30/11/18

Sebuah Opini Terhadap Penghafal Al-Qur'an


“Mbakmu penghafal Al-Quran, ya? Kok jilbabnya kecil?” tanya seorang bocah SMP pada temannya yang memiliki kakak perempuan seorang hafidhoh yang kebetulan adalah teman saya.

“Benar-benar ya anak SMP tuh suka ngejudge. Omaygat. Style kan nggak menjamin semuanya. Anak-anak SMP yang sangat menggemaskan.” Ujar teman saya menanggapi celotehan dari teman-teman adiknya itu.

Kisah tersebut merupakan curhatan hati seorang teman yang sedang dalam proses menghafal Al-Qur’an meskipun ia telah selesai menyetorkan 30 juz. Mengapa saya menyebutnya masih sedang dalam proses? Karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah berhenti untuk menghafalkan Al-Qur’an, untuk membacanya, mengkajinya, mengajarkannya, juga mengamalkannya. Apakah kiranya jika telah selesai menghafal 30 juz itu artinya sudah selesai perjuangannya? Justru di saat telah selesai itulah perjuangan yang lebih berat menanti para penghafal Al-Qur’an, perjuangan untuk tetap menjaga hafalan dalam hati dan ingatan mereka di tengah akhir zaman yang serba-serbi penuh finah, maksiat, dan hal-hal dosa dianggap biasa.

Begini, menanggapi penilaian bocah SMP tersebut, lalu bolehkah saya bertanya, apakah mereka-mereka yang jilbabnya besar adalah pejuang Al-Qur’an? Apakah mereka penghafal Al-Qur’an? Apakah benar mereka merutinitaskan Al-Qur’an dalam sehari-hari mereka? Apakah mereka memasang target bersama Al-Qur’an dalam hari-hari mereka? Mungkin memang benar mereka telah berhasil mengamalkan perintah dalam Al-Qur’an soal memakai jilbab lebar yang menutupi dada, tetapi soal hati dan pikiran, tidak ada satupun manusia yang mengetahuinya.

Jika pikiran semua orang sebagaimana pemikiran bocah SMP dalam cerita di atas, lantas bagaimana jika orang yang berjilbab kecil mendengar hal itu lalu mereka jadi berkecil hati untuk menghafal dan mendekatkan diri pada Al-Qur’an tatkala ada ocehan di antara kita yang seperti itu?


Di lain hal juga saya berterima kasih untuk segala pendapat yang datang. Hal ini mungkin bisa menjadi salah satu koreksi diri bagi para penghafal Al-Qur’an sendiri.
 
Sepertinya juga, mungkin bocah-bocah itu kurang main instagram. Bukan suatu anjuran juga untuk main sosmed yang nauudzubillah racunnya banyak sekali. Tetapi ada satu penghafal Al-Qur’an, ia begitu tenar di instagram, followersnya jutaan, cantik mashaaAllah, cerdas tentu saja, banyak lelaki yang menyukainya? Semua orang bilang wajar saja. Kalau begitu dia masuk dalam kategori yang bocah-bocah tadi perbincangkan; jilbabnya kecil. Tetapi sebenarnya tidak menentu juga.

Jadi, suatu kali jika ia tampil di TV atau suatu acara yang dimana ia diberi amanah untuk membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an, saat itu mashaaAllah jilbabnya lebarnya bukan main, bukan seperti yang biasa dia tampilkan sosok dirinya di instagram.

Lalu, suatu ketika ada seorang fans yang bertanya, mengapa demikian? Mengapa saat tampil di TV, ia menggunakan jilbab lebar yang tidak seperti hari-hari ia yang biasanya? Lalu perempuan itu menjawab, “Ya, coba aja pikir, masa aku mau membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an tapi pakai pakaian ketat? Kan tidak pantas. Jadi, disesuaikan saja.” Kira-kira jawabannya seperti itu. Jawaban yang sulit dicerna sebenarnya. Jadi, harusnya seperti apakah kita-kita ini?

Selalu teringat pada perkataan ayah saya, tidak boleh menilai kekurangan orang!

Allah itu Maha Baik. Nyatanya begitu banyak sekali orang-orang dalam kehidupan saya yang hijrahnya mashaaAllah lebih dari yang saya kira. Saya bahkan tidak pernah berpikir bahwa mereka akan sampai pada titik itu. Titik kehidupan yang diam-diam membuat saya cemburu dan menangisi diri saya sendiri. Tidak apa-apa, nin, tidak apa-apa, sungguh hanya diri kita sendiri yang tahu sudah sampai mana hijrah kita, sudah sampai mana hati kita mengenal Sang Pencipta.

Mereka semua yang telah menemukan jalan hidup yang lebih baik akan selalu menjadi pelajaran yang berharga bagi hidup saya karena saya mengenal mereka, saya tahu lika-liku perjalanan mereka, tahu bagaimana masa lalunya mereka, tahu bagaimana bahagianya mereka sekarang karena berani berhijrah dan memilih kehidupan untuk lebih dekat dengan Allah sehingga saya tak akan heran dengan segala berkah dan bahagia dalam hidup mereka.

Kata salah seorang guru saya, “Al-Qur’an itu suci dan hanya akan mau bersemayam di hati orang-orang yang suci.”

Yang paling pertama untuk itu, kejujuran niat kita sendirilah yang akan membuat kita berhasil memasukkan Al-Quran dalam hati-hati kita. Kejujuran niat yang bagaimana? Kejujuran niat bahwa ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an semata-mata hanya karena Allah SWT. Semoga Allah meridhoi hidup kita, semoga Allah meridhoi kita untuk kelak menjadi salah satu penghuni dalam Jannah-Nya. Aamiin Yaa Rabbalalamin.

Kamu tahu apa salah satu masalah terbesar dalam hidup seorang Muslim? Jika Allah mencabut rasa nikmat dalam diri kita terhadap Al-Qur’an. Astaghfirullahaladzim.

Seberapapun umur yang Allah berikan pada kita, pertemuan dengan Allah akan selalu dirasakan “dadakan”. Barulah saat itu dirasakannya bagaimana keagungan Al-Qur’an sebagai teman sambil menunggu hari kebangkitan tiba. Al-Qur’an yang kita bacalah yang akan membersamai kita di kuburan sebagai penerang kubur kita, saat tidak ada siapapun di sana. Allahumma Aamiin.

*Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung pihak atau golongan manapun.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar