20/01/18

Hijrah?

Sumber gambar: Tumblr

“Tak ada hijrah tanpa keletihan jiwa dan kepayahan raga,
adakalanya kering tenggorokan sebab dahaga
dan basah pipi karena air mata.”
 - @soundsofalquran

Senang melihat mereka yang begitu semangat berhijrah tentunya tanpa menghakimi yang lain yang belum siap berbenah. Semangat mereka begitu menggebu-gebu hingga mereka membagi ilmu-ilmu baru yang mereka dapatkan pada khalayak. Bahagia sekali melihatnya. Tentu mereka membagikan hal itu karena mereka baru saja mengetahui betapa indahnya perasaan itu, perasaan berhijrah itu, sehingga mereka begitu semangat membagi cerita hijrah mereka dan tentu mereka berharap agar mereka dan orang-orang di sekeliling mereka bisa sama-sama berjalan menuju surga-Nya. Itu sebabnya mengapa mereka menyibukkan diri untuk menulis, berbagi, dan mengajak.

Namun, saya melihat satu titik hitam dalam proses ini. Tentu lewat pengalaman seorang teman yang mendapatkan banyak direct message dari mereka yang berhijrah. Teman saya ini merupakan seorang kakak yang mempunyai seorang adik yang merupakan public figure yang dimana secara logika mereka adalah keluarga berada. Ia mendapatkan pesan dari mereka yang berhijrah, orang-orang itu meminta teman saya ini untuk menghibahkan pakaian-pakaian panjangnya, padahal teman sayapun baru saja berhijrah, baru saja menggunakan jilbab, itupun belum yang begitu syar’i tetapi ia diberondong dengan direct message semacam itu. Dengan seenaknya orang-orang itu minta tolong dengan mengirim pesan bahkan mereka tak saling kenal. Meski bila ia adalah orang yang berada belum tentu juga pakaiannya banyak, kan?

Hijrah itu perlu pengorbanan. Kemas hijrahmu dengan indah, bukan dengan meminta-minta. Saya paham bahwa harga gamis dan pakaian-pakaian panjang itu mahalnya bukan main memang. Saya juga baru menyadari ketika hendak meminjam gamis seorang teman saya yang bercadar untuk keperluan tugas. Ia enggan meminjami karena ternyata gamisnya saja harganya ratusan ribu. Belum jilbab panjangnya, belum cadarnya, belum hand sock nya, belum tasnya, belum sepatunya, yang kalau ditotal setiap hari ia berpenampilan hingga jutaan bukan bila begitu? Lalu saya menertawai diri saya sendiri, melihat penampilan saya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dari ini, saya merasa hijrah memang butuh banyak pengorbanan, salah satunya materi. Namun, bukan membuatmu menjadi peminta-minta, ukhti. Tak perlu diambil sulit dalam hal ini, berjalanlah pelan-pelan, menabunglah, percayakan semuanya pada Allah. Saat kau hendak memutuskan sesuatu, pikirkanlah sampai di bagian akhirnya. Saat kau ingin hijrah, namun baju-baju panjangmu belum banyak, tak apa, ukhti. Dalam seminggu ada berapa hari, sih? Bukankah baju-baju itu bisa dicuci? Bukankah uang jajanmu bisa ditabung perlahan untuk membeli satu set gamis? Ah, saya tak paham lagi mengapa hal ini begitu mengganggu dan menjatuhkan. Semogalah siapapun yang hendak berhijrah, melakukan hijrahnya dengan sebaik-baiknya tanpa menjatuhkan dirinya. Semogalah istiqamah, semogalah dijauhkan dari segala penyakit hati. Aamiin Yaa Rabb.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar