24/12/18

'a Different Broken Heart'


Desember selalu saja punya cerita sendiri dan seolah memang datang untuk menabur kisah demi kisah yang mengecewakan bagi kita yang mungkin belum lapang hatinya dalam menerima hal-hal kecil yang menyakitkan dalam hidup kita.

Desember kali ini datang membawa sebuah kesadaran dan pelajaran berharga dari hadirnya krisis dalam suatu rasa. Tidak tahu pasti namanya apa, tetapi sebegitu menyakitkannya manakala kita mengetahui bahwa kita bukanlah bagian dari orang-orang yang dipercaya oleh teman kita sendiri, sahabat kita sendiri.

Dia datang dengan segala kebaikan hatinya, membuat kita nyaman sepenuhnya, sampai kita berpikir dialah soulmate kita. Banyak sekali kemiripan diantara kita, utamanya hal-hal dan suasana yang kita sama-sama suka, terlebih orang lain berkata tidak untuk hal-hal tersebut hingga membuat kita merasa bahwa kita berjodoh dengannya karena sama-sama menyenangi hal-hal dan suasana yang mungkin orang lain asing terhadapnya.

Lalu dia pergi, meninggalkan kesan bahwa ia lebih ingin kita abaikan.

Saat itu, saya memahami begitu berharganya perasaan untuk dipercaya, dihargai, dihormati, hingga dicintai.

Kepercayaan seolah melebihi banyak hal. Kau tahu apa yang membuat  seseorang bisa menyerahkan segalanya untukmu? Karena mungkin semua hanya didasari oleh satu hal, kepercayaan yang menggebu-gebu pada dirimu.

Misal, dia percaya bahwa kau setulus hati mencintainya, untuk itu dia rela menunggumu tak peduli berapapun lamanya, dia rela membuang seluruh waktunya hanya untuk menunggumu yang ia yakini akan pulang.

Sehingga terkadang kita mengganggap bahwa percaya beda tipis dengan  bodoh. Tidak! Sekali-kali tidak! Karena seperti itulah keajaiban dari rasa percaya, ia mampu memberimu segalanya, harta, jabatan, kekuasaan, cinta atau bahkan kehormatan!

Seperti pada awal tulisan ini, saya tidak tahu ini perasaan apa, tetapi setelah menulis sepanjang ini saya baru sadar, setelah sekian lama tidak merasakan perasaan ini. Jadi, mungkin saya patah hati? Haha, tentu saja bukan patah hati terhadap seorang pria yang kabar dan rupanya saja saya tidak tahu. Iya, maksudnya pria yang menjadi jodoh saya, mana saya tahu kabar dan rupanya.

Saya sudah menggunakan metode yang diajarkan salah seorang motivator tentang cara untuk menyampaikan sesuatu bisa menggunakan “pesan saya” yakni menyatakan dalam kalimat: saya… (perasaan saya) kalau kamu… (perilaku dia) karena… (alasan).

Cara itu digunakan agar dalam menyampaikan tidak setengah-setengah. Saya sudah berhasil berkomunikasi dengannya. Dia merasa tidak ada yang perlu dipersalahkan, saya menjadi lega, meski mungkin hubungan kami tidak bisa seakrab dulu lagi. Di sisi lain hal mengecewakan terjadi, tak masalah bila bersikap apatis adalah pilihannya, hidup memang selalu tentang pilihan dan kamu harus mampu bertanggungjawab atas pilihanmu sendiri. Permasalahannya kerap kali yang lain bercerita bahwa perubahan yang terjadi padanya cenderung menimbulkan respon kasar yang dilontarkannya dalam menanggapi sesuatu atau terlalu sensitive dalam hal obrolan yang terbilang sungguh ringan. Mungkin kami kecewa, tetapi biarlah sampai ia sendiri menyadari bahwa ia tak perlu seapatis itu khususnya untuk hal-hal kecil yang memang tak perlu begitu diabaikan meski tak perlu juga untuk terlalu dipedulikan. Jawaban yang dilontarkannya yang membuat kami shocked sepersekian waktu, sedih sebab ia tak perlu merespon hingga sekasar itu hanya untuk hal yang sekedar remeh-temeh. Mungkin kesantaian yang ingin diperlihatkannya tanpa sadar membawanya menuju dunia keapatisan yang sesungguhnya. Ah, memang ya, pergaulan itu sangat berpengaruh. Kami tahu ada beberapa hal yang belakangan ini berubah dalam hidupnya, teman baru, kekasih baru, rutinitas baru, kebahagiaan baru, terserah apa sajalah yang terjadi dalam hidupmu kami turut berbahagia. Dia memang pernah menngatakan bahwa betapa nikmatnya menjadi pribadi yang apatis, terserah saja bila memang itu pilihannya. Hanya saja terasa betul kehilangan di diri saya, karena saya merasa bahwa begitu banyak perhatian yang ia curahkan untuk saya selama ini melebihi teman-teman yang lain. Itulah mengapa saya menulis sepanjang ini mungkin karena saya kecewa dan amat merasa kehilangan.

Terakhir, untuk seorang teman perempuan yang telah membuat saya patah hati, terima kasih banyak untuk segala waktu-waktu terbaik yang kamu luangkan bersamaku. Kita pernah menatap matahari terbit bersama, senja pun juga pernah, bintang dan bulan apa lagi. Kita juga pernah menggigil di balik selimut yang sama, tenggelam dalam tawa karena menertawai hal yang sama, mandi-mandi hujan bersama. Saya akan selalu mengingat saat-saat terbaik denganmu. Mungkin benar kata salah satu quote, bahwa saat seseorang pergi meninggalkan kita, bukan selamanya karena keslalahan kita, tetapi karena memang waktu kita untuk bersama dengannya sudah habis. 

 “Yaa Allah, tolong beri kami hati yang lapang agar kami mampu memberi ruang di hati kami untuk perlakuan orang lain terhadap kami, pun kesalahan, perubahan dan segala hal yang tak sesuai dengan harapan, sehingga tiada sesak yang mengiringi langkah kami untuk senantiasa bertumbuh dan hidup dalam mencari keridhaan-Mu. Aamiin.”

Orang-orang benar bahwa; we just can’t change people,
dan jika kataku; we just can’t also to make people doesn’t change, when they want to.



//Yogyakarta, Desember 2018//

Tidak ada komentar:

Posting Komentar