Desember
selalu saja punya cerita sendiri dan seolah memang datang untuk menabur kisah
demi kisah yang mengecewakan bagi kita yang mungkin belum lapang hatinya dalam
menerima hal-hal kecil yang menyakitkan dalam hidup kita.
Desember
kali ini datang membawa sebuah kesadaran dan pelajaran berharga dari hadirnya
krisis dalam suatu rasa. Tidak tahu pasti namanya apa, tetapi sebegitu
menyakitkannya manakala kita mengetahui bahwa kita bukanlah bagian dari
orang-orang yang dipercaya oleh teman kita sendiri, sahabat kita sendiri.
Dia
datang dengan segala kebaikan hatinya, membuat kita nyaman sepenuhnya, sampai
kita berpikir dialah soulmate kita.
Banyak sekali kemiripan diantara kita, utamanya hal-hal dan suasana yang kita
sama-sama suka, terlebih orang lain berkata tidak untuk hal-hal tersebut hingga
membuat kita merasa bahwa kita berjodoh dengannya karena sama-sama menyenangi
hal-hal dan suasana yang mungkin orang lain asing terhadapnya.
Lalu
dia pergi, meninggalkan kesan bahwa ia lebih ingin kita abaikan.
Saat
itu, saya memahami begitu berharganya perasaan untuk dipercaya, dihargai,
dihormati, hingga dicintai.
Kepercayaan
seolah melebihi banyak hal. Kau tahu apa yang membuat seseorang bisa menyerahkan segalanya untukmu?
Karena mungkin semua hanya didasari oleh satu hal, kepercayaan yang
menggebu-gebu pada dirimu.
Misal,
dia percaya bahwa kau setulus hati mencintainya, untuk itu dia rela menunggumu
tak peduli berapapun lamanya, dia rela membuang seluruh waktunya hanya untuk menunggumu yang ia
yakini akan pulang.
Sehingga
terkadang kita mengganggap bahwa percaya beda tipis dengan bodoh. Tidak! Sekali-kali tidak! Karena seperti itulah keajaiban dari rasa percaya,
ia mampu memberimu segalanya, harta, jabatan, kekuasaan, cinta atau bahkan
kehormatan!
Seperti
pada awal tulisan ini, saya tidak tahu ini perasaan apa, tetapi setelah menulis
sepanjang ini saya baru sadar, setelah sekian lama tidak merasakan perasaan
ini. Jadi, mungkin saya patah hati? Haha, tentu saja bukan patah hati terhadap
seorang pria yang kabar dan rupanya saja saya tidak tahu. Iya, maksudnya pria
yang menjadi jodoh saya, mana saya tahu kabar dan rupanya.
Saya sudah menggunakan metode yang diajarkan
salah seorang motivator tentang cara untuk menyampaikan sesuatu bisa menggunakan
“pesan saya” yakni menyatakan dalam
kalimat: saya… (perasaan saya) kalau kamu…
(perilaku dia) karena… (alasan).
Cara itu digunakan agar dalam menyampaikan
tidak setengah-setengah. Saya sudah berhasil berkomunikasi dengannya. Dia merasa
tidak ada yang perlu dipersalahkan, saya menjadi lega, meski mungkin hubungan
kami tidak bisa seakrab dulu lagi. Di sisi lain hal mengecewakan terjadi, tak
masalah bila bersikap apatis adalah pilihannya, hidup memang selalu tentang
pilihan dan kamu harus mampu bertanggungjawab atas pilihanmu sendiri. Permasalahannya
kerap kali yang lain bercerita bahwa perubahan yang terjadi padanya cenderung menimbulkan
respon kasar yang dilontarkannya dalam menanggapi sesuatu atau terlalu
sensitive dalam hal obrolan yang terbilang sungguh ringan. Mungkin kami kecewa,
tetapi biarlah sampai ia sendiri menyadari bahwa ia tak perlu seapatis itu
khususnya untuk hal-hal kecil yang memang tak perlu begitu diabaikan meski tak
perlu juga untuk terlalu dipedulikan. Jawaban yang dilontarkannya yang membuat
kami shocked sepersekian waktu, sedih
sebab ia tak perlu merespon hingga sekasar itu hanya untuk hal yang sekedar
remeh-temeh. Mungkin kesantaian yang ingin diperlihatkannya tanpa sadar
membawanya menuju dunia keapatisan yang sesungguhnya. Ah, memang ya, pergaulan itu
sangat berpengaruh. Kami tahu ada beberapa hal yang belakangan ini berubah dalam
hidupnya, teman baru, kekasih baru, rutinitas baru, kebahagiaan baru, terserah
apa sajalah yang terjadi dalam hidupmu kami turut berbahagia. Dia memang pernah
menngatakan bahwa betapa nikmatnya menjadi pribadi yang apatis, terserah saja
bila memang itu pilihannya. Hanya saja terasa betul kehilangan di diri saya,
karena saya merasa bahwa begitu banyak perhatian yang ia curahkan untuk saya
selama ini melebihi teman-teman yang lain. Itulah mengapa saya menulis
sepanjang ini mungkin karena saya kecewa dan amat merasa kehilangan.
Terakhir,
untuk seorang teman perempuan yang telah membuat saya patah hati, terima kasih
banyak untuk segala waktu-waktu terbaik yang kamu luangkan bersamaku. Kita
pernah menatap matahari terbit bersama, senja pun juga pernah, bintang dan
bulan apa lagi. Kita juga pernah menggigil di balik selimut yang sama,
tenggelam dalam tawa karena menertawai hal yang sama, mandi-mandi hujan
bersama. Saya akan selalu mengingat saat-saat terbaik denganmu. Mungkin benar
kata salah satu quote, bahwa saat seseorang pergi meninggalkan kita, bukan selamanya
karena keslalahan kita, tetapi karena memang waktu kita untuk bersama dengannya
sudah habis.
“Yaa
Allah, tolong beri kami hati yang lapang agar kami mampu memberi ruang di hati
kami untuk perlakuan orang lain terhadap kami, pun kesalahan, perubahan dan
segala hal yang tak sesuai dengan harapan, sehingga tiada sesak yang mengiringi
langkah kami untuk senantiasa bertumbuh dan hidup dalam mencari keridhaan-Mu.
Aamiin.”
Orang-orang
benar bahwa; we just can’t change people,
dan
jika kataku; we just can’t also to make
people doesn’t change, when they want to.
//Yogyakarta, Desember 2018//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar