05/01/18

CONGKEL SAJA MATANYA!

Sumber gambar: Tumblr



Tadinya saya mau blogging tentang trip saya ke Solo yang tidak penting itu, abcdefghijk. Siapa tahu ada yang kepo sama hidup saya, tapi karena saya jutek jadi mereka mungkin enggan bertanya. Ngaku aja lu yang ngevote gua jutek di polling instragram story waktu itu, HAHAHA. Saya sebenarnya malas juga balas chat tapi anehnya hobi nulis panjang di blog oleh karena itu lebih baik baca blog saya saja daripada ngechat saya. Awalnya Solo hanya menjadi satu-satunya rencana liburan saya padahal itu hanya seharian saja.

Yang lain tidak sabar untuk pulang ke rumah mereka. Jauh-jauh hari bertanya-tanya kapan tanggal libur guna untuk memesan tiket. Saya memainkan peran sebagai yang ditinggalkan. Sebelum mereka pulang, hari terakhir di kampus kami saling berpelukan dulu, jadi perempuan rempong, ya. Tapi kami bahagia terlahir sebagai perempuan. Saling berpelukan lalu menitip salam hangat untuk keluarga di rumah yang nanti ditemui.

Jika yang lain pulang ke rumah, maka saya adalah yang didatangi. Orangtua saya lah yang berlibur kalau anak-anaknya liburan sekolah. Akhir tahun ini tak seperti biasanya, hanya ibu saya yang bisa ke Jogja karena bapak saya pekerjaannya banyak di akhir tahun. Suka merasa tak adil dan kasihan, bapak saya kerja keras cari uang tapi yang menikmati adalah istri dan anak-anaknya, itu pemikiran macam apa, ya. Kodratnya memang sudah seperti itu, ya.

Setelah kemarin ke Jogja lalu ke Bandung, ibu saya balik lagi ke Jogja dan menawarkan apakah saya mau pulang ke Sulawesi bersama dengannya yang sebelum itu mau mampir ke Bogor dulu. Tiba-tiba seperti ada yang berantakan. Well, meski saya tidak pulang dan bermaksud stay di Jogja, saya sudah membuat rencana. Saya mau perawatan, HAHAHAHAHAAH boong deh.

Ada dua target besar di dalam hidup saya yang bermaksud saya selesaikan di Januari ini. Tapi, saya akan berdiskusi lagi, jika ini perintah, bukannya tak bisa saya bantah? Jika ini tawaran, mungkin bisa saya tolak. Lalu di rumah saya ngapain saja? Jualan. Jualan apa? Pempek sama siomay. Jadi, bayangkan saja ibu saya seorang IRT yang tinggal di sebuah kota kecil bernama Palu di Sulawesi Tengah mempunyai beberapa anak yang semuanya bersekolah di Jogja, akhirnya memutuskan jualan pempek dan siomay. Pempek sama siomaynya enak, pokoknya pempeknya Pakde Salim atau Mbak Erin atau Pak Taufik kalah semua deh, HAHAHAHA.

Sebagai perempuan, lebih enak berbisnis kalau mau menciptakan suatu pekerjaan. Selain jadi punya penghasilan sendiri, pekerjaannya bisa dilakoni di rumah sambil beberes, sambil nyuci, sambil masak, sambil nyapu, sambil ngepel, dan SAMBIL BLOGGING, coy. Sambil gendong anak nggak, ya? Belum kepikiran sampai situ, ah. Yaudah, doakan saja semoga Januari ini menjadi Januari yang indah di dalam hidup saya.

WAH TERNYATA PROLOGNYA KEPANJAGAN, YA.

Saya tiba pukul tujuh malam. Karena lapar, saya tidak langsung ke kamar saya yang berada di lantai dua, saya ke dapur ambil piring, nasi, ikan, sayur kangkung, tahu, sambal, kecap. Kalau dipikir menunya enak ya, kan? Tanpa saya duga malam itu seseorang merusak selera makan saya.

Saya baru saja hendak mulai makan bersama Mba Nur, tetapi saya mendengar suara-suara aneh di luar. Seperti ada yang tak sengaja menyenggol tong sampah. KALI INI SAYA OGAH POSITIVE THINKING SETELAH SEKIAN LAMA SAYA BERPIKIR POSITIF TAPI SAYA SELALU DIKHIANATI. Oke, itu pokoknya pasti bukan kucing, bukan anjing, bukan ayam, bukan malaikat, bukan setan.

Biasanya saya teriak, “nuguyeyo?” bahasa Korea yang artinya “Siapa?” bener nggak ya tulisannya kayak gitu. Biasalah, untuk mendramatisir suasana. Ya, tapi kalau sekarang dipikr-pikir nanti malah orang yang ada di luar gerbang nggak ngerti saya ngomong apa.

Saya diam saja, Mbak Nur teriak, “SIAPA?” teriak tapi pelan banget, ah elah bukan teriak itu mah. Saya dengan piring di tangan, masuk ke dalam kamar Mbak Ratu, saya bisik-bisik gitu. “Mbak, ada yang ngintip lagi.” Bisik saya.

Ya, ini kejadian ketiga yang kami rasa. Kejadian pertama, setelah malam itu mati lampu, ketika lampu menyala, sebuah mata berada di sela-sela gerbang. Kejadian kedua, kepergok tapi karena diklakson dari jauh maka ia pergi, kejadian ketiga adalah kejadian yang kepergok sama saya ini. FINALLYYYYY…. Dari kemaren pengen banget mergokin. Makanya tiap pulang malam itu, saya lama-lama dulu berdiri di depan. Tempat tinggal saya bukan tempat tinggal biasa, samping kanannya ada pemakaman, samping kiri ada bangunan setengah jadi yang ditinggal begitu saja, belakangannya kebun tebu, di depannya pepohonan bambu. Kalau pulang malam, saya berdiri lama-lama dulu dengan mata was-was menyoroti ke arah perkebunan tebu.

Malam itu nyaris kepergok secara langsung. Jarak waktu ketika saya di luar dan masuk tidak berselang lima menit. Tapi karena kenegatifan pikiran saya itulah akhirnya kepergok dia. Kalau kucing sama ayam ngapain mereka nyenggol tong sampah, kalau mereka nyenggol iseng banget dah. Kalau orang yang hendak melakukan suatu perbuatan buruk biasanya pikirannya kacau dan akan membuat sebuah kesalahan. Yaa ALLAH semua pemikiran ini akibat kebanyakan nonton film. Dan dari kemaren saya berpikir, Hi Thief, you made me like in action films. I will catch you!! Saya tidak membayangkan bahwa ia seperti KAITO KID, kalau ia KAITO KID maka saya akan.. nggak jadi deh.

Setelah kepergok dan sempat diajak ngobrol oleh Mbak Andri dan Mbak Ratu, dan of course pakai bahasa Jawa (Oke, saya punya banyak mbak emang, kakak-kakakan) kami jadi berspekulasi lain, bapak ini punya kelainan seksual kah? Suka ngintipin perempuan? Atau penjahat yang berpura-pura punya kelainan? Atau utusan maling yang sebenarnya datang untuk observasi ke sini lalu ia berpura-pura punya kelainan? Atau apa?

Jadi, beberapa malam sebelumnya, kami kebobolan lagi setelah kebobolan besar pada bulan September lalu. Maling lewat atap masuk melalui lantai tiga. YAELAH, NIAT DAN KERJA KERAS BANGET. KALAU GITU KENAPA NGGAK USAHA YANG LAIN AJA SIH? DAFTAR JADI STUNTMAN FILM KEK KALO EMANG JAGO MANJAT!

Kenapa kami tahu? Sandal yang biasanya dipakai di lantai tiga HILANG DI MALAM ITU! mungkin awalnya dia maling sandal kali, ya. Pasti malam itu dia sempet flashaback gitu pas liat sandal jepit bagus di lantai tiga, ciye.

KAMU RELA MELAKUKAN HAL HARAM UNTUK SESUAP NASI DEMI MAKAN DI DUNIA? KAMU MAU BERTAHAN DI DUNIA DAN MERELAKAN TERSIKSA DI AKHIRAT? atau sebenarnya terlilit hutang ya? Tetep aja haram, ah.

Mari kita tunggu kelanjutannya. Oh ya, kami juga memasang CCTV yang cukup banyak, jadi tolong jangan macem-macem, malam itu kami dapati wajah kamu, akan kami laporkan dan kami proses, MAU APAPUN NIAT KAMU, MENGINTIP ADALAH SUATU HAL YANG KURANG AJAR.

Ketika kamu mengintip, bagaimana bila si tuan rumah sedang dalam kondisi tidak siap menerima tamu? GIMANA KALAU DIA BELUM PAKAI JILBABNYA? MUNGKIN BAGI ORANG-ORANG ITU BIASA AJA, MUNGKIN KALIAN GAMPANG BILANG “AH LEBAY”, GIMANA BAGI MEREKA YANG BERTAHAN PADA AQIDAHNYA DAN KARENA KAMU TIDAK BERETIKA MEMBUAT MEREKA MERASA BURUK?

“Kalau gitu, waktu kita tidur selalu pakai jilbab saja, jangan membiarkan kehormatan kita jatuh di hadapan maling.” Saya cuma diam mendengar teman saya bilang seperti itu. Ah dia benar, rambut perempuan bukan hanya aurat, tetapi juga mahkota, mahkota berarti kehormatan. Barangsiapa tak menjaga auratnya, berarti ia tak menjaga kehormatannya.

Satu hal lagi, maling biasanya beraksi di sepertiga malam, maka Allah memang baik, mengingatkan kita untuk bangun di sepertiga malam untuk bersujud kepada-Nya. Semoga pembaca mengerti apa yang saya maksudkan.

Jadi, bukan cuma soal maling saja, terlepas jika dia hanya punya kelainan tapi sekali lagi, MENGINTIP ADALAH HAL YANG KURANG AJAR. Bahkan anak kecil saja sudah sepatutnya diajari mengetuk pintu kamar orangtuanya terlebih dahulu sebelum masuk, itulah yang diajarkan orangtua saya kepada saya.

Di dalam Islam terhadap hadits tentang seorang pengintip berhak untuk ditusuk matanya. Islam sangat menghargai etika, mari kita liat hadits berikut:

Hadits Muslim 4013

 

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَمُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ قَالَا أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ فِي جُحْرٍ فِي بَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِدْرًى يَحُكُّ بِهِ رَأْسَهُ فَلَمَّا رَآهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ أَعْلَمُ أَنَّكَ تَنْتَظِرُنِي لَطَعَنْتُ بِهِ فِي عَيْنِكَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِذْنُ  
مِنْ أَجْلِ الْبَصَرِ

 [[[Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] dan [Muhammad bin Rumh] keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dan lafazh ini miliknya [Yahya]; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya; Dan telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id]; Telah menceritakan kepada kami [Laits] dari [Ibnu Syihab] bahwa [Sahl bin Sa'd As Sa'idi]; Telah mengabarkan kepada nya; Seorang laki-laki mengintip ke rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melalui lubang pintu. Ketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang menyisir rambut dengan sebuah sisir besi. Tatkala beliau mengetahui ada orang mengintip. Beliau berkata: "Kalau aku tahu engkau mengintip, pasti aku tusuk matamu." Lalu beliau bersabda: 'Sesungguhnya disyari'atkannya izin (memberi salam) agar menjaga penglihatan.']]] [HR. Muslim No. 4013]



عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اطَّلَعَ فِي بَيْتِ قَوْمٍ بِغَيْرِ إِذْنِهِمْ فَقَدْ حَلَّ لَهُمْ أَنْ يَفْقَئُوا عَيْنَهُ

“Barang siapa menengok ke dalam rumah seseorang tanpa izin pemiliknya, maka sungguh mereka boleh mencongkel mata orang itu.” [HR. Muslim No.4016].


Hadits Muslim 4017

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا اطَّلَعَ عَلَيْكَ بِغَيْرِ إِذْنٍ فَخَذَفْتَهُ بِحَصَاةٍ فَفَقَأْتَ عَيْنَهُ مَا كَانَ عَلَيْكَ مِنْ جُنَاحٍ

“Seandainya seseorang mengintip ke dalam rumahmu tanpa izin, maka tak berdosa bagaimu sekiranya kamu melempar dia dengan kerikil dan mencongkel matanya.” [HR. Muslim No.4017]


Wallahu a'lam bish-shawabi.

2 komentar: