapi, aku takut mengingat kita berada di tengah-tengah itu semua.

Sekali lagi, aku tidak tahu sedang menulis apa.
Jari-jariku mengetik ini sendiri.
Hatiku memaksa menuliskannya.
Aku menangis memeluk diriku sendiri.

Mungkin hari ini, di bawah langit yang tak gaduh,
Kita masih bisa bermain UNO sambil minum kopi,
Kita masih bisa mengupdate status berbagi kebahagiaan,
Kita masih bisa menonton drama-drama kehidupan,
Kita masih bisa mendengarkan lagu Perfect by Ed Sheeran.

Satu hal yang perlu kau tahu, kau tak akan pernah tahu kapan hari ini berhenti.
Satu hal yang manusia tahu, ia tak akan pernah siap untuk ini.

Biar kali ini kutulis hal seperti ini.
Aku menulis ditemani lagu Rapuh dari Opick.
 Aku yang rapuh, menuliskan ini.
Aku ingin kau membaca dan memahaminya.
Biar kita sama-sama merasa rapuh di hadapan-Nya.
Sangat rapuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar