Hari ini saya baru kembali menulis setelah
selama Desember digandrungi berbagai macam pekerjaan yang sampai sekarang pun
tidak kelar-kelar. Sekarang saya sedang menulis ditemani rasa sakit di kepala
saya, meriang di tubuh saya, mampet di hidung saya, berat di tenggorokan saya.
Saya baru saja pulang dari kafe Antologi usai
rapat dengan divisi kreasi untuk penyelenggaraan festival kami di bulan Januari
mendatang, saya ijin pamit pulang duluan karena tidak kuat dengan AC di kafe
tersebut dengan tubuh saya yang sedang meriang dan kepala seperti
dibentur-benturkan ke tembok. Karena sudah malam, saya tidak sadar kalau
hujannya cukup deras, waktu saya sudah sadar barulah saya menepi dan membuat
saya terpaksa menggunakan jas hujan. Saya mampir dulu membeli makan malam,
seperti biasa membeli sebungkus nasi dengan cumi rica-rica kesukaan saya
ditambah ada sayur sawi di dalamnya.
Pagi tadi juga saya baru pulang dari Magelang. Hampir-hampir
saya jatuh di sungai karena saya salah focus melihat seorang anak perempuan
yang masih kecil sendirian ketiduran saat sedang menjaga dagangan buah-buahannya
di dekat jembatan. Lalu saya menyesal karena telah bingung membuat rencana
liburan sebab tidak kemana-mana, lihat
Nin, lihat anak perempuan itu betapa boringnya hari-harinya sampai ia ketiduran
saat menjaga dagangannya! Kamu sendiri tidak perlu bersusah-susah seperti itu untuk
makan, tidak sampai ketiduran di pinggir jalan! Pakai liburan kamu buat belajar
toefl sana! Sadar diri sudah mau proposal, KKN, Skripsi, Wisuda! Sadar diri
dari sekarang!
Waktu berangkat ke sana macet, biasa long weekend.
Hanya semalam saja memang di sana. Begitulah kehidupan saya. Saya hanya bertemu
dengan orangtua saya sehari semalam saja, tetapi itu hampir tiap bulan. Lewat video
call, Ibu saya bilang bahwa pasti Ayah saya bahagia bertemu dengan kalian,
saya jawab biasa saja sepertinya, mukanya biasa saja soalnya. Mendengar hal itu
Ayah saya senyum-senyum seraya berkata, “Ya, emang harus gimana?” Iya juga sih,
saya juga bingung kalau saya jadi Ayah saya kudu gimana menunjukkan rasa
bahagianya. As usually, entah kenapa
sudah menjadi tradisi keluarga saya, kalau ada salah satu anggota yang baru datang
yang lainnya ngumpet atau pura-pura tidur. Waktu saya tiba di rumah Magelang, Ayah
dan adik saya lagi mojok di ruang tamu, ngumpet. Saya selalu masuk lewat pintu
belakang. Ketawa-ketawalah kami waktu saya berhasil menemukan mereka.
Pagi tadi juga saya sangat terpukul nonton
berita di TV, bagaimana tidak, Indonesiaku kembali dihantam musibah,
setelah sebelumnya tsunami dan gempa di Palu, jatuhnya pesawat, dan
musibah-musibah sebelumnya. Meski begitu, kata Ibu saya, di Palu usai bencana
masih ada saja yang berani jalan-jalan ke mall, foya-foya dan lain sebagainya,
kata Ibu saya, bagaimana bisa mereka
masih bisa melakukan itu semua setelah apa yang telah terjadi di sini?
Musibah yang kali ini menimpa Indonesia adalah bencana
tsunami atau ombak yang begitu tinggi sehingga disebut-sebut sebagai tsunami di
daerah Banten hingga Lampung. Salah satu korbannya ialah band Seventeen yang sedang
menggelar konser di pinggir pantai Tanjung Lesung.
Jujur, saya adalah salah satu follower
Instagram Mas Ifan Seventeen sejak lama. Bukan karena Mas Ifan itu vokalis Seventeen
tetapi ya karena Mas Ifan adalah seorang Ifan. Dia sangat mencintai istrinya,
makanya saya ikut sedih waktu dikabarkan istrinya ikut hilang saat tragedi
tersebut terjadi. Dalam waktu semalam saja, followers Mas Ifan tambah 200k
lebih followers, ini tidak ada hubungannya dengan topik tetapi menyadarkan saya
bahwa betapa dahsyatnya pengaruh sosial media. Semoga keduanya segera
dipertemukan, sebab banyak pula jaringan dan media yang turut membantu
mencarikan informasi.
Saya sangat turut berduka dengan apa yang
dialami oleh band Seventeen. Tidak terbayang bagaimana shocknya menjadi Mas Ifan
karena ia yang menemukan jenazah kedua orang sahabatnya saat mereka teseret sampai
ke bibir pantai. Hal ini juga menyadarkan saya untuk sebisa mungkin menjaga
segala hubungan dengan kerabat agar selalu baik-baik saja, berusaha
menyelesaikan segala masalah, membuat keadaan membaik seperti semula bila awalnya
sempat terjadi pertengkaran karena kita tidak akan pernah tahu kapan
pembicaraan terakhir kita dengan teman-teman kita.
Menurut saya, Mas Ifan masih diberi kesempatan
oleh Allah untuk menyempurnakan proses hijrahnya. Saya di sini harus mengakui bahwa
saya sempat menangis, bagaimana Allah menyelamatkan seorang Mas Ifan.
Banyaknya musibah membuat saya takut untuk
kemana-kemana, namun diingatkan lagi bahwa ajal bisa menemui kita dimanapun, itulah
sebabnya dimanapun kita berada selalu lakukan hal yang baik, jauhi maksiat dan
hal-hal yang tidak disukai Allah.
Kalau ingin membahas soal kenapa banyak musibah
belakangan ini terjadi di Indonesia? Hikmah dan lain sebagainya, mungkin saya
bukan orang yang tepat untuk diajak berdiskusi hal tersebut. Hanya saja bagi
saya pribadi dan untuk diri saya sendiri, ini adalah sebagai peringatan dan
pengingat betapa Maha Besar dan Maha Kuasanya Allah untuk melakukan dan
menakdirkan apapun, segala yang tidak bisa diperkirakan oleh manusia.
Dan untuk diri saya sendiri, saya memang berusaha
untuk menjauhi acara-acara semacam konser dan keseruan lainnya. Berusaha di
sini diartikan mungkin kerap kali saya terpaksa ikut karena satu dan lain hal,
tetapi jika tidak terpaksa, saya berusaha untuk meninggalkan acara-acara
semacam itu. Kebetulan saya sendiri kurang menyukai acara-acara yang membuat
saya harus berbaur dengan lawan jenis, harus berbaur keringat dengan banyak
orang, apa lagi konser yang mengharuskan saya berdiri dan joget. Mungkin saya
orangnya memang tidak seru, tetapi saya akan menemukan seseorang yang bisa
melihat keseruan lain dalam diri saya. Belakangan ini, saya menemukan seorang teman
yang introvert, dia nampaknya seorang perempuan penyendiri, kemana-mana
sendiri, tidak bisa berteman dengan orang-orang yang dengan melihat mereka saja
energinya sudah habis karena keaktifan orang-orang itu. Ketika menemukan saya,
kelihatannya dia bahagia sekali. Malam minggu waktu itu, ia traktir saya makan
seafood. Seafood di tenda pinggir jalan depan kafe Legend itu adalah warung
seafood favoritnya dan Ayahnya sejak 10 tahun yang lalu! Wow! Dia memang asli
kota ini. Setelah itu kami pergi ke kafe yang sering didatanginya, sebuah kafe yang
menawarkan suasana privasi karna kebanyakan yang datang adalah mereka yang
mencintai sunyi.
Tujuan yang sama memang kerap kali
mempertemukan orang-orang. Dan hati tidak pernah salah meraba, meski mungkin
sekali dua kali pernah keliru, tetapi begitulah hidup, dipertemukan dengan
orang yang salah sebelum akhirnya bersama orang yang tepat untuk selamanya.
Bila bertemu dengan kesalahan, penyesalan tiada artinya bila tanpa diiringi
pembelajaran.
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk
berkunjung ke ruang ini karena dengan membaca tulisan saya berarti pula teman-teman
membaca pikiran saya, merasakan apa yang saya rasakan. Semoga senantiasa ada
pelajaran yang teman-teman temukan. Bila ini hanya sekedar bacot dan omong
kosong, beginilah cara saya mengendalikan perasaan saya, menuliskannya. Tak apa
bila ada yang tak suka, setiap orang boleh berhenti membaca karena saya hanya
ingin menuliskan apa yang ingin saya tulis bukan apa yang ingin orang baca.
//Yogyakarta, 23 Desember 2018//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar