02/04/19

Review Buku: Seni Bersikap Bodo Amat Karya Mark Manson #1

 Sumber gambar: http://news.unair.ac.id


Ingin berkata-kata amarah ke mas-mas penjual martabak yang mendahulukan pesanan orang lain karena ketika saya memesan saya bilang, “saya tinggal dulu bentar ya, Mas.” Pasalnya bukan karena didahulukan pesanan orang lain, tetapi karena dialog setelah itu.

“Mas, pesanan saya mana?”
“Bentar, ya, hampir jadi.”

Saya heran, hampir setengah jam saya tinggal, kok belum jadi? Rupanya dia mendahulukan pesanan orang lain. Jadilah saya menunggu sambil berdiri, diam saja karena memang sendirian, untung bawa ponsel, pura-pura chattingan padahal tidak ada yang nge-chat. Akhirnya serah terima martabak pun terjadi, tiba-tiba masnya bilang,

“Mbak ngambek, ya?”
“Enggak, Mas.”
“Kok dari tadi diam saja?”
“Saya emang pendiam mas.” kataku dengan kalem. Lagian saya datang cuma sendirian, Ya kali saya ngomong sendiri.
“Mbaknya yang dulu pernah beli ke sini juga terus bilang kuah martabaknya kurang, kan?”
Sial, Masnya ingat saja. Yang awalnya saya pasang muka datar, jadi senyum-senyum.
“Kok, masih ingat sih, Mas? Saya saja sudah lupa.”
“Coba sini, mana nomor WA-nya.”

Saat itulah perasaan ilfeel berkecamuk dan muka saya kembali datar. Kenapa ya saya sensitif banget dengan laki-laki yang dengan begitu mudahnya minta nomor WA seorang perempuan yang sebenarnya ia tidak punya urusan apapun dengan perempuan itu? Jengkel juga waktu dia nanya Mbak ngambek, ya? Pertanyaannya itu menurut saya terlalu pribadi, dan saya pikir dia tidak perlu tahu suasana hati saya saat itu sedang seperti apa, toh kalau saya sedang galau juga apa urusannya dengan anda, hei!

Cepat-cepat saya bayar martabak saya dan pura-pura budek waktu dia menanyakan nomor WA. Gelinya lagi matanya tetap tertuju pada saya, mulai dari saya pakai helm, naik di motor, mungkin juga sampai saya hilang di belokan gang. Sungguh, tidak semudah itu Ferguso!

Saya tidak bisa membayangkan dengan hari-harinya sahabat saya yang dikaruniai wajah cantik luarbiasa. Jangankan antre beli martabak, cuma lagi antre untuk ambil uang di ATM saja, ada saja yang ngajak kenalan dan minta nomornya. Saya cuma geleng-geleng kepala saja melihat semua itu dari kejauhan, si pria itu kira tidak ada yang memperhatikan tingkahnya itu apa, hah! Si pria itu jingkrak-jingkrak kesenangan, beberapa kali meninju bahu sobatnya karena berhasil mengajak teman saya kenalan. Dari atas motor, saya cuma membatin ‘Oh gitu toh reaksinya cowok kalau kesenangan nemu cewek cantik di jalan.’

Mungkin orang lain boleh berbeda pandangan dengan saya, cuma menurut saya agak aneh dan kurang elegant saja cara orang-orang yang jatuh cinta di jalan. Namanya juga jatuh cinta, emang kadang aneh! Pernah juga baca suatu kisah sepasang suami istri yang menikah, berawal dari sang suami yang jatuh cinta saat melihat wajah sang istri di spion motor sewaktu mereka lewat jalan yang sama, lalu pria itu mengikuti si wanita sampai rumahnya dan bertekad suatu hari akan datang ke rumah itu lagi untuk melamar. Sebatas itu saja sih kisahnya. Pesan dari saya, jatuh cintalah dengan cara yang terhormat! Bagaimana caranya? Dengan kamu menghargai dan menghormati orang yang kamu cintai itu! Jangan membuatnya tidak nyaman apa lagi sampai ia merasa harga dirinya tidak dihormati dengan perbuatanmu yang tidak baik kepadanya.

Beda cerita lagi waktu saya menahan emosi ketika lewat di pertigaan di daerah dekat Stadion Maguwoharjo. Kala itu di pertigaan ada sepetak tanah yang hendak dibangun, di sana ada tiga orang bapak-bapak dan seorang mas-mas, mereka dengan penuh semangat menata bebatuan besar di sana, begitulah saya melihat mereka dari kejauhan. Lalu, tepat saat mas-mas ini didukung oleh ketiga bapak-bapak ini, ia melempar batu besar ke arah selokan dekat sepetak tanah itu, tepat saat itu saya lewat, dan byur!! Saya kecipratan air dari selokan itu karena lemparan batu yang besar dari mas-mas itu. Keempat pria itu speechless, tiba-tiba suasana mendadak freezing, mata saya yang memang garang ini mendadak terlihat sangat garang. Waktu itu saya pakai masker jadi mereka hanya bisa melihat mimik wajah saya dari tatapan mata saya. Sejenak seperti ingin memaki dalam hati, tetapi kemudian memutuskan untuk diam saja dan melupakan kejadian tersebut. Firasat saya mengatakan orang-orang tadi sepertinya merasa bersalah, tetapi mau dikata apa lagi saya tidak mempermasalahkan dan melanjutkan perjalanan saya. Toh tidak ada gunanya memaki dalam hati pada mereka, dan lagi pula hanya air selokan yang cipratannya tidak seberapa meskipun memang kotor.

Esok harinya, saya kembali melewati jalan tersebut. Dan mas-mas itu kembali melihat ke arah saya, sepertinya dia masih ingat soal ‘masalah’ kemaren, sepertinya dia hafal motor dan helm yang saya gunakan. Asli deh, waktu itu kasihan lihat tatapan matanya yang seperti sangat merasa bersalah. Padahal dalam hati saya mengatakan tidak apa-apa kok, Mas, kan tidak sengaja.

Kalau sengaja gimana? Ya bisa dipikir-pikir ulang untuk memakinya, hehe, eh tidak deh. Lalu, saya membaca buku Mark Manson ini. Membaca buku ini membuat saya tersadar bahwa begitu banyaknya masalah sepele yang capek-capek kita komentari, yang lelah-lelah membuang banyak energi untuk memberi sumpah-serapah padahal juga tidak ada pengaruh ke depannya.

“Sebagian besar dari kita, sepanjang hidup, memberikan terlalu banyak perhatian untuk situasi yang sebenarnya tidak layak dipedulikan. Kita terlalu gusar pada petugas pom bensin yang kasar yang memberikan uang receh untuk kembalian. Kita terlalu risau ketika program TV yang kita suka dibatalkan. Kita jadi kesal karena rekan kerja kita tidak menanyakan akhir pekan kita yang luarbiasa.” – (Hal. 14)

“Untuk bisa mengatakan bodo amat pada kesulitan, kita harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan.” – (Hal. 19)

“Jadi, menemukan sesuatu yang penting akan bermakna dalam kehidupan Anda, mungkin menjadi cara yang paling produktif untuk memanfaatkan waktu dan tenaga Anda. Karena jika Anda tidak menemukan sesuatu yang penuh arti, perhatian Anda akan tercurah untuk hal-hal yang tanpa makna dan sembrono.” – (Hal. 21)

“Intinya, kita semakin menjadi selektif terhadap perhatian yang rela kita berikan. Inilah sesuatu yang kita sebut kedewasaan. Kedewasaan muncul ketika seseorang belajar untuk peduli hanya pada sesuatu yang sangat berharga.” – (Hal. 22)

“Banyak orang diajari untuk menekan emosi mereka demi berbagai alasan pribadi, sosial, atau budaya, terutama emosi negatif berarti menolak mekanisme umpan balik yang membatu seseorang untuk menyelesaikan masalah. Sebagai hasilnya, banyak individu yang tertekan ini berjuang menghadapi masalah mereka sepanjang hidup. Dan jika mereka tidak bisa memecahkan masalah, mereka tidak bisa bahagia. Ingat, ada alasan di balik rasa sakit.” – (Hal. 40)

“Namun ada orang-orang yang mengenali emosi secara berlebihan. Semua hal yang dibenarkan hanya berdasar pada apa yang mereka rasakan. “Oh, saya memecahkan kaca depan mobilmu, itu karena saya sungguh marah, saya tidak bisa menahannya.” Pengambilan keputusan berdasar intuisi emosional, tanpa dibantu penalaran agar tetap pada jalurnya, biasanya membuat sesak di akhir.” – (Hal. 40)

Karena ketika kita memecahkan kaca depan mobil seseorang karena kita sedang emosional, pada akhirnya kita jugalah yang harus bertanggungjawab mengeluarkan uang untuk memperbaiki apa yang telah kita rusaki tersebut.

“Obsesi dan perhatian yang berlebihan terhadap emosi akan menggagalkan kita karena alasan sederhana, yaitu bahwa emosi tidak kekal. Apapun yang membuat kita bahagia hari ini tidak akan membuat kita bahagia lagi esok, karena biologis kita selalu membutuhkan sesuatu yang lebih. Fiksasi terhadap kebahagiaan secara niscaya akan meminta kita untuk tiada habisnya mengejar “sesuatu yang lain”—rumah baru, hubungan baru, tambah momongan, kenaikan gaji. Tak peduli seberapa keras jerih payah yang telah kita keluarkan, kita akan bertemu semacam perasaan menakutkan yang serupa saat kita memulai semua ini: tidak cukup.” – (Hal. 41)

“Psikolog kadang menyebut konsep ini sebagai “treadmill hedonis”: idenya adalah bahwa kita selalu bekerja keras untuk mengubah siatuasi hidup kita, namun sebenarnya kita tidak pernah merasa sangat berbeda. Inilah mengapa masalah kita selalu berulang dan tidak dapat dihindari. Orang yang Anda nikahi adalah orang yang dengannya Anda beradu mulut. Rumah yang Anda beli adalah rumah yang Anda perbaiki. Pekerjaan idaman yang Anda miliki adalah pekerjaan yang membuat Anda stress. Setiap hal yang didapat melalui suatu pengorbanan—apa pun yang membuat kita merasa nyaman, tak dapat disangkal, juga akan membuat kita merasa buruk. Apa yang kita dapatkan adalah apa yang kita lepaskan. Apa yang menciptakan pengalaman positif kita akan menentukan pengalaman negatif kita.” – (Hal. 41)

“Apa yang menentukan kesuksesan Anda bukanlah, “Apa yang ingin Anda nikmati?” pertanyaan yang relevan adalah, “Rasa sakit apa yang ingin Anda tahan?” jalan setapak menuju kebahagiaan adalah jalan yang penuh dengan tangisan dan rasa malu.” – (Hal. 44)

“Pertanyaan yang lebih menarik adalah tentang penderitaan. Derita apa yang ingin Anda hadapi? Itulah pertanyaan sulit yang perlu disadari.” – (Hal. 44)

“Dan pengetahuan serta penerimaan terhadap eksistensi Anda sendiri yang sedang-sedang saja akan benar-benar membebaskan Anda untuk menentukan apa yang sungguh ingin Anda selesaikan, tanpa penilaian atau ekspresi yang muluk-muluk. Anda akan mampu mengapresiasi pengalaman-pengalaman sederhana di hidup Anda: nikmatnya pertemanan yang simple, menciptakan sesuatu, membantu seseorang yang membutuhkan, membaca buku bagus, tertawa bersama seseorang yang Anda sayangi. Terdengar membosankan, bukan? Mungkin karena hal-hal semacam ini biasa saja. Namun juga mungkin karena satu alasan: itulah yang benar-benar berarti.” – (Hal. 73)

“Nilai yang kita pegang menentukan ukuran yang kita gunakan untuk menlai diri kita sendiri dan orang lain. Jika Anda ingin mengubah cara Anda memandang permasalahan Anda, Anda harus mengubah nilai yang Anda pegang dan atau bagaimana Anda mengukur kegagalan atau kesuksesan.” – (Hal. 93)

“Orang-orang yang mendasarkan penghargaan diri mereka pada ambisi untuk selalu benar, menghalangi diri mereka sendiri untuk bisa belajar dari kesalahan itu sendiri. Mereka menjadi kurang mampu mengambil sudut pandang baru dan berempati terhadap orang lain. Mereka menutup diri mereka sendiri terhadap informasi yang baru dan penting.” – (Hal. 98)

“Akan jauh lebih membantu jika anda mengansumsikan diri Anda tidak paham dan tidak tahu banyak. Ini menjaga Anda untuk tidak terikat oleh segala bentuk tahayul dan keyakinan-keyakinan yang tak berdasar, dan membuat Anda tetap berada dalam siatuasi yang konstan untuk terus belajar dan tumbuh.” – (Hal. 98)

“Trik untuk emosi negatif adalah 1) mengekspresikan dalam suatu cara yang dapat diterima dan sehat secara sosial dan 2) mengungkapkan dalam suatu cara yang selaras dengan nilai-nilai Anda. Contoh sederhana: nilai yang saya pegang adalah anti-kekerasan. Karena itu, ketika saya marah terhadap seseorang, saya mengungkapkan kemarahan tersebut, namun saya juga menegaskan untuk tidak memukul wajah seseorang. Jadi memukul seseorag tepat di mukanya-lah yang jadi masalah. Bukan kemarahan itu sendiri.” – (Hal. 99)

“Orang yang takut terhadap apa yang dipikirkan orang lain tentang diri mereka sesungguhnya ketakutan jika semua hal buruk yang mereka pikirkan tentang diri mereka berbalik ke arah mereka.” – (Hal. 102)

“Semua peningkatan dan pertumbuhan pribadi muncul berkat adanya sebuah kesadaran sederhana. Kesadaran itu adalah bahwasanya, kita secara pribadi bertanggung jawab atas segala hal dalam hidup kita, tak peduli seperti apa kondisi di luar diri kita. Kita tidak bisa selalu mengambil kendali terhadap apa yang terjadi pada kita. Namun, kita selalu bisa mengendalikan cara kita menafsirkan segala hal yang menimpa kita, dan cara kita merespons. Entah kita menyadarinya atau tidak, kita selalu bertanggungjawab. Memilih, dengan sadar, untuk tidak menafsirkan peristiwa dalam hidup kita tetaplah sebuah penafsiran terhadap peristiwa kehidupan kita. Memilih untuk tidak menanggapi peristiwa dalam hidup kita tetap saja sebuah tanggapan terhadap peristiwa tersebut. Bahkan jika Anda ditabrak mobil dan dibuat kesal oleh satu bus penuh anak-anak sekolah, Anda masih bertanggung jawab untuk menginterpretasikan makna di balik suatu peristiwa dan untuk memilih respons seperti apa.” – (Hal. 112)

Jadi, berpikirlah secara positif bahwa ada hikmah di balik setiap yang menimpa kita adalah suatu bentuk respons atau penafsiran positif terhadap takdir yang Allah sudah tentukan dalam hidup kita.

“Suka atau tidak suka, kita selalu berperan aktif dalam apa yang sedang terjadi dalam hidup kita. Kita selalu menafsirkan makna dari setiap peristiwa, kejadian. Kita selalu memilih nilai-nilai yang kita hidupi dan ukuran yang kita gunakan untuk menilai setiap hal yag terjadi pada kita. Sering satu peristiwa yang sama bisa menjadi baik atau buruk, bergantung pada ukuran yang kita pilih. Intinya adalah kita selalu menjatuhkan pilihan, entah kita sadari atau tidak. Selalu.” – (Hal. 112)

“Ini kembali pada kenyataan bahwa tidak ada yang namanya tidak peduli. Kita semua pasti memedulikan sesuatu. Tidak peduli tentang apapun tetap saja sebuah bentuk kepedulian terhadap sesuatu itu. Jadi, kita memilih untuk memedulikan apa?” – (Hal. 112)

Untuk lanjutannya, lihat postingan setelah ini, ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar