Weekend terakhir di 2018 ada sedikit rentetan
cerita. Ditulis supaya ada yang ditulis saja.
Eh, tidak juga deh, ditulis untuk menghilangkan
penat saja, berbagi kelelahan dengan pembaca, saling percaya bahwa yang lelah
bukan diri sendiri saja, tetapi orang lain mungkin juga, atau bisa jadi lebih l
elah.
Hidup adalah tentang lelah yang memuaskan.
Apapun sebabnya, apapun dampaknya, yang perlu diingat semoga lelahmu adalah
karena usaha untuk cinta kepada-Nya.
Pagi itu, ikut suatu kelas yang dimana mengharuskan
saya mau tidak mau harus bersuara selama berjam-jam. Usai zuhur saya pergi ke
sebuah kafe semi warnet untuk copy film dari komputer di sana. Agak kecewa juga
ternyata satu film saja bisa belasan giga. Dengan tiga flashdisk sekaligus saya
berjuang. Maklum tidak punya hardisk. Jadi, saya sebentar lagi masuk ke babak
baru untuk kelanjutan pendidikan saya dimana saya perlu mencari objek material
untuk dianalisis oleh skripsi. Objek itu bisa jadi tidak jauh-jauh dari buku
dan film. Jadi, beberapa film yang saya cari adalah yang telah direkomendasikan
oleh dosen saya terkait dengan berbagai teori yang sudah diajarkan. Selebihnya
adalah film detektif yang saya cari atau film monster-monster.
Sorenya, saya pergi ke kafe. Ini adalah hal
yang jarang saya lakukan. Secara, Jogja dengan segala keramahan orang-orang
bahkan harga-harga menu yang disajikan dengan rasa yang melebihi dari sekedar
enak membuat saya lebih sering ke tempat-tempat makan biasa yang enak,
mengenyangkan dengan harga yang terjangkau. Lagi pula kalau ke kafe seringnya
bingung, karena menu yang tertera serba inggris yang di-mix sampai-sampai tidak
bisa membayangkan seperti apa bentuk makanannya hingga harus berkali-kali
meminta penjelasan dari pelayannya. Ya Allah, jadi teringat pada bapak-bapak
yang “tidak bisa melihat” tempo hari di jalanan, beliau diberi kesempatan oleh
Allah untuk dikurangi dosanya dengan mata yang tidak bisa melihat sehingga tiada
dosanya untuk melihat maksiat. Seringkali saya melihatnya karena ia tinggal di
daerah yang sama dengan saya. Bapak itu punya keluarga, sering keluar bersama
anak-anaknya atau lebih tepatnya ditemani oleh anak-anaknya untuk membeli makan
malam. Hal ini pernah saya ceritakan di tulisan saya yang lalu-lalu, saat sang
bapak, saya prediksi akan tersandung jalanan yang tidak rata, tetapi saat itu
beliau digandeng oleh anak-anaknya sehingga saya percaya saja bahwa
anak-anaknya akan membantunya. Meski saya tidak bisa membayangkan jenis makanan
yang akan disajikan oleh kafe itu karena namanya yang kelewat keren, tetapi toh
saya nantinya juga bisa melihat penampakan makanan yang hendak saya makan,
sementara mereka yang tak bisa melihat, tidak tahu bagaimana cantiknya masakan
tersebut disajikan.
Sore itu saya hendak bertemu dan mengobrol
dengan seorang teman yang seleranya ialah ngekafe. Selera orang tidak perlu
disalahkan tetapi terkadang perlu kita cicipi.
Sepanjang sore hingga malam hari kami tidak
berhenti bercerita di sebuah kafe yang tepat berada di tengah-tengah kota Jogja
namun jauh dari kata hiruk-pikuk di luar sana karena bangunan yang dibatasi
oleh kaca serta kuota pengunjung yang memang tak bisa banyak-banyak membuat
kafe ini nyaman sekali untuk ngobrol-ngobrol santai.
Pulangnya saya mampir dulu membeli lauk pesanan
mbak kos yang nitip. Jadilah saya mampir ke kosannya dan kita ngobrol cukup
lama membahas soal film dan hal lainnya. Padahal tenggorokan saya sudah sakit. Besok datang ke acara mendongeng ndak, ya?
Batin saya. Pulang ke kamar sendiri, tidak tahu kenapa saya muntah. Jangan
dibayangkan, muntahnya tetap anggun, kok. Ya ampun, uang saya kebuang, deh,
mengingat harga makanan di kafe tadi yang lumayan. Sempat berpikir sepertinya
ini tidak penting untuk ditulis.
Esok paginya saya tetap datang dengan berniat
tidak ingin bicara banyak pada hari itu. Baru saja saya tiba, di halaman kafe
anak-anak sudah bersorak girang melihat kedatangan saya. Saya menghampiri
mereka dan bude Pristy memberi saya naskah. Saya terkejut ada nama saya di sana
sebagai narator. Baiklah, sepertinya saya perlu bicara banyak lagi hari ini
untuk menghibur anak-anak.
Lalu pada malam tahun barunya, saya menghubungi
Ibu saya.
“Lagi
dimana?” tanya beliau.
“Kosan.”
“Kemaren
kenapa nelpon?” (kemaren
beliau nolak ditelpon karena sudah ngantuk)
“Gapapa, lagi gelisah aja.”
“Kamu
sakit ya? Berobat aja.”
“Iya. Gapapa kok, ini udah beli obat. Aku kok sekarang
sering perasaannya gak enak, eh tadi baca efek samping obatnya, katanya tidak
boleh menyalakan mesin atau mengendarai kendaraan bermotor, gimana ya?”
“Hampir
semua obat juga peringatannya kayak gitu kaleeee.” (pake ketawa)
“Iya tah?” (baru ngeh) “Oh iya, ada juga efek
sampingnya itu gelisah, insomnia, eksitasi, tremor.. btw, tahun baruan ngapain?”
“Itu
ibu-ibu pada mau karoeke. Malas ah, nyetrika aja ini.”
“Oh..”
Gantian
ngobrol sama Ayah saya.
“Nanti
jam 12 malam diundang suruh pimpin doa.”
“Oh, udah hafal doanya?”
“Improvisasi
aja.”
Saya ketawa.
“Kenapa?”
“Mana
ada doa malam tahun baru.”
Saya ketawa lagi.
Jadi, saya bingung. Kalau tidak minum obat,
bisa jadi tidak sembuh-sembuh. Kalau minum obat, saya jadi gelisah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar