02/01/19

Weekend di Penghujung Tahun


Weekend terakhir di 2018 ada sedikit rentetan cerita. Ditulis supaya ada yang ditulis saja.

Eh, tidak juga deh, ditulis untuk menghilangkan penat saja, berbagi kelelahan dengan pembaca, saling percaya bahwa yang lelah bukan diri sendiri saja, tetapi orang lain mungkin juga, atau bisa jadi lebih l elah.

Hidup adalah tentang lelah yang memuaskan. Apapun sebabnya, apapun dampaknya, yang perlu diingat semoga lelahmu adalah karena usaha untuk cinta kepada-Nya.

Pagi itu, ikut suatu kelas yang dimana mengharuskan saya mau tidak mau harus bersuara selama berjam-jam. Usai zuhur saya pergi ke sebuah kafe semi warnet untuk copy film dari komputer di sana. Agak kecewa juga ternyata satu film saja bisa belasan giga. Dengan tiga flashdisk sekaligus saya berjuang. Maklum tidak punya hardisk. Jadi, saya sebentar lagi masuk ke babak baru untuk kelanjutan pendidikan saya dimana saya perlu mencari objek material untuk dianalisis oleh skripsi. Objek itu bisa jadi tidak jauh-jauh dari buku dan film. Jadi, beberapa film yang saya cari adalah yang telah direkomendasikan oleh dosen saya terkait dengan berbagai teori yang sudah diajarkan. Selebihnya adalah film detektif yang saya cari atau film monster-monster.

Sorenya, saya pergi ke kafe. Ini adalah hal yang jarang saya lakukan. Secara, Jogja dengan segala keramahan orang-orang bahkan harga-harga menu yang disajikan dengan rasa yang melebihi dari sekedar enak membuat saya lebih sering ke tempat-tempat makan biasa yang enak, mengenyangkan dengan harga yang terjangkau. Lagi pula kalau ke kafe seringnya bingung, karena menu yang tertera serba inggris yang di-mix sampai-sampai tidak bisa membayangkan seperti apa bentuk makanannya hingga harus berkali-kali meminta penjelasan dari pelayannya. Ya Allah, jadi teringat pada bapak-bapak yang “tidak bisa melihat” tempo hari di jalanan, beliau diberi kesempatan oleh Allah untuk dikurangi dosanya dengan mata yang tidak bisa melihat sehingga tiada dosanya untuk melihat maksiat. Seringkali saya melihatnya karena ia tinggal di daerah yang sama dengan saya. Bapak itu punya keluarga, sering keluar bersama anak-anaknya atau lebih tepatnya ditemani oleh anak-anaknya untuk membeli makan malam. Hal ini pernah saya ceritakan di tulisan saya yang lalu-lalu, saat sang bapak, saya prediksi akan tersandung jalanan yang tidak rata, tetapi saat itu beliau digandeng oleh anak-anaknya sehingga saya percaya saja bahwa anak-anaknya akan membantunya. Meski saya tidak bisa membayangkan jenis makanan yang akan disajikan oleh kafe itu karena namanya yang kelewat keren, tetapi toh saya nantinya juga bisa melihat penampakan makanan yang hendak saya makan, sementara mereka yang tak bisa melihat, tidak tahu bagaimana cantiknya masakan tersebut disajikan.

Sore itu saya hendak bertemu dan mengobrol dengan seorang teman yang seleranya ialah ngekafe. Selera orang tidak perlu disalahkan tetapi terkadang perlu kita cicipi.

Sepanjang sore hingga malam hari kami tidak berhenti bercerita di sebuah kafe yang tepat berada di tengah-tengah kota Jogja namun jauh dari kata hiruk-pikuk di luar sana karena bangunan yang dibatasi oleh kaca serta kuota pengunjung yang memang tak bisa banyak-banyak membuat kafe ini nyaman sekali untuk ngobrol-ngobrol santai.

Pulangnya saya mampir dulu membeli lauk pesanan mbak kos yang nitip. Jadilah saya mampir ke kosannya dan kita ngobrol cukup lama membahas soal film dan hal lainnya. Padahal tenggorokan saya sudah sakit. Besok datang ke acara mendongeng ndak, ya? Batin saya. Pulang ke kamar sendiri, tidak tahu kenapa saya muntah. Jangan dibayangkan, muntahnya tetap anggun, kok. Ya ampun, uang saya kebuang, deh, mengingat harga makanan di kafe tadi yang lumayan. Sempat berpikir sepertinya ini tidak penting untuk ditulis.

Esok paginya saya tetap datang dengan berniat tidak ingin bicara banyak pada hari itu. Baru saja saya tiba, di halaman kafe anak-anak sudah bersorak girang melihat kedatangan saya. Saya menghampiri mereka dan bude Pristy memberi saya naskah. Saya terkejut ada nama saya di sana sebagai narator. Baiklah, sepertinya saya perlu bicara banyak lagi hari ini untuk menghibur anak-anak.

Lalu pada malam tahun barunya, saya menghubungi Ibu saya.

“Lagi dimana?” tanya beliau.
“Kosan.”
“Kemaren kenapa nelpon?” (kemaren beliau nolak ditelpon karena sudah ngantuk)
“Gapapa, lagi gelisah aja.”
“Kamu sakit ya? Berobat aja.”
“Iya. Gapapa kok, ini udah beli obat. Aku kok sekarang sering perasaannya gak enak, eh tadi baca efek samping obatnya, katanya tidak boleh menyalakan mesin atau mengendarai kendaraan bermotor, gimana ya?”
Hampir semua obat juga peringatannya kayak gitu kaleeee.” (pake ketawa)
“Iya tah?” (baru ngeh) “Oh iya, ada juga efek sampingnya itu gelisah, insomnia, eksitasi, tremor.. btw,  tahun baruan ngapain?”
“Itu ibu-ibu pada mau karoeke. Malas ah, nyetrika aja ini.”
“Oh..”
 Gantian ngobrol sama Ayah saya.
“Nanti jam 12 malam diundang suruh pimpin doa.”
“Oh, udah hafal doanya?”
“Improvisasi aja.”
Saya ketawa.
“Kenapa?”
“Mana ada doa malam tahun baru.”
Saya ketawa lagi.

Jadi, saya bingung. Kalau tidak minum obat, bisa jadi tidak sembuh-sembuh. Kalau minum obat, saya jadi gelisah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar