Sumber gambar: Tumblr
Tadinya saya mau
blogging tentang trip saya ke Solo yang tidak penting itu, abcdefghijk. Siapa tahu
ada yang kepo sama hidup saya, tapi karena saya jutek jadi mereka mungkin enggan
bertanya. Ngaku aja lu yang ngevote gua jutek di polling instragram story waktu
itu, HAHAHA. Saya sebenarnya malas juga balas chat tapi anehnya hobi nulis
panjang di blog oleh karena itu lebih baik baca blog saya saja daripada ngechat
saya. Awalnya Solo hanya menjadi satu-satunya rencana liburan saya padahal itu
hanya seharian saja.
Yang lain tidak
sabar untuk pulang ke rumah mereka. Jauh-jauh hari bertanya-tanya kapan tanggal
libur guna untuk memesan tiket. Saya memainkan peran sebagai yang ditinggalkan.
Sebelum mereka pulang, hari terakhir di kampus kami saling berpelukan dulu,
jadi perempuan rempong, ya. Tapi kami bahagia terlahir sebagai perempuan. Saling
berpelukan lalu menitip salam hangat untuk keluarga di rumah yang nanti
ditemui.
Jika yang lain
pulang ke rumah, maka saya adalah yang didatangi. Orangtua saya lah yang
berlibur kalau anak-anaknya liburan sekolah. Akhir tahun ini tak seperti
biasanya, hanya ibu saya yang bisa ke Jogja karena bapak saya pekerjaannya
banyak di akhir tahun. Suka merasa tak adil dan kasihan, bapak saya kerja keras
cari uang tapi yang menikmati adalah istri dan anak-anaknya, itu pemikiran
macam apa, ya. Kodratnya memang sudah seperti itu, ya.
Setelah kemarin
ke Jogja lalu ke Bandung, ibu saya balik lagi ke Jogja dan menawarkan apakah
saya mau pulang ke Sulawesi bersama dengannya yang sebelum itu mau mampir ke
Bogor dulu. Tiba-tiba seperti ada yang berantakan. Well, meski saya tidak
pulang dan bermaksud stay di Jogja, saya sudah membuat rencana. Saya mau
perawatan, HAHAHAHAHAAH boong deh.
Ada dua target
besar di dalam hidup saya yang bermaksud saya selesaikan di Januari ini. Tapi,
saya akan berdiskusi lagi, jika ini perintah, bukannya tak bisa saya bantah? Jika
ini tawaran, mungkin bisa saya tolak. Lalu di rumah saya ngapain saja? Jualan. Jualan
apa? Pempek sama siomay. Jadi, bayangkan saja ibu saya seorang IRT yang tinggal
di sebuah kota kecil bernama Palu di Sulawesi Tengah mempunyai beberapa anak
yang semuanya bersekolah di Jogja, akhirnya memutuskan jualan pempek dan
siomay. Pempek sama siomaynya enak, pokoknya pempeknya Pakde Salim atau Mbak Erin
atau Pak Taufik kalah semua deh, HAHAHAHA.
Sebagai perempuan,
lebih enak berbisnis kalau mau menciptakan suatu pekerjaan. Selain jadi punya
penghasilan sendiri, pekerjaannya bisa dilakoni di rumah sambil beberes, sambil
nyuci, sambil masak, sambil nyapu, sambil ngepel, dan SAMBIL BLOGGING, coy. Sambil
gendong anak nggak, ya? Belum kepikiran sampai situ, ah. Yaudah, doakan saja
semoga Januari ini menjadi Januari yang indah di dalam hidup saya.
WAH TERNYATA
PROLOGNYA KEPANJAGAN, YA.
Saya tiba pukul
tujuh malam. Karena lapar, saya tidak langsung ke kamar saya yang berada di
lantai dua, saya ke dapur ambil piring, nasi, ikan, sayur kangkung, tahu, sambal,
kecap. Kalau dipikir menunya enak ya, kan? Tanpa saya duga malam itu seseorang
merusak selera makan saya.
Saya baru saja
hendak mulai makan bersama Mba Nur, tetapi saya mendengar suara-suara aneh di
luar. Seperti ada yang tak sengaja menyenggol tong sampah. KALI INI SAYA OGAH
POSITIVE THINKING SETELAH SEKIAN LAMA SAYA BERPIKIR POSITIF TAPI SAYA SELALU DIKHIANATI.
Oke, itu pokoknya pasti bukan kucing, bukan anjing, bukan ayam, bukan malaikat,
bukan setan.
Biasanya saya
teriak, “nuguyeyo?” bahasa Korea yang artinya “Siapa?” bener nggak ya
tulisannya kayak gitu. Biasalah, untuk mendramatisir suasana. Ya, tapi kalau
sekarang dipikr-pikir nanti malah orang yang ada di luar gerbang nggak ngerti
saya ngomong apa.
Saya diam saja,
Mbak Nur teriak, “SIAPA?” teriak tapi pelan banget, ah elah bukan teriak itu
mah. Saya dengan piring di tangan, masuk ke dalam kamar Mbak Ratu, saya
bisik-bisik gitu. “Mbak, ada yang ngintip lagi.” Bisik saya.
Ya, ini kejadian
ketiga yang kami rasa. Kejadian pertama, setelah malam itu mati lampu, ketika
lampu menyala, sebuah mata berada di sela-sela gerbang. Kejadian kedua,
kepergok tapi karena diklakson dari jauh maka ia pergi, kejadian ketiga adalah
kejadian yang kepergok sama saya ini. FINALLYYYYY…. Dari kemaren pengen banget
mergokin. Makanya tiap pulang malam itu, saya lama-lama dulu berdiri di depan. Tempat
tinggal saya bukan tempat tinggal biasa, samping kanannya ada pemakaman,
samping kiri ada bangunan setengah jadi yang ditinggal begitu saja,
belakangannya kebun tebu, di depannya pepohonan bambu. Kalau pulang malam, saya
berdiri lama-lama dulu dengan mata was-was menyoroti ke arah perkebunan tebu.
Malam itu nyaris
kepergok secara langsung. Jarak waktu ketika saya di luar dan masuk tidak
berselang lima menit. Tapi karena kenegatifan pikiran saya itulah akhirnya
kepergok dia. Kalau kucing sama ayam ngapain mereka nyenggol tong sampah, kalau
mereka nyenggol iseng banget dah. Kalau orang yang hendak melakukan suatu
perbuatan buruk biasanya pikirannya kacau dan akan membuat sebuah kesalahan. Yaa
ALLAH semua pemikiran ini akibat kebanyakan nonton film. Dan dari kemaren saya
berpikir, Hi Thief, you made me like in action films. I will catch you!!
Saya tidak membayangkan bahwa ia seperti KAITO KID, kalau ia KAITO KID maka
saya akan.. nggak jadi deh.
Setelah kepergok
dan sempat diajak ngobrol oleh Mbak Andri dan Mbak Ratu, dan of course pakai
bahasa Jawa (Oke, saya punya banyak mbak emang, kakak-kakakan) kami jadi
berspekulasi lain, bapak ini punya kelainan seksual kah? Suka ngintipin
perempuan? Atau penjahat yang berpura-pura punya kelainan? Atau utusan maling
yang sebenarnya datang untuk observasi ke sini lalu ia berpura-pura punya
kelainan? Atau apa?
Jadi, beberapa
malam sebelumnya, kami kebobolan lagi setelah kebobolan besar pada bulan
September lalu. Maling lewat atap masuk melalui lantai tiga. YAELAH, NIAT DAN
KERJA KERAS BANGET. KALAU GITU KENAPA NGGAK USAHA YANG LAIN AJA SIH? DAFTAR
JADI STUNTMAN FILM KEK KALO EMANG JAGO MANJAT!
Kenapa kami
tahu? Sandal yang biasanya dipakai di lantai tiga HILANG DI MALAM ITU! mungkin
awalnya dia maling sandal kali, ya. Pasti malam itu dia sempet flashaback gitu
pas liat sandal jepit bagus di lantai tiga, ciye.
KAMU RELA
MELAKUKAN HAL HARAM UNTUK SESUAP NASI DEMI MAKAN DI DUNIA? KAMU MAU BERTAHAN DI
DUNIA DAN MERELAKAN TERSIKSA DI AKHIRAT? atau sebenarnya terlilit hutang ya? Tetep
aja haram, ah.
Mari kita tunggu
kelanjutannya. Oh ya, kami juga memasang CCTV yang cukup banyak, jadi tolong
jangan macem-macem, malam itu kami dapati wajah kamu, akan kami laporkan dan
kami proses, MAU APAPUN NIAT KAMU, MENGINTIP ADALAH SUATU HAL YANG KURANG AJAR.
Ketika kamu
mengintip, bagaimana bila si tuan rumah sedang dalam kondisi tidak siap
menerima tamu? GIMANA KALAU DIA BELUM PAKAI JILBABNYA? MUNGKIN BAGI ORANG-ORANG
ITU BIASA AJA, MUNGKIN KALIAN GAMPANG BILANG “AH LEBAY”, GIMANA BAGI MEREKA
YANG BERTAHAN PADA AQIDAHNYA DAN KARENA KAMU TIDAK BERETIKA MEMBUAT MEREKA
MERASA BURUK?
“Kalau gitu,
waktu kita tidur selalu pakai jilbab saja, jangan membiarkan kehormatan kita
jatuh di hadapan maling.” Saya cuma diam mendengar teman saya bilang seperti
itu. Ah dia benar, rambut perempuan bukan hanya aurat, tetapi juga mahkota,
mahkota berarti kehormatan. Barangsiapa tak menjaga auratnya, berarti ia tak
menjaga kehormatannya.
Satu hal lagi,
maling biasanya beraksi di sepertiga malam, maka Allah memang baik,
mengingatkan kita untuk bangun di sepertiga malam untuk bersujud kepada-Nya. Semoga
pembaca mengerti apa yang saya maksudkan.
Jadi, bukan cuma
soal maling saja, terlepas jika dia hanya punya kelainan tapi sekali lagi, MENGINTIP
ADALAH HAL YANG KURANG AJAR. Bahkan anak kecil saja sudah sepatutnya diajari
mengetuk pintu kamar orangtuanya terlebih dahulu sebelum masuk, itulah yang
diajarkan orangtua saya kepada saya.
Di dalam Islam
terhadap hadits tentang seorang pengintip berhak untuk ditusuk matanya. Islam
sangat menghargai etika, mari kita liat hadits berikut:
Hadits Muslim 4013
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَمُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ قَالَا أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ فِي جُحْرٍ فِي بَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِدْرًى يَحُكُّ بِهِ رَأْسَهُ فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْتَظِرُنِي لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنِكَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِذْنُ
مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ
[[[Telah
menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] dan [Muhammad bin Rumh] keduanya
berkata; Telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dan lafazh ini miliknya
[Yahya]; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya; Dan telah menceritakan
kepada kami [Qutaibah bin Sa'id]; Telah menceritakan kepada kami [Laits] dari
[Ibnu Syihab] bahwa [Sahl bin Sa'd As Sa'idi]; Telah mengabarkan kepada nya;
Seorang laki-laki mengintip ke rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
melalui lubang pintu. Ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang
menyisir rambut dengan sebuah sisir besi. Tatkala beliau mengetahui ada orang
mengintip. Beliau berkata: "Kalau
aku tahu engkau mengintip, pasti aku tusuk matamu." Lalu beliau bersabda:
'Sesungguhnya disyari'atkannya izin (memberi salam) agar menjaga penglihatan.']]]
[HR. Muslim No. 4013]
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اطَّلَعَ فِي بَيْتِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَقَدْ حَلَّ لَهُمْ أَنْ يَفْقَئُوا عَيْنَهُ
“Barang siapa menengok ke dalam rumah
seseorang tanpa izin pemiliknya, maka sungguh mereka boleh mencongkel mata orang itu.” [HR. Muslim No.4016].
Hadits
Muslim 4017
حَدَّثَنَا
ابْنُ أَبِي
عُمَرَ حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ عَنْ
أَبِي الزِّنَادِ
عَنْ الْأَعْرَجِ
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ لَوْ
أَنَّ رَجُلًا
اطَّلَعَ عَلَيْكَ
بِغَيْرِ إِذْنٍ
فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ
فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ
مَا كَانَ
عَلَيْكَ مِنْ
جُنَاحٍ
“Seandainya seseorang mengintip ke
dalam rumahmu tanpa izin, maka tak berdosa bagaimu sekiranya kamu melempar dia
dengan kerikil dan mencongkel matanya.”
[HR. Muslim No.4017]
Wallahu a'lam bish-shawabi.

Seremmm kakk
BalasHapusiyaaa miraaa :")
Hapus