24/12/18

Back to December Again


Hari ini saya baru kembali menulis setelah selama Desember digandrungi berbagai macam pekerjaan yang sampai sekarang pun tidak kelar-kelar. Sekarang saya sedang menulis ditemani rasa sakit di kepala saya, meriang di tubuh saya, mampet di hidung saya, berat di tenggorokan saya.

Saya baru saja pulang dari kafe Antologi usai rapat dengan divisi kreasi untuk penyelenggaraan festival kami di bulan Januari mendatang, saya ijin pamit pulang duluan karena tidak kuat dengan AC di kafe tersebut dengan tubuh saya yang sedang meriang dan kepala seperti dibentur-benturkan ke tembok. Karena sudah malam, saya tidak sadar kalau hujannya cukup deras, waktu saya sudah sadar barulah saya menepi dan membuat saya terpaksa menggunakan jas hujan. Saya mampir dulu membeli makan malam, seperti biasa membeli sebungkus nasi dengan cumi rica-rica kesukaan saya ditambah ada sayur sawi di dalamnya.

Pagi tadi juga saya baru pulang dari Magelang. Hampir-hampir saya jatuh di sungai karena saya salah focus melihat seorang anak perempuan yang masih kecil sendirian ketiduran saat sedang menjaga dagangan buah-buahannya di dekat jembatan. Lalu saya menyesal karena telah bingung membuat rencana liburan sebab tidak kemana-mana, lihat Nin, lihat anak perempuan itu betapa boringnya hari-harinya sampai ia ketiduran saat menjaga dagangannya! Kamu sendiri tidak perlu bersusah-susah seperti itu untuk makan, tidak sampai ketiduran di pinggir jalan! Pakai liburan kamu buat belajar toefl sana! Sadar diri sudah mau proposal, KKN, Skripsi, Wisuda! Sadar diri dari sekarang!

Waktu berangkat ke sana macet, biasa long weekend. Hanya semalam saja memang di sana. Begitulah kehidupan saya. Saya hanya bertemu dengan orangtua saya sehari semalam saja, tetapi itu hampir tiap bulan.  Lewat video call, Ibu saya bilang bahwa pasti Ayah saya bahagia bertemu dengan kalian, saya jawab biasa saja sepertinya, mukanya biasa saja soalnya. Mendengar hal itu Ayah saya senyum-senyum seraya berkata, “Ya, emang harus gimana?” Iya juga sih, saya juga bingung kalau saya jadi Ayah saya kudu gimana menunjukkan rasa bahagianya. As usually, entah kenapa sudah menjadi tradisi keluarga saya, kalau ada salah satu anggota yang baru datang yang lainnya ngumpet atau pura-pura tidur. Waktu saya tiba di rumah Magelang, Ayah dan adik saya lagi mojok di ruang tamu, ngumpet. Saya selalu masuk lewat pintu belakang. Ketawa-ketawalah kami waktu saya berhasil menemukan mereka.

Pagi tadi juga saya sangat terpukul nonton berita di TV, bagaimana tidak, Indonesiaku kembali dihantam musibah, setelah sebelumnya tsunami dan gempa di Palu, jatuhnya pesawat, dan musibah-musibah sebelumnya. Meski begitu, kata Ibu saya, di Palu usai bencana masih ada saja yang berani jalan-jalan ke mall, foya-foya dan lain sebagainya, kata Ibu saya, bagaimana bisa mereka masih bisa melakukan itu semua setelah apa yang telah terjadi di sini?

Musibah yang kali ini menimpa Indonesia adalah bencana tsunami atau ombak yang begitu tinggi sehingga disebut-sebut sebagai tsunami di daerah Banten hingga Lampung. Salah satu korbannya ialah band Seventeen yang sedang menggelar konser di pinggir pantai Tanjung Lesung.

Jujur, saya adalah salah satu follower Instagram Mas Ifan Seventeen sejak lama. Bukan karena Mas Ifan itu vokalis Seventeen tetapi ya karena Mas Ifan adalah seorang Ifan. Dia sangat mencintai istrinya, makanya saya ikut sedih waktu dikabarkan istrinya ikut hilang saat tragedi tersebut terjadi. Dalam waktu semalam saja, followers Mas Ifan tambah 200k lebih followers, ini tidak ada hubungannya dengan topik tetapi menyadarkan saya bahwa betapa dahsyatnya pengaruh sosial media. Semoga keduanya segera dipertemukan, sebab banyak pula jaringan dan media yang turut membantu mencarikan informasi.

Saya sangat turut berduka dengan apa yang dialami oleh band Seventeen. Tidak terbayang bagaimana shocknya menjadi Mas Ifan karena ia yang menemukan jenazah kedua orang sahabatnya saat mereka teseret sampai ke bibir pantai. Hal ini juga menyadarkan saya untuk sebisa mungkin menjaga segala hubungan dengan kerabat agar selalu baik-baik saja, berusaha menyelesaikan segala masalah, membuat keadaan membaik seperti semula bila awalnya sempat terjadi pertengkaran karena kita tidak akan pernah tahu kapan pembicaraan terakhir kita dengan teman-teman kita.

Menurut saya, Mas Ifan masih diberi kesempatan oleh Allah untuk menyempurnakan proses hijrahnya. Saya di sini harus mengakui bahwa saya sempat menangis, bagaimana Allah menyelamatkan seorang Mas Ifan.

Banyaknya musibah membuat saya takut untuk kemana-kemana, namun diingatkan lagi bahwa ajal bisa menemui kita dimanapun, itulah sebabnya dimanapun kita berada selalu lakukan hal yang baik, jauhi maksiat dan hal-hal yang tidak disukai Allah.

Kalau ingin membahas soal kenapa banyak musibah belakangan ini terjadi di Indonesia? Hikmah dan lain sebagainya, mungkin saya bukan orang yang tepat untuk diajak berdiskusi hal tersebut. Hanya saja bagi saya pribadi dan untuk diri saya sendiri, ini adalah sebagai peringatan dan pengingat betapa Maha Besar dan Maha Kuasanya Allah untuk melakukan dan menakdirkan apapun, segala yang tidak bisa diperkirakan oleh manusia.

Dan untuk diri saya sendiri, saya memang berusaha untuk menjauhi acara-acara semacam konser dan keseruan lainnya. Berusaha di sini diartikan mungkin kerap kali saya terpaksa ikut karena satu dan lain hal, tetapi jika tidak terpaksa, saya berusaha untuk meninggalkan acara-acara semacam itu. Kebetulan saya sendiri kurang menyukai acara-acara yang membuat saya harus berbaur dengan lawan jenis, harus berbaur keringat dengan banyak orang, apa lagi konser yang mengharuskan saya berdiri dan joget. Mungkin saya orangnya memang tidak seru, tetapi saya akan menemukan seseorang yang bisa melihat keseruan lain dalam diri saya. Belakangan ini, saya menemukan seorang teman yang introvert, dia nampaknya seorang perempuan penyendiri, kemana-mana sendiri, tidak bisa berteman dengan orang-orang yang dengan melihat mereka saja energinya sudah habis karena keaktifan orang-orang itu. Ketika menemukan saya, kelihatannya dia bahagia sekali. Malam minggu waktu itu, ia traktir saya makan seafood. Seafood di tenda pinggir jalan depan kafe Legend itu adalah warung seafood favoritnya dan Ayahnya sejak 10 tahun yang lalu! Wow! Dia memang asli kota ini. Setelah itu kami pergi ke kafe yang sering didatanginya, sebuah kafe yang menawarkan suasana privasi karna kebanyakan yang datang adalah mereka yang mencintai sunyi.

Tujuan yang sama memang kerap kali mempertemukan orang-orang. Dan hati tidak pernah salah meraba, meski mungkin sekali dua kali pernah keliru, tetapi begitulah hidup, dipertemukan dengan orang yang salah sebelum akhirnya bersama orang yang tepat untuk selamanya. Bila bertemu dengan kesalahan, penyesalan tiada artinya bila tanpa diiringi pembelajaran.

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktunya untuk berkunjung ke ruang ini karena dengan membaca tulisan saya berarti pula teman-teman membaca pikiran saya, merasakan apa yang saya rasakan. Semoga senantiasa ada pelajaran yang teman-teman temukan. Bila ini hanya sekedar bacot dan omong kosong, beginilah cara saya mengendalikan perasaan saya, menuliskannya. Tak apa bila ada yang tak suka, setiap orang boleh berhenti membaca karena saya hanya ingin menuliskan apa yang ingin saya tulis bukan apa yang ingin orang baca.



//Yogyakarta, 23 Desember 2018//

Tidak ada komentar:

Posting Komentar