27/06/19

Meraba Jodoh


Perkenalkan, nama saya Prita dan sudah lebih dari 20 tahun saya berpijak di bumi ini. Ibu saya pernah mengatakan bahwa usia 24 tahun itu terlalu tua untuk seorang perempuan melakukan pernikahan dan ibunya ibu saya selalu bertanya kapan pernikahan itu terjadi pada saya sebagai cucu perempuan pertamanya. Sementara itu, ayah saya pernah membicarakan tentang pendidikan S2 kepada saya dan ibunya ayah saya beserta adik-adiknya yang merupakan eyang-eyang saya selalu saja mengatakan bahwa perempuan harus bersekolah tinggi, meski begitu harus pandai juga dengan urusan di dapur.

Butuh waktu untuk siap menerima bahwa ada orang lain di rumah kita. Bukanlah hal mudah saat kita harus berbagi tempat tidur, satu meja makan, satu sofa saat menonton televisi, dan lain-lainnya. Bayangkan jika semua itu terjadi melalui sebuah perjodohan yang tidak diinginkan? Betapa menyakitkan memaksa dua insan untuk saling jatuh cinta dan berbagi hidup bersama.

Bulan lalu saya resign dari pekerjaan saya sebagai seorang jurnalis di suatu perusahaan media swasta di Jakarta. Apa karena saya tidak menikmati pekerjaan saya sehingga saya memutuskan resign? Oh, tentu tidak. Semua orang juga tahu bahwa menjadi seorang jurnalis adalah impian saya sejak lama. Justru melalui pekerjaan sebagai jurnalis inilah yang mengantarkan saya kepada gerbang resign. Saya ambil bagian dalam bidang hubungan sosial atau biasanya pada apa yang terjadi dalam suatu keluarga. Banyak kejadian-kejadian mengharukan bahkan sampai yang mengerikan pun saya tulis dan abadikan dalam kolom berita. Sampai pada suatu hari, pada job terakhir ketika mengharuskan saya mengejar berita di luar kota dimana usai pulang dari kota tersebut, kereta kami melewati deretan ladang sawah yang menguning diterpa sinar senja dan pikiran saya melayang pulang ke rumah.

“Bim, kangen.” Ujar saya dengan tanpa sadar pada Bimo, rekan kerja saya.
“Tapi gue enggak.” Malah dijawab sama Bimo.
“Ih, bukan sama elu!” balas saya, kesal dan menyesal.
“Lah? Terus sama siapa? Masa sama botol air yang lu peluk-peluk dari tadi.”

Hehe. Saya nyengir. Sudah maklum dengan kerecehannya.

“Gue kayaknya mau resign, deh.” Kata saya, tapi masih mikir.
Bimo diam saja, tetapi matanya melotot.

Kami saling terdiam cukup lama. Iya, Bimo sudah tahu kejenuhan yang saya alami selama ini.

“Gue support apapun pilihan lu. Semoga elu enggak pernah menyesal dengan segala hal yang sudah lu pilih.”

Saya tersenyum sambil menggeleng. Cahaya senja diam-diam menembus kaca jendela kereta, meredup, lalu hilang berganti dengan hitam pekat yang menyelimuti langit malam. Bintang tak juga nampak, meski begitu saya berharap banyak hal-hal baik datang di masa depan.

Dan kini, di sini, di sebuah saung kecil di tengah sawah, saya merenungi hari-hari itu, hari-hari dimana saya membanting setir dalam kapal pelayaran hidup saya. Saya meninggalkan pekerjaan impian saya, teman-teman saya, kehidupan kota saya, bukan semata-mata dengan alasan kejenuhan tetapi ada yang lebih berharga dari semua itu yang tak ingin saya sesali di kemudian hari bila saya memilih untuk hidup yang seperti itu-itu saja. Saya memutuskan untuk pulang, memijaki tanah kampung halaman saya yang aromanya selalu aroma rindu. Ah, aroma macam itu? Bukan macam apapun, dinamai berbau rindu karena orang-orang selalu merindukan tanah ini, orang-orang yang berani merantau dan mengambil risiko terguncang batinnya bila mengingat tanah ini.

Saya pulang ke Magelang, disambut peluk dan cium tentu saja. Masuk ke sebuah kamar yang telah lama saya tinggalkan, aroma sprei yang baru dipasang menusuk, kentara sebab penuh wewangian namun campur aroma lapuk karena sudah terlalu lama tinggal di dalam lemari kayu. Saya tersenyum menatap sebuah lukisan usang yang masih saja kokoh di dinding kamar ini. Seseorang pernah melukis wajah saya dengan begitu lihai dan indah lebih daripada aslinya meski sewaktu memberi ia mengatakan permintaan maaf sebab lukisannya tak akan mampu menandingi ciptaan Tuhan yang asli. Waktu itu, ia ingin memberi saya sebuah kado ulangtahun, sesuatu yang benar-benar dibuat olehnya, maka diputuskannya untuk melukis wajah saya. Ia adalah seseorang yang sudah terlalu lama menaruh cintanya untuk saya, sayangnya pada yang lain juga. Sebagai seseorang yang memiliki hati, tentu saya kecewa padanya. Meski saya tahu, pada akhirnya cintanya selalu berlabuh pada saya. Sudah seringkali saya peringati, dimanapun tiada akan dia dapat perempuan seperti saya. Oleh karena itu, karmanya membuktikan sendiri. Cintanya selalu menuntunnya pulang dan membuka percakapan kembali dengan saya. Tetapi, di kemudian hari ia berhasil belajar dari semua perjuangannya yang tak berhasil bahwa merelakan orang yang dicintai untuk menemui kebahagiannya yang lain adalah kerelaan yang utuh. Kini, ia hanya hadir sekali dalam setiap tahunnya. Kini, banjiran kalimat doanya yang ia hadiahkan untuk saya di setiap tanggal kelahiran saya. Kini, ia tahu pasti bahwa cinta tidak akan pernah memaksa.

Kembali ke kamar yang telah lama saya tinggalkan ini. Aroma kerinduan lagi! Aromanya menyeruak dari setiap sudut kamar ini. Meski kasurnya kapuk, tak seempuk kasur saya di Jakarta, tetapi kehangatan rumahlah yang mengepung saya di sini. Sampai saya sebesar ini, saya masih dijadikan tuan putri di rumah saya sendiri. Nenek saya amat memanjakan saya, membelikan apapun yang saya mau, memasakkan makanan apapun yang saya suka, melarang saya mencuci piring, bahkan sampai tak berani membangunkan saya bila sedang tertidur. Tetapi, saya cukup tahu diri untuk tidak terlena dengan segala kemanjaan yang disuguhkan di depan mata saya. Inilah saat yang saya tunggu, untuk membantu nenek saya merawat rumah, tanaman-tanamannya, koleksi guci kesayangannya, dan juga kakek saya yang kini hanya mampu terbaring di tempat tidur karena mengalami keretakan pada tulang pinggulnya akibat jatuh terpeleset pada tempo hari.

Sejak kembali pulang, saya merasakan bahagia yang berbeda dari bahagia-bahagia lain yang biasanya saya rasakan. Bahagia yang lebih berfaedah lebih tepatnya. Setiap hari, saya menyapu dan mengepel rumah, membantu mengangkat jemuran, menemani nenek saya ke warung juga mengantar beliau ke pasar, ke masjid, ke rumah temannya untuk pengajian dan arisan. Hampir setiap hari juga saya menyelimutinya saat beliau ketiduran di sofa, sudah hari-hari memang beliau sering tertidur di sofa.

Saya bukannya ingin pamer dengan ini semua, tetapi ini suatu hal yang jarang terjadi dalam hidup saya, suatu kebahagiaan karena pikiran untuk pulang sempat mampir dan kini saya berani mewujudkan apa yang saya pikirkan, membiarkan seluruh waktu saya tersita hanya untuk menemani orang-orang yang saya sayang, bukan untuk suatu kebahagian semu, inilah kebahagiaan nyata yang saya tahu akan saya rasakan bila saya pulang. Setidaknya ini yang sementara waktu ingin saya lakukan. Lalu soal pekerjaan? Iya, jadi, sebelum pulang saya sudah memiliki cukup tabungan. Jika orang-orang memilih tabungannya dihabiskan untuk liburan usai kerja keras mereka, kali ini saya menggunakannya untuk keperluan sehari-hari di sini selama saya menemani orang-orang yang sayang. Logika saya sedikit aneh, ada kekhawatiran bila kelak saya menikah, saya tak bisa menemani mereka lagi selama yang saya mau. Saya terlalu takut jika harus berpisah jauh dan belum melakukan apa-apa, meski apa yang sekarang saya lakukan juga belum tentu bernilai di mata Tuhan maupun di mata orang-orang yang saya sayang. Setidaknya, diri saya sendiri mengakui bahwa saya sudah berusaha. Barangkali saya tak butuh pengakuan dari makhluk, meski tak tahu juga apakah Tuhan menerima usaha saya atau tidak.

Saya merenungi sebuah kalimat yang diutarakan oleh Raditya Dika, ‘Lu menikah sama orang yang lu inginkan, bukan sama orang yang mau lu ubah. Menikah bukan karena sudah waktunya tetapi karena dia orangnya.’

Zaman jadi mahasiswa dulu, ingin punya pasangan yang selain taat shalat dan pandai mengaji juga ingin yang nyambung diajak ngobrol utamanya melek pengetahuan sehingga bisa nyambung diajak diskusi apa saja atau bahkan kita bisa bertukar pengetahuan. Selain itu, berharap pula ia juga bisa memperbaiki barang-barang yang rusak. Imajianasi ini semua berawal dari seorang teman yang mempunyai hubungan dengan seorang pria yang sedang studi S2. Prianya ini anak jurusan sejarah, sehingga tentunya ia tidak buta literasi karena begitu senang membaca dan menulis artikel, tetapi meski kuliah jurusan sejarah di sisi lain ia mampu memperbaiki barang-barang yang rusak seperti laptop, handphone, dan lain sebagainya, sudah seperti anak teknik saja. Jadi, teman saya ini setiap ada tugas selalu dibantu prianya. Obrolan dalam chattingan mereka bukanlah pertanyaan-pertanyaan sepele, bukan lagi nanya sudah makan sudah mandi sudah bangun? Pembahasannya berat, seputar pertanyaan dosen dan tugas-tugas kuliah kita. Alhasil teman saya ini selalu menjadi golongan awal yang cepat menyelesaikan tugas. Selain itu, dia jarang ke tukang service, kalau ada barangnya yang rusak ia cukup minta tolong ke prianya ini untuk memperbaiki barangnya, salah satu cara hidup hemat. Yeah.

Namun, ketika saya masuk dunia kerja, bayangan saya menjadi lebih luas lagi tentang pasangan. Berawal dari tak sengaja menemukan akun sosmed seorang kawan lama. Setelah membaca berbagai tulisan di webnya, terkagum-kagumlah saya pada sosoknya yang memang selalu cantik dan cerdas. Ia tak berkoar-koar tentang kesuksesannya, ia menuliskan banyak artikel pengetahuan di webnya. Dari tulisannya yang selalu bercerita tentang arsitektur atau perpustakaan serta buku-buku di luar negeri, saya kemudian menyadari bahwa ia sudah tidak tinggal di Indonesia lagi. Mengorek informasi, baru tahulah saya bahwa kini ia telah menikah, memiliki seorang anak laki-laki, dan tinggal bersama keluarga kecilnya itu di Netherland. Dari tulisannya, saya mengetahui bahwa suaminya melakukan banyak penelitian di luar negeri, di Asia maupun Eropa. Dan meski ia mengikuti suaminya ke Netherland, ia tetap memberi kontribusi karya untuk masyarakat Indonesia. Ia membuat sebuah buku yang diterbitkan oleh salah satu penerbitan ternama di Indonesia, yang ditulisnya bukanlah sebuah buku fiksi, tetapi sebuah buku tips untuk para wanita tentang bagaimana caranya agar menjadi wanita yang tidak boros.

Kisah teman saya yang berhasil menerbitkan buku barusan membuat saya teringat pada sebuah kisah pada masa saya bekerja sebelum menjadi seorang jurnalis. Adalah di masa itu, seorang pria yang selalu terang-terangan menyatakan perasaannya pada saya. Pria itu adalah teman sekantor saya. Dulu, sebelum bekerja di perusahaan media swasta yang cukup besar di Jakarta, saya mengawali bekerja di sebuah penerbitan di pinggir kota Jakarta, tidak terlalu besar namun cukup mendapatkan tempat di hati masyarakat. Pria itu bernama Dirga, bisa dikatakan ia yang paling berada di antara pegawai-pegawai bergaji standar seperti kami, mungkin karena keuangan ekonomi keluarganya yang cukup mapan sehingga kehidupannya di pinggir kota Jakarta ini lumayan tertopang. Tak seperti kami yang masih mengontrak atau ngekos sana-sini, Dirga memiliki rumah sendiri untuk ditinggali. Rumahnya cukup besar untuk ditinggali seorang diri, karena itulah ia tidak keberatan menjadikan rumah tersebut rumah kedua bagi yang lain. Rumah Dirga selalu terbuka untuk teman-temannya. Jadilah kami sering menghabiskan waktu di rumahnya untuk ngumpul-ngumpul kala weekend atau sepulang dari kantor.

Tiap kami datang, hanya sayalah yang begitu disambutnya, ditawari dan disuguhi macam-macam. Yang lainnya dibiarkan melayani diri mereka sendiri. Dia tipe manusia yang rajin berolahraga ke tempat gym, makannya sehat dan teratur terbukti dengan sebuah catatan kecil di pintu kulkasnya tentang menu makan hariannya, seringkali ia membawakan saya masakan yang dibuatnya. Bisa dikatakan, ia adalah salah satu teman yang paling panik jika tahu saya sedang sakit. Dari segala tingkahnya dan obrolan teman sana-sini, ia sepertinya menyukai saya.

Malam itu kami masih nongkrong di rumahnya. Sebelum pulang, saya sempatkan untuk menunaikan shalat Isya di ruang tamu, sementara yang lainnya masih sibuk bercengkrama di ruang tengah. Begitu hendak pamit, ia tiba-tiba bertanya, “kamu tadi shalat apa? Shalat istikharah ya? Untuk milih mau pulang atau tinggal di sini?” saya terkejut tetapi tidak dapat menahan tawa. Maka, seluruh orang di ruangan tersebut juga ikut tertawa usai mendengar apa yang dikatakannya. Saya hanya menggeleng-geleng kepala.

Dia suka bertanya tentang luka di punggung tangan kanan saya, suka pula menghitung berapa lama sudah saya di dalam kamar mandi. Hal-hal kecil nan lucu yang saya merasa tak pernah ada pria yang memperhatikan saya sampai sedetail itu. Kemudian saya menyadari betapa pria ini begitu mengagumi saya. Dia tidak pernah mengungkapkannya secara langsung tetapi seluruh bahasa tubuh dan kebaikannya ia lakukan secara terang-terangan. Saya tidak pernah menanggapinya dengan serius sampai pada suatu hari, ia datang kepada saya dengan raut wajah yang sulit untuk saya maknai. Ia memberitahu kabar bahwa ia akan dijodohkan. Saya tahu dia bukan tipe pembangkang, ia sangat santun dan hormat pada orangtuanya, itu salah satu hal yang darinya diam-diam saya kagumi. Ketika kabar itu datang, entah mengapa seperti ada sebagian hal di hidup saya yang pergi. Akan tetapi, sebagian diri saya yang lain justru meyakinkan saya bahwa kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Saya tidak pernah berhasil mencintainya, meski mengakui dan mengagumi seluruh kebaikan dan kelebihan yang ada pada dirinya.

Pada hari dimana ia datang dengan kabar perjodohannya, ia berbicara serius dan teramat panjang pada saya. Ia mengatakan bahwa banyak orang menyukai saya bukan karena saya cantik, cerdas, bertalenta, ramah, atau apalah, tetapi karena saya selalu berhasil membuat orang-orang nyaman berbincang dengan saya. Ia takut tidak menemukan hal ini dalam diri perempuan lain, utamanya perempuan yang dijodohkan oleh oragtuanya itu. Ia bilang, ia tidak peduli jika perempuan itu tidak secantik, secerdas atau seramah diriku, tetapi ia bilang bahwa ia berharap perempuan itu lebih mampu membentuk kenyamanan lebih dari yang mampu saya buat terhadapnya.

Lompat pada kisah-kisah lain yang mampir dalam hidup saya mari menengok kembali pada masa masih bekerja dulu, di suatu perusahaan media cetak swasta ketika saya masih menjadi seorang jurnalis, dimana di sana pegawai perempuan dan laki-laki jumlahnya hampir seimbang. Kebanyakan memang belum menikah dan sedang dalam proses “mencari” atau mungkin juga tidak. Di antara pria-pria itu ada dua orang yang saya kagumi dan setelah sekian lama bekerja dalam divisi yang sama, saya menyadari perasaan keduanya terhadap saya. Keduanya memang sama-sama tidak pernah blak-blakan mengungkapkan perasaannya. Tidak pernah satu kalipun dalam obrolan kami yang membahas tentang hati, kami semua selalu fokus pada pekerjaan bahkan saat posisi kami bukan sedang di kantor. Seperti itulah mereka, tidak pernah blak-blakan dan tak pernah sekalipun meyelipkan obrolan hati dalam setiap percakapan kami, hanya urusan pekerjaan, pekerjaan, dan pekerjaan.

Pak Adhyaksa, yang pertama, biasa saya memanggilnya Pak Aksa. Kami semua sama-sama masih muda, tetapi di tempat saya bekerja, semua dipanggil dengan panggilan Pak atau Bu, tak peduli sudah menikah atau belum. Dengan ini juga, saya merasa bahwa rasa hormat terhadap rekan kerja dan rasa bertanggungjawab dalam diri sendiri mampu ditumbuhkan mengingat kami dipanggil Pak atau Bu.

Pak Aksa adalah orang yang bisa diandalkan, on time, selalu hadir dalam kegiataan apapun, tidak mudah tersinggung, easy going, dan juga ramah minta ampun, soal kesopanan jangan ditanya lagi. Tetapi, dengan itu semua, ia mampu berpenampilan santai disertai dengan berbagai jokes dalam setiap obrolan kami. Pak Aksa sering sekali membelikan saya buku, entah dia mengetahui darimana soal buku-buku yang saya incar. Ia memberikan pada saya, entah lewat pengiriman langsung ke rumah saya, atau disimpannya begitu saja di atas meja saya. Dalam setiap buku yang diberikannya untuk saya, selalu ada kertas kecil berisikan quote, kata-kata semangat dan memotivasi atau bahkan hanya bertanya bagaimana kabar saya dengan tanda tangan kecil miliknya di setiap sudut kertas kecil tersebut.

Pak Ramadan, yang kedua, kami biasa memanggilnya Pak Rama.  Saya meneladani rasa antusias yang diciptakannya dalam keseharian, keuletannya dalam bekerja, pengetahuannya yang luas, multitaskingnya yang begitu terlihat, serta dia termasuk orang yang menerapkan prinsip cinta bumi dalam hidupnya, ini terlihat dengan kesehariannya yang membawa sedotan stainless sendiri, sering menyuruh saya untuk tidak menggunakan plastik tetapi pakai tottebag, meminimalisir penggunaan kertas, dan lain sebagainya. Pak Rama sering sekali mentraktir saya, atau mengirimkan makanan ke indikos milik saya, juga oleh-oleh yang entah siapanya yang baru saja dari luar kota, padahal ia tidak perlu repot-tepot seperti itu.

Soal ibadah keduanya sama-sama rajin. Soal pengetahuan, sama-sama cerdas. Soal keluarga, selama yang saya ketahui, keduanya berasal dari keluarga baik-baik. Hanya saja, entah kenapa saya merasa keduanya bukanlah menantu yang dicari oleh orangtua saya. Saya merasa akan ada gesekan dengan keluarga saya. Hingga kini, saya masih dalam proses merawat luka-luka saya sebab harus melepaskan mereka satu-persatu. Saya tidak takut patah hati sebab saya lebih takut jika orangtua saya tidak merestui. Pak Aksa dan Pak Rama juga mungkin tidak akan pernah tahu bahwa pernah ada kemungkinan perasaan mereka berbalas dari saya, meski hanya bisa sebatas kekaguman sebab saya tidak pernah ingin menyuburkannya. Toh, melepas kekaguman ini saja, patah hati saya bukan main, sebab harus saya pendam sendiri, seringnya bila saya bercerita pada seorang teman, saya dimarahi, katanya kalau sama-sama sayang, ya sudah berusaha! Berusaha meyakinkan orangtua! Saya cuma bisa menghela nafas, orang-orang tidak tahu apa yang ada di pikiran kedua orangtua saya.

Dan dari segala jenis pelajaran yang saya dapatkan tentang perasaan, juga dari segala kebingungan akan buramnya untuk membedakan antara kekaguman dan jatuh hati yang sungguhan, saya belajar dari suatu quote bahwa jatuh cinta sama orang lain itu sudah biasa karena orang itu masih kelihatan baru, yang luarbiasa itu ketika kita bisa jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama.

Dan pada akhirnya, pada suatu hari yang berawan, tidak terlalu cerah tetapi juga tak mengundang gerimis, saya jatuh cinta pada dia yang selalu mau saya repotkan, pada jiwa yang penyabar untuk setiap amarah yang saya luapkan, pada dia yang kedua telinganya tidak mengeluh letih untuk setiap cerita yang saya jabarkan.

Pada hari dimana saya bercanda dengan berkata, “Saya penasaran dengan perempuan beruntung mana yang kelak tinggal di sisi kamu, Mas.” Ujar saya usai seharian dibuatnya tertawa. “Daripada saya susah-susah cari perempuan yang beruntung itu, kenapa enggak sekalian saja kamu yang jadi perempuan yang beruntung itu?”

Usai hari itu, obrolan kami makin serius, cerita kami makin panjang, juga harapan yang terus dingiangkan, pun doa yang tak pernah surut untuk dipanjatkan.

Dia adalah seorang penulis, yang tulisannya mampu membuat saya tersipu, tertawa, bahkan tersentuh. Dia lebih puitis dari yang disangka, lebih lucu dari apa yang disampaikannya lewat tulisan. “Terima kasih sudah cantik.” Ungkapnya dengan tatapan teduh pertama yang saya lihat di pagi hari kedua kami sah menjadi sepasang suami-istri. Pagi itu, ia penuh semangat menyiapkan sarapan pertama di rumah kami. “Duduklah dulu, aku mau ambil teh dulu di dapur.”

Saya duduk dengan perasaan masih seperti mimpi. Adalah hal yang melegakan bahwa akhirnya saya bisa jatuh cinta dan memilih cinta saya untuk siapa. Lalu, saya menemukan secarik kertas, di sisi meja saya, ‘Me and you, both of us have been waiting so long to be in this moment, so let’s make the days of our lives special. I love you.’

Saya berterima kasih banyak untuk kehadirannya dalam hidup saya, karenanya saya tidak seorang diri lagi manakala jogging, begitu juga untuk belanja ke supermarket, tidak akan bertanya-tanya lagi pada diri sendiri saat bingung memilih, yang terpenting saya tidak akan hujan-hujanan sendirian lagi ketika pulang malam hari. Saya tidak sabar menceritakan hal-hal yang saya sukai maupun yang saya benci, juga tentang alergi dan trauma apa saja yang pernah saya alami. Kami akan kencan di perpustakaan, tentunya berempat dengan buku di tangan masing-masing, lalu mampir ke toko buku, menyapa jajaran buku-buku yang terlihat manis untuk diicip, tidak lupa mampir pula ke supermarket untuk membeli kebutuhan dan keperluan membuat salad nanti malam di rumah. Dan saat-saat bahagia kecil lainnya adalah saat kami duduk bersama dan tangannya melingkar di belakang saya, he knew that I was his wife and he would take care of me throughout his life! I love you too, my husband!

4 komentar:

  1. Selamat mencintai
    Selamat patah hati
    Selamat bangkit kembali

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih.

      Selamat membaca dengan hati.

      - Prita

      Hapus
  2. I was blocked by someone on august 5,2019. Do u know why?

    BalasHapus
    Balasan
    1. She has told you to say only important things. Do you understand?

      Hapus