Sumber gambar: http://news.unair.ac.id
Mulai masuk pada bab Berhati-hatilah
Dengan Apa yang Anda Percayai, buku ini semakin menarik. Dengan maraknya
berbagai fenomena yang disuguhkan melalui media informasi dimana siapapun dapat
mengakses dan membaca berita tersebut, sayangnya sebagai masyarakat awam kita
seringkali dibingungkan oleh kebenaran berita-berita tersebut.
“Pada 1988, ketika
menjalani terapi, seorang jurnalis dan pengarang berhaluan feminis Meredith
Maran mendapati sebuah pengalaman yang mengagetkan: ayahnya pernah melakukan
kekerasan seksusal terhadapnya ketika ia masih kecil. Ini sangat mengempas,
suatu ingatan yang berusaha ia lupakan sejak beranjak dewasa. Namun, di usia 37
tahun, dia memutuskan untuk menghadapi ayahnya, dan juga mengatakan kepada
keluarganya apa yang telah terjadi.
Kabar ini membuat seluruh
keluarganya ketakutan. Ayahnya langsung menyangkal. Beberapa anggota keluarga
memihak Meredith. Yang lain memihak ayahnya. Pohon keluarganya terbelah menjadi
dua. Dan luka yang mengempas hubungan Meredith dengan ayahnya telah berlangsung
lama sebelum pengakuan tersebut, kini telah menyebar seperti jamur yag
menyerang cabang-cabang pohon itu. Kabar itu telah menyayat hati semua orang.
Lalu pada 1996, Meredith
menyadari sesuatu yang tidak kalah mengagetkan: ayahnya tidak pernah
melecehkannya secara seksual! Dia, dengan bantuan seorang terapis, sebenarnya
menciptakan sendiri memori tersebut. Dipenuhi dengan rasa bersalah, dia
menghabiskan sisa waktu selagi ayahnya hidup untuk mencoba berdamai dengannya
dan anggota keluarga lain lewat permintaan maaf dan penjelasan yang disampaikan
berulang-ulang. Namun, itu semua terlambat. Ayahnya meninggal dunia dan
keluarganya tidak akan pernah menjadi sama lagi.”
Kisah ini sangat menyedihkan bagi saya. Hal ini kemudian mengait
pada persoalan kepercayaan saya terhadap berita pelecehan seksual yang sering
mencuat beberapa bulan terakhir ini. Pada awalnya, semua artikel menyoal
perempuan yang dilecehkan oleh atasannya, temannya, kekasihnya dan lain
sebagainya sampai pada suatu kali menemukan sebuah akun anonim yang menceritakan
kisah pilunya. Ia mengaku sabagai seorang pria yang keperjakaannya hilang
direnggut sekelompok wanita yang lebih tua darinya, ia ingin menegaskan bahwa
pelecehan seksual bukan hanya bisa terjadi pada perempuan, tetapi laki-laki
juga bisa terkena pelecehan seksual. Sayangnya, menurutnya, bila hal itu
dilaporkannya, hal ini hanya akan menjadi bahan cemoohan.
Kembali ke soal wanita yang merasa dilecehkan lalu melaporkan kasus
mereka, semisal si pria tidak bersalah, bagaimana perasaan istri dan
anak-anaknya di rumah saat melihat isu dan fitnah menghampiri suami dan bapak
mereka? Toh jika terbukti akan menjadi luka tersendiri dalam perasaan keluarga
tersebut, bagaimana kasus tersebut mampu merusak psikologis keluarga tersebut. Perempuan
dilibatkan dalam “peran” dalam cara-cara untuk menjatuhkan seseorang dari
jabatannya merupakan “lagu lama” yang dimana keberadaannya dalam kasus dikaitkan
sebagai teman perempuan, simpanan, selingkuhan dan menjadi bahan untuk membangun
fitnah di sana-sini. Media dan publik mungkin bisa menilai semaunya, tetapi
orang-orang terdekat tersangka tidak akan percaya hal itu. Di mata keluarga dan
kerabat, bapak dan suami mereka adalah korban dari keserakahan pihak lain, dari
hukum yang berjalan tak memihak mereka, dari orang-orang yang menghalalkan
segala cara untuk membalas dendam atau memberi peringatan pada yang ingin
bertindak adil dan ingin membuktikan kebenaran. Jangan dikira mereka yang dijebloskan
ke penjara adalah orang yang bersalah, bahkan mereka juga sudah mengetahui
siapa dalang-dalang yang membuat mereka jatuh ke penjara pada jauh-jauh hari
sebelum mereka dijebloskan. Untuk kasus yang satu ini pernah saya tulis tetapi
batal saya publikasikan karena satu dan lain hal, sebab menulis rupanya butuh
keberanian yang tidak setengah-setengah.
Kisah Meredith sebelumnya, membuat saya menutup mata untuk percaya
begitu saja pada pemberitaan. Bukannya saya tidak membela kaum saya sendiri,
tetapi selalu saja ada perasaan muak tersendiri yang saya rasakan, terlebih
lagi saya sebagai masyarakat awam yang tidak pandai menilai apakah suatu berita
benar atau tidak inilah yang membuat saya akhirnya memilih berada di jalur
netral setelah lelah membaca berita dan mendengar seluruh klarifikasi atas
berita yang telah saya percayai sebelumnya.
Bagaimana bisa orang-orang begitu terburu-buru menyampaikan berbagai
berita yang bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan hidupnya, atau bahkan tidak
ada untungnya sama sekali kecuali viral dan menjadi terkenal. Apa sebegitu
enaknya menjadi orang terkenal?
Bukankah lebih bahagia jika nama kita jarang diucap oleh penduduk
bumi tetapi selalu dibicarakan oleh penghuni langit? Selalu terngiang-ngiang di
benak saya tentang bagaimana ciri wanita terhormat itu? Yaitu wanita yang
namanya tidak sembarangan disebutkan di antara mulut para lelaki, wanita yang
dengan imannya, laki-laki tidak sampai begitu mudah menyebut namanya.
Okay, fenomena yang sering saya baca akhir-akhir ini melalui
berbagai thread cuitan warga twitter
kebanyakan tanpa malu-malu membuka aib mereka perihal hubungan intim.
Padahal bahkan dalam hubungan yang telah sah saja seperti suami dan
istri, membicarakan detail perihal “malam pertama” atau hubungan intim keduanya
saja tidak diperbolehkan. Dikutip dari laman www.dream.co.id
yang membahas tentang membicarakan atau menceritakan persenggamaannya kepada
orang lain pada dasarnya adalah haram.
Para ulama mendasarkan keharaman hal tersebut dengan dua hadits berikut ini:
" Sesungguhnya orang yang paling buruk
kedudukannya di hari kiamat di sisi Allah
adalah laki-laki yang menyetubuhi istrinya kemudian ia menceritakan rahasia
istrinya." (HR. Muslim)
" Duduklah! Apakah seorang diantara
kalian jika menjima’ istrinya di dalam sebuah kamar tertutup kemudian ia keluar
lalu menceritakan: Aku telah berbuat dengan istriku begini dan aku telah
berbuat dengan istriku begitu. Semua sahabat diam."
Kemudian beliau menghadap kepada jamaah perempuan dan bersabda;
" Adakah diantara kalian yang bercerita
begitu? Seorang anak gadis Ka’ab lalu berdiri dan menoleh ke sana ke mari agar
Rasulullah dapat melihat dan mendengarnya. Demi Allah, sesungguhnya kaum
perempuan pun biasa bercerita begitu."
Rasulullah kemudian bersabda;
" Adakah kalian tahu bagaimana
perumpamaan orang yang berbuat demikian? Sesungguhnya orang yang berbuat
demikian seperti setan laki-laki dan setan perempuan. Dia menjima’ teman
perempuannya sambil disaksikan banyak orang di tempat terbuka." (HR.
Ahmad)
Jadi jika ada suami atau istri menceritakan
kepada orang lain tentang hubungan
intimnya, dengan maksud membanggakan diri atau sekedar agar orang lain
mengetahui, maka hukumnya adalah haram. Sama halnya jika seorang suami atau
istri menceritakan kepada orang lain tentang hubungan intimnya dengan maksud
mengeluhkan pasangannya atau membuka aib, maka hal ini juga haram.
Namun, jika seorang suami atau istri
menceritakan kelemahan/kekurangan suaminya kepada ahlinya (misalnya dokter spesialis, psikolog
atau penyuluh) dengan maksud mendapatkan solusi dari masalah seksualitas, alat
reproduksi maupun penyakit
yang berhubungan
dengan seksualitas, maka hal ini dibolehkan. Dengan syarat, semua tetap terjaga
kerahasiaan agar orang lain tidak mengetahuinya.
Sayangnya, para anak muda yang bahkan belum sah menikah, mereka
berlomba-lomba membuat thread via
twitter mengenai hal itu, jika itu benar maka sama saja membuka aib diri mereka
sendiri, namun jika itu hanya karangan dengan mengklaim bahwa itu kejadian
nyata sama saja mereka telah menyebarkan dusta. Jika semua itu hanya untuk
popularitas, Allah.. Allah.. Allah.. hambamu mengapa begitu cinta dunia?
Jika tujuan mereka adalah untuk memberi peringatan pada orang lain,
tetapi mengapa cara mereka menuliskannya begitu brutal dan frontal? Seakan-akan
hanya ingin membuat satu orang ini terkutuk.
Pada bab Hukum Menghindar Manson, semakin menarik saja sebab hal-hal
unik yang seringnya tidak kita sadari mulai dikupas satu-persatu di sini.
“Ketika Anda telah
mengetahui cara Anda untuk bisa hidup di dunia ini, tentunya Anda merasakan semacam
kenyamanan. Nah, setiap hal yang menggoyang kenyamanan tersebut – meskipun
berpotensi membuat hidup jadi lebih baik, tetapi pada dasarnya itu menakutkan.”
“Anda menghindari menulis skenario
yang sejatinya adalah mimpi Anda karena jika melakukan itu, akan timbul
pertanyaan terhadap identitas diri Anda. Anda menghindari berbicara tentang
hasrat di ranjang karena obrolan itu akan menentang jati diri Anda sebagai
wanita baik-baik, yang bermoral. Anda menghindari mengatakan kepada teman Anda
bahwa Anda tak ingin lagi menemuinya, karena mengakhiri suatu pertemanan akan
bertentangan dengan identitas Anda sebagai orang baik dan pemaaf.
Ini adalah
kesempatan-kesempatan emas dan penting yang senantiasa kita lewatkan begitu
saja karena dapat mengancam pandangan dan perasaan kita terhadap diri kita
sendiri, mengancam nilai-nilai yang telah kita pilih dan pelajari untuk kita
hidupi.” – (Hal. 159)
“Penolakan membuat hidup
anda lebih baik. Intinya: kita semua harus peduli terhadap sesuatu, untuk
menghargai sesuatu. Dan untuk menghargai sesuatu, kita harus menolak apa yang
bukan sesuatu tersebut. Untuk menilai X, kita harus menolak non-X.” – (Hal. 199)
“Ada bentuk cinta yang
sehat dan yang tidak sehat. Cinta yang tidak sehat berdasar pada 2 orang yang
berusaha lari dari masalah mereka melalui emosi yang saling mereka berikan – dengan
kata lain, mereka menggunakan pasangannya sebagai sebuah jalan keluar. Cinta
yang sehat berdasar pada 2 orang yang mengakui dan menghadapi masalah mereka
sendiri dengan dukungan pasangannya. Orang-orang dalam hubungan yang sehat
dengan batasan yang kuat akan mengambil tanggungjawab atas nilai dan masalah
mereka sendiri.” – (Hal. 204)
“Kamu tidak boleh pergi
dengan teman-temanmu tanpa aku, kamu tahu kan kalau aku pencemburu. Kamu harus tetap
di rumah menemaniku.
Teman kantorku bodohnya
minta ampun; mereka selalu membuatku terlambat rapat karena aku harus
memberitahu dulu bagaimana cara mengerjakan pekerjaan mereka.
Aku tidak percaya kamu
membuatku kelihatan sangat bodoh di depan saudariku sendiri. Jangan pernah
membantahku lagi di depannya!
Aku bisa berkencan denganmu,
tapi bisakah jangan bilang pada Cindy, temanku? Dia akan merasa tidak nyaman
kalau aku kekasih dan dia tidak.”
“Dalam setiap skenario,
digambarkan kalau seseorang entah bertanggung jawab atas masalah/emosi yang
bukan milik mereka, atau menuntut orang lain untuk bertanggung jawab atas
masalah/emosi mereka sendiri.”
“Secara umum, orang-orang
yang merasa dirinya harus diistimewakan, jatuh ke salah satu jebakan dalam
hubungan mereka. Entah mereka mengharapkan orang lain mengambil tanggung jawab
atas masalah mereka: ‘Aku ingin akhir pekan yang santai dan nyaman di
rumah. Kamu harusnya tahu itu dan
membatalkan rencanamu.’ Atau mereka mengambil terlalu banyak tanggungjawab dari
permasalah orang lain: ‘Dia baru saja kehilangan pekerjaannya lagi, tapi
mungkin ini kesalahanku karena aku tidak mendukungnya sebagaimana mestinya. Aku
akan membantunya menulis kembali lamarannya besok.”
– (Hal. 204-205)
“Orang-orang yang merasa
dirinya harus diistimewakan itu mengadopsi strategi mac mini dalam hubungan
mereka –-dan juga diterapkan dalam setiap saat, untuk menghindari tanggungjawab
atas masalah mereka sendiri. Akibatnya, hubungan mereka menjadi rapuh dan
palsu, sebab itulah yang akan mereka dapatkan jika terus memilih menghindari
rasa sakit dalam diri mereka, ketimbang memberikan apresiasi dan penghormatan
yang asli terhadap pasangan mereka.”
“Ini tidak hanya berlaku
untuk hubungan yang romantis, omong-omong, tapi juga untuk hubungan keluarga
dan persahabatan. Seorang ibu yang dominan mungkin mengambil tanggung jawab
atas semua masalah yang terjadi dalam kehidupan anak-anaknya, sehingga ketika dewasa
mereka yakin kalau orang lain harus selalu betanggung jawab atas masalah
mereka.” – (Hal. 205)
“Orang-orang tidak bisa
menyelesaikan masalah anda. Dan sebaiknya mereka tidak mencobanya, karena itu
tidak akan membuat anda bahagia. Anda tidak bisa menyelesaikan masalah orang
lain juga, karena itu tidak akan membuat mereka bahagia. Tanda dari sebuah
hubungan yang tidak sehat adalah dua orang yang mencoba memecahkan masalah
orang lain agar diri mereka sendiri merasa baik. Sebaliknya, sauatu hubungan
dikatakan sehat ketka dua orang memecahkan masalah mereka sendiri agar keduanya
merasa baik.” – (Hal. 206)
Jadi, semisal anda ingin berakhir pekan dengan sahabat anda,
kemudian anda marah pada sahabat anda karena ternyata ia tidak bisa menemani
anda, padahal permasalahan ada pada diri anda sendiri yang tidak memiliki teman
lain yang bisa diajak berakhir pekan, tetapi anda malah menyalahkan sahabat
anda yang sedang sibuk ini, lalu hubungan anda dengan sahabat anda menjadi
kacau karena hal itu. Jadi, saya menarik kesimpulan bahwa ada saatnya kita
berbodo amat dengan membiarkan orang lain menyelesaikan masalahnya sendiri. Dalam
hal ini, kasus seperti ini banyak terjadi, salah satu cara untuk tidak
memperkeruh keadaan adalah saya dan hati saya mencoba berbesar hati, memaklumi,
dan mempercayai ada saatnya waktu mempertemukan kita untuk sejenak ngobrol ngalor-ngidul
tentang hal-hal menyenangkan yang dilewati sampai hal-hal yang membuat tangisan
kami pecah. Untuk segenap sahabat saya, mari saling bersabar untuk sedikit
waktu yang tiba kelak, bila rindu sudah membuncah, saya atau kau, kita akan
berlari saling menuju.
“Jika anda membuat sebuah
pengorbanan demi seseorang yang anda sayangi, ini karena anda menginginkannya,
bukan karena anda merasa berkewajiban atau karena anda takut konsekuensi dari
tidak melakukannnya. Jika pasangan anda akan membuat sebuah pengorbanan demi
anda, ini karena dia, dari hati yang paling dalam, menginginkannya, bukan
karena anda telah memanipulasi pengorbanan melalui rasa marah dan kecewa. Tindakan
yang berlandaskan cinta hanya terjadi jika dilakukan tanpa syarat atau harapan
apa pun.” – (Hal. 209)
Hai perempuan, semoga kau tiada berhenti belajar, untuk ikhlas
meninggalkan mereka yang menyakiti, utamanya dalam bentuk fisik. Saya
mengutamakan bagi mereka yang disakiti secara fisik dan tidak mampu berbuat
apa-apa, semoga diberi kesabaran sampai yang Maha Kuasa beri jalan. Untuk yang
hatinya tersakiti, boleh tenang sejenak? Jernihkan pikiran, buka mata.
Kendalikan semoga rasa amarah, kecewa, putus asa, kendalikan dan tumpahkan di
atas sajadahmu, boleh? Menangis sejadi-jadinya tidak apa-apa. Jangan lupa, esok
kembali tersenyum. Terus kendalikan, jangan sampai kehilangan pikiran.
“Di sisi lain, membaktikan
diri secara mendalam terhadap satu orang, satu tempat, satu pekerjaan, satu
kegiatan saja mungkin akan menghalangi kita dari banyak sekali pengalaman yang
ingin kita cicipi, namun mengejar pengalaman sebanyak-sebanyaknya justru akan
menghalangi kita dari kesempatan untuk mengalami sakitnya kedalaman suatu pengalaman. Ada beberapa pengalaman yang
hanya bisa anda rasakan jika anda hidup dengan orang yang sama selama 1 dekade,
saat anda telah bekerja sama dengan keahlian atau keterampilan yang sama
separuh hidup anda.” – (Hal. 217)
Soal ini, setelah dipikir-pikir ada benarnya juga. Bagaimana saat
saya mencoba mengambil sebanyak-banyaknya pengalaman yang justru mengakibatkan
ketidakfokusan kepada semua tujuan dari pengalaman itu sendiri. Kembali ke diri
masing-masing, setiap orang tahu kesanggupan masing-masing diri mereka. Jika
seseorang merasakan hal serupa dengan saya, dimana ketika mengambil banyak
pengalaman justru membuat rasa sakit akan kedalaman suatu pengalaman menjadi
tak sampai karena kurangnya totalitas dan hal-hal lainnya yang mendukung
pengalaman tersebut, maka mari memulai untuk mendalami satu atau dua hal saja
terlebih dahulu.
“Jika anda mengejar sensasi
dari pengalaman yang begitu luas, setiap pengalaman yang baru, setiap orang
atau barang yang baru akan berkurang kesannya. Ketika anda tidak pernah
meninggalkan tanah air anda, negara pertama yang anda kunjungi akan
menginsipirasi perubahan perspektif secara besar-besaran, karena anda memiliki
suatu dasar pengalaman yang sempit saat memulainya. Namun, ketika anda telah
bepergian ke 20 negara, negeri ke 21 akan terasa kurang berkesan. Dan ketika
anda telah berkunjung ke negara ke 50, yang ke 51 akan terasa semakin kurang
berkesan.” – (Hal. 217)
“Hal yang sama berlaku juga
untuk kepemilkan materi, uang, hobi, teman, dan pasangan romantis/seksual –
semua nilai dangkal yang banyak dipilih orang-orang untuk diri mereka sendiri.
Semakin umur anda bertambah, semakin banyak pengalaman yang anda dapatkan,
semakin anda berpengalaman, semakin berkurang secara signifikan, pengaruh
pengalaman baru terhadap diri anda.” – (Hal. 217)
“Dengan cara ini penolakan terhadap
beberapa alternatif membebaskan kita – penolakan terhadap hal-hal yang tidak
selaras dengan nilai kita yang paling penting, dengan ukuran yang kita pilih,
penolakan terhadap pengejaran yang konstan terhadap luasnya pengalaman dan
bukan dalamnya pengalaman.” – (Hal. 219)
Kira-kira seperti itu hal-hal yang disampaikan Mark Manson dalam
bukunya. Buku yang luar biasa, ditulis dengan perspektif yang berbeda dari
kebanyakan orang namun dapat diterima berbagai kalangan! Awesome! Jangan ragu
untuk membacanya, temukan hal menarik lainnya yang dikupas dalam buku ini,
semoga tercerahkan!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar