Sumber gambar: Tumblr
“Tak ada hijrah tanpa keletihan jiwa
dan kepayahan raga,
adakalanya kering tenggorokan sebab
dahaga
dan basah pipi karena air mata.”
- @soundsofalquran
Senang melihat
mereka yang begitu semangat berhijrah tentunya tanpa menghakimi yang lain yang belum
siap berbenah. Semangat mereka begitu menggebu-gebu hingga mereka membagi
ilmu-ilmu baru yang mereka dapatkan pada khalayak. Bahagia sekali melihatnya.
Tentu mereka membagikan hal itu karena mereka baru saja mengetahui betapa
indahnya perasaan itu, perasaan berhijrah itu, sehingga mereka begitu semangat
membagi cerita hijrah mereka dan tentu mereka berharap agar mereka dan
orang-orang di sekeliling mereka bisa sama-sama berjalan menuju surga-Nya. Itu
sebabnya mengapa mereka menyibukkan diri untuk menulis, berbagi, dan mengajak.
Namun, saya
melihat satu titik hitam dalam proses ini. Tentu lewat pengalaman seorang teman
yang mendapatkan banyak direct message
dari mereka yang berhijrah. Teman saya ini merupakan seorang kakak yang
mempunyai seorang adik yang merupakan public
figure yang dimana secara logika mereka adalah keluarga berada. Ia
mendapatkan pesan dari mereka yang berhijrah, orang-orang itu meminta teman
saya ini untuk menghibahkan pakaian-pakaian panjangnya, padahal teman sayapun
baru saja berhijrah, baru saja menggunakan jilbab, itupun belum yang begitu
syar’i tetapi ia diberondong dengan direct
message semacam itu. Dengan seenaknya orang-orang itu minta tolong dengan
mengirim pesan bahkan mereka tak saling kenal. Meski bila ia adalah orang yang
berada belum tentu juga pakaiannya banyak, kan?
Hijrah itu perlu
pengorbanan. Kemas hijrahmu dengan indah, bukan dengan meminta-minta. Saya
paham bahwa harga gamis dan pakaian-pakaian panjang itu mahalnya bukan main
memang. Saya juga baru menyadari ketika hendak meminjam gamis seorang teman
saya yang bercadar untuk keperluan tugas. Ia enggan meminjami karena ternyata
gamisnya saja harganya ratusan ribu. Belum jilbab panjangnya, belum cadarnya,
belum hand sock nya, belum tasnya, belum sepatunya, yang kalau ditotal setiap
hari ia berpenampilan hingga jutaan bukan bila begitu? Lalu saya menertawai
diri saya sendiri, melihat penampilan saya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Dari ini, saya merasa hijrah memang butuh banyak pengorbanan, salah satunya
materi. Namun, bukan membuatmu menjadi peminta-minta, ukhti. Tak perlu diambil
sulit dalam hal ini, berjalanlah pelan-pelan, menabunglah, percayakan semuanya
pada Allah. Saat kau hendak memutuskan sesuatu, pikirkanlah sampai di bagian
akhirnya. Saat kau ingin hijrah, namun baju-baju panjangmu belum banyak, tak
apa, ukhti. Dalam seminggu ada berapa hari, sih? Bukankah baju-baju itu bisa
dicuci? Bukankah uang jajanmu bisa ditabung perlahan untuk membeli satu set
gamis? Ah, saya tak paham lagi mengapa hal ini begitu mengganggu dan menjatuhkan.
Semogalah siapapun yang hendak berhijrah, melakukan hijrahnya dengan
sebaik-baiknya tanpa menjatuhkan dirinya. Semogalah istiqamah, semogalah
dijauhkan dari segala penyakit hati. Aamiin Yaa Rabb.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar